#2 Babak Kedua Gunung Gergaji : Ingin Segera Pulang (Terakhir)

Saturday, October 09, 2021

Jika 380 hari yang lalu adalah perjalanan bersama engkau yang telah hilang, maka hari ini adalah perjalanan yang membuatku ingin segera pulang.

Bagaimana tidak? Jika sebelum keberangkatan aku telah berjanji padamu untuk pulang dan bertemu di akhir pekan. 

Rabu, 8 September 2021

Lamunan tentang sosok lelaki buyar sesaat ketika kulirik jam tangan yang tergeletak di matras metalikku. Pukul tujuh pagi waktu indonesia bagian tengah. Ah, bukankah aku harus segera menyiapkan makan pagi untuk mengisi perut enam manusia yang ada di lokasi ini. Bukankah seorang istri yang baik harus selalu siap siaga seperti ini bukan?

Ah! Delusi terhadapmu lagi. Dua ikat bayam yang diangkut dari Sangatta ternyata sudah membusuk dengan sempurna sebelum dimasak, serabut putih lembut menyelimuti tumpukan bayam sia-sia itu. Aku yang masih belajar sebagai calon istrimu tampaknya salah strategi mengatur prioritas sayuran untuk diolah sehingga terbuang sia-sia. Tempe yang tinggal separuhpun sudah mulai menurun kualitasnya diketahui dari ujungnya yang mulai lembek dan rapuh, segera kubaluri dengan telur dan tepung goreng instan plus sedikit tambahan ketumbar bubuk dengan harapan untuk menaikkan kualitas rasa dan aroma sehingga konsumennya tidak mual-mual.

Pagi itu kuoseng wortel, kubis, dan buncis dengan bumbu seadanya. Bawang merah, bawang putih, garam, gula, kecap manis dan tentu saja dua jumput micin untuk menggugah rasa. Selama ini aku tidak pernah menggunakan mononatrium glutamat murni untuk penyedap rasa masakan sekalipun, hanya saja pada kesempatan saat itu kulihat ada seperempat kilogram bungkus micin yang terbuka dan tampaknya sayang untuk dilewatkan. Hm, terkadang kesempatan itu sungguh menggoda iman.

Dua Om Payau sibuk menanak beras dalam kuali dengan tungku kayu bakar. Tentu saja rasa nasinya ada aroma agak sangit yang aku sukai. Setelahnya rendang hati payau hasil jeratan racikan Om Rusdy yang semalam kulihat dikerumuni lalat hijau, mereka panasi ulang agar terasa lebih nikmat untuk disantap saat pagi.

Hidangan siap pukul sembilan. Sarapan bersama dimulai, Satria mengambil lauk pauk plus nasi setelah ia menyantap kopi susu yang dicampur dengan remasan mi instan mentah dalam gelasnya. Ah, kalau orang kota mungkin menyebutnya sereal, yang aku menatapnya sedikit eneg.

"Kemana kita habis ini? ke Gua Tebo kah? Atau ke gua depan sungai sana," Satria memberikan opsi untuk perjalanan hari ini.

"Gua Tebo itu yang kemaren ya?" Bule memastikan. Satria mengiyakan. Duh, padahal nanjaknya lumayan tuh.

"Atau ke gua yang depan sungai ini?" telunjuknya mengarah ke mulut gua dengan hembusan angin sejuk dan beraroma guano. Gelap dan tampaknya kurang meyakinkan untuk dijelajahi.

"Ada apa didalamnya?" tanyaku. Pria asal Tepian Langsat itu menunjukkan gambar di ponselnya, sekilas mirip dengan gua Sampemarta, menyusuri sungai dalam gua hingga menemukan ceruk dengan tanaman hijau yang diterpa sinar matahari. Ia menjelaskan jalan susur sungai tidak terlalu jauh dan dangkal.

"Bawa air minum dan cemilan. Hati-hati tasnya basah, amankan ponsel atau kamera. Jangan lupa headlamp ya," instruksinya.

"Pake sandal jepit aman aja yah? Basah-basahan juga kan?" tanyaku.

"Iya bisa."

Alhasil ketika memasuki gua nan gelap tersebut, aku sering terpeleset hingga sandal yang terjebak didalam lumpur yang lengket. Berkali-kali aku mencabut sandal yang tertancap di lumpur. Bule dan Satria terpingkal-pingkal. Setelahnya aku menyadari bahwa karet sandalku agak molor dan kendor sebab terlalu sering aku cabut dari lumatan lumpur dengan cara menarik talinya.

