• Homepage
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
  • About Me
Was ist los, Une?
Sebagian orang mungkin menganggap kegiatan naik gunung adalah hobi yang aneh. bagaimana tidak aneh, kalau yang didapat adalah kulit terbakar matahari, mengelupas, kaki pegal, pundak dan dengkul ngilu. Makan seadanya, mau boker susah. 
Tapi aku menikmati proses berjalannya, bukan hasil akhirnya. Proses bagaimana kita dekat dengan alam, bagaimana menikmati alam, mengabadikan keindahannya, bertemu kawan baru, dan berbagai hal menyenangkan lainnya.
Maka dari itu aku mendedikasikan waktu cuti 4 hariku untuk mendaki gunung yang konon terindah di Indonesia selain Semeru, Rinjani.
Perjalanan menuju Rinjani sebenarnya cukup mendadak. Persiapan fisik masih dirasa kurang, hanya kuat di mental dan percaya diri saja.
Rencana ke Rinjani sebenarnya sudah tertunda 2 bulan, semenjak bulan Agustus lalu. Agustus, cuti nggak di acc, September, cuti acc tapi nggak ada teman, dan akhirnya, Oktober, cuti acc dan ikut open trip. Nekat juga, karena dalam open trip itu tidak satupun yang kukenal, emak sih mengkhawatirkan akan tingkat kepedulian orang-orang baru dengan teman yang sudah lama dikenal bakalan beda, tapi aku berusaha meyakinkan emakku, bahwa kawan baru ketika bertemu di gunung itu rasa solidaritas dan persaudaraannya tinggi.
Ok, dapat ACC dari emak.
Berangkat dari Balikpapan, *syukurlah ada barengannya, Om Andi :D tanggal 10 Oktober 2015. Perasaan antara percaya nggak percaya aku mau naik Rinjani mulai melanda. Mampukah aku? Bisakah aku?
Dan pertanyaan itu terus melayang di kepalaku ketika pesawat yang membawaku ke Lombok melampaui kawasan pegunungan Ijen, Raung, Stack Paiton, hingga Gunung Agung di Bali.
Duh kenapa jadi krisis percaya diri seperti ini ya ? XD
Pesawat dari Surabaya sempat delay satu jam, tapi bersyukurlah selain Om Andi ada juga dua kawan baru dari Palembang, Ayu dan Putri. Duo wong kito galo itu minggu ini baru saja menggapai titik tertinggi di tanah Jawa, Mahameru. *aku gunakan kata menggapai, bukan menaklukkan, karena kesannya lebih halus, bukan angkuh. Nggak hanya itu, Puncak Indrapura di Kerinci pun sudah mereka gapai ! Luar biasa.
"Kito baru saja lulus kak, kita cari kegiatan aja, mumpung didanai kampus, soalnya kito buat proposal pendakian ke Agrapana (nama pecinta alam di kampus mereka)"
Aduh senengnya dibiayain kampus, pikirku.
Jadilah kita mendarat di Lombok telat satu jam dari jadwal. Kawan-kawan open trip Filosantara (open trip yang aku ikuti sudah menunggu di bandara), dan kita langsung menuju homestay di Sembalun.
Rute pendakian kali ini mulai tanggal 11-14 Oktober lewat jalur Sembalun, turun Senaru. Perjalanan ke Sembalun dari bandara memakan waktu sekitar 4 jam. Di Sembalun udaranya sejuk sekali, segar, dan gemintang bertaburan indah di angkasa, mengingatkanku pada kondisi kota Ruteng, Nusa Tenggara Timur.
Kami membersihkan diri, packing ulang, lalu istirahat untuk pendakian esok hari.

11 Oktober 2015, Pos Awal-Plawangan Sembalun
Hari yang mendebarkan akhirnya datang. Pendakian hari ini akan segera dimulai. Pagi hari di Sembalun sangat indah. Pucuk Rinjani menjulang gagah di depan mata, serasa ingin segera merengkuhnya. Bukit-bukit berselimut kabut di belakang homestay kami, Bukit Pergasingan. Aktivitas di pasar Aikmel yang berlatar belakang Rinjani sudah terasa denyutnya. Pekerjaan kantor pun terlupakan sementara.
Denyut Aikmel di Pagi Hari

