#2 Edisi Cuti Perdana Une : Kawah Ijen, Ijen (yang) Tak Berarti Sendiri

Sunday, May 24, 2015

Menggadaikan waktu cuti yang sangat berharga ditengah pekerjaan yang ruwet adalah hal yang bodoh, menurutku. Selepas dari Baluran, walaupun badan masih kerasa pegel-pegel tapi aku tetap melanjutkan perjalanan bersama Emak dan grandmak ke Kawah Ijen. Emak tetep semangatnya nggak pudar, begitu pula dengan grandmak.
Kusangkanya perjalanan ke Ijen tak lama, hanya 2 jam. Tapi siapa sangka, dari Baluran ke Ijen hampir 3,5-4 jam ! Prediksi waktu sampai di penginapan milik PTPN XII Perkebunan Kopi yang memproduksi Robusta dan Arabika di Kalisat, Jampit meleset. Awalnya prediksi jam 6 sampai di Sempol (desa terdekat dari Ijen) tapi meleset satu jam setengah. Badan capek semua, rencana nongkrong malam malam sambil ngopi dan nge'long exposure' bintang nggak jadi. Padahal bintang-bintang di dataran tinggi ini sungguh menawan dan membuat diri ini tertawan. Hawa yang sejuk, dingin, membuat menyesal juga, kenapa dengan gobloknya tas yang berisi jaket andalan naik gunung bisa tertinggal. Badan gemelutuk kedinginan, tapi beruntunglah emak bawa jaket cadangan. 
Suasana  di Jampit ini sungguh menyenangkan dan menenangkan. Segar, bebas polusi, diapit pegunungan, dan jauh dari Mall yang menggoda iman cewek umur 22 tahunan. Tak masalah walaupun sinyal internet hanya EDGE, kebahagiaan di dataran tinggi menurutku bukan internet yang cepat, tapi hawa yang sejuk, bangun tidur menghirup udara bersih dan melihat kebun sayuran di sekitar rumah serta bunga-bunga khas yang hidup di dataran tinggi.
Penginapan di Kalisat (Arabica Homestay) nyaman, terdapat air panas di setiap kamarnya. Pemandangan di belakang kamar gunung-gunung dan perbukitan. Untuk lebih jelasnya aku paparkan di post selanjutnya ya! 

Resepsionis memberitahuku kalau ingin melihat blue fire (fenomena api biru yang hanya ada dua di dunia, katanya) harus berangkat pukul satu dini hari bareng dengan wisatawan yang lain. Dari penginapan ke Paltuding (pos awal pendakian ke Ijen) sekitar 45 menit dengan kendaraan bermotor. Hawanya dingin sekali. Aku merapatkan jaketku sambil meringkuk di kursi mobil sepanjang perjalanan. 
Paltuding
Sesampainya di Paltuding, kami diberitahu bahwa untuk pendakian ke kawah ijen harus disertai dengan guide, per-orang lima puluh ribu. Berhubung semobil ada 3 orang (aku, emak, dan driver) maka kami membayar seratus limapuluh ribu ke satu orang guide. Okelah, kita sepakati dan segera menanjak ke Kawah. Jarak dari Paltuding ke Kawah sekitar 3-3,5 kman, full tanjakan, start dari pukul 02.00. Tak kusangka Emak juga ikut nanjak, tapi baru lima menit jalan emak udah kedinginan dan mengeluh tak bisa bernafas, jadi emak turun lagi. Aku sama driver lanjut. Dengkulku sakit bener gara-gara sudah lama nggak nanjak. 