Panjang susur sungai ini sekitar satu delapan ratus meter. Gua ini dipenuhi stalagtit dan stalagmit yang dapat bertumbuh dengan pola-pola yang menarik. Ada yang serupa jamur, menara, terumbu karang maupun menyerupai orang. Air yang mengalir dalam gua itu sangat jernih, mengingatkanku akan ilustrasi yang kudapati dalam buku geografi semasa SMU mengenai aliran sungai didasar gua. Zona epikarst pada karst merupakan daerah penyerapan air sehingga menyimpan dan mengalirkan air didasar gua. Masih ingat kan, kalau aku pernah menyebut karst adalah tandon raksasa dari Allah?

"Wah nggak nyangka nih aku, penampakannya kurang meyakinkan dari luar ternyata dalamnya bagus juga!" Bule berdecak sambil sibuk mengabadikan dengan kamera aksi. Sesaat kemudian ia menyesali kalau drone miliknya tidak ia bawa serta karena dayanya habis.

"Nah kita sudah diujung, kalau disusuri untuk menemukan hulu sungai ini harus menyelam dulu kesana," Satria menunjuk ke lubang sempit yang dipenuhi air. "Alirannya berasal dari Beriun, setelah tembus di karst sebelah ini."

"Woaaah..woaaah..." aku berdecak kagum. Ternyata karst ini memiliki hubungan satu sama lain walau letaknya berjauhan. Sungguh luar biasa alam Kutai Timur ini.

"Ada yang pernah nyelam kesana?" tanyaku.

"Ada dulu orang-orang gila aja. Padahal gelap dan nggak tahu disana ada apa, sedangkan mereka menyelam tanpa peralatan apapun. Kalau pakai tabung oksigen sih oke."

"Banyak ikan marsapi didalam ya?" Bule ikutan nimbrung nanya ikan yang biasanya hidup di perairan gua yang gelap. Bentuknya seperti belut atau ular besar, lazimnya disebut ikan sidat, kalau di Kalimantan disebut Marsapi.

Ujung Gua

"Ya habitatnya itu sudah. Besar-besar kayaknya didalam, kalau kita nyelam bisa-bisa kita dimakannya," kelakar Satria.

Setelah puas menapaki pasirnya yang lembut dan menikmati tempat yang super bersih tersebut, kami kembali ke camping ground dengan disambut lolongan lima ekor anjing yang membuatku sedikit terkejut.

"Joko! Amin!" teriak seorang lelaki dewasa dari camping ground kami, ia empunya lima ekor anjing tersebut yang salah duanya bernama Joko dan Amin. Satria mengenal baik pria yang bernama Pak Yunus tersebut, mereka berbincang akrab dan menjelaskan maksudnya untuk berburu disini.

"Kami pulang Sabtu nanti," Jelas Pak Yunus. Aku mendengarkan percakapan mereka sambil menyantap biskuit krim red velvet dan ditatap mesra oleh anjing-anjing yang menggemaskan. Sesekali mereka menggonggong sambil menatapku dengan wajah memelas.

Anjing milik Pak Yunus

"Kayaknya lapar pak," sahutku. "Itu ada sisa nasi,"

Sejurus kemudian Bule mendekatiku yang lagi ngemil, "Nggak packing kah Ne?"

"Lah bukannya pulangnya besok?" seruku terkejut dengan mulut penuh biskuit. Seruanku mengundang perhatian Satria yang mengangkut sisa logistik kami di dapur darurat.

"Yeee....kan sudah kubilang pulangnya hari ini,"

"Atau bareng kita mbak, baliknya Sabtu nanti," tawar pak Yunus sambil terkekeh.

"Si Une betah di Tebo sini Sat, tempatnya cozy sih." sambung Bule.

"Iya aku nggak suka di camp Tewet, itu sudah terasa di kota karena kedengaran chainsaw illegal logging."

"Nggak mandi dulu? Sebelum terpalnya mandinya kulepas."

"Boleh,"

"Ya makanya cepetan !" kata Satria.

Secepat kilat aku menyambar handuk dan alat mandiku menuju bilik mandi yang ditutupi terpal hijau. Mandi dengan air Sungai Marang yang jernih dan sejuk, yah semoga tidak yang terakhir kalinya. Namun perjalanan kembali ini menjadi perjalanan yang sangat dinantikan, karena aku dapat membalas pesanmu yang tertunda di hari Minggu, satu hari lebih cepat daripada janjiku.

Pukul setengah tiga sore kami meninggalkan camp Tebo yang cozy itu. Perjuangan keluar menuju hilir sungai Marang pun penuh perjuangan bagi Satria yang mengendalikan mesin ketinting dan Bule yang memegang dayung untuk mengamankan haluan depan. Mereka berdua harus lebih siaga karena trek pulang mengikuti aliran sungai sehingga laju perahu lebih cepat dan terkadang sulit dikendalikan. Terlebih lagi ditengah aliran sungai Marang terdapat banyak sekali halang rintang, seperti dahan rebah, kayu yang membuat sungai dangkal, batuan karst yang tajam, hingga dedaunan berduri yang dapat menyapu wajah kami jika tak sigap menghindar. Sedangkan tugasku selama di ketinting ngapain? Hanya rebahan saja, dan itu ternyata jenuh juga.