Porter yang membawa logistik kami
Kami sarapan, melakukan sedikit peregangan, dan berdoa, berharap semuanya diberi kelancaran dan keselamatan hingga pulang. Terdengar suara girangnya Brave, si keril 50 L ku diajak naik gunung, ini naik gunung perdana, bersamamu, Brave!
Perjalanan menuju pos pendakian awal dari homestay sekitar 15 menit. Pemandangan perbukitan dan sawah Sembalun sangat mendamaikan.
Masih awal
Trek awal Rinjani masih landai-landai penuh kejutan. Tubuh masih perlu penyesuaian dengan suhu dan beratnya keril yang dipanggul. Tubuh pun cepat lelah. Tapi rasa lelah itu bisa kuminimalisir dengan madu kurma dan berfoto di sepanjang perjalanan. Hingga terbentang sabana Sembalun maha luas bak permadani cokelat karena ilalang yang terpanggang serta mahaterik dengan tanjakan kelas ringan hingga sedang. Karena saking teriknya, air minum cepat terkuras disini. Air mineral yang kubawa 1,5 L dan 750 mL pun tinggal separuhnya, makin khawatir saja karena sepanjang perjalanan tak ada sumber air, sedangkan tenaga cepat terkuras habis.
Sekitar jam 12 kami sampai di pos 1 yang cukup panjang, kita beristirahat sejenak lalu melanjutkan ke pos 2 yang tak terlalu jauh. Jam 1 siang kami sampai di pos 2, lalu makan siang dan shalat. Kami juga dijelaskan kalau jalan menuju pos 3 full tanjakan, tapi belum bukit penyiksaan yang ramai diperbincangkan orang.
Bule-bule makan siang disini dengan menu burger dan spaghetti
Kalau kita makan disini :D
Tanjakan yang tanpa ampun, suasana yang mulai berkabut, kadang kita harus melalui bebatuan dan pasir cukup menguras stamina. Berkali-kali aku istirahat dan rasanya sudah kapok. Satu tim kompakan merasa ingin melempar keril jauh-jauh. Rasanya tubuh ini melayang tanpa keril yang dipanggul.
Kabutnya syahdu dan surreal
Sabana Sembalun : Cantik-cantik ngeri
Jam empat sore kita sampai di pos 3. Tubuh sudah lelah, ditambah lagi melihat rute selanjutnya menanjak full bebatuan ganas diselimuti kabut tipis. Pasrah sudah kakiku, kalau mau hidup ya jalan terus, haha. Kamera yang kubawa serasa tak ada fungsinya. Mana sempat dalam kondisi jalan yang seperti ini memikirkan mengambil foto dengan angle keren. Yang penting cepat sampai, istirahat, makan malam.
Meniti bebatuan perlu kesabaran dan ketelitian tinggi agar tak tergelincir jatuh. Setelah itu kita bersua dengan tanjakan penyiksaan yang panjang setelah melalui 5 bukit. Aku tersenyum pahit, kata bang Arga (yang punya trip) yang mengawal tim pelan-pelan asal selamat, berkata : susah senang kita bersama.
Dengan penuh kesabaran aku melewati tanjakan itu, dikit-dikit berhenti aja dah, pikirku. Pokoknya sampai aja di Sembalun.
Hari merambat makin malam, tak kusadari aku mulai berjalan sendiri. Sering sekali aku jatuh terjerat akar yang menjuntai, terperosok di pasir, kesusahan naik karena medan yang berpasir hingga ditolong pendaki lain, disemangati bule yang lewat, ketakutan akan tersesat, masuk jurang, hingga dengan langkah terseok-seok aku sampai di Plawangan Sembalun pukul 19.30 WITA.
Sempat kecewa tak menikmati sunset di Plawangan Sembalun, aku memilih beristirahat saja, mempersiapkan summit yang masih kuragukan gara-gara kakiku yang pegel luar biasa !

Senin, 12 Oktober 2015, Plawangan Sembalun - Puncak Anjani
Pukul 03.00 WITA kami terbangun, persiapan summit attack. Hawa diluar sunggulah dingin. Kerlip headlamp beriringan menuju puncak. Hanya doa dan harapan yang bisa aku panjatkan. Bawaan aku saat itu hanya daypack, roti, air 1,5 L dan kamera. Dersik angin malam ditemani kerlip lampu desa Bayan membelai tubuh, mengantuk luar biasa. Meniti trek berpasir, berkerikil dengan kemiringan 50 derajat lebih. Ketika sudah ngos-ngosan, Aris (porter kami yang ikut summit) menarikku dengan sarungnya karena iba melihatku yang sudah hampir merangkak. Si Aris benar-benar hebat, bagaimana mampu metabolisme tubuhnya menyesuaikan dengan suhu sekitar dengan kaos oblong dan celana pendek?
Dua jam kami berjalan menekuri jalan berpasir akhirnya aku sampai punggungan menuju puncak Rinjani. Tenagaku sudah terkuras, kaki sudah gemetar. Aku terduduk lemas, Aris membuat api untuk menghangatkan tubuh, sedangkan aku menyantap roti dengan air yang sedingin es. Dari sini puncak terlihat semakin jelas, dan dekat dimata, jauh di kaki. Segara anak pun menyapa dan menyemangati dari bawah. Di puncak terlihat kilat flash kamera dan merah putih berkibar.
"Masih jauh?" tanyaku pada Aris.
"Jauh mbak, masih lurus aja, jalannya berpasir sedikit menanjak."
Semburat Cinta Dewi Anjani
Dengan langkah malas aku menyeret kakiku. Fajar mulai terbit memberikan semburat terbaiknya. Tempat camp kami terlihat jauh dibawah, hingga tempat awal pendakian kami. Bukit pergasingan, sawah berwarna-warni, dan semua keindahan dilimpahkan disana. Rasanya aku ingin duduk saja, menikmatinya dari sini.
"Ayo mbak, kalau jalannya kayak gini bisa lima jam lagi," Goda Aris.
"Aku ngantuk,"
"Nanti dipuncak tidur saja."
Mungkin karena kesal menunggu langkahku yang terseok-seok, maka kupersilakan Aris jalan duluan. Dibelakang masih ada Arga dan kawan-kawan yang lain.
Plawangan Sembalun dibawah sana
Beberapa langkah berhenti, beberapa langkah berhenti. Seperti itulah cara jalanku. Aku berusaha menghilangkan rasa lelahnya dengan melihat Segara Anak dibawahku, lalu mengambil gambarnya, lalu berjalan lagi, begitu seterusnya hingga tanjakan terakhir berupa trek berbatu dan berpasir yang menyulitkan pergerakan menghadang angkuh dihadapanku.