Sepanjang jalan, kami sering menemui para penambang belerang yang sedang naik. Jalan mereka cepat banget. Pak Anto (guide kami) menceritakan bahwa para penambang sekali angkut belerang bisa mencapai 50-90 kg dan seharian bisa bolak-balik sebanyak 3 kali. Sekilo belerang dihargai seribu rupiah. Salut melihat mereka, semangat mereka tak pernah pudar untuk menghidupi keluarganya walau bertaruh nyawa dengan menghirup asap belerang berbahaya tiap hari dan pundak mereka memerah.
"Tapi penambang Belerang dari tahun ketahun kian berkurang mbak," jelasnya. "Saya ini juga penambang belerang, tapi lebih sering jadi guide. Kita bertahan di impitan ekonomi sekarang. Kalau tak ada job ya angkut belerang. Jadi guide wisatawan saya belajar banyak hal baru, mulai dari berbagai macam bahasa dan fotografi."
Aku menimpali dengan nafas tersengal. Salut nih, Pak Anto berbicara tanpa ada nada yang tersengal-sengal.
"Masih lama ya?" Tanyaku sebal karena nggak sampai-sampai.
"Seratus meter lagi kantin penambang."
Pemandangan sepanjang perjalanan
Bah, jalan seratus meter serasa sekilo. Tapi akhirnya sampai juga di Kantin penambang. Disini merupakan tempat untuk menimbang belerang yang mereka bawa. Ada juga kantin untuk beristirahat. Banyak pendaki yang mengatur nafas untu mempersiapkan rute selanjutnya.
"Habis kantin, mayoritas jalannya landai. Santai saja." Kata Pak Anto.
Makin semangat aku. Hanya sebentar mendaki, kemudian jalan landai.
"Ayo mbak lebih dipercepat, sudah jam segini ! Blue Fire keburu hilang. "
"Loh emang sampai jam berapa Blue Fire?" tanyaku.
"Maksimal jam lima, kemudian setelah itu berubah menjadi kepulan asap tebal."
Aku sedikit mempercepat langkah. Senter yang kubawa kian meredup. Dan akhirnya sampai juga di bibir Kawah Ijen. Suasana masih gelap dengan bintang dan bulan yang masih menggantung.
"Mana api birunya?" 
"Lihat dari sini," Pak Anto membimbingku ke sebuah tempat, lalu menunjukkan api yang berkobar dari kejauhan. "Itu,"
"Kecil pak?"
"Tingginya bisa sampai empat meter, kalau pengen lihat lebih jelas ayo turun kebawah, tempat penambang. Sekitar 800 m lagi"
Tanpa pikir panjang aku mengiyakan sambil deg-degan. Jalan turun ke kawah sangat curam, berbatu cadas. Kalau meleng dikit bisa jatuh bebas menghantam bebatuan. Berkali-kali aku hampir terpeleset namun aku masih berhasil mengendalikan tubuhku. Pak Anto jalannya santai banget sambil bawa tripodku.
Sekitar 30 menit akhirnya sampai juga di kawah Sulphuric Area. Api biru berkobar, pengunjung sibuk mengabadikan fenomena langka tersebut dengan dirinya. Aktivitas penambang pun mulai terasa. Beruntunglah arah angin baik, sehingga asap belerang tak menerpa kami.
Kompor Gas Raksasa
Aku segera mengeluarkan tripod. Di saat-saat seperti ini tripod sangat berguna untuk long exposure blue fire. Aku berhasil menangkapnya walau agak blur sedikit. Gila pokoknya, keren !
Satu jam kemudian matahari mulai tampak guratannya. Blue Fire mengecil dan akhirnya tertutup kepulan asap abu-abu tebal. Pengunjung banyak yang naik ke bibir kawah, sedangkan aku masih sibuk mengeksplor kawah itu. Menyentuh air kawah dan berfoto sana-sini. Tak disangka arah angin berubah dan asap menyelimuti ke arah pengunjung. Aku panik, nafasku sesak dan sakit, mataku perih, serasa tercekik. Aku terbatuk, Pak Anto yang menyadari akan hal ini langsung memasangkan masker khusus kepadaku. Aku berjalan terhuyung menjauh dari kepulan asap itu. Perih tak terkira.
"Tenang, jangan panik. Minum air biar tak sesak," saran Pak Anto. Aku menurutinya.
Belerang Cair by : Pak Anto
"Mau kuambilkan gambar belerang disana?" Tawarnya. Aku sempat ragu kalau bukan aku yang ambil gambar, nanti hasilnya tak sesuai dengan selera. Sedangkan kalau aku yang mengambilnya sendiri, takut mengihirup asap yang menyesakkan tersebut. Tapi aku mengiyakannya aja.
Aku mengawasi dari jauh, Pak Anto tampak sibuk mengambil gambar tanpa mengenakan masker. Wow, kuat banget paru-parunya! 
Beliau bercerita, dari blue fire terdapat pipa besi yang mengalirkan belerang cair kebawah. Belerang yang cair tersebut akan cepat membeku setelah terkena angin selama hitungan detik, sesuai dengan sifat belerang yang memiliki nomor atom 16
Setelah beliau mengambilkan beberapa gambar, aku segera memeriksa hasilnya. Tak kusangka, bagus juga Pak Anto mengambil gambar walau sedikit miring. Yang bikin aku takjub adalah data exif setiap gambar berbeda-beda ! Hebat, ini baru guide. Bisa fotografi! Tripod pun tak seberapa berfungsi kalau bukan buat long exposure api biru saja.
Trek Cadas Bikin Mules
Puas mengambil gambar, kami kembali keatas. Lihat medan yang dipenuhi dengan bebatuan saja sudah bikin mules. Tapi kupaksakan aja akhirnya sampai ke bibir kawah. Sangat menyenangkan! Aku melihat beberapa gunung yang mengapit Ijen. Gunung Merapi, Raung dengan ujung bersabit yang angkuh, Gunung Putri, Kawah Wurung dan lukisan Allah yang Maha Agung. Pak Anto menjelaskan bahwa di Gunung Merapi terdapat kawasan terlarang yang disebut Kawah Bulan. Aku pernah mengetahui dari foto-foto temanku, dan sekarang beliau menjelaskan bahwa kawasan itu adalah kawasan terlarang, berbahaya dan tak bisa sembarangan orang memasukinya.


Hasil karya Pak Anto
Sekitar pukul setengah delapan pagi kami turun, pengunjung hari itu termasuk sepi. Langit biru sempurna. Aku rajin mengabadikan setiap sudut-sudut indahnya. Lalu menemukan semacam patokan pembatas dua kabupaten, yaitu Bondowoso dan Banyuwangi. Baru sadar bahwa aku sedang berdiri diantara dua Kabupaten! Waw!
Sesampai di kantin pendaki, aku mendengar suara yang sangat akrab memanggilku. Terhenyak aku, ternyata Emakku sudah sampai pos kantin! Tapi emak bilang kalau nggak kuat untuk melanjukan perjalanan keatas. Emakku emang kuat! Mantan Pendekar Tapak Suci ! hahaha....
Cara membuat Souvenir dari Sulfur. Kaya buat ager-ager
Di pos kantin sendiri banyak yang menjual souvenir dari belerang. Berbentu macam-macam dan dibuat dengan cetakan agar-agar. Harganya muras, sekitar 5-10ribu. Aku beli yang kura-kura empat ekor. Lumayan bisa buat sabun jerawat, kata penjualnya. Aku ketawa.
Souvenir unyu dari Sulfur
"Buat tambah-tambah mbak, lumayan sehari bisa tambah 50-100ribu," cerita salah seorang penjual souvenir. Keren, kreatif banget ! Aku suka gaya mereka!
Sekitar jam 9 pagi kami sampai di Paltuding. Kaki pegal, kami segera kembali ke Jampit. Belum siap sih, untuk meninggalkan Ijen...yang berarti tak selalu sendiri !

Tips saat berkunjung ke Kawah Ijen :
1. Gunakan jaket yang nyaman, alas kaki yang cocok untuk trekking
2. Bawa senter, apalagi bagi yang berangkat dini hari untuk melihat blue fire
3. Usahakan bawa guide bagi yang belum pernah menuju kesini.
4. Waspada terhadap arah angin, patuhilah semua peraturan yang ditetapkan oleh pengelola Kawah Ijen.
5. Bawa air minum saat trekking.

You Might Also Like

1 comments

Subscribe