Perjalanan pulang semakin seru saat hujan mengguyur kami. Bule merasa tangannya sudah mulai pegal dan kram setelah mendayung terus menerus, ia makin penat karena tak bisa merokok ataupun vaping dikala hujan mengguyur.

"Masih lama kah hilir sungai Marang ini? Pegal tangan, penat juga aku, asam mulut nggak bisa sebat." keluh Bule ditengah perjalanan. Satria menyuruhnya bersabar karena masih separuh perjalanan.

Bule Sebagai Juru Dayung

"Rasanya perjalanan pulang makin lama," lanjutnya mengeluh tanpa melepas konsentrasinya akan halang rintang yang menghadang ketinting kami.

"Kita nggak sempat ke Gua Tengkorak nih, kesorean kita. Bisa-bisa keluarnya malam." teriak Satria bersaing dengan mesin ketinting jenis long tail tersebut.

"Yaaaah..."

Mendekati hilir sungai Marang yang membuat kami penat, kelompok pak Rusdy bersama dua Om Payau menambatkan perahunya di salah satu pondok. Mereka habis memancing dan memamerkan hasil pancingannya dengan girang.

"Ikan Salap....mana ikan Salap?" seruku mengabsen beberapa jenis ikan yang mereka tangkap.

"Inii...yang siripnya merah. Nanti malam kita goreng ." jelas dua Om Payau otomatis membuat perutku keruyukan.

Pukul setengah enam sore kami mencapai camp Tewet. Matahari senja bersinar dengan cerahnya menerpa gunung gemunung karst disamping camp kami hingga merona keemasan. Bule menyesal untuk yang kedua kalinya karena tidak dapat menerbangkan dronenya. Kami mengoloknya senang.

"Ahh...kamu Le, kalo pake hp atau kamera canggihpun kelihatan biasa saja."

"Ahh...rugi kamu Le, pemandangan seperti ini langka lo. Aku baru sekali ketemu pemandangan seperti ini." kata Om lain mendramatisir.

Dan ah...ah lainnya yang membuat si Bule makin mengusap wajahnya kecewa.

Untuk pesta puncak hari ini tampaknya dikontrol penuh oleh para lelaki. Mereka dengan sigap menanak beras dan membersihkan jerohan ikan. Om Rusdy meracik bumbu untuk sup ikan Baung, dan Om Heldy kebagian tugas untuk menggoreng ikan. Satria mengulek sambal bawang bermicin, dan malam ini kita menikmati dua sajian istimewa, ikan goreng dan sup ikan baung.

Om Heldy alias Payau 3 menanak beras

"Mau makan apa saja lengkap, payau, pelanduk, jukut (ikan dalam bahasa kutai) ada semua," ujar Om Rusdy.

Dan seperti yang kuduga,  aku menyantap hidangan pesta puncak itu cukup banyak. Dua ekor ikan salap yang kurindukan dan satu setengah piring nasi dilengkapi dengan sambel bermicin ramuan Satria yang sedap mantap. Alhasil sekitar hampir empat puluh lima menit aku terduduk ditepi sungai Jele dengan santapan yang sangat lezat. Semua sudah menghabiskan makan malam, tersisa aku yang masih menjilat-jilat jemariku.

"Tambah mbak, biar nggak kepuhunan." tawar Om Payau 2 menggeser panci sup ikan baung kearahku.

"Ampun Om, penuh perutku ini."

Setelah kegiatan makan malam, Bule  menyalin semua foto dan video  dari kamera aksiku. Selama tiga malam ini ia tak bertingkah aneh-aneh seperti di episode setahun lalu bak kesurupan tikus, karena sempat kuancam akan kulempar botol air mineral 1,5 L kearahnya jika berteriak tikus atau hewan lain.

Suasana Pagi dari Camp Tewet

Kamis di pagi hari, kami disambut suara derungan mesin chainsaw yang bersahut-sahutan disusul dengan berdebumnya suara pohon. Kami tahu itu illegal loging. Suara itu membuatku gusar, selain memekakkan telinga, namun juga khawatir salah satu tempat bermainku ini akan musnah dalam beberapa tahun kedepan.

"Pernah kami tegur mereka, namun juga serba salah karena mereka beralasan : Kami makan apa?" Bule menceritakan sekelumit pengalamannya. Ya, aku tahu ilegal logging memang membuatmu bertahan hidup, namun tidak bagi generasi penerusmu. Kalian mau mereka kehilangan kualitas udara terbaik yang kamu rampas untuk urusan perutmu kini? 

Ah, kalian penjahat mana mau tahu.

Bonus Penampakan Bule


You Might Also Like

0 comments

Subscribe