Segara Anak Sebelum Puncak
"Bentar, gua istirahat dulu, Ga." Kataku pada Arga yang menemaniku selama perjalanan menuju puncak setelah ditinggalin Aris. "Kaki gua udah gak kuat lagi, apa gua harus nunggu aja disini," *saat itu sudah jam 9 pagi
"Aduh, lo nyerah sampai sini tuh rugi banget, nanggung. Mending nyerah aja dari bawah tadi. Kalau capek turun aja," katanya sambil tersenyum, tanpa ada nada marah sedikitpun. Duh baik sekali anak ini, haha.
"Nih minum teh dulu, sama roti. Bentar lagi tanjakan penyesalan yang paling nguras tenaga, pelan-pelan aja, ntar gua tarik deh." Katanya sambil menunjukkan webbing yang ia bawa, lalu membukakan oreo krim stroberi. "Makan juga nih, buat energi. Sama, gua juga suka oreo krim stroberi kayak punya lo,"
"Ga, gua boleh cerita gak?"
"Boleh, apaan emang?" Katanya sambil menyalakan sebatang rokok.
"Sebenarnya gua mau ke Rinjani sama cowok yang gua sayang, rencananya September. Tapi dia gak dapet cuti dari bosnya, jadi dia gak bisa naik. Eh ternyata gua duluan yang naik Rinjani, habis kaki udah gatelan banget. Gua jadi gak enak mau bilang dia. Aku diem-diem aja."
"Lo balik aja kesini sama cowok lo. Gunung boleh sama, tapi cerita boleh beda dengan orang yang lain, bukan?"
"Tapi gua udah males kesini lagi, haha."
"Yah, kalau menurutku naik gunung ini mengalahkan ego dalam diri. Ketika kita merasa tak yakin melanjutkan, tapi kita hanya menanamkan kepercayaan dalam diri pasti bisa yah...pasti bisa beneran."
Aku hanya mengangguk. Lalu mengajaknya melanjutkan perjalanan.
Trek Sebelum Puncak
Arga mengulur webbingnya, lalu dengan sabarnya aku ditarik naik. Berjalan sebentar lalu seperti itu lagi. Tapi hanya terjadi beberapa kali, lalu aku memutuskan untuk berjalan sendiri. Sabar dan berusaha.
Aku Sayang Kamu
Dua jam yang tersiksa akhirnya berakhir di puncak Anjani. Aku berlutut, menengadah ke langit. Ini sudah jam 11 Siang. Aku terharu, tak kusangka aku bisa menakulukan mimpiku disini. Melihat Kaldera segara anak yang cantik, kawah Rinjani, Gunung Agung, dan awan yang bergumpal dengan langit biru dibawahku.
Aku ingin teriak, sungguh. Aku memang tak berfoto dengan nama orang yang kusayangi di puncak, aku hanya berbisik pelan di puncak Rinjani : Semoga kamu bisa segera menjejakkan dirimu disini.

Hari semakin terik, kepalaku pusing, ngantuk dan lapar luar biasa. Aku berfikir ini mungkin gejala hipoksia, maka kami segera turun, berharap agar asupan oksigen berangsur normal. Dengan menahan pusing yang teramat sangat, aku segera berlari melibas trek pasir dibawahku. Sempat tertidur karena kelelahan, lalu terbangun kembali bermain ski pasir. Total jarak tempuh turun ke Plawangan Sembalun sekitar 3,5 jam saja, kalau  naik (dengan cara berjalanku) total 7,5 jam !
Karena sampai di Plawangan Sembalun sudah terlalu sore, maka itinerary yang seharusnya menginap di Segara Anak malam itu harus diundur besok. Kami masih menginap di Pelawangan Sembalun. Bersyukurlah aku, karena masih dapat menikmati sore yang indah disana !
Malam hari tampak cuaca tak bersahabat. Angin kencang bertiup memukul tenda kami bertubi-tubi. Aku meringkuk dalam tenda, entah kenapa aku terkejut mendapat pesan masuk di tempat seperti ini, menanyakan bahwa laporan kinerja sudah terkirim atau belum. Tak kubalas karena alasan sedang cuti, setelah itu aku mencoba menelepon orang tuaku yang terpisah ribuan mil dariku.
Gunung yang lucu, ada sinyal yang hanya bisa dibuat telepon dan SMS saja!

Bersambung . . .
http://unesciencefans.blogspot.co.id/2015/10/2-kakak-rinjani-tersayang-plawangan.html

0
Share
Liburan memang datang tiap akhir pekan. Untuk pekan ini (12-13 September 2015) aku diajakin temen untuk ngetrip ke Biduk-Biduk yang kedua kalinya. Sebenarnya malas juga karena sudah pernah, tapi lebih malas lagi kalau sendirian di kontrakan, dan yang lainnya pada jalan-jalan sendiri :D Toh aku juga berpikir tempat sama, tapi dengan teman yang berbeda pasti mendapatkan suasana yang berbeda pula.
Ingin tahu berapa banyak peserta trip kali ini? 25 orang dari satu kantor yang sama. Dan mengkoordinir 25 orang itu tak mudah, banyak pendapat dan masukan, sehingga itinerary yang disusun sebelumnya harus dirubah untuk kedamaian bersama. #lamalamabukaopentripspesialiskantor

 Kalau membahas tentang Labuan Cermin, Kaniungan dan Pesisir Biduk-Biduk mungkin sudah umum dan pernah dibahas di postingan sebelumnya. Untuk kali ini yang dibahas adalah sebuah kampung yang terletak di ujung 'hidung' pulau Kalimantan, kita menyebutnya hidung karena memang bentuknya seperti hidung manusia. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di screenshoot google maps dibawah ya :D
Ditunjukkan oleh buletan biru

Teluk Sumbang, kalau dari Teluk Sulaiman (dermaga di Biduk-Biduk) bisa ditempuh selama 1 jam menggunakan kapal, bisa juga via darat tapi memakan waktu 3 jam. Penduduk mayoritas Bugis perantau yang bermata pencaharian nelayan atau berkebun.
Karena saat itu hari sudah siang, maka kami sepakat menggunakan kapal menuju Teluk Sumbang. Rencana awal kesana, lihat air terjun, Kaniungan Besar, lalu sambil menunggu air pasang untuk melewati Sigending (tempat lalu lintas penyu sisik).
Awalnya aku sempat bingung juga saat kapal berhenti di desa Teluk Sumbang, karena pada trip sebelumnya aku nggak kesini. Aku sempat bertanya pada ABK mengenai rute air terjun, katanya sih kalau ke Air terjun Teluk Sumbang hanya 5 menit jalan kaki, kalau ke air terjun Bidadari masih naik gunung lagi, tapi kalau kemarau air terjunnya kering. Aku mengangguk-angguk saja.
Selamat datang | Wilkommen





Sebelum menuju air terjun, kami shalat dulu, lalu berebutan mengoleskan sunblock ke muka dan bagian yang terpapar matahari. Agus Gendut, ketua rombongan menanyakan pada kami, apakah mau menuju ke Air terjun Bidadari? Sebagian besar menjawab ya, dan yang lainnya ngikut. Kalau aku nggak usah ditanya, ya jelas jawabannya iya.
"Kalau jalan kaki naik gunung memakan waktu satu jam, kalau naik kendaraan cuma 30 menit dan bayar 500 ribu pulang pergi."
Kami semua sepakat naik kendaraan, dan kami berdualima maka dibagi dua kloter. Aku ikut kloter dua. sambil nunggu bisa eksplor dermaga Teluk Sumbang dulu.
Kendaraan modif mirip pick up pengangkut kambing itu pun datang dan mengangkut  teman-teman kloter pertama.
Kloter pertama : Kelinci Percobaan

Hampir satu jam kami menunggu akhirnya giliran kami tiba. Aku kebagian duduk disamping sopir dan yang lainnya sesak-sesakan di bak belakang. Perjalanan cukup menantang, jalanan rusak, menukik mirip di acara My Trip My Adventure. Lumayan juga kalau jalan kaki, pikirku. Kanan kiri penuh pohon kelapa, kebun warga dan Sapi keliaran.
"Eeh mbak, tadi saya angkut cewek-cewek teriak-teriak kenceng sampai saya tutup telinga saat naik tanjakan itu," Tiba-tiba si sopir yang seumuran denganku curhat dadakan.
"Ibu-ibu yang duduk di sebelahku baca syahadat sepanjang jalan,"
Aku ketawa kencang.
"Mbak nggak takut?" Tanyanya heran.
"Nggak mas, nggak kapok malah,"
"Haha, baguslah."
"Mas, listrik disini seperti apa?" Refleks aku melontarkan pertanyaan wajib setiap ngetrip ke tempat baru sebagai insan yang bekerja di sektor kelistrikan. Aku sendiri celingukan lihat di setiap rumah warga tak terdapat kWh meter, hanya terdapat panel surya mirip SEHEN dan parabola. Serta tiang-tiang ulin yang digantungi kabel.
"Listrik? Kita mengandalkan matahari mbak, dulu pernah ada program pengadaan turbin air dari pemerintah untuk pembangkit listrik pakai air, tapi turbinnya sekarang rusak. PLN belum masuk kesini."
Ugh, aku rasanya ditampar, haha. Mungkin yang dimaksud olehnya adalah program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) seperti yang aku lihat di papan sebelah pintu masuk Teluk Sumbang.
Kami akhirnya turun. Menurutnya untuk menuju Air Terjun Bidadari harus jalan lagi sekitar 10 menit.
Halah, cuma 10 menit, kecil.
Pecinta Alam PLN Bontang?

Tapi tolong, medannya naik lebih dari 50 derajat. Ini namanya pemanasan naik gunung. Untunglah aku pakai sandal trekking tapi aku pakai rok lebar, alhasil sepanjang jalan rokku sukses membawa dedaunan dan ranting kering.
Sempat khawatir juga karena dalam trip kali ini aku bersama dengan rekan kerja yang seusia ibuku dan beberapa cewek yang belum biasa jalan di kondisi seperti ini. Takut kenapa-kenapa. Kami jalan full tanjakan, selama sekitar 30 menit. Aku lihat cewek-cewek kayaknya kecapean, dan lenguhan-lenguhan lelah mulai terdengar, tapi mau gimana lagi, ini petualangan, hehe. Aku sendiri karena tak membawa carrier jadi ringan saja.
Tanjakan demi tanjakan dilalui, tiba-tiba terdengan teriakan dari bawah, "Jangan turun! Air Terjunnya Kering!!"
Mataku terbelalak terkejut, kecewa, kesal, yang lain juga mendengus sebal. Benar-benar sweet sacrifice, mirip seperti pengukuhan Pecinta Alam, Pecinta Alam Area Bontang lebih cocok kayaknya :D Jadilah keluar lagu wajib milik Coboy Junior yang berjudul : Eeaa.
"Kau Bidadari, jatuh dari surga, di hadapanku, eeaaa...."
Yasudahlah, namanya juga belum rejeki. Kami kembali turun, aku sempat menanyakan bagaimana penampakan air terjunnya kepada teman yang sempat turun kebawah. Dia menunjukkan fotonya, keadaaanya memang kering parah.
Pos awal pendakian
"Untung cewek-cewek nggak sempat turun, turunnya pakai rotan, berat sekali pas mau naik,"
Kami kembali ke dermaga menggunakan truk itu lagi, aku masih berharap bisa ketemu penyu-penyu di Sigending, setidaknya bisa menghibur :D
Tapi Sayang sekali saat melalui Sigending, penyunya mungkin lagi pergi ke masjid maghrib ini. Aku tak menemukan penampakan penyu sama sekali di Sigending :'(
Mega merah sudah hilang ketika kami tiba di Teluk Sulaiman. Air sudah pasang, tubuh lelah, dan perut lapar. Nyebrang ke seberang ternyata hanya dapat naik gunung di Teluk Sumbang !
0
Share

"Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula."
Terlahir di Surabaya, 20 Juni 1993 dan dibesarkan dengan nomaden; pernah tumbuh di Surabaya, Maluku dan Lumajang. Karena pekerjaan, sekarang berdomisili di Bontang, Kalimantan Timur. Setelah sebelumnya sempat tinggal di Sangatta (Kutai Timur) dan Labuan Bajo, Manggarai Barat.
Darah petualang tampaknya diturunkan dari ibu, sedangkan untuk hobi bermusik bermula dari mencoba.
Tak hanya itu saja, hobiku yang lain adalah fotografi, bersepeda, menulis apa saja yang aku suka, dan mempelajari bahasa asing. 
Memiliki banyak impian, salah satunya adalah menjelajah dunia dengan kamera bagus di tangan kanannya bersama suami dan anaknya. 

Aku suka berteman dengan orang banyak, yang ingin kenal lebih atau ajak traveling bisa kontak Une via :
Facebook : Unesia Drajadispa
Instagram : @fraunesia
0
Share
Tak kusangka bus yang membawaku semalam dari Rantepao sampai di Makassar lebih cepat. Jam setengah lima sudah sampai di Maros. Berarti tak lama lagi sampai di Makassar. Kulirik GPSku, bus menuju ke bandara, mengantar beberapa penumpang. Aku berpikir keras, setelah turun di perwakilan Litha aku mau kemana? Rencanaku sih mau istirahat, mandi, makan, dan siangnya lanjut jalan di sekeliling Makassar aja. Tapi aku benar-benar buta arah, aku mau naik apa? Mau kemana setelah ini? Hotel yang sudah kubooking sebelumnya pun hanya berlaku sehari mulai jam 12 siang. Naik taxi sudah pasti tekor parah, naik ojek takutnya diculik atau diperas. 
Sambil deg-degan aku turun dari bus (sekitar jam 5 pagi), duduk sebentar, menenangkan pikiran sambil tetap waspada terhadap barang bawaan. Lalu melangkah keluar pool dengan pikiran bingung mau gimana dan kemana. Puluhan ojek menawarkan jasanya tapi aku menolak dengan haluss, siapa tahu ada malaikat tiba-tiba datang.
Aku berdiri di tepi jalan, berlagak seperti nunggu jemputan bersama beberapa penumpang lain, yah, sebenarnya sedang kebingungan parah. Tiba-tiba seorang bapak paruh baya disampingku ngajakin ngobrol,
"Adek mau kemana?"
Aku tergugup, bingung mau jawab apa, "Eh...eh...mau ke penginapan,"
"Dimana?"
"Di sepanjang jalan Urip Sumoharjo ini sih, "
"Penginapan apa?"
"Matura Homestay,"
"Waduh, saya tidak tahuki...tapi coba saja adik naik pete-pete yang lewat, semua pasti melalui jalan Urip,"
Masalahnya saya juga tak tahu arah, Pak. Dan entah kenapa GPSku pun bermasalah.
"Bapak dari mana?" tanyaku.
"Dari Mamuju, adek?"
"Rantepao."
"Iya ini rencana saya mau naik pete-pete, tapi kenapa jam lima belum lewat juga? aiih...biasanya juga jam segini sudah ramai," katanya sambil melirik jam dengan logat Mandarnya. By the way saya juga pusing pak, haha.
Tak lama kemudian pete-pete lewat didepan kami, bapak itu langsung menyuruhku masuk setelah menanyakan tujuan pete-pete itu. Tapi beliau tidak ikut naik pete-pete itu.
"Kenapa tidak ikut, Pak?"
"Saya telepon anak saya saja."
Pete-pete pun berjalan membelah pagi. Aku putuskan untuk menuju ke penginapan saja, siapa tahu pagi ini sudah bisa check in. Aku berdoa saja supaya nggak nyasar dan segera sampai. Sepanjang perjalanan aku melihat dengan seksama nomor-nomor rumah dan bangunan di sepanjang Urip Sumoharjo, siapa tahu kelewatan. Tentu saja GPS di ponselku dalam kondisi aktif dan menunjukkan sekitar 10 menit lagi.
Tapi celaka, pete-pete itu berbelok kearah jalan lain. Aku kebingungan, bagaimana ini? Aku tak berani menegur dan bertanya pada sopir dan memilih menikmati pagi buta di Makassar ini dengan perasaan penuh kekhawatiran. Ah, sudah tentu aku tersesat konyol di kampung orang ini.
Sekitar lima belas menit aku berada di pete-pete, sang sopir mulai melihatku dari spion depan dan bertanya, "Adek mau pi kemanaki?"
Aku menelan ludah, berusaha tenang, lalu mencoba berbicara gaya Makassar tapi logat tetap Jawa medok, "Anu pak, saya mau pi ke penginapang Matura jalan Urip, masih jauh ka?"
"Duh, saya tak tau itu penginapang ada dimana? Jalan Urip sudah lewat jauh, kenapa adek tak bilang daritadi," Nadanya sudah mulai tampak kesal.
"Saya baru datang di Makassar ini pak, " jelasku gugup.
"Punya telpong? coba telpong saja dulu. Tapi coba adik lihat ini mau masuk jalan Urip setelah tol,"
Secercah harapan kembali muncul, aku pasang mata baik-baik, dan ternyata entah kenapa penginapan sudah didepan mata. Aku teriak minta berhenti secepatnya. Membayar ongkos lima ribu dan segera berjalan ke penginapan itu. 
Penginapan itu sendiri kondisinya sepi, tak ada resepsionis. aku mengintip ke ruangan dengan tulisan staff only, ternyata mereka sedang tidur, kuketok pintu sambil memanggil, "Mas...mas.."
Salah satu dari mereka terbangun dan segera melayaniku. Aku menunjukkan voucher hotel yang kupesan dari traveloka, eh dia malah bingung, "Bukti pembayarannya mana? kalau sudah bayar kan ada bukti pembayarannya,"

Aduh, mas ini kolot atau cupu sih, jelas jelas ada tulisan hotel voucher dan itinerary id.
"Sudah saya bayar, transfer via traveloka. Sudah saya booking single bed sehari tanggal 21. Coba dicek dulu, ada pasti nama saya."
"Tapi yang single lagi kosong, mbak."
Aku terdiam, ya memang itu kesalahanku sih jam segini sudah check in, harusnya jam 12 nanti.
"Iya mas, saya kira siang nanti baru nyampe Makassar, ternyata pagi. Dan sekarang saya bingung mau kemana lagi." kataku dengan memelas.
Tanpa banyak bicara dia meminta KTPku, mengcopynya, dan mengantarkanku ke sebuah kamar double bed, dia menjelaskan kalau kamar single sedang kosong, jadi pakai saja yang double.
Aku nyengir lebar lihat kasur, segera mandi air panas, keramas, lihat Doraemon, lalu tidur sampai siang. Nanti sekalian makan siang sekalian jalan, pikirku.

Siang harinya aku siap-siap, sambil mikir mau makan dan naik apa. Aku tanya ke mbak resepsionis warung buka disini dan transportasi ke Rotterdam bagaimana.
Lapangan Karebosi
 Dia menjelaskan dari depan penginapan naik pete-pete jurusan Antang, turun di Karebosi Link, kalau jalan kaki ke Rotterdam sekitar 15 menit, bisa naik becak atau ojek maksimal lima belas ribu. Disana banyak warung buka, kalau disekitar sini tidak ada. 
Aku nekatkan jalan kaki saja dari Karebosi ke Fort Rotterdam.

1. Fort Rotterdam
Akhirnya aku turun juga di Karebosi. Takjub aku melihat ramenya Makassar yang mirip seperti Surabaya. Aku jalan lurus dan sempat makan di Texas fried chicken dekat lapangan karebosi. Jalan sendirian dibawah terik matahari sambil bawa tripod benar benar mirip bule ! Ups, tapi barusan ketemu bule pun naik becak. Hahaaha...
Jalan lurus, ketemu china town, lalu tak lama kemudian belok kiri. Dari situ tak jauh sudah kelihatan Fort Rotterdam. Keringat cukup deras membasahi tubuhku setalah jalan kaki kurang lebih 15 menit dibawah teriknya sinar matahari siang, aku segera mengisi buku tamu dan membayar seikhlasnya. 
Didepan Ruang Tahanan Diponegoro
Dan aksipun dimulai, keluarkan kamera dan tripod, berfoto sana-sini pakai self timer kayak model lepas, haha. Bangunannya mirip-mirip di Belanda. Disana terdapat museum La Galigo, ruang tahanan Diponegoro, Bastiong ambon, dll. Aku masuk museum La Galigo bayar lima ribu. Didalamnya terdapat benda-benda purbakala hingga replika mahkota Sultan Hasanuddin .
Keren juga tripod kalau fotoin
Setelah itu acara foto-foto pun dilanjut, tak kusangka aku dihampiri seorang cowok Sudiang (daerah di sebelah bandara Hasanuddin) yang berbaik hati menawarkan diri untuk memotretku (katanya dia mantan fotografer) aku percaya aja, lebih baik lah ada yang fotoin daripada sendiri. Dia memperkenalkan diri dengan nama Ray, aku manggilnya Daeng Ray, hehe.
Aku beruntung ketemu Daeng Ray, dia bisa jadi guide lokal gratisanku dan jadi temen ngobrol. Kebetulan juga dia mau menuju Pantai Losari, jadi aku bisa nebeng kesana, nggak perlu capek-capek jalan kaki :)

2. Pantai Losari
Kata Daeng Ray, sunset di Losari sangat indah, jadi setiap sore warga Makassar berkumpul disini, jadinya jalan Penghibur macet berat. Karena suasana di Losari ramai, jadi aku belum sempat berfoto dengan tulisan pantai Losari. ku hanya melihat sana-sini, lalu memotret masjid apung amirul Mukminin. Daeng Ray Juga menjelaskan bahwa di Sulawesi Selatan ada empat etnis asli, yaitu Makassar, Bugis, Toraja dan Mandar. Aku sendiri baru tahu kalau Bugis dan Makassar beda. Dia menjelaskan penyebaran suku Bugis dan Makassar dimana saja, bahasanya gimana, dan lain-lain. Rasanya semakin mengenal dekat Sulawesi Selatan ini, hehe.
Pantai Losari, menjelaskan empat etnis di Sulawesi Selatan
Perahu Phinisi
Karena sudah maghrib, aku berencana shalat di masjid Amirul Mukminin. Tapi karena ramai akhirnya pindah ke tempat lain saja, di masjid seberang hotel Arya Duta, soalnya aku juga mau ke Trans Studio.
Setelah shalat, aku diantar Daeng Ray ke Trans Studio. Sayangnya aku harus kecewa karena terlalu malam. Tiket masuk Rp. 200.000,- dan wahana 30 menit lagi akan ditutup. Aku memilih pulang saja , tidak jadi masuk daripada kecewa berlarut-larut, haha #lebay

