#1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Friday, October 01, 2021

 "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat." 

Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan perjalanan untuk mengisi hari-hari cutiku. Di Sangatta, aku mengepak ulang dan melengkapi perbekalan yang belum ada, seperti sayur mayur yang dinanti-nanti para pemandu Gunung Gergaji.

"Bawa sayur ya, bosan kami sepuluh hari pas kegiatan makan kalengan terus," 

Bayam, kangkung, sayuran sop, tahu dan tempe kuborong secukupnya. Oh tidak, aku cukup kesulitan membawa dengan motor matic pinkku. Kuletakkan di sandaran kaki, dan ternyata hanya menyisakan sedikit ruang untuk pijakan kakiku yang harus berjejal juga dengan tenda berwarna jingga. Amat sangat tidak nyaman, terlebih lagi hujan mulai turun dan om-om penjual sayur menginformasikan kabar mengenai buruknya akses jalan selama hujan di Rantaupulung yang membuatku harus putar balik melalui Simpang Perdau.

"Hujan begini mbak, infonya dari media sosial di Rantaupulung ada jalan yang hampir putus dan rusak. Bahaya."

Sesaat setelah om penjual sayur menginformasikan hal yang mengkhawatirkan tersebut, hujan turun semakin deras. Bukannya keder, tapi makin kugeber motorku dalam balutan jas hujan merah jambu. Punggung tanganku yang setia menggenggam setir terasa dihujani ratusan jarum air ketika aku menerjang hujan. Clekit...clekit....clekit...

Kuapit dengan kuat sayuran di sandaran kaki agar tidak jatuh. Kakiku terlipat dan tak nyaman. Ah, mungkin tahu yang kubeli sudah hancur dengan himpitan kakiku. Bodo amat.

Lima belas menit setelah berkendara, cuaca bersinar terik. Namun sengaja tak kulepas jas hujanku karena menatap gumpalan awan di jalur yang akan kulalui hitam pekat dan bergemuruh kendati dalam tubuhku sudah berkeringat segar. Tangan kiriku kufungsikan sebagai wiper alami untuk menghapus sisa rintik hujan yang mengaburkan kaca helmku.

"Andai aku titisan sultan, akan kubeli satu unit mobil 4WD agar membuat perjalanan ini lebih nyaman." teringat kalimat pengandaian yang kutulis dalam bukuku. Namun sayang sang dewi realita menyadarkan bahwa diriku masih berada diatas motor yang berusia hampir empat tahun dan melaju diatas aspal panas yang mulai hancur. Memang, tampaknya akan lebih nyaman mengendarai mobil, namun aroma lelah petualanganmu tak seseru saat mengendarai motor hampir empat jam hingga pergelangan tanganmu kebas dan punggung tanganmu sedikit legam karena terbakar.

Hancurnya ruas jalanan Sangatta-Sepaso kian parah, ditambah hujan yang tiba-tiba lebat menimbulkan genangan air keruh bak kolam lele ditengah jalan. Jalanan licin berlapis debu coklat kemerahan. Motor tidak bisa kutarik gas kencang-kencang, selain bahaya tergelincir namun juga jarak pandang yang sungguh  terbatas dan buram. Masker medis abu-abu tua yang dikenakan pun sudah basah kuyup, air hujan sukses menyapu sudut-sudut bibirku yang dahaga.

Mobil, truk, ambulan, maupun kendaraan berbadan panjang dan lebar mengantre untuk bergantian melewati jalanan yang rusak. Antrian cukup panjang dan membuatku kurang sabar, sehingga pelan-pelan aku menyalip dari kanan. Aman, selamat. Namun disambutnya aku dengan jalanan rusak menganga bertubi-tubi.

Grubak!! Grubak!! Tubuhku terguncang, tas carrier miring. Kupastikan bahwa sayuran yang kujepit baik-baik saja. Setelahnya motorku hampir tergelincir karena licinnya jalan berpasir. Oleng, namun mati-matian kutahan dengan kakiku agar tak terjatuh di aspal dan menjadi santapan nikmat kendaraan yang mungkin melaju agak kencang dari arah belakangku.

