#2 Babymoon : Dari Birunya Samudera Menuju Sejuknya kota Bunga Tomohon

Satu-satunya yang kuingat dari Tomohon bukanlah pasar ekstrim yang menjual aneka satwa tangkapan yang eksotis untuk dikonsumsi atau dijadikan obat, melainkan penyesalanku tidak mengikuti acara balap enduro di Tomohon tiga tahun yang lalu yang bertepatan dengan kegiatan TIFF atau Tomohon International Flower Festival 2019, dimana salah satu treknya adalah melewati pasar ekstrim Beriman yang kanan kirinya tergantung ular, kelelawar, bahkan kepala babi.

"Ke Tomohon mau kemana aja kita?" tanya Pak Suami.
"Ke Pasar ekstrim aja pengen lihat ular-ular." tukasku bersemangat walau reaksinya sebetulnya sudah bisa kutebak.
"Nggak, pokoknya nggak boleh. Kamu itu lagi hamil, nanti disana banyak penyakitnya terus kamu sakit gimana?" 

Dan terjadi lagi...hamil menjadi alasan pamungkas untuk menahan keinginan liarku.

"Bentar aja, kan pakai masker," bujukku.
"Kamu itu dibilangin yang baik kok ndableg...sudah ke tempat yang lebih aman kan banyak juga disana !"
"Huh, dasar pelit !" ucapku manyun dan merajuk. Pak Suami bergeming dan sudah mulai terbiasa melihat kelakuan istrinya yang ekstrim ini, hahaha. Ia pun tak mengubah keputusannya.
Menuju Tomohon, kami memilih untuk lewat kota Bitung karena ingin tahu atmosfer kota Bitung yang tampaknya menjadi kota pelabuhan tersibuk di Sulawesi Utara ini. Suasana kota tersebut cukup ramai, dan ada beberapa jalan yang sempit dan padat namun kondisi jalanan yang sudah baik. Aku pernah membaca bahwa salah satu titik  menyelam terbaik ada di pulau Lembeh, di sisi selatan Bitung.

Bitung ternyata pun memiliki kawasan ekonomi khusus (KEK) pula, baru kuketahui saat hendak memasuki tol Bitung-Manado. Tol tersebut sangat sepi walaupun tarifnya sangat murah, nggak sampai Rp 30,000 ,-. Tampaknya warga lokal lebih menyukai lewat jalan normal daripada jalan bebas hambatan ini.
Karena menuju area dataran tinggi, pastinya jalan berkelok-kelok dan tidak lebar. Spanduk untuk turut memeriahkan TIFF 2022 bulan depan terpasang dikanan kiri. 
Exit Tol Manado
"Dek...mual nggak lewat jalanan kayak gini?" Pak Suami nanya lagi.
"Hah? Mual? Ya nggak lah, gini aja sudah biasa bagi preman sepertiku. Si kecil kan kuat sejak dalam kandungan!" jawabku bangga sambil menepuk-nepuk ringan perutku yang masih belum buncit. Pak Suami memasang wajah untuk meledekku.
"Kita sangat beruntung loh mas, hanya selang beberapa minggu saja kita sudah diberi kepercayaan oleh sang pencipta. Niat honeymoon berdua eh malah sudah ada bocil di perutku,"
"Iya dek, alhamdulillah. Sehat selalu ya, bumilku, jangan bertingkah yang aneh-aneh makanya."

Dari tol keluar di Manado, kami membutuhkan waktu sekitar satu jam dua puluh menit hingga mencapai penginapan yang kami pilih, yaitu Grand Master di desa Kaskasen. Udara sore di Tomohon sangat sejuk karena berada di lembah dua gunung yang tak terlalu tinggi, yaitu Lokon dan Mahawu. Lokon sediri terlihat jelas dari penginapan kami.
Gunung Lokon dari Penginapan Grand Master
Sedikit iseng aku mencari informasi tentang pendakian ke dua gunung tersebut, Lokon membutuhkan sekitar tiga jam, dan Mahawu hanya sekira sepuluh menit dengan meniti tangga beton yang telah ada. Sepuluh menit? Tentu saja jiwa penasaranku ingin mencoba kesana, namun....kini aku tak traveling sendirian lagi bro, ada titah baginda suami yang harus dituruti biar menyandang gelar istri sholehah, hahaha.