Aku berterima kasih banget sama Daeng Ray. Diajakin muter-muter kota Makassar malam itu. Lihat rumah Pak Jusuf Kalla, Lihat Masjid Al Markaz dan Masjid yang dikelola pak JK semasa kuliah. Setelah itu dianterin beli makan malam dan kembali ke penginapan sama Daeng Ray cowok Bugis-Makassar itu. Sayangnya kita tak sempat tukar nomor HP dan foto bareng, hahaha.
 Syukurlah untuk penginapan tidak dikenakan biaya tambahan gara-gara aku check in terlalu awal. Penginapan Matura ini terletak di jalan Urip Sumoharjo, sebelah RS Awal Bros dan minimarket Circle K. Letaknya cukup strategis dan fasilitas lumayan, ada AC, TV dan air panas. Transportasi juga cukup mudah :)
Oh ya, sekedar saran sih, kalau teman-teman tidak mengetahui tempat penginapan secara jelas atau tempat penginapannya jarang diketahui orang, usahakan tahu fasilitas publik (monumen, taman, kantor, atau rumah sakit) di sekitar penginapan, agar memudahkan kita bilang ke sopir angkot atau taxinya.
Sampai Jumpa Makassar
Alhamdulillah liburan kali ini semua berjalan sesuai rencana dan anggaran! Besok waktunya kembali ke Bontang, mengais rejeki untuk trip selanjutnya, Ewako!

Yang belum kesampaian di Makassar :
1. Foto Pake Baju Bodo
2. Makan Pallumara (sup kepala ikan) . Aku nggak suka Coto Makassar dan Sop Konro sih XD
3. Lihat toko oleh-oleh di Somba Opu


Rincian Biaya diluar tiket pesawat :
1. Penginapan : Rp. 150.000 ,-
2. Makan 6x : Rp. 200,000 ,-
3. Taxi 2x : Rp 220,000 ,-
4. Pete-pete 2x : Rp 10,000,-
5. Tiket masuk wisata di Toraja : Rp 20.000,-
6. Sewa motor : Rp. 100,000,-
7. Bensin : Rp 15,000 ,-
8. Tiket Bus Rantepao-Makassar pp : Rp 360,000, -
9. Snack : Rp 100,000 ,-
10. Air mineral : Rp 50,000 ,-

"Backpacker sendirian benar-benar harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan matang sebelumnya, mulai dari biaya, peralatan yang dibawa, obat-obatan, dan lain-lain. Bacpacker sendiri berarti kau harus siap menghadapi segala sesuatu yang kemungkinan akan kamu hadapi dan kecepatan cara kita menyelesaikan suatu masalah. Jangan takut berjalan sendiri kalau itu akan membuatmu mandiri dan memahami budaya bangsa ini."

Happy Backpacking !

0
Share
Newer Posts Older Posts Home

AUTHOR

AUTHOR
Seorang wanita yang seperti kera sakti : Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati dan hanya hukuman yang dapat menghentikannya.

Labels

Bali Berkeluarga INFLIGHT ITALY JAWA TENGAH Jambi KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR Lumajang NETHERLAND NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Perancis SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT Sulawesi Utara Yogyakarta deutschland jakarta jawa barat jawa timur kalimantan selatan rusia

Popular Posts

  • Berbagi Pengalaman Ketika Aku Joinan Tes D3 ITS-PLN
    Oy...sebelumya si Une minta maaf dulu, fotonya dibuat kayak hantu biar gak ada pemalsuan identitas, penghubungan alamat, walaupun aku pun...
  • ABOUT ME | ÜBER MICH
    "Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula." Terlahir di Surabaya, 20 Juni ...
  • #1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
     "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat."  Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan...
  • Resensi Komik : PIANO HUTAN - The Perfect World of kai
    Apa teman-temon udah pernah baca komik PIANO HUTAN ini? Aku udah, tapi cuma 20 buku aja, soalnya yang ada baru 20 jilid, dan seperti biasa a...
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
    Kategori : Nonfiksi - Travel  Judul : Bekerja, Tidur, dan Berjalan di Kutai Timur Penulis : Unesia Drajadispa Penerbit : Stiletto Indie Book...
  • Deutschland für Anfänger (Pameran Jerman Untuk Pemula)
    Guten tag Leute :) Sebenarnya jujur, kejadian ini udah berlangsung sekitar sebulan yang lalu, tetapi nggak sempat ceritanya karena bentro...

INSTAGRAM : @FRAUNESIA

Copyright © 2015 Was ist los, Une?

Created By ThemeXpose