Tidak, tidak! Aku telah berjanji padamu untuk bisa pulang dengan selamat, membalas pesanmu dan bertemu di akhir pekan.

Jemari tengah dan manis di kaki kananku tergores aspal basah karena saat itu hanya memakai sandal jepit untuk menghindari sepatu yang basah dan kotor. Sakit, panas, dan sangat perih. Aku merintih-rintih dan memeriksa kondisinya, ah, hanya berdarah sedikit dan terkelupas kulitnya. Hal ini sudah biasa bagi preman sepertiku, sehingga tak butuh lama aku melanjutkan perjalanan dengan perihnya luka yang terbasuh air hujan bercampur debu.

Tujuan 'pulang kampung' kali ini

Dua hari yang lalu : Jumat, 10 September 2021 

Tanggal keberangkatan baru kukonfirmasi pada Satria hari ini. Fix tanggal 5 September, hari Minggu setelah mengajukan cuti dadakan hari kamis sore kepada bos baruku. Semuanya serba mendadak, karena jadwal kegiatan Satria juga yang tak pasti kapan selesainya. Tak banyak berpikir ulang, kuhubungi Bule untuk keberangkatan hari Minggu dan keperluan apa saja yang wajib dibawa. Sengaja tak kuhubungi rekan yang lain, karena selain mendadak pasti juga akan muncul alasan-alasan dan keruwetan sebelum keberangkatan nantinya. Hanya Bule yang menyanggupi ajakan dadakanku saat itu.

"Dronemu awas ketinggalan," ancamku.

"Ini sekalian aku bawa udang papai buatan mamakku, sambal, ikan asin, dan cabe katokon,"

Awal keberangkatan diwarnai hujan lebat di Bontang. Rencana untuk berangkat pukul tujuh pagi harus mundur hingga pukul delapan karena mentari sudah mulai menyapa hari petualanganku. Luar biasa sekali saat cuti satu minggu harus melarikan diri berkedok pulang kampung  ke hutan demi menghindari masker dan kewajiban tes PCR. Untung saja emakku di kampung mafhum dengan tingkah liarku.

Minggu, 5 September 2021

Perjalanan satu tahun lalu yang hanya memakan waktu dua jam dari Sangatta menuju Hambur Batu, kini kunikmati dalam suasana berbeda dalam hujan yang membutuhkan waktu tiga jam. Bule sudah sampai di Hambur Batu bersama dengan Satria satu jam yang lalu dan kini diriku datang dengan raut tubuh kedinginan karena dusun tersebut masih diguyur hujan.

"Istirahat dulu, masih hujan. Kalau reda baru kita jalan." Satria berkata. Tanpa kusuruh Bule membantu untuk memuat barang bawaanku kedalam ketinting milik Satria. "Jika kalian hari ini nggak jadi ke camp Tebo' pun kami tetap kesana. Mau berburu."

"Jadi sama siapa saja?" tanyaku.

"Itu, ada Om Rusdy, Om Mu'i dan Om Heldy. Mereka sudah mau berangkat duluan."

"Kondisi sungai Jele?"

"Bagus, sama seperti tahun lalu kalian kesini."

Ah, iya. Akhir Agustus 2020 kami kesini, dan pada tahun 2021 berlanjut pada awal September kembali ke lokasi ini, dengan kondisi pandemi yang sama, motor yang sama, tas yang sama, sepatu yang sama, ponsel yang masih sama, hingga Bule yang penampakannya masih sama. Hanya saja perjalananku kali ini minus Lupi, karena dia sedang istirahat pemulihan pasca operasi, semoga cepat pulih sobat petualangku !

Gunung Gergaji masih berselimut kabut pekat kendati cuaca sudah mulai cerah pukul tiga sore. Cuaca saat itu sejuk dan segar, sehingga aku membutuhkan jaket selama perjalanan menuju Camp Tewet dengan ketinting merah yang warnanya tak berubah sejak tahun lalu milik Satria. Pemandangan yang disajikan masih tetap sama, flora, fauna, bekantan dan monyet yang saling memijat diatas dahan yang tinggi, namun bedanya hanya terselubung kabut yang tipis, sehingga nampak samar.

Kabut Pagi Karst Sangkulirang-Mangkalihat

Angin sungai dan percikan ademnya bertalu-talu menampar wajah kami untuk mengantar menuju Camp Tewet dengan jarak tempuh dua jam. Kacamataku sontak memburam.

Asap putih membubung dari arah camp Tewet, berbaur dengan kabut lembut sisa hujan di siang menjelang sore tadi. Tiga om-om yang mencapai camp Tewet terlebih dahulu menanak nasi dalam kuali alumunium diatas perapian batu yang disisipi kayu bakar. Beberapa dari mereka mengeluh kesulitan mempertahankan nyala dan bara api karena kondisi kayu yang lembap. Udara dan aroma camp Tewet tak berubah dari tahun lalu, hanya saja bagian depannya longsor karena abrasi saat air sungai naik sehingga beberapa pohon telah rebah. 

Naluri kewanitaan muncul saat melihat plastik sayur diturunkan dari ketinting. Daripada hanya duduk diam, kuambil dua ikat kangkung untuk ditumis. Bumbu hanya cukup dengan bawang merah, bawang putih, sejumput garam, dan kucuran kecap tanpa ukuran pasti. Masakan sehancur apapun, kalau di hutan seperti ini pasti segalanya terasa nikmat. Terbukti dari wajah om-om yang menyantapnya dengan lahap tanpa sepatah kata.

"Besok jam berapa ke Tebo?" tanyaku pada Satria setelah makan. Om-om lainnya bersiap kembali ke kapal untuk berburu.

"Makin pagi makin baik."

"Duluan ya !!" entah siapa om yang berteriak sembari melambaikan tangan dari ketinting yang gelap. Ketinting mereka melaju kearah hulu sungai Jele. Kami balas dengan lambaian dengan teriakan singkat, "Yo! Hati-hati!"

"Makanya kenapa aku bilang harus singgah dulu di camp Tewet saat mau ke Tebo. Karena perjalanan bisa seharian, dan juga melewati sungai Marang itu sangat melelahkan." lanjut Satria.

Alamat rumah kami selama di Camp Tebo'

"Berapa jam?"

"Empat jam an, kalau santai. Pernah saat itu jokinya gila satu setengah jam bisa sampai."

Camp Tebo'. Salah satu lokasi yang ingin aku kunjungi di kawasan Gunung Gergaji Karst Sangkulirang Mangkalihat gara-gara foto padang sabana cantik yang dipamerkan Satria setahun silam. Ia berkata, "Cuma padang savana kayak gini aja mau aja dikunjungin. Aku udah lama sekali nggak kesana, mudah-mudahan masih ingat rutenya."

"Ya bedalah suasananya!" kilahku manyun. "Sabana di dekat kampungku juga ada, tapi mereka dikelilingi bukit dan gunung berapi."

Satria mengangguk dan mengiyakan.

"Banyak camp di kawasan Gunung Gergaji, selain Camp Tewet, tapi ada juga Campt Tebo, Batu Raya, dan ada juga di kawasan Pengadan sana."

Kata Satria, "Cuma gini aja"

"Batu Raya gimana? Bagus nggak?" tanyaku terpancing.

"Ah, jalannya jauh. Sakit karena nggak ada sumber air. Nginepnya dalam gua pula."

"Guanya besar?"

"Ya, luas dan atap gua tinggi. Rock art paling banyak ditemukan ada di Batu Raya, sekitar 500 gambar dan sudah mulai rusak." lalu ia menunjukkan kondisi gua Batu Raya.