"Kemana saja kita dek? Jangan ke pasar beriman ya," tegasnya.
"Iya tahu, ke taman bunga nih bagus, nggak jauh dari sini kok. Habis itu wajiblah kita ke danau Linow." jawabku setelah membaca referensi wisata yang sekiranya aman buat ibu hamil trimester pertama.
"Oke Gas,"

Pagi itu kami langsung check out, dan menuju taman bunga tersebut tak terlalu jauh dari penginapan. Namun ada dua taman bunga yang berdekatan, kami sempat kebingungan hendak menuju yang mana, lantas kami coba satu taman bunga Mahoni terlebih dahulu. Tapi karena sepi dan tak ada penjaganya, maka taman bunga pelangi menjadi tujuan berikutnya. Dari sana gunung Lokon yang berwarna hijau dan panorama kota Tomohon dapat kami nikmati dengan sangat jelas dengan membayar tiket retribusi sebesar Rp 15,000 ,- per orang. Cocok lah buat main film india-indiaan, lari-larian sambil nyanyi ditengah taman bunga.
Casting film india, bukan film Suara Hati Istri
Danau Linow merupakan tujuan yang tak boleh terlewatkan saat mengunjungi Tomohon. Hanya berbekal maps, perjalanan menuju Danau Linow tak mengalami kendala yang berarti. Saat itu pusat Kota Tomohon mulai berbenah untuk menyambut festival TIFF 2022 yang konon merupakan Pasadenya-nya Indonesia.
Tiket masuk Danau Linow dikenakan Rp 30,000 ,- per kepala yang dapat ditukar dengan minuman teh atau kopi. Karena saat itu adalah hari Rabu, maka suasana sepi dan kencan kami berlangsung dengan sempurna, hihihi. Suasana Danau Linow sangat sejuk dan sepoi-sepoi. Samar tercium aroma sulfur dari air danaunya yang berwarna hijau muda dan tosca. Dari jauh juga terlihat kepulan asap putih dan terdengar gemuruh dari Pembangkit Listrik Tenaga Gas Lahendong.
Pokoknya Linow keren banget suasananya! Aku dan Pak Suami menikmati suasana siang itu sembari menikmati pisang goreng keju dan mendiskusikan tujuan mana selanjutnya, karena menurut kami masih terlalu awal untuk menuju ke Manado.
"Ke Danau Tondano kah?" Pak Suami menawarkan opsi yang tak pernah berani kuungkapkan.
"Eh? Ya ayo-ayo aja. Nggak kejauhan?" aku memastikan bahwa ia tak merubah pikirannya.
"Sayang kalau sampai sini nggak ke Tondano,"
Akupun akhirnya menurut. Sebenarnya penasaran juga sih danau yang sering disebutkan di buku pelajaran IPS semasa SD sebagai danau terbesar di Sulawesi Utara itu.

IPDN Kampus Sulawesi Utara. Kami melewati lokasi ini saat menuju Tondano
Lagi-lagi kami dimanjakan oleh jalanan yang sangat mulus. Pak Suami jadi semangat nyetir karena ini adalah hal yang langka di Kalimantan. Sesampainya disana perut kami kelaparan, namun tak perlu khawatir karena di tepi danau banyak tempat makan yang menawarkan masakan olahan ikan yang insyaallah halal ya teman-teman.
Tempat yang kami kunjungi di sekitar Danau Tondano adalah Astound Hill, yang merupakan lokasi yang cocok untuk menikmati Danau Tondano dari ketinggian, lalu makan di tempat makan yang menyediakan tempat sholat. Tondano sangat luas, tepiannya terdapat eceng gondok yang berkembang biak dengan subur.

Nah, udah siap untuk menyimak keributan petualangan kami di kota selanjutnya?

Unesia Drajadispa

No comments: