Merindukan Otot Lelah dan Bau Hutan : Puncak Batu Putih, Kaliorang

Wednesday, September 30, 2020

Alasan yang paling kuat untuk menjelajah Kutai Timur sebenarnya sederhana : Pandemi COVID-19. Yang awalnya memiliki rencana untuk terbang kesana-kemari menjelajah indahnya atap negeri, tetapi semenjak pandemi malah menjadi suatu hal yang ngeri. Pikirku lebih baik menjelajah indahnya lokasi sekitar tempat kerjamu yang terkenal aksesnya sulit dan minim informasi.
Tujuan kami selanjutnya tak jauh-jauh dari lingkup Karst Sangkulirang-Mangkalihat. Kalau sebelumnya barisan Gunung Gergaji di Tepian Langsat, maka sekarang Karst Sekerat yang berada di Kaliorang, berjarak sekitar 85 km dari Sangatta, kearah Sangkulirang. Kami menempuhnya selama dua jam lebih sepuluh menit dengan sepeda motor. Kondisi jalanan sudah banyak yang membaik daripada tahun 2014-2015 yang membutuhkan kemampuan ekstra untuk berkendara disini.
Memang pada awalnya akupun masih buta jalur kesana, hingga pada akhirnya Satria (pemandu saat menuju Ceruk Tewet) memperkenalkanku seorang adik tingkat semasa kuliah, namanya Bali, alias Lado (nama lapangan). Ia  menjelaskan pernah tiga kali ke puncak Batu Putih, sehingga tahu jalurnya dan ia juga ingin kesana lagi.
Selang satu bulan pembahasan Batu Putih dengan Lado, akhirnya kami sepakat kesana tanggal 26-27 September. Ada beberapa kawan yang hendak bergabung dari Bontang, si Lupi, Afif, Andra, dan Otong (yang ini nama lapangan juga).
"Ikut ya, aku dari dulu pengen kesana nggak sempet-sempet. Belum pernah juga main didaerah sana aku." Rengek Andra melalui panggilan suara. Dan ternyata Andra pun bukan nama sebenarnya, Andra adalah singkatan dari Anak Daratan (nama lapangan) dimana julukan itu disematkan gara-gara ia tak bisa berenang saat mengikuti kegiatan pecinta alam.
Perjalananku kali ini bersama teman baru lagi, si Andra dan Om Otong.

TIBA-TIBA HUJAN LEBAT
 Sekira pukul sebelas siang, hujan lebat mengguyur Sangatta. Padahal pagi harinya panas dan sangat cerah. Sempat aku khawatir akan hujan lebat di Kaliorang, hingga akhirnya kami harus menunggu hujan agak reda baru melanjutkan perjalanan agar tidak terlalu berisiko. Alhasil yang awalnya pukul sebelas rencananya akan berangkat, menjadi pukul satu siang. Dan selama perjalanan menuju Kaliorang, hujan tiba-tiba berhenti dan matahari bersinar dengan teriknya. Kami yang terlanjur menggunakan jas hujan enggan melepas hingga sampai Sepaso, jadilah keringat mengucur deras didalam pakaian yang kami kenakan.
Seluruh logistik kami lengkapi di Sepaso, dan disana pula Satria menunggu kami.
"Nggak usah banyak-banyak beli air. Disana ada sumber air bersih, kita kemping disebelahnya sumber air." Lado memperingatkan.
Setelah semua perbekalan dan urusan perut terpenuhi, maka kami langsung tancap gas ke arah pendakian Batu Putih. Saat itu aku hanya membawa carrier dengan kapasitas 35 L karena memang hanya membutuhkan waktu semalam saja.
"Aman saja kok, motor bisa masuk sampai 50 meter sebelum tempat kemping," Ujar Lado. Dan untunglah memang bisa, karena kalau tidak, kami akan berjalan kaki sejauh kira-kira empat kilometer dari jalan raya dengan jalan yang menanjak dan sangat terik. (emang kami ini pemalas)

ANCAMAN PABRIK SEMEN PUTIH
Jernihnya air setinggi kurang lebih lima  senti diatas mata kaki  orang dewasa menyambut kami saat tiba di pos pertama pukul empat sore. Kami akan bermalam disana. Sebenarnya kita juga bisa bermalam di pos selanjutnya ataupun puncak, akan tetapi sangat jauh dengan sumber air.
Afif Membawa Lazy Bag, Properti yang Fotogenik
"Pernah kita dulu camp disini, ada orang kayak dari perusahaan calon pabrik semen. Mereka tampaknya survei, dan bahasanya nggak bisa kami mengerti. Seperti bahasa Cina begitu." Lado menjelaskan. Benar-benar sesuatu yang mengerikan. Air jernih indikator hidrologi alami yang merupakan anugerah dari Allah,  diberikan dan disimpan melalui Karst tandon raksasa akan dihancurkan dalam waktu tidak lama lagi. Apakah air sejernih ini akan bertahan atau mungkin akan kering?
"Mungkin kalau pabrik semen dibangun, lokasi ini akan ditutup untuk umum. Nggak bisa lagi kita kemping disini. Pohon akan ditebang dan diratakan. Bukit-bukit karst di-blasting untuk bahan baku semen. Dan alam akan membalas pada masanya. Semua akan menjadi dongeng belaka." Ia menambahkan dengan nada lirih.
Selamatkan dari Teroris Lingkungan
Aku tak sanggup lagi mendengarnya. Sakit sekali perasaanku saat itu. Sakit. Akupun tak tahu apakah cerita itu hanyalah delusi yang berlebihan atau hal yang akan menjadi nyata. Aku tak mau kehilangan tempat bermain kami, tempat bermain bagi generasi pendatang kelak. Kehilangan air sejernih ini dimasa depan.
Sedikit hancur mood sore itu gara-gara rencana pembangunan pabrik semen. Yang awalnya niat refreshing, malah hancur.

MALAM MENYAPA
Kegelapan pun akhirnya tiba. Kompor-kompor mulai menyala, mengepulkan asap untuk hidangan santap malam. Sayur bening, tempe goreng tersaji nikmat dan menggoda dikala perut lapar dan hati yang khawatir kehilangan lokasi seindah ini. Andra dan Otong menjadi koki malam itu, memasak dengan lihai.
"Ayo dimakan sudah. Bentar lagi kita mancing," Andra berkata sambil menyiapkan pancingan dan umpan cacing gemuknya. Setelah itu kami pergi berjalan kaki kearah hulu, mencari ikan menyusuri sungai. Akan tetapi, hasilnya nihil. Aku hanya melihat beberapa katak berenang dan bernyanyi disana. Kamipun kembali ke lokasi camp, menyalakan api sembari bercerita kisah kehidupan yang terkadang miris maupun menggelikan. 
Andra Tukang mancing
Andra dan Otong yang paling banyak bercerita malam itu. Pengalamannya kocak semua, mulai dari hampir dipecat gara-gara kebanyakan main hingga menceritakan pengalaman menyiksa juniornya.
"Dasar senior gila," komentarku takjub. Mereka hanya merespon dengan tawa terbahak-bahak. Muka mereka memang preman, tapi ternyata tingkah mereka unyu juga. Mulai dari membawa boneka beruang dari figur kartun We Bare Bears, selimut Hello Kitty, mengoles minyak kayu putih saat bangun tidur, hingga membawa karpet berbulu.
Om Otong rajin memasak
Duduk diatas Permadani berbulu merah
"Bayi banget," batinku saat itu. Nggak habis pikir, aku yang perempuan saja nggak ada niatan untuk bawa benda unyu seperti itu, tapi...senior yang satu ini memang beda.
"Kalau Andra suka karakter Snoopy. Setiap kepasar kalau ketemu kaus Snoopy, pasti dibelinya juga." Otong membongkar keunyuan lainnya. Andra memamerkan kaus Snoopy warna ungu dengan bangga.
Malam itu terasa sangat panjang dengan derai tawa kami. Kunang-kunang menari disekitaran pelataran kemping, sedikit mereduksi pikiran buruk yang sempat mengganggu tadi.

OTOT LELAH YANG BANGUN
"Senioooorrr....woooi banguuunn seniooorrr..." Aku berteriak membangunkan Andra dan Otong pukul tujuh pagi. Mereka makin merapatkan selimut dan menggeliat didalamnya. Lalu Otong bangun duluan, ia berusaha membangunkan Andra.
"Woi ayo bangun, udah mau muncak nih,"
"Mmmh...nggh..."Kulihat Andra mengulet malas didalam selimut. Matanya masih terpejam rapat.
Kompor kami nyalakan untuk merebus air. Sebelum naik kepuncak, menenggak kopi wajib kami lakukan agar semangat tetap membara. Bersamaan dengan itu Andra terbangun dan segera bersiap-siap.
Pukul delapan pagi, perjalanan yang sesungguhnya dimulai. Jarak yang kami tempuh sekitar lima kilometer dengan tanjakan 40-70 derajat. Mirip seperti perjalanan menuju Gua Karim, akan tetapi ini lebih panjang dan ada sesi semi merangkak. Sepanjang jalan didominasi oleh hutan tropis dataran rendah yang rapat dan kelembapan yang tinggi. Sesekali kami temui kayu-kayu lapuk yang ditumbuhi jamur, dan trek panjat dinding seperti di Ceruk Tewet, akan tetapi jauh lebih mudah. Sungguh, treknya nggak main-main, seperti naik gunung beneran ini, bukan bukit biasa.
Panjat dinding karst lagi
Sekitar satu kilometer sebelum puncak, vegetasi mulai terbuka dan jalur dipadati dengan batuan lepas berwarna putih, sehingga cukup bahaya bagi pendaki dibawahnya apabila terkena reruntuhan batu. Dan juga trek cukup licin karena rintik hujan mulai datang. Bayangan saat turun pasti lebih menyiksa.
Menuju puncak masih terdapat tali pramuka yang tertambat untuk bantuan naik dijalur bebatuan lepas. Yang kami khawatirkan adalah tali tersebut rapuh dan akan mencelakakan kami.
Merangkak-rangkak
"Wah nyesel nggak bawa webbing atau tali kalau cuacanya kayak gini. Tahu gini kubawa saja tadi di tenda." Ungkap Satria melihat kami naik penuh perjuangan. Batu, akar, atau apapun yang sekiranya kokoh berusaha kami raih untuk membantu langkah yang kian memberat.
"Penyesalan selalu datang belakangan." Timpalku kepayahan.
Puncak Batu Putih
Puncak Batu Putih pun berhasil ditapaki setelah enam puluh menit melawan otot lelah kami. Disana tertancap bendera merah putih, dan tampak pilar Karst lainnya. Jalanan hauling tambang, dan gugusan Karst di kejauhan. Ketinggian puncak 573 mdpl. Angin bertiup kencang dan mendung. Rintik hujan mulai terasa. Dari kejauhan tampak hujan yang bergerak mendekati kami.
Jamur Ekor Kalkun, yang tumbuh di kayu yang lapuk
Otong mulai meracik kopi dengan sedikit tergesa. Kami berada di puncak tak terlalu lama, sekira 30 menit lalu segera turun karena rintik hujan menjadi sedikit ganas. Kabut tipis melintas didepan mata, membuat kami bersabar sebentar untuk turun, karena jalur pasti lebih licin dan samar karena terhalang kabut.

TURUNAN LUAR BIASA
Sejenak di Puncak
Sungguh, perjalanan turun yang lebih mengerikan. Kalau biasanya bisa menghemat setengahnya, kali ini malah tekor tiga puluh menit. Bagaimana tidak, pikiran dan pandangan dituntut konsentrasi penuh agar tidak celaka. Jalur sungguh licin, ditambah kelupaan tidak membawa sarung tangan, membuat jemariku tergores bebatuan karst disana-sini. Tidak bisa tertawa sama sekali seperti saat menanjak.
"Santai saja turunnya. Selow. Biar yang sampai camp duluan yang masak. Kita tinggal makan." Satria sedikit menghibur, lalu menceritakan perutnya yang mulai keroncongan.  Tak jarang aku dan yang lain terpeleset melawan licinnya jalur. Ditambah perut kemeruyuk dan posisi sling bag-ku yang mengganggu pergerakan, ah sudahlah. Gemetaran sekali saat itu, sungguh. Ini menjadi ujian yang mendebarkan.
"Siapa suruh emangnya main ke hutaaan...capeekk....mending dirumah tidur selimutan..." Andra bernyanyi dengan nada seenaknya. Wajahnya cengengesan
Saat perjalanan turun itulah, Lupi menemukan keberuntungan. Ia dianugerahi nama rimba 'Jangkar' oleh Andra dan Otong karena ia memiliki bekas tato jangkar yang telah dihapus di lengan kanannya. Dan akhirnya kami semua sepakat memanggilnya dengan sebutan Jangkar.
Akan tetapi, di turunan ekstrim superlicin yang terakhir, Satria, Lado dan Otong melakukan aksi heroik. Membawakan tasku, memasang karmantel, dan memanduku untuk berjalan perlahan sambil menggenggam karmantel. 

PESTA PUNCAK
Sebelum Pulang
"Masak dimana kita? Makan siang di air terjun saja ya," Ujar Otong. Satria menyebutnya pesta puncak, yakni pesta untuk menghabiskan logistik yang tersisa agar tidak dibawa pulang kembali. Lokasi yang akan menjadi pesta puncak kami awalnya di air terjun Air Putih, sekitar lima belas menit berkendara dari pos pendakian Batu Putih. Akan tetapi karena saat itu hari Minggu, maka lokasi air terjun dipadati pengunjung, sehingga kami mengurungkan niat untuk makan siang disana.
"Kemana ini? Ganti lokasi saja kah? Rame gini nggak enak," Tawar Otong.
"Kemana?" Balasku.
"Lah..nggak tahu. Yang penguasa Kutai Timur siapa?"
"Sudah sudah, ke Nyarut saja kah?" Satria memberi solusi. Karena tak ada solusi lain, kami sepakat mengiyakan pesta puncak di Nyarut, lokasinya tak terlalu jauh dari Air Putih, dan kamipun baru mengetahui lokasi itu.
Makan Siang di Nyarut
Sebenarnya Nyarut adalah sumber air yang mengalir dan digunakan sebagai sumber air penduduk sekitar. Kondisinya sangat panas karena tidak ada pohon sama sekali. Alhasil kami mendirikan flysheet sebagai naungan. Logistik yang kami sikat saat itu adalah mie, tahu dan telur. Nikmat sekali, terlebih lagi kami makan dalam kondisi super duper lapar karena habis main air yang maha jernih di Nyarut.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe