• Homepage
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
  • About Me
Was ist los, Une?
Mungkin kau menganggapku sudah gila ! Semua orang berpikir seperti itu, mendengus dan menyumpah serapahi aku sebagai cewek durhaka. Hari Raya Idul Fitiri yang diselimuti dengan kesucian dan seharusnya dimanfaatkan dengan momen berkumpul dengan keluarga besar setahun sekali dan belum tentu akan diulang di tahun mendatang malah dibuat keluyuran ke kampung orang? Hah! Dasar cewek gila !
"Lebaran nggak pulkam, sedihnyaaa...."
"Nggak pulang malah kelayapan kamu "
"Daripada ngeluyur ke Makassar, sama-sama beli tiket pesawat, mending pulkam, ketemu orang tua."
"Kasihan orang tuamu, bla...bla...bla..."
Dan berbagai sindiran manis lainnya.
Ya aku sih tebal telinga. Hanya bisa meringis dan ngeloyor pergi. Benar-benar anti Mainstream.
Mudik tak selalu di saat dan setiap Idul Fitri. Aku sendiri sudah mudik bulan Mei lalu, baru selisih 2 bulan mau pulkam lagi membuat aku berpikir ulang. Pulang kampung dan berkumpul dengan keluarga besar, bermaaf-maafan. Dan bermaaf-maafan bisa dilakukan di bulan-bulan diluar Idul Fitri, bukan?
Yang jelas Idul Fitri tahun ini aku tak ada rencana pulang kampung karena memang sempat kebagian jadwal jaga logistik material selama dua hari. Aku menyusun rencana solo trip ke Sulawesi Selatan dengan embel-embel mudik Makassar. H-1 terdengar kabar bahwa bandara Juanda ditutup karena abu vulkanis Raung. Beberapa penerbangan delay sampai waktu yang tak ditentukan. Untunglah tahun ini aku mudik Makassar :D
Untuk perbandingan, tiket pulang pergi ke Surabaya dari Balikpapan sekitar tiga juta, dan empat hari di Sulawesi Selatan pun menghabiskan dana sekitar tiga juta (termasuk pesawat dan penginapan) setelah kubuat rencana dan anggaran biaya. Setelah dapat persetujuan emak, aku langsung booking tiket pulang pergi dan penginapan di Makassar. Untuk transportasi dari Makassar ke Rantepao aku menggunakan jasa PO Litha CO. Aku kontak teman satu amgkatan yang bekerja di Makassar, minta tolong booking seat untuk ke Rantepao tanggal 18 Juli malam. Pesawatku landing jam 6 sore, lumayan  tenggang waktunya bisa dibuat istirahat dan sholat.
Persiapanku untuk trip kali ini adalah doa, kepercayaan dan kekuatan tanpa dukungan. Baca-baca blog yang membahas perjalananan ke Toraja dan beberapa peta wisata yang aku comot dari blog orang. Bismillahirahmanirrahim, semoga berjalan sesuai rencana dan anggaran.

18 Juli 2015
Aku gelisah. Jam 4 sore harus sudah di gerbang keberangkatan. Jam 7 pagi travel menuju ke Balikpapan belum menjemputku juga? Gawat. Setelah kutelepon drivernya ternyata aku ketinggalan. Makin dongkol saja aku kenapa bisa seceroboh ini. Tapi untunglah ada driver lain dan sampailah aku di Balikpapan dengan tepat waktu.
Sekitar satu jam penerbangan, akhirnya sampai juga di Makassar untuk pertama kalinya. Deg-degan juga sendiri di kota orang. Berbekal dengan belajar bahasa Makassar sedikit-sedikit, dengan percaya dirinya aku ngejar bus Damri dari bandara, dan ternyata bus Damri sudah tak ada lagi. Dengan cepat aku menyusun rencana apa yang harus aku lakukan selanjutnya : makan malam, shalat maghrib, ngaji, shalat isya, dan numpang taxi ke pool bus Litha.
Akhirnya jadi juga numpang taxi, sekali naik seratus dua puluh ribu dengan jarak yang tak terlalu jauh. Sialan, hari pertama sudah tekor aja, batinku. Sopirnya orang Toraja asli, jadi kami ngobrol sedikit tentang keadaan di Toraja. Dia takjub juga, aku cewek, sendirian jauh-jauh dari Bontang datang ke Makassar lalu menuju ke Rantepao hari itu juga? 
"Tapi aman di Rantepao, mbak," katanya, menguatkanku. Mungkin pikirnya nekat juga gadis seperti berjalan-jalan ke Toraja tanpa ada saudara ataupun teman yang dituju disana.
Kami berhenti di terminal bus (aku nggak tau namanya). Kata sopirnya daripada berhenti di pool bus Litha masih nunggu dulu, kalau di terminal langsung berangkat. Aku nurut saja, kulaporkan tiket seharga Rp. 180.000,00 itu ke perwakilan Bus Litha di terminal, lalu disuruh nunggu sampai maksimal jam setengah sebelas. Olee....dua jam setengah aku harus menunggu? Oke, oke. Tabahkan hati. Banyak berdoa.
Selama menunggu itu aku melihat keadaan sekitar terminal, banyak turis backpackeran, dari seusiaku hingga kakek nenek. Ada juga beberapa anak muda sebaya menggendong carrier kesana kemari. Mirip dengan styleku saat itu, gendong carrier deuter 50 L dengan massa sekitar 7 kg. Sebenarnya sih perjalanan ini dibuat untuk menyenangkan si Brave (nama carrier baruku) yang dari dulu minta diajak keluar. Yah, dari awal beli sampai sekarang hanya teronggok diatas lemari tanpa tersentuh. Brave cuma bisa nangis, merajuk minta jalan, katanaya ia tercipta bukan untuk didiemin diatas lemari. Dan kali ini, tunjukkan kemampuanmu, Brave !
Sesekali aku ngobrol dengan petugas ticketing Litha, katanya sampai Rantepao sekitar pukul 7 pagi. Dari Makassar menempuh rute Maros, Pare-Pare, Sidrap, Enrekang, dst... (lupa nama kotanya apa aja)
Cukup lama nunggu, akhirnya bus datang juga. Di terminal itu hanya tinggal aku dan satu penumpang yang menunggu bus itu, selebihnya sudah berangkat semua. Aku masuk kedalam bus, tan ternyata interior bus benar-benar nyaman, kursi besar, empuk, ada sandaran kaki yang nyaman. Ada selimut dan bantal. AC juga dingin...tinggal ambil posisi untuk tidur !
Aku tak tahu kondisi jalan diluar seperti apa, benar-benar aku niatkan untuk tidur agar fresh keesokan harinya. Karena bus sudah air suspension, maka lendutan sepanjang perjalanan tak seberapa terasa. Tidur tetap nyaman. 
Sekitar pukul lima aku terbangun mendengar teriakan "Perwakilan Litha Makale, Makale!" Mataku lengket sekali melihat orang-orang sibuk turun dengan berisik. Sepengetahuanku, Makale itu ibukota Tana Toraja,dan Rantepao ibukota Toraja Utara, aku memeriksa Google maps, Makale ke Rantepao masih cukup jauh. Tapi aku tak bisa melanjutkan tidurku. Aku takjub, tak percaya bisa melihat langsung kantor DPRD Tana Toraja dengan patung dan kolam didepannya. Lalu beberapa bapak-bapak berpeci, bersarung rapat dan berjalan menuju masjid. Tampaknya diluar suhu cukup dingin,
Tiga puluh menit kemudian akhirnya sampai juga di Rantepao. Deg-degan banget. Tapi aku sudah merencanakan apa yang harus kulakukan setelahnya : Pesan tiket balik Makassar nanti malam, cari sewa motor, lalu mandi dan shalat di Masjid Agung Rantepao, dan sarapan di warung muslim yang terletak di sebelah masjid (menurut blog yang aku baca).
Penjual Souvenir di Kete' Kesu
Souvenir Toraja Carving
Begitu aku turun, banyak bentor menawarkan jasanya, aku menolak dengan halus, dan entah kenapa hari itu hujan! Aku panik, bisa kacau semua rencana. Tapi aku tetap sabar, berjalan menuju perwakilan Litha Rantepao dan memesan tiket kembali ke Makassar nanti malam. Bertanya dimana letak masjid, dan ternyata tak terlalu jauh. Mau jalan kaki, tapi ciut juga nyali karena hujan cukup deras. Akhirnya aku putuskan naik bentor menuju ke penyewaan motor. 
Setelah sampai di penyewaan motor milik pak Markus yang ditunjukkan oleh bentor, aku disambut baik oleh pak Markus dan menjelaskan aturan sewa motor dari jam 7 sampai jam 5 sore (aku dikasih bonus sampai jam 6 sore) dengan tarif 100 ribu diluar bensin (bensin aku beli sekitar 15ribu full tank). Aku memberikan KTPku untuk jaminan, beliau menjelaskan tempat wisata yang wajib dikunjungi dan peta wisata. Aku bertanya sedetail-detailnya tentang kondisi dan situasi di Rantepao. Lelaki itu menjelaskan, baru hari ini turun hujan, tapi biasanya tak lama. Benar saja, 30 menit kemudian hujan berhenti. Aku menitipkan Brave dan barang-barang yang tidak perlu dibawa di rumah Pak Markus, dan dengan girang aku menuju ke Masjid. Aku menyewa motor matic Beat seperti milikku, terasa nyaman pakai motor 'sendiri' :)) Oh ya, jangan lupa minta surat tanda bukti motor sewaan ya, siapa tahu ditanyai polisi nanti.
Masjid Agung Rantepao
Ternyata di Masjid kondisinya dikunci ! Gawat, biasanya di Bontang masjid buka 24 jam. Aku memegang pagar masjid itu dan berpikir langkah selanjutnya : sarapan dan shalat shubuh seadanya.
Kupacu motor dan tak jauh dari masjid ada warung muslim Surabaya. Celakanya terdapat tulisan : lebaran tutup, mudik. Aku berputar-putar disekitar situ, ada satu warung makan muslim, tapi tutup juga.
Celakalah aku, sudah belum mandi dari kemarin, kelaparan pula.
Aku berpikir keras, apa yang harus aku lakukan? Mandi dimana? makan apa? Aku segera menuju kota, berharap ada warung muslim yang buka. Tapi nihil. Aku menuju ke minimarket untuk membeli roti, tapi entahlah rotinya lagi kosong.
Dengan perut lapar aku memacu motorku untuk menuju ke Kete' Kesu (rumah adat Tongkonan berusia Ratusan tahun), tujuan pertamaku. Nggak asyik dong foto-foto dengan kondisi perut lapar dan belum mandi. 
Toraja Penghasil Kopi
Setelah berbelok dari Patung kerbau belang alias Tedong Saleko, aku menemukan toko kelontong kecil. Aku beli roti disana, lalu bertanya dengan muka memelas, "Mama, dimana ya bisa numpang mandi? Dari Makassar aku belum mandi,"
Ibu yang sudah cukup tua itu menjawab, "Aduh, dimana e? tidak ada disini,"
Aku tak mau kalah merajuknya, "Tapi aku belum mandi dua hari Mama..."
Tampaknya beliau iba melihat aku yang mirip backpacker kere, "Disini ada, tapi jelek. Kalau mau ya silakan," lalu beliau menunjukkan kamar mandinya yang sederhana banget. Atas terbuka, banyak lintah, pintu tak rapat, dan sebelah kandang babi (tapi babinya nggak ada)
"Maaf ya, adanya seperti ini."
Aku meringis lalu segera mandi. Pintu kamar mandi masih ada celah cukup lebar ketika ditutup, aku menutupi dengan rok yang memang kulepas saat mandi. Aku mandi dengan secepat kilat sambil menutup hidung dan melihat kondisi sekitar, kali aja ada yang ngintip bidadari mandi :D Busyet, airnya dingin sekali !
Selesai mandi aku berdandan di pinggir jalan mengandalkan kaca spion motor. Orang-orang menatapku dengan geli, tapi aku masa bodo. Aku ucapkan terima kasih pada mama penyelamat pagi itu, lalu segera melanjutkan ke Kete' Kesu.
Udara pagi itu segar sekali. Sawah-sawah di Rantepao sangat cantik. Jarak dari Rantepao ke Kete' Kesu sekitar 2,5 km saja. Jangan khawatir tersesat ya, petunjuk menuju tempat wisata sudah cukup jelas.

1. Kete' Kesu
Ada anjing dibelakangnya !
Siang dikit udah rame
Karena masih pagi, maka pengunjung masih sedikit. Masuk bayar sepuluh ribu saja.di Kete'kesu terdapat jajaran rumah Tongkonan dan kubur batu. Aku segera mengeluarkan tripod dan berfoto sana-sini dengan semangat beserta seekor anjing hitam yang mengikutiku terus. Persis seperti orang kurang kerjaan saja lari kesana kemari pakai self timer dan tripod karena memang nggak ada yang fotoin.  Aku berjalan kesana kemari, lalu melihat kubur batu dan tengkorak yang berserakan disana. Di kubur batu yang katanya untuk orang kaya terdapat juga tau-tau atau patung yang dibuat semirip mungkin dengan almarhum/mah. Ada juga gua tempat peti mati, tapi aku nggak masuk kedalamnya.
Kuburan orang kaya
Tau-tau yang dibuat semirip mungkin
Tengkorak dan tulang belulang

2. Londa
Pintu masuk Londa
Londa

Tebing tempat makam
Gua di Londa
Londa merupakan tujuan selanjutnya, tiket masuk 10 ribu rupiah. Cukup jauh juga dari Kete' Kesu plus nyasarnya. Jalan menuju Londa ada beberapa ruas yang rusak. Londa merupakan kubur yang bertingkat-tingkat dan terdapat dua gua sedalam 30 meter. Pas itu masuk gua cukup rame pengunjung, ditambah petromaks sehingga di dalam goa kondisi cukup panas. Goa berbiku-biku yang terbentuk secara alami, dan terdapat peti-peti mati. Ngeri lah, kayak rumah hantu. Aku segera keluar dari Goa, lalu memotret bagian luarnya. Ada beberapa tau-tau bangsawan dan menurut kepercayaan orang lokal, semakin tinggi letak peti matinya, maka makin dekat menuju ke nirwana.

Karena cukup lelah mengunjungi dua tempat itu, aku makan siang dulu di warung muslim pangkep di sebelah Kantor BRI. Alhamdulillah, ada yang buka juga. Setelah itu shalat dhuhur dan istirahat sebentar di masjid.

3. Pasar Bolu, Tinimbayo, dan Batutumonga
Perjalanan selanjutnya adalah ke Pasar Bolu, pengen lihat macam-macam Tedong disana. Tapi sayang bukan hari pasar, jadi sepi. Aku melanjutkan perjalanan ke Tinimbayo dan Batutumonga. Cukup nekat juga sih bagiku, karena kedua tempat itu letaknya cukup jauh dari Rantepao, sekitar satu jam berkendara motor melewati hutan. Entah setan apa yang merasukiku sehingga aku berani menuju kesana sendirian ! Dari pasar Bolu lurus, ketemu jembatan, lalu pertigaan belok kanan. Lurus saja kearah Rantepangli hingga ada rambu Batutumonga belok kiri.
Batutumonga dan Rantepao dari Ketinggian
Motor kupacu dengan perasaan berdebar melihat kota Rantepao dari ketinggian di kaki gunung Sesean. Udara sangat sejuk, sawah-sawah dibuat sengkedan semua, rumah tongkonan tersebar disana sini, tedong dan anjing berkeliaran, damai sekali ! Ada beberapa jalan rusak, jadi aku sedikit berhati-hati karena kanan kiri jurang juga. Hal yang tak pernah terpikirkan olehku, touring sendirian di kampung orang !
Jalan yang menanjak dan berkelok membuatku tetap waspada. Setiap tikungan aku klakson untuk memastikan tak ada kendaraan yang berpapasan. yah, sekitar 45 menit aku sampai di Tinimbayo. dari sini aku bisa melihat pemandangan alam yang indah! Sawah-sawah terasiring dan batu-batu besar akibat aktivitas gunung Sesean.
Tinimbayo
Dari Tinimbayo menuju ke Batutumonga hanya sekitar 15 menit. Ada beberapa ruas jalan yang ancur dan berlumpur, tapi membuat petualangan kali ini semakin seru. Sayang sekali aku menuju ke Batutumonga saat sore, jadi aku tak dapat melihat kota diatas awan maupun kerlip indahnya Rantepao dibawah sana.
Sawah Cantik
Balik menuju ke Rantepao sekitar pukul setengah empat, sepanjang jalan aku sempat berfoto dengan sawah indahnya. Sampai Rantepao sekitar jam setengah lima kurang dan aku bingung mau ngapain lagi. 
Gereja Tua di Rantepao
Tongkonan tempat aku menghabiskan waktu sore hari
Rencana ke Buntu Pune tapi jalanan macet parah. Jadinya aku hanya memotret landmark Toraja Utara dan nongkrong sendirian di tongkonan dekat Gereja. Lalu makan lagi, balikin motor jam enam pas dan jalan kaki ke Masjid. 
Rantepao Art Centre
Pusat Kota Rantepao
Malam itu kuhabiskan di Masjid. Dari maghrib hingga Isya. Soalnya tak ada tempat berteduh lagi. Setelah isya sekitar pukul delapan aku keluar membeli kopi Arabika Toraja untuk kawan di Bontang. Orang-orang di Rantepao ramah sekali terhadap pendatang, muka boleh sangar, tapi begitu diajak ngobrol halus sekali :D Aku merasa nyaman backpackeran sendiri di Toraja. Tenteng carrier sana sini aman aja !
Senang sekali aku dapat menjelajah kota Rantepao seorang diri, dengan begini aku lebih berani dan mengenal kondisi serta jalan-jalan disekitarnya. Dan yang terpenting aku sempat berinteraksi dengan warga lokal :)
Aku beli satu kilo kopi Arabika Toraja yang aromanya nendang menurut penjualnya. 500 gr seharga seratus ribu rupiah. Wew, mahal asli, haha. Aku ngobrol cukup lama dengan penjual kopinya untuk membunuh waktu sambil menunggu bus menuju Makassar, yah, daripada nggak jelas di pool bus.
Datang juga waktuku berpisah dengan Rantepao. Bus yang mengantarkanku pulang ke Makassar akhirnya tiba, sedih juga berpisah dengan Rantepao....ah, rindu pelukan sejuk dan ramahmu, sayang :)
Bus yang membawaku kembali
Suasana Malam di Rantepao :')
Destinasi yang belum tercapai di Toraja :
1. Lemo
2. Makale, mau foto di gedung DPRDnya.

Tips menuju Toraja :
- Bagi yang ingin explore sehari saja, jangan lupa pesan tiket balik ke Makassar ya untuk malam hari
- Tak perlu mengunjungi semua tempat wisata di Toraja, karena banyak yang mirip, seperti : Buntu Pune dan Kete' Kesu. Kunjungi yang perlu saja.
- Selektif memilih makanan (bagi yang muslim) Biasanya warung makan halal dikasih tulisan muslim
- Jangan malu bergaul dengan warga Rantepao yang ramah
- Gunakan tabir surya, cuaca sejuk tapi matahari cukup terik
- Hargai kearifan budaya lokal, jangan rusak situs disana (ada sanksi adat lho)
- Berperilaku dan berbusana yang sopan, ini kampung orang bung, jangan bertindak sesuka hati lah.
- Usahakan memiliki nomor kontak penginapan ataupun penyewaan motor untuk menghindari full booked
- Gunakan jaket saat berkunjung ke Toraja, buat antisisapi..eh antisipasi.

Alamat penyewaan motor :
Bagus Tourist Information Centre (Bpk Markus)
JL. Mangadil No 25 Rantepao (dekat Wisma Maria)
HP. 081355390131

PO Litha (Bus Toraja-Makassar pp)
Perwakilan Makassar : (0411) 442236
Perwakilan Rantepao : (0423) 21204
2
Share
"Kota Batu benar-benar berhasil menjelma menjadi kota wisata yang modern. Sejak berpisah dari Malang, Batu melebarkan sayapnya. Awalnya hanya ada Songgoriti, Sengkaling, Selecta dengan kebun bunganya, dan kini tiap tahunnya Batu menarik wisatawan dari seluruh Indonesia dengan berbagai wahana baru, Mulai dari Jatim Park I, Jatim Park II Secret Zoo, Batu Night Spectacular, Bukit Paralayang, dan yang lagi Hits yaitu Museum Angkut. Tapi sayang, kesejukan Batu makin berkurang lagi. Perbukitan yang dulunya masih hijau sekarang telah dibangun villa-villa."

Asyik ! senyampang lagi cuti dan kebetulan tanggal 14 Mei ada libur hari besar, Emakku menawari kami sekeluarga untuk mencoba wahana yang kekinian buat foto-foto di jaman anak muda : Museum Angkut Batu.
Aku mengiyakannya aja. Sialnya kami mengira Museum angkut buka jam sepuluh pagi, ternyata jam 12 siang baru dibuka, sedangkan ticketing jam setengah dua belas. Alhasil kita sampai dan masih ditutup. Jadi kita berkeliling dulu di Alun-Alun Batu, foto-foto, istirahat, dan shalat. Oh ya, untuk masuk ke museum angkut dikenakan biaya tujuh puluh ribu rupiah dan semua jenis kamera digital (DSLR, Prosummer, Mirrorles, Pocket) Dikenai charge 30 ribu rupiah. Kamera ponsel? Free~
 Berdasarkan teman-teman di Bontang yang pernah mengunjunginya sih suasananya mirip seperti going to abroad for low budget level. Jadi disana terdapat 'miniatur' dari beberapa kota terkenal di seluruh dunia, mulai dari Las Vegas, London, Paris, Berlin, dan lain-lain. Dibagi jadi beberapa area Tematik juga, seperti Sunda Kelapa, Batavia, Galeri Asli Indonesia, dan desainnya pun seakan-akan kita kembali ke jamannya...
Adikku berlagak jadi Mafia mau main judi di Salah Satu Bar Las Vegas
Pose ngemis di Jalanan, Juara deh Posenya !
Tunjuk-tunjuk kantor nikah, udah kebelet kayaknya :P

 

Pamer Showroom Ceritanya


Aseeek Ke 'Jerman' !
Ghost Rider katanya
Suasananya pun dibuat semirip mungkin dengan tambahan kendaraan antik khas negara-negara tersebut. Ya...seperi BMW, Volkswagen dari Jerman,  Vespa dari Italia, Porsche lawas, dan lain-lain. Yah, bagus juga sih, dengan begini aku jadi tahu merk-merk mobil walau belum bisa beli yang betulan.

Vintage, efek lawas
Tak hanya itu saja, suasana kuno, vintage dan klasik pun terdapat disini, seperti lorong-lorong tua di abad 19an, dengan suasana Tionghoa maupun Belanda. Pengunjung juga bisa berfoto dengan model-model yang ada, jadi suasana lebih menghayati. Setidaknya pernah ke luar negeri kw dulu baru betulan :D
Evolusi berbagai macam kendaraan pun terdapat disana, dari jaman sebelum mesin ditemukan, hingga Revolusi Industri hingga jaman modern. Sepeda jaman nggak enak hingga terkini. Sempat bingung juga sih, darimana mereka mendapatkan semua koleksi itu? 
Karena kita mengunjungi pas hari libur, maka suasana di museum angkut cukup ramai pengunjung. Mau berfoto di beberapa spot pun harus ngantri hingga rebutan. Tak jarang juga hasil foto kita 'terganggu' dengan orang lain. Jadi harus gesit-gesitan ambil tempat foto sama orang lain, hehe. Jadi kalau tujuanmu ke museum angkut untuk foto-foto, cari hari paling sibuk dan tak ada liburan sekolah. Jadi kamu bisa ambil cuti ! Khusyuk deh ritual foto-fotomu. *hanya berlaku bagi yang sudah kerja
Buckingham yang bikin penasaran
Salah satu spot foto yang buat aku penasaran adalah Buckingham Palace tempat kediaman Ratu Inggris. Habisnya aku lihat temanku berfoto disana, kukira dia ke Buckingham betulan, haha. Pas masuk kedalamnya, ada berbagai macam kendaraan dari Inggris, seperti Ford. Dan kita dapat berfoto dengan Ratu Elizabeth lho di singgasananya.
Terjawab sudah rasa penasaranku, ternyata seperti ini toh 'istana' Buckingham itu. Ya kalau nggak jeli bisa dikira betulan. Tapi yang namanya spot foto paling hits ya pasti rame diburu orang.
Karena spot foto di museum angkut cukup unik dan menarik, jadi berbagai kalangan dari muda hingga tua tak mau ketinggalan ngeksis dengan gaya hits nya ! Cheese ~
Emak Sama Bapak Pose di Toko Kelontong dari Cina
Penjual Ikan Tempoe Doeloe

Tips memotret ketika mengunjungi museum angkut :
1. Gunakan flash saat berada dalam ruangan yang kurang cahaya, cuma berpotensi membuat mukamu oily :P
2. Pakai lensa wide, ringkas. Jangan lupa pakai aperture kecil, biar semua obyek menjadi tajam (sayang kan kalau background kabur) Yah emang resikonya gambar jadi lebih gelap sih :D
3. Patuhi aturan dan etika dalam berfoto bro, sering kulihat mobil dengan tulisan 'jangan disentuh' tapi pengunjung nekat menyentuh mobil dengan gaya sok-sokan kalau itu mobilnya demi mendapatkan gambar yang kece dan dipost di medsosnya. Yah, itulah Indonesia.
4. Gunakan efek vintage (kalau tersedia) sehingga lebih classy
5. Cari tempat sepi buat berfoto...biar lebih khusyuk !
6. Bawa kamera yang ringan, ringkas. Itu sangat memudahkan pergerakanmu apalagi kalau suasananya rame pengunjung.


0
Share
Tentunya sebelum pergi berlibur ke suatu tempat harus mengetahui dan punya proyeksi dimana tempat untuk singgah dan bernanung, Iya kan? Untuk kali ini, perjalanan ke Ijen - Emakku - punya referensi penginapan yang tak terlalu jauh dari Paltuding (Pos awal pendakian kawah Ijen), yaitu di Arabica Homestay yang berdampingan dengan industri pengolahan kopi dan dikelola oleh perkebunan nusantara PTPN XII.
Sempat mencari-cari info di internet, sayang info masih minim. Ada situs untuk reservasi online kamarnya, cek saja disini untuk referensi harganya.

Bagaimana untuk menuju ke penginapan di Jampit?
Dari Baluran, menuju ke arah Bondowoso. Tak terlalu sulit sih karena sudah banyak papan penunjuk arah ke kawah Ijen/Kawah Wurung (menuju desa Sempol). Dari kota Bondowoso sendiri ditempuh dengan waktu sekitar 1,5 jam dengan kendaraan bermotor. Saat itu kami menuju kesana saat senja menjelang, jadi jalanan pun gelap, tak dapat melihat kondisi kanan kiri. Yang jelas, perjalanan menuju dataran tinggi berkelok-kelok dan ada beberapa ruas jalan yang rusak, jadi harus berhati-hati ya. 

Kalisat, Jampit.
Betapa leganya kami ketika melihat tulisan "Selamat Datang di Kalisat, Jampit." dengan kerlip lampu di kejahuan dan pos satpam yang petugasnya sibuk menghangatkan diri di perapian. Kami mengisi buku tamu dan dipersilakan masuk. Ternyata masih 5 km lagi !
"Kalau Arabica Homestay 5 km lagi, kalau yang Guest House Jampit masih 17 km lagi," kata penjaga pos.
"Guest House Jampit?" Emak bertanya.
"Iya ibu, semacam sewa rumah yang biasanya dibuat rombongan sih, coba lebih jelasnya tanya di Mbak Resepsionis."
Perjalanan pun dilanjutkan diselimuti dengan Hawa sejuk yang mengukung dan bintang yang berkelip lembut membuatku jatuh cinta dengan suasana ini.

Setelah 30 menit melaju melalui kebun kopi, kami menemukan perumahan khas milik PTPN, tanda Arabica Homestay sudah dekat. Benar saja. Arabica Homestay bergaya Eropa sudah tampat di depan kami. Mobil sejenis ELF berjajar di parkiran homestay. Ketar-ketir juga kami kalau tiba-tiba full.
Seranjang berdua, dijamin lebih hangat *eh *ups
Ruang tengah di Homestay itu sangat menyenangkan, turis-turis berlogat Belanda-Jerman memenuhi ruangan itu sambil menyesap hangatnya kopi dan teh. Aku dan emak reservasi di resepsionis. Ternyata syukurlah kamar masih banyak yang kosong karena bukan peak season. Satu kamar reguler berisi tiga bed dengan fasilitas air panas. Semalam Rp. 250,000,-. Kamarnya nyaman, recommended dilengkapi dengan selimut tetangga yang menghangatkan.
Suasana di Sekitar Arabica Homestay
Fasilitas lain di Penginapan ini adalah Mushalla, Makan Pagi, dan kantin yang menjual produk perkebunan, seperti : Kopi Robusta, Arabika, Teh Rolaas, dan Kacang Macadammia. Ditambah pemandangan pagi super indah yang dapat dinikmati secara gratis saat kita makan pagi. Sungguh menyejukkan lukisan alam ini, tak  bisa kutemukan di kota tempatku mencari nafkah.
Sarapan dengan Pemandangan Waw


Perjalanan Menuju Kawah Ijen Bagaimana?
Rumah dan Kebun Sayur :D
Dari penginapan menuju Paltuding dapat ditempuh sekitar 45 menit, lalu dari Paltuding menuju Bibir Kawah Ijen ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 2 jam. Melalui perbukitan Kawah Wurung dan perkebunan yang indah. Kalau ingin menikmati Blue Fire, berangkatlah pukul 01.00 WIB. Hati-hati ada beberapa ruas jalan yang cukup berbahaya.

Semoga membantu bagi teman-teman yang mau berlibur di Kawah Ijen dan sekitarnya, jangan lupa reservasi jauh-jauh hari untuk memastikan ketersediaan kamar. Have a nice holiday :) 

3
Share
Menggadaikan waktu cuti yang sangat berharga ditengah pekerjaan yang ruwet adalah hal yang bodoh, menurutku. Selepas dari Baluran, walaupun badan masih kerasa pegel-pegel tapi aku tetap melanjutkan perjalanan bersama Emak dan grandmak ke Kawah Ijen. Emak tetep semangatnya nggak pudar, begitu pula dengan grandmak.
Kusangkanya perjalanan ke Ijen tak lama, hanya 2 jam. Tapi siapa sangka, dari Baluran ke Ijen hampir 3,5-4 jam ! Prediksi waktu sampai di penginapan milik PTPN XII Perkebunan Kopi yang memproduksi Robusta dan Arabika di Kalisat, Jampit meleset. Awalnya prediksi jam 6 sampai di Sempol (desa terdekat dari Ijen) tapi meleset satu jam setengah. Badan capek semua, rencana nongkrong malam malam sambil ngopi dan nge'long exposure' bintang nggak jadi. Padahal bintang-bintang di dataran tinggi ini sungguh menawan dan membuat diri ini tertawan. Hawa yang sejuk, dingin, membuat menyesal juga, kenapa dengan gobloknya tas yang berisi jaket andalan naik gunung bisa tertinggal. Badan gemelutuk kedinginan, tapi beruntunglah emak bawa jaket cadangan. 
Suasana  di Jampit ini sungguh menyenangkan dan menenangkan. Segar, bebas polusi, diapit pegunungan, dan jauh dari Mall yang menggoda iman cewek umur 22 tahunan. Tak masalah walaupun sinyal internet hanya EDGE, kebahagiaan di dataran tinggi menurutku bukan internet yang cepat, tapi hawa yang sejuk, bangun tidur menghirup udara bersih dan melihat kebun sayuran di sekitar rumah serta bunga-bunga khas yang hidup di dataran tinggi.
Penginapan di Kalisat (Arabica Homestay) nyaman, terdapat air panas di setiap kamarnya. Pemandangan di belakang kamar gunung-gunung dan perbukitan. Untuk lebih jelasnya aku paparkan di post selanjutnya ya! 

Resepsionis memberitahuku kalau ingin melihat blue fire (fenomena api biru yang hanya ada dua di dunia, katanya) harus berangkat pukul satu dini hari bareng dengan wisatawan yang lain. Dari penginapan ke Paltuding (pos awal pendakian ke Ijen) sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor. Hawanya dingin sekali. Aku merapatkan jaketku sambil meringkuk di kursi mobil sepanjang perjalanan.
Paltuding
Sesampainya di Paltuding, kami diberitahu bahwa untuk pendakian ke kawah ijen harus disertai dengan guide, per-orang lima puluh ribu. Berhubung semobil ada 3 orang (aku, emak, dan driver) maka kami membayar seratus limapuluh ribu ke satu orang guide. Okelah, kita sepakati dan segera menanjak ke Kawah. Jarak dari Paltuding ke Kawah sekitar 3-3,5 kman, full tanjakan, start dari pukul 02.00. Tak kusangka Emak juga ikut nanjak, tapi baru lima menit jalan emak udah kedinginan dan mengeluh tak bisa bernafas, jadi emak turun lagi. Aku sama driver lanjut. Dengkulku sakit bener gara-gara sudah lama nggak nanjak. 


Sepanjang jalan, kami sering menemui para penambang belerang yang sedang naik. Jalan mereka cepat banget. Pak Anto (guide kami) menceritakan bahwa para penambang sekali angkut belerang bisa mencapai 50-90 kg dan seharian bisa bolak-balik sebanyak 3 kali. Sekilo belerang dihargai seribu rupiah. Salut melihat mereka, semangat mereka tak pernah pudar untuk menghidupi keluarganya walau bertaruh nyawa dengan menghirup asap belerang berbahaya tiap hari dan pundak mereka memerah.
"Tapi penambang Belerang dari tahun ketahun kian berkurang mbak," jelasnya. "Saya ini juga penambang belerang, tapi lebih sering jadi guide. Kita bertahan di impitan ekonomi sekarang. Kalau tak ada job ya angkut belerang. Jadi guide wisatawan saya belajar banyak hal baru, mulai dari berbagai macam bahasa dan fotografi."
Aku menimpali dengan nafas tersengal. Salut nih, Pak Anto berbicara tanpa ada nada yang tersengal-sengal.
"Masih lama ya?" Tanyaku sebal karena nggak sampai-sampai.
"Seratus meter lagi kantin penambang."
Pemandangan sepanjang perjalanan
Bah, jalan seratus meter serasa sekilo. Tapi akhirnya sampai juga di Kantin penambang. Disini merupakan tempat untuk menimbang belerang yang mereka bawa. Ada juga kantin untuk beristirahat. Banyak pendaki yang mengatur nafas untu mempersiapkan rute selanjutnya.
"Habis kantin, mayoritas jalannya landai. Santai saja." Kata Pak Anto.
Makin semangat aku. Hanya sebentar mendaki, kemudian jalan landai.
"Ayo mbak lebih dipercepat, sudah jam segini ! Blue Fire keburu hilang. "
"Loh emang sampai jam berapa Blue Fire?" tanyaku.
"Maksimal jam lima, kemudian setelah itu berubah menjadi kepulan asap tebal."
Aku sedikit mempercepat langkah. Senter yang kubawa kian meredup. Dan akhirnya sampai juga di bibir Kawah Ijen. Suasana masih gelap dengan bintang dan bulan yang masih menggantung.
"Mana api birunya?" 
"Lihat dari sini," Pak Anto membimbingku ke sebuah tempat, lalu menunjukkan api yang berkobar dari kejauhan. "Itu,"
"Kecil pak?"
"Tingginya bisa sampai empat meter, kalau pengen lihat lebih jelas ayo turun kebawah, tempat penambang. Sekitar 800 m lagi"
Tanpa pikir panjang aku mengiyakan sambil deg-degan. Jalan turun ke kawah sangat curam, berbatu cadas. Kalau meleng dikit bisa jatuh bebas menghantam bebatuan. Berkali-kali aku hampir terpeleset namun aku masih berhasil mengendalikan tubuhku. Pak Anto jalannya santai banget sambil bawa tripodku.
Sekitar 30 menit akhirnya sampai juga di kawah Sulphuric Area. Api biru berkobar, pengunjung sibuk mengabadikan fenomena langka tersebut dengan dirinya. Aktivitas penambang pun mulai terasa. Beruntunglah arah angin baik, sehingga asap belerang tak menerpa kami.
Kompor Gas Raksasa
Aku segera mengeluarkan tripod. Di saat-saat seperti ini tripod sangat berguna untuk long exposure blue fire. Aku berhasil menangkapnya walau agak blur sedikit. Gila pokoknya, keren !
Satu jam kemudian matahari mulai tampak guratannya. Blue Fire mengecil dan akhirnya tertutup kepulan asap abu-abu tebal. Pengunjung banyak yang naik ke bibir kawah, sedangkan aku masih sibuk mengeksplor kawah itu. Menyentuh air kawah dan berfoto sana-sini. Tak disangka arah angin berubah dan asap menyelimuti ke arah pengunjung. Aku panik, nafasku sesak dan sakit, mataku perih, serasa tercekik. Aku terbatuk, Pak Anto yang menyadari akan hal ini langsung memasangkan masker khusus kepadaku. Aku berjalan terhuyung menjauh dari kepulan asap itu. Perih tak terkira.
"Tenang, jangan panik. Minum air biar tak sesak," saran Pak Anto. Aku menurutinya.
Belerang Cair by : Pak Anto
"Mau kuambilkan gambar belerang disana?" Tawarnya. Aku sempat ragu kalau bukan aku yang ambil gambar, nanti hasilnya tak sesuai dengan selera. Sedangkan kalau aku yang mengambilnya sendiri, takut mengihirup asap yang menyesakkan tersebut. Tapi aku mengiyakannya aja.
Aku mengawasi dari jauh, Pak Anto tampak sibuk mengambil gambar tanpa mengenakan masker. Wow, kuat banget paru-parunya! 
Beliau bercerita, dari blue fire terdapat pipa besi yang mengalirkan belerang cair kebawah. Belerang yang cair tersebut akan cepat membeku setelah terkena angin selama hitungan detik, sesuai dengan sifat belerang yang memiliki nomor atom 16
Setelah beliau mengambilkan beberapa gambar, aku segera memeriksa hasilnya. Tak kusangka, bagus juga Pak Anto mengambil gambar walau sedikit miring. Yang bikin aku takjub adalah data exif setiap gambar berbeda-beda ! Hebat, ini baru guide. Bisa fotografi! Tripod pun tak seberapa berfungsi kalau bukan buat long exposure api biru saja.
Trek Cadas Bikin Mules
Puas mengambil gambar, kami kembali keatas. Lihat medan yang dipenuhi dengan bebatuan saja sudah bikin mules. Tapi kupaksakan aja akhirnya sampai ke bibir kawah. Sangat menyenangkan! Aku melihat beberapa gunung yang mengapit Ijen. Gunung Merapi, Raung dengan ujung bersabit yang angkuh, Gunung Putri, Kawah Wurung dan lukisan Allah yang Maha Agung. Pak Anto menjelaskan bahwa di Gunung Merapi terdapat kawasan terlarang yang disebut Kawah Bulan. Aku pernah mengetahui dari foto-foto temanku, dan sekarang beliau menjelaskan bahwa kawasan itu adalah kawasan terlarang, berbahaya dan tak bisa sembarangan orang memasukinya.



Hasil karya Pak Anto
Sekitar pukul setengah delapan pagi kami turun, pengunjung hari itu termasuk sepi. Langit biru sempurna. Aku rajin mengabadikan setiap sudut-sudut indahnya. Lalu menemukan semacam patokan pembatas dua kabupaten, yaitu Bondowoso dan Banyuwangi. Baru sadar bahwa aku sedang berdiri diantara dua Kabupaten! Waw!
Sesampai di kantin pendaki, aku mendengar suara yang sangat akrab memanggilku. Terhenyak aku, ternyata Emakku sudah sampai pos kantin! Tapi emak bilang kalau nggak kuat untuk melanjukan perjalanan keatas. Emakku emang kuat! Mantan Pendekar Tapak Suci ! hahaha....
Cara membuat Souvenir dari Sulfur. Kaya buat ager-ager
Di pos kantin sendiri banyak yang menjual souvenir dari belerang. Berbentu macam-macam dan dibuat dengan cetakan agar-agar. Harganya muras, sekitar 5-10ribu. Aku beli yang kura-kura empat ekor. Lumayan bisa buat sabun jerawat, kata penjualnya. Aku ketawa.
Souvenir unyu dari Sulfur
"Buat tambah-tambah mbak, lumayan sehari bisa tambah 50-100ribu," cerita salah seorang penjual souvenir. Keren, kreatif banget ! Aku suka gaya mereka!
Sekitar jam 9 pagi kami sampai di Paltuding. Kaki pegal, kami segera kembali ke Jampit. Belum siap sih, untuk meninggalkan Ijen...yang berarti tak selalu sendiri !

Tips saat berkunjung ke Kawah Ijen :
1. Gunakan jaket yang nyaman, alas kaki yang cocok untuk trekking
2. Bawa senter, apalagi bagi yang berangkat dini hari untuk melihat blue fire
3. Usahakan bawa guide bagi yang belum pernah menuju kesini.
4. Waspada terhadap arah angin, patuhilah semua peraturan yang ditetapkan oleh pengelola Kawah Ijen.
5. Bawa air minum saat trekking.
0
Share
Newer Posts Older Posts Home

AUTHOR

AUTHOR
Seorang wanita yang seperti kera sakti : Tak pernah berhenti, bertindak sesuka hati dan hanya hukuman yang dapat menghentikannya.

Labels

Bali Berkeluarga INFLIGHT ITALY JAWA TENGAH Jambi KALIMANTAN TIMUR KUTAI TIMUR Lumajang NETHERLAND NUSA TENGGARA BARAT NUSA TENGGARA TIMUR Perancis SULAWESI SELATAN SUMATERA BARAT Sulawesi Utara Yogyakarta deutschland jakarta jawa barat jawa timur kalimantan selatan rusia

Popular Posts

  • Berbagi Pengalaman Ketika Aku Joinan Tes D3 ITS-PLN
    Oy...sebelumya si Une minta maaf dulu, fotonya dibuat kayak hantu biar gak ada pemalsuan identitas, penghubungan alamat, walaupun aku pun...
  • ABOUT ME | ÜBER MICH
    "Allah menciptakanku saat sedang tersenyum, begitu pula ibu melahirkanku dengan senyum pula." Terlahir di Surabaya, 20 Juni ...
  • #1 Babak Kedua Gunung Gergaji : Mengulang Pengembaraan di Barisan Karst Sangkulirang-Mangkalihat
     "Maaf ya, jika pesanmu baru bisa aku balas kira-kira hari Jumat."  Sejenak aku mengetik pesan terakhir padamu sebelum melanjutkan...
  • Resensi Komik : PIANO HUTAN - The Perfect World of kai
    Apa teman-temon udah pernah baca komik PIANO HUTAN ini? Aku udah, tapi cuma 20 buku aja, soalnya yang ada baru 20 jilid, dan seperti biasa a...
  • PORTOFOLIO (BOOKS)
    Kategori : Nonfiksi - Travel  Judul : Bekerja, Tidur, dan Berjalan di Kutai Timur Penulis : Unesia Drajadispa Penerbit : Stiletto Indie Book...
  • Deutschland für Anfänger (Pameran Jerman Untuk Pemula)
    Guten tag Leute :) Sebenarnya jujur, kejadian ini udah berlangsung sekitar sebulan yang lalu, tetapi nggak sempat ceritanya karena bentro...

INSTAGRAM : @FRAUNESIA

Copyright © 2015 Was ist los, Une?

Created By ThemeXpose