"Wah, ini luas banget! Jangan-jangan Batu Raya adalah aula pertemuan para manusia purba dulunya. Makanya banyak cap tangan disana."

"Ayo Ne, kita belum ke Batu Raya, tahun depan kita balik lagi." ajak Bule bersemangat.

"Hiliih...berat medannya. Kalian tahu, medannya seperti menanjak gua Karim tapi bawa carrier, air dan logistik." Satria menimpali dengan senyuman sinis.

Senin, 6 September 2021.

Pukul setengah sembilan pagi kami sudah siap berangkat setelah sarapan oseng-oseng tahu tempe yang terlalu asin sambil membayangkan rekan kerjaku pasti sedang mengikuti briefing rutin setiap Senin pagi di kantor. Gerimis dengan frekuensi sedang mengantarkan kami menuju Camp Tebo'. Bule berada di anjungan kapal dengan membawa dayung ulin, dan Satria mengenakan seraung lebar untuk melindungi wajahnya dari terpaan gerimis yang berlanjut menjadi panas.

Hilir Sungai Marang. Cukup deras

Satu jam kami diatas ketinting kearah hulu, maka tibalah kami di persimpangan sungai Marang yang beraliran deras. Awalnya sangsi bila aku dapat melaluinya dengan ketinting karena sungainya dangkal dan dasarnya batu, namun ternyata bisa dengan cara mendorong ketinting melalui sela-sela sungai yang sedikit dalam. Yang dorong siapa? Tentu saja Bule dan Satria, karena mendorong ketinting itu sangat berat, terlebih lagi melawan arah arus sungai yang deras.

"Nah ini baru perjalanan yang sesungguhnya." Satria berkata. Bule cengar-cengir mengamini, "Bakalan seru nih!"

Makan keseruan itu Le, jika setelahnya kamu harus menderita mengarahkan arah perahu dengan dayung yang sangat menyulitkan dan berat. Ia mulai mengeluh pegal-pegal dan tak jarang wajah kami tergores dengan dedaunan berduri atau akar gantung yang menjuntai.

Ceruk Kedanum dan Kedanung

Satu jam awal kami masih bahagia menikmati alam dan melintas dibawah ceruk Kedanum. Namun jam-jam selanjutnya tampak mulai penat karena medan yang susah dan penuh perjuangan bagi Satria dan Bule. Bagiku? Tinggal tiduran saja di ketinting, karena tenaga perempuan memang tak berarti apa-apa disini.

Setelah beristirahat sekitar tiga puluh menit dan melihat seekor babi hutan gemuk yang menyebrang sungai untuk sekedar minum, kami melanjutkan perjalanan yang menurut Satria sisa separuh perjalanan. Nikmati saja Une, ini liburan yang kamu mau. Tanpa sinyal, urusan duniawi dan pekerjaan yang mengganggu.

Camp kami, diambil dengan drone milik Bule

Setengah tiga sore kami tiba di Camp Tebo' yang ditandai dengan camp darurat terpal biru. Sebelumnya aku kira bakal menginap di sabana Tebo', ternyata bukan. Satria menyampaikan harus berjalan sekitar sepuluh kilometer untuk bertemu sabana. Diseberang camp Tebo' terdapat mulut gua yang berhembus angin beraroma guano. Dasarnya mengalir air yang jernih. Bagiku camp Tebo' bagaikan rumah, ada dapur, kamar mandi dengan tirai terpal hijau, dan suasana yang nyaman.

Dapur Darurat Kami

Tiga Om yang berburu semalam pun menyusul kedatangan kami. Mereka mengeluh tidak dapat Payau, namun hanya dapat tiga ekor pelanduk. Setelah mengolah dan membersihkan pelanduk hasil buruan, mereka bersiap untuk berangkat berburu kembali karena merasa belum puas. Untuk menu sore itu adalah daging pelanduk goreng tepung krispi plus sambal cabai katokkon karya Bule serta sambal matah buatanku.

Payau goreng krispy dan sambal legendaris

"Huuhh...haaaah....sambal telinga ini. Pedanya dari mulut tembus ke telinga." Bule ber huh hah mencicip sambal buatannya. Aku terkekeh. Rasakan.

Bule memainkan drone pada ketinggian 300 m pada sore yang cerah. Camp Tebo' yang hanya titik biru dari udara ternyata berada diantara pilar karst, dan tepat ditengah-tengah belantara Sangkulirang-Mangkalihat. Ribuan karst berbaris rapi dilatarbelakangi  Tondoyan dan Ilas Kenceng alias Batu Raya, dua bentangan sabana yang hendak kami datangi esok pun tak luput dari pantauan drone milik Bule.

Hm, itukah yang hendak aku kunjungi pada perjalanan berikutnya?

Selasa, 7 September 2021

Tiga Om kembali ke camp dengan karung putih menggembung tersampir di bahunya. Dua ekor payau berhasil dijerat, dan kami bersiap untuk trekking menuju sabana. Menurut Satria treknya hanya landai dan menanjak pada awalnya saja.

"Kuatkah jalan ini?" tantangnya.

"Huh meremehkan! Kemaren sudah latihan dihutan jalan sembilan kilo bawa carrier serasa anak panda." kataku menyombongkan diri.

Perjalanan ternyata tak sesulit saat menuju Karim atau Tewet. Tanjakan dengan batu resak (batuan lepas) kami lalui dengan lancar, dan berlanjut dengan hutan yang landai dan rapat.

Cengiran cap kuda

"Liat nih, jejak payau dimana-mana," Satria menunjuk lantai hutan yang dipenuhi guguran daun yang mulai menjadi humus. Tampak jejak sepatu bulat-bulat masih basah.

"Ah Payau jadi-jadian ini." ungkap Bule.

"Oh, jejak Om Payau." kataku. Bule dan Satria terkikik, dari sinilah istilah Om Payau muncul untuk menyebut Om Rusdy, Om Mu'i dan Om Heldy.

"Kijang satu untuk Om Rusdy yang senior. Kijang dua Om Mu'i dan Kijang tiga Om Heldy yang paling bontot."  sahutnya.

Sabana ditengah karst nyatanya tak sesejuk ilalang di padang Bromo. Panas menyengat, hembusan angin kuat dan cerah. Kami mewanti-wanti agar Bule lebih berhati-hati untuk menerbangkan dronenya supaya tidak dilontarkan angin atau disambar elang. Di padang ilalang ini banyak kami temukan jejak payau asli dan kotorannya yang lebih lonjong ketimbang tai kambing. 

Sabana tak hanya satu, kami berjalan melintas ilalang yang membara, sabana yang lain pun ditemui dengan model yang sama, namun satu ekor payaupun tidak kami temui. Konon kata Satria cukup banyak sebenarnya payau yang berkeliaran disini. Kalaupun kutemui, mungkin suasananya serasa di Rancaupas, Bandung.

"Sedikit aja sih situs di camp Tebo' ini. Hanya ada beberapa gua yang rock artnya tidak terlalu banyak, seperti gua Anus dan gua Berak." jelas Satria.

Proses Timelapse dengan tripod alami

"Apa? Berak?" seruku dan Bule terkejut dengan nama itu. "Apa ditemukan banyak fosil kotoran manusia purba disana?"

"Tapi sekarang sudah diganti namanya menjadi gua Wanadri."

"Itu lebih baik."

Perjalanan kami berakhir di camp Tebo' pukul empat sore. Aku sudah berandai-andai untuk mandi dan berendam di dingin dan jernihnya sungai Marang selepas perjalanan yang cukup membuatku gerah ini.

bersambung....

You Might Also Like

0 comments

Subscribe