#2 Ekspedisi Terpendam Sejak 5 Tahun Lalu : Terseok Menapaki Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Tuesday, August 25, 2020

Pagi pun menjelang, setelah semalam aku menatap langit yang ditaburi dengan gemintang maha indah. Kabut tipis menyelimuti sekitar camp. Hawa dingin cukup menusuk. Selepas Subuh aku menggerak-gerakkan pergelangan kakiku. Masih sama rasanya seperti kemarin. Ngilu. Aku menelan ludah, lalu menghela nafas panjang.

"Berangkat pagi enak nih, bisa lihat kabut dari ketinggian," seru Afif.
"Bahaya mas, masih gelap dan cukup licin kalau terlalu pagi. Jam tujuh kita berangkat." 
Kami pun menurut apa kata pemandu. Dan karena tak tahan lagi aku pun mengaku kondisi kakiku kepada rekan-rekan seperjalananku agar sedikit mafhum saat melihat ritme berjalanku yang agak melambat nantinya.
"Tapi kamu kuat jalan kan?" Tanya Lupi. Aku menangguk. Memaksakan untuk yakin.
Perjalanan pun dimulai. Aku menguatkan diri dengan kondisi kaki seperti ini. Saat itu hanya membawa ransel hydropack, snack bar, ponselGPS serta action cam. Awal trek menuju Gua Tewet memang sangat menanjak, sekitar 45-60 derajat, lalu ada dinding karst vertikal setinggi kurang lebih 4 meter yang kami harus panjat seperti bouldering. Tanpa tali.
Bouldering di Alam
Aku gemetar, tapi tetap percaya diri. Dan akhirnya bisa melaluinya dengan cukup cepat. Trek-trek selanjutnya pun tak jauh beda. Acara panjat tebing pun kami temui kembali, hingga kami mencapai rest area.
"Kita lewat jalur belakang yah, kalau lewat jalur aslinya cukup berbahaya karena kita hanya membawa tali karmantel saja. Peralatan panjat kita masih di Samarinda," Jelas Satria.
"Tapi bisa dan aman kan?" 
"Bisa kok, Komandan." jawabnya meyakinkanku.
Oh, aku memejamkan mata sejenak. Membayangkan betapa menyakitkannya apabila kita terjatuh dan menghantam karst yang tajam itu. Bisa-bisa terluka parah atau bahkan gegar otak. Ya Allah, lindungi kami. Apalagi saya yang masih bujangan ini.
"Sisa satu perjuangan terakhir, ayo mbak Komandan pasti bisa." Satria, Pak Rusdi (pemandu satunya) menyemangatiku. Lalu mereka memberikan contoh cara memanjat setelah memasang tali karmantel. "Apapun yang terjadi jangan lepaskan talinya. Walau tanganmu luka-luka, tetap pegang erat, jangan lepas!"
Satria beraksi. Ini tebing 'jalur belakang'. Pemanjatan terakhir sebelum menggapai mulut Ceruk Tewet
Aku memasang sarung tangan, lalu menarik nafas. Aku pasti bisa, kan dulu pernah latihan bouldering dan panjat tebing. Dan sekarang aku menghadapi ospek betulan. Kanan kiri jurang menganga.
Cukup kesulitan awalnya, tapi akhirnya aku dapat melaluinya dengan selamat dengan bantuan dari para pemandu. Tak lama kemudian aku mencapai mulut Ceruk Tewet di ketinggian 122 mdpl dengan jarak sekitar 500 m dari camp dan perjuangan yang luar biasa.
"Jangan masuk dulu, tunggu lima menit di mulut ceruk." Ujar Satria.
"Biar apa?" tanyaku penasaran dan tidak sabaran.
"Kalian masih berkeringat, tunggu sampai kering dulu. Khawatirnya suhu badan akan mempengaruhi kelembapan ceruk sehingga mempersingkat usia gambar cadas."
Ceruk Tewet
Aku manggut-manggut menurut. Sembari menunggu kami berfoto di mulut ceruk dan makan.
"Ingat, gambar cadas jangan disentuh ya!" 
Para pemandu semangat sekali memperingatkan kami agar turut menjaga gambar cadas ini. Kata mereka ketika para peneliti datang, gambar cadas ini selalu dipindai apakah ada sidik jari pengunjung maupun tidak. 
Di Ceruk Tewet terdapat paling banyak garca (gambar cadas) tangan manusia purbakala. Beberapa ada yang sudah rusak termakan usia, dan ada beberapa yang masih awet. Peneliti menamakan garca ini dengan cap tangan negatif (negative stencils), yaitu dimana bagian telapak tangan tidak tertimpa tinta dan hanya bagian luarnya saja.
Karya Agung masa Purbakala
"Mereka pakai cat semprot merk apa ya kira-kira?" tanyaku usil.
"Dari batu hematit yang mengandung besi. Warnanya merah. Mereka menyemprot dengan menggunakan mulut ataupun sedotan tulang itu yang masih menjadi perdebatan ilmuwan. Gambar ini memang bertahan puluhan ribu tahun sesuai uji sampel peneliti, akan tetapi seiring berjalannya waktu gambar-gambar ini akan hilang karena iklim maupun perlakuan manusia. Maka dari itu kami hanya bertugas untuk memperlambat rusaknya gambar cadas ini." Jelas Satria.
"Itu gambar kecoa?" aku menunjuk salah satu garca di atap ceruk.
Satria menjelaskan kepada kami
"Tokek. Itu salah satu masterpiece-nya. Lalu tangan-tangan yang dihubungkan sulur-sulur ini menandakan bahwa mereka masih ada hubungan keluarga atau saudara. Tree of Life.”
Kami manggut-manggut bahagia karena mendapatkan penjelasan banyak dari para pemandu. Lantas kami berfoto dan segera menuju destinasi gua selanjutnya.
Full Team

TERPISAH MENJADI DUA
Mulut Gua Pindi
Aku, Afif, Satria dan Pak Rusdi berjalan belakangan. Lupi, Pak Jan dan Bule jalan duluan. Rute jalan kali ini tetap menanjak 45-60 derajat, tapi tak ada acara panjat tebing ekstrim seperti di Tewet.
"Kita kemana dulu ini? Pindi atau langsung Karim?" tanyaku.
"Tadi yang duluan kemana dulu ya?" tanya Satria juga bingung. Dan akhirnya kami memutuskan ke Gua Pindi terlebih dahulu.
"Ada rock art nya?" 
"Ada, tinggal sisa-sisanya saja. Tapi tanggung kalau nggak kesana sekalian sudah sampai sini."
Gua Pindi, 188 mdpl
Gua Pindi, diberi nama sesuai peneliti dari ITB, Dr Pindi Setiawan. Lantai gua tampaknya hanya reruntuhan bebatuan. Tak ada yang menarik, hanya ada beberapa vandalisme dan panorama mengarah ke Rimba Kalimantan dan Puncak Tondoyan, titik tertinggi di kawasan Gunung Gergaji.
"Hanya WANADRI yang berhasil menggapai puncak Tondoyan, tahun 2012." Jelas Satria.
"Pernah kesana?" Tanyaku seraya menatap Tondoyan yang perlahan tertutup kabut.
Puncak Tondoyan, tertutup Kabut
"Nggak sampai atas, berat medannya." Jelasnya. "Eh, rombongannya Pak Jan langsung ke Ceruk Karim ternyata."
"Jadi kita kesana sekarang?"
"Santai-santai dulu, Komandan. Kalian ini termasuk kuat fisiknya, ke Gua Tewet rata-rata sejam dua jam, kalian hanya 30 menitan. Dan seharian kalian berhasil naik ke tiga gua di Tepian Kairim ini."
"Ya, ini termasuk mimpi saya sejak lama, Satria. Menjajaki Gunung Gergaji."
Dan semangat itu yang membuatku lupa akan kaki kananku yang bengkak dan nyut-nyutan selama perjalanan. Deru nafas semakin meningkat mendekati tujuan. Fisik yang prima benar-benar dibutuhkan dalam perjalanan kali ini, tak hanya kaki, tapi juga lengan dan cengkraman untuk merayapi dinding karst nan tajam. Ya, inilah alam yang senantiasa menempaku agar selalu kuat dan tabah untuk mencapai tujuan-tujuanku.

KEMBALI BERSUA DI CERUK KARIM
Ceruk Karim
"Dari mana saja kalian, kutungguin lama sekali sampai tidur-tidur," Kata Bule sambil memainkan drone-nya. Sekilas aku terpana akan citra yang berhasil ditangkap drone. Luar biasa indah.
"Kirain ke Gua Pindi duluan," ujarku sambil menata nafas pasca menjajaki jalur yang cukup menguras tenaga.
"Lah kita ngikut Pak Jan aja. Emang di Pindi ada apa?"
"Biasa aja sih, kalo disini ada apaan emang?" aku balas tanya.
"Panorama, dan ada satu rock art kayak durian gitu."
"Jaman dulu ada durian?"

"Tapir itu, bukan durian," sela Satria sambil terkekeh, lalu menunjukkan lukisan yang berusia puluhan ribu tahun tersebut. Warnanya sama, cokelat tua kemerahan seperti bebatuan hematit. Dan menurutku nggak ada bentuk tapir-tapirnya sama sekali.
Sempat Menjadi Perdebatan, Durian atau Rambutan
Ceruk Karim, disebut ceruk karena tidak memanjang kedalam seperti gua. Salah satu lokasi paling epik untuk mengambil panorama karena memang mulut ceruk langsung menghadap ke rimba Kalimantan. Terlebih lagi beruntung kami bertemu dengan Bule (yang memang nama sebenarnya) sang pilot drone. Makin lengkaplah dokumentasi kami saat ekspedisi ini. Ceruk ini terletak di ketinggian 195 mdpl, paling tinggi diantara tiga gua dan ceruk yang kami kunjungi. Sebenarnya ada satu gua lagi yang paling tinggi, yaitu Ceruk Thamrin, tapi karena aksesnya vertikal dan cukup sulit maka kami tidak direkomendasikan untuk mengunjunginya.
Karst Sangkulirang-Mangkalihat, bagian Gunung Gergaji (credits : Drone-nya Bule)

Niat awal kami menunggu matahari terbenam di Ceruk Karim, akan tetapi karena terlalu lama maka pukul setengah dua kami putuskan untuk kembali ke Camp dengan jalanan menurun yang super curam. Berkali-kali kami terjerat akar dan tergores ranting yang mencuat, hingga gemetarnya kaki menahan berat badan. Syukurlah kami tak pulang terlalu larut, karena memang sangat berbahaya dan kami tak membawa alat penerangan, ditambah lagi hujan turun dengan cukup deras.

BERENDAM DI SUNGAI JELE
"Yuk berendam!" Afif mengajak kami berendam di Jele dengan semangat. Tampaknya ia sudah gerah dan ingin segera bermain air.
"Ah, ada buayanya nggak? Sungai di Kalimantan terkenal buaya yang suka makan orang loh," Elakku malas sambil sedikit menakuti dari atas hammock.
Itu bukan Penampakan Siluman Buaya
"Ah nggak seru Une." cibirnya lalu bersiap nyemplung ke sungai bersama Lupi.
Aku bertanya kepada Satria, ia menjelaskan tidak ada buaya atau hewan berbahaya di sungai Jele sekitar camp, hanya saja berhati-hati jangan loncat karena banyak bebatuan maupun kayu di dasar sungai. Dan karena tidak hujan, maka sungai cukup dangkal.
Dan akhirnya aku memutuskan untuk ikut berendam. Toh kapan lagi mendapat kesempatan berendam di sungai Jele, kaki Karst Sangkulirang Mangkalihat?

BULE 'KESURUPAN'
Setelah waktu Ashar menjelang Maghrib, kami beristirahat sejenak untuk melepas lelah dari kegiatan pendakian yang luar biasa hari ini. Aku tiduran di hammock dan sedikit mengantuk, lalu tertidur sejenak. Pukul 6 sore aku terbangun, yang lainnya sibuk menyunting video dan ngemil. Saat itu hanya Bule yang masih tertidur, tiba-tiba ia terbangun dan berteriak-teriak histeris. Melompat-lompat dan menggaruk-garuk tubuhnya. Tatapannya nanar, seperti orang kesurupan.
Kami terdiam, terhenyak. Akupun mau lari tak bisa. Lupi yang posisinya terdekat dengan Bule menghampirinya, dan menanyakan apa yang terjadi.
"Arghhhh...ada tikuuss...aarrrghh...!!!" Bule menceracau histeris. Pak Rusdi menghampiri kami sambil sedikit tergopoh.
"Apa??Ada apa ini??!! Kesurupan kah Le?"
"Tenang, nggak ada apa-apa mas, aman!" Lupi berusaha menenangkan Bule. Lalu ia sedikit tenang dengan nafas yang memburu.
"Ada...ada tikus masuk ke bajuku," seru Bule lirih.
"Ah, mana ada tikus disini Le, nglindur haja pian. Makanya sebelum maghrib, di hutan kada kawa guring, jadinya leh kaya gitu." Jelas Pak Rusdi dengan logat Kutai Banjar-nya. 
"Iya , astaghfirullah aku tadi memang nggak niat tidur tapi nggak sengaja ketiduran karena capek, astaghfirullah...tadi aku benar-benar mimpi aneh dan rasanya benar-benar nyata, tikus-tikus menggeranyangi tubuhku." si Bule beristighfar sambil mengusap wajahnya.
Aku terhenyak, barusan aku ketiduran kan?

PESTA PUNCAK
Ikan sungai seember, hasil pancingan. Namanya ikan Salap, ikan sungai yang banyak ditemui di Sungai Kalimantan, dalam Bahasa Indonesia disebut ikan Tawes. Banyak durinya, tapi digoreng biasa pun rasanya sangat gurih dan nikmat. Malam itu kami makan sepuasnya. Semua destinasi sejatinya sudah tercapai pada satu hari ini, akan tetapi sayang apabila besok kami langsung pulang pagi, karena Minggu kami masih ada waktu libur. Maka dari itu kami mengatur ulang jadwal agar pulang Minggu pagi. Satria menawarkan satu destinasi keren lagi untuk  dijelajahi keesokan harinya. Setelah kami berembug, dan akhirnya setuju untuk pulang Minggu paginya. Bule yang dari awal memang niatnya sendiripun akhirnya nimbrung jadwal kami. Yes! Setiap perjalananku akhirnya mendapatkan teman baru!
"Mumpung ada temennya. Sambil komporin temen komunitas drone," Sahutnya.
Ruang Tidur Kami
Dan setelah perbincangan kecil itu, kami semua segera beristirahat untuk memulihkan tenaga, dan apa kabar kaki kananku? Tampaknya ia anteng, tidak rewel hari ini.

bersambung....

You Might Also Like

0 comments

Subscribe