Teluk Sumbang, Desa di Ujung Hidung Kalimantan Timur

Friday, September 18, 2015

Liburan memang datang tiap akhir pekan. Untuk pekan ini (12-13 September 2015) aku diajakin temen untuk ngetrip ke Biduk-Biduk yang kedua kalinya. Sebenarnya malas juga karena sudah pernah, tapi lebih malas lagi kalau sendirian di kontrakan, dan yang lainnya pada jalan-jalan sendiri :D Toh aku juga berpikir tempat sama, tapi dengan teman yang berbeda pasti mendapatkan suasana yang berbeda pula.
Ingin tahu berapa banyak peserta trip kali ini? 25 orang dari satu kantor yang sama. Dan mengkoordinir 25 orang itu tak mudah, banyak pendapat dan masukan, sehingga itinerary yang disusun sebelumnya harus dirubah untuk kedamaian bersama. #lamalamabukaopentripspesialiskantor

 Kalau membahas tentang Labuan Cermin, Kaniungan dan Pesisir Biduk-Biduk mungkin sudah umum dan pernah dibahas di postingan sebelumnya. Untuk kali ini yang dibahas adalah sebuah kampung yang terletak di ujung 'hidung' pulau Kalimantan, kita menyebutnya hidung karena memang bentuknya seperti hidung manusia. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di screenshoot google maps dibawah ya :D
Ditunjukkan oleh buletan biru

Teluk Sumbang, kalau dari Teluk Sulaiman (dermaga di Biduk-Biduk) bisa ditempuh selama 1 jam menggunakan kapal, bisa juga via darat tapi memakan waktu 3 jam. Penduduk mayoritas Bugis perantau yang bermata pencaharian nelayan atau berkebun.
Karena saat itu hari sudah siang, maka kami sepakat menggunakan kapal menuju Teluk Sumbang. Rencana awal kesana, lihat air terjun, Kaniungan Besar, lalu sambil menunggu air pasang untuk melewati Sigending (tempat lalu lintas penyu sisik).
Awalnya aku sempat bingung juga saat kapal berhenti di desa Teluk Sumbang, karena pada trip sebelumnya aku nggak kesini. Aku sempat bertanya pada ABK mengenai rute air terjun, katanya sih kalau ke Air terjun Teluk Sumbang hanya 5 menit jalan kaki, kalau ke air terjun Bidadari masih naik gunung lagi, tapi kalau kemarau air terjunnya kering. Aku mengangguk-angguk saja.
Selamat datang | Wilkommen





Sebelum menuju air terjun, kami shalat dulu, lalu berebutan mengoleskan sunblock ke muka dan bagian yang terpapar matahari. Agus Gendut, ketua rombongan menanyakan pada kami, apakah mau menuju ke Air terjun Bidadari? Sebagian besar menjawab ya, dan yang lainnya ngikut. Kalau aku nggak usah ditanya, ya jelas jawabannya iya.
"Kalau jalan kaki naik gunung memakan waktu satu jam, kalau naik kendaraan cuma 30 menit dan bayar 500 ribu pulang pergi."
Kami semua sepakat naik kendaraan, dan kami berdualima maka dibagi dua kloter. Aku ikut kloter dua. sambil nunggu bisa eksplor dermaga Teluk Sumbang dulu.
Kendaraan modif mirip pick up pengangkut kambing itu pun datang dan mengangkut  teman-teman kloter pertama.
Kloter pertama : Kelinci Percobaan

Hampir satu jam kami menunggu akhirnya giliran kami tiba. Aku kebagian duduk disamping sopir dan yang lainnya sesak-sesakan di bak belakang. Perjalanan cukup menantang, jalanan rusak, menukik mirip di acara My Trip My Adventure. Lumayan juga kalau jalan kaki, pikirku. Kanan kiri penuh pohon kelapa, kebun warga dan Sapi keliaran.
"Eeh mbak, tadi saya angkut cewek-cewek teriak-teriak kenceng sampai saya tutup telinga saat naik tanjakan itu," Tiba-tiba si sopir yang seumuran denganku curhat dadakan.
"Ibu-ibu yang duduk di sebelahku baca syahadat sepanjang jalan,"
Aku ketawa kencang.
"Mbak nggak takut?" Tanyanya heran.
"Nggak mas, nggak kapok malah,"
"Haha, baguslah."
"Mas, listrik disini seperti apa?" Refleks aku melontarkan pertanyaan wajib setiap ngetrip ke tempat baru sebagai insan yang bekerja di sektor kelistrikan. Aku sendiri celingukan lihat di setiap rumah warga tak terdapat kWh meter, hanya terdapat panel surya mirip SEHEN dan parabola. Serta tiang-tiang ulin yang digantungi kabel.
"Listrik? Kita mengandalkan matahari mbak, dulu pernah ada program pengadaan turbin air dari pemerintah untuk pembangkit listrik pakai air, tapi turbinnya sekarang rusak. PLN belum masuk kesini."
Ugh, aku rasanya ditampar, haha. Mungkin yang dimaksud olehnya adalah program PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) seperti yang aku lihat di papan sebelah pintu masuk Teluk Sumbang.
Kami akhirnya turun. Menurutnya untuk menuju Air Terjun Bidadari harus jalan lagi sekitar 10 menit.
Halah, cuma 10 menit, kecil.
Pecinta Alam PLN Bontang?

Tapi tolong, medannya naik lebih dari 50 derajat. Ini namanya pemanasan naik gunung. Untunglah aku pakai sandal trekking tapi aku pakai rok lebar, alhasil sepanjang jalan rokku sukses membawa dedaunan dan ranting kering.
Sempat khawatir juga karena dalam trip kali ini aku bersama dengan rekan kerja yang seusia ibuku dan beberapa cewek yang belum biasa jalan di kondisi seperti ini. Takut kenapa-kenapa. Kami jalan full tanjakan, selama sekitar 30 menit. Aku lihat cewek-cewek kayaknya kecapean, dan lenguhan-lenguhan lelah mulai terdengar, tapi mau gimana lagi, ini petualangan, hehe. Aku sendiri karena tak membawa carrier jadi ringan saja.
Tanjakan demi tanjakan dilalui, tiba-tiba terdengan teriakan dari bawah, "Jangan turun! Air Terjunnya Kering!!"
Mataku terbelalak terkejut, kecewa, kesal, yang lain juga mendengus sebal. Benar-benar sweet sacrifice, mirip seperti pengukuhan Pecinta Alam, Pecinta Alam Area Bontang lebih cocok kayaknya :D Jadilah keluar lagu wajib milik Coboy Junior yang berjudul : Eeaa.
"Kau Bidadari, jatuh dari surga, di hadapanku, eeaaa...."
Yasudahlah, namanya juga belum rejeki. Kami kembali turun, aku sempat menanyakan bagaimana penampakan air terjunnya kepada teman yang sempat turun kebawah. Dia menunjukkan fotonya, keadaaanya memang kering parah.
Pos awal pendakian
"Untung cewek-cewek nggak sempat turun, turunnya pakai rotan, berat sekali pas mau naik,"
Kami kembali ke dermaga menggunakan truk itu lagi, aku masih berharap bisa ketemu penyu-penyu di Sigending, setidaknya bisa menghibur :D
Tapi Sayang sekali saat melalui Sigending, penyunya mungkin lagi pergi ke masjid maghrib ini. Aku tak menemukan penampakan penyu sama sekali di Sigending :'(
Mega merah sudah hilang ketika kami tiba di Teluk Sulaiman. Air sudah pasang, tubuh lelah, dan perut lapar. Nyebrang ke seberang ternyata hanya dapat naik gunung di Teluk Sumbang !

You Might Also Like

1 comments

Subscribe