#CAMPING2021 : Demi Tutup Tupperware, Seorang Pemuda Rela Hampir Menggadai Nyawa

Tuesday, March 02, 2021

Akar dari kisah tragis ini bermula gara-gara ide kemping bulananku, dimana rencana semula satu minggu sebelumnya dan akhirnya terealisasikan dalam minggu selanjutnya gara-gara sepi peminat dan disempurnakan dengan cuaca buruk. Semenjak pandemi tiada berujung ini, tujuan kempingku tak terlalu jauh dari lokasi bermukim. Yang menjadi pilihan saat itu adalah Batu Lesong, di desa Kandolo. Aku mengunjungi lokasi ini sudah yang kedua kalinya, dan ini menjadi yang ketiga kali. Bedanya, yang dulu bersepeda, dan kini harus memanggul carrier sejauh lima kilometer dengan berjalan kaki.
Di kemping kali ini aku berterimakasih sekali kepada Angga Pongo, karena ia telah mengusahakan agar kemping kali ini benar-benar terlaksana. Ia mengajak Pakde agar makin rame, dan tentunya lebih membuat perasaan kami sebagai wanita lebih aman dan nyaman dong, hehe. Namun sayangnya si Lupi alias Jangkar tidak bisa mengikuti kemping bulan ini, karena ia hendak cuti.
Hal kedua yang menjadi perbedaan dalam kemping kali ini adalah keikutsertaan seorang anggota baru, yaitu rekanku, Winda. Karena ia baru pertama kalinya ikut kemping dan trekking, maka sedikit remponglah dia. Beberapa hari sebelum keberangkatan ia berulangkali menanyakan jam keberangkatan dan barang-barang apa yang perlu dan wajib dibawa.
"Bawa yang penting dan perlu saja. Jalannya lumayan jauh," Jelasku. "ini kemping bukan piknik hepi."
"Kamu bawa biola ya Ne, seru kayaknya main musik di hutan."
Aku membatin, anak ini belum tau aja rasanya bawa barang segunung dan trekking di hutan tropis.
Eh tiba-tiba H-1 sebelum keberangkatan dia mengirimiku pesan singkat yang membuatku garuk-garuk kepala sendiri yang tidak gatal ini.
"Aku bawa ini ya," Tulisnya disertai gambar nasi kepal dalam wadah plastik kesayangan ibu-ibu, 'Tupperware'.
Kugaruk lagi kepalaku. "Serius? Bawanya gimana?"
"Ditempatin tupperware, masukin keril." Jawabnya tiada beban.
Semudah itu ia katakan, belum tahu penderitaan saat berjalan keesokan hari bagaimana. Jadinya aku biarkan saja dia berkreasi, dan kalau semisalnya ia kesulitan saat packing atau membawa biarlah hal ini menjadi evaluasi dikemudian hari.
"Kalau nggak cukup, maaf aku nggak bisa bantu bawa. Karena carrierku pun sudah penuh." Ujarku melihat carrier biru 35L yang sesak dengan tenda, nesting, kompor, dan sedikit logistik. 
Edisi slow shutter
Keberangkatan kami pada hari Sabtu pukul sepuluh pagi, awalnya berencana pagi pukul tujuh berangkat, namun aku beralasan karena harus bersih-bersih rumah dan mencuci pakaian. Pakde menyanggupi juga, dan Angga Pongo harus menyusul pada sore hari karena paginya ia harus bekerja.
"Anak istriku udah berangkat duluan tadi pagi. Kalo siangan panas, takut item." Ujar Pakde.
"Jadinya berapa orang pakde?"
"Sekitar sebelas orang."
Lantas dengan cepat aku mengetik pesan singkat kepada Winda agar segera bersiap. "Siap, Win? Aku boncengan sama Pakde ya, otewe nih."
"Aku bingung gimana bawanya ini," balasnya. Nah kan, apa kataku.
"Katamu tinggal masukin ke carrier?"
Ia membalas dengan emotikon nyengir tanpa dosa.
Perasaanku sedikit nggak enak membaca balasan pesannya kemudian, "Sebentar ya, aku tarik nafas dulu." Dilengkapi dengan emotikon nyengir dengan tetes keringat di dahi. 
Dan benar, ketika ia muncul, aku hanya bisa menggelengkan kepala dalam hati. Ya Allah, anak ini mau kemping semalam di Batu Lesong atau mau camping setengah bulan di Gunung Leuser? Hah?
Ia tampak sedikit terbungkuk dan kesulitan membawa carrier 60 L yang tampak super sesak. Mau transfer barang, sudah tiada ruang lagi. Mau bantu bawa, ah realistis saja bawa carrier sendiri sudah susah! Jadinya aku menganggap hal ini sebagai bahan pelajaran baginya.
"Aman kan?" Tanyaku.
"Aman kok."
Dan akhirnya kami bertiga segera menuju arah Sangatta untuk mencapai titik trekking ke Batu Lesong. Sesekali kulirik Winda dengan motor maticnya. Sepertinya sih aman, karena ia berani mengendarai motornya dengan cukup kencang. 
Memasuki kawasan Batu Lesong, jalan mulai rusak, berlubang besar dengan air yang menggenang. Beberapa titik ada yang becek dan membutuhkan keahlian super untuk mengendarai motor yang didesain spesialis di jalan raya ini.
Karena akses jalan yang buruk dan susah, motor kami parkir di portal, dan harus trekking sejauh 4,5 km tentu saja dengan jalanan yang naik turun. Suhu saat itu sudah mulai panas, karena sudah pukul setengah dua belas siang.
Ketika aku membantu untuk menurunkan carrier milik Winda, uma' ai, walaupun aku turunkan dengan tangan, tapi punggungku sudah menangis duluan membayangkan memanggulnya. Pakde pun mengeluh demikian. Awal perjalanan, Pakde sudah menawarkan untuk membawakan carriernya, tapi ia menolak.
"Biar aku coba dulu, Pakde."
"Ya..yaa...harusnya memang kamu (coba) bawa sendiri biar bisa merasakan." Aku menjawab dalam hati disertai senyuman sinis khas peran antagonis ala sinetron Indonesia.
Ia berjalan dengan sedikit sempoyongan dan terbungkuk. Ya jelas saja, tubuhnya lebih kecil dariku dan berat carrier yang pastinya melebihi berat yang direkomendasikan (dalam bahasa safetynya, melebihi SWL, Safe Working Load). Wajahnya memerah. Lima menit kemudian iapun mengeluh.
"Aduh, punggungku mulai panas."
Dan kami akhirnya istirahat sebentar. Paham bahwa Winda tampaknya nggak bakal tahan memanggul carriernya, maka Pakde menawarkan untuk bertukar barang bawaan dengan daypack-nya. Winda mengiyakan.
"Sebagai evaluasi ya, next camping bawa apa." Ujarku dengan wajah sok-sok senior.
Jalanan menuju Batu Lesong sudah banyak berubah sejak terakhir aku mengunjunginya. Tertutup semak belukar dan semakin becek. Beberapa kali kami berhenti dan sering sekali Winda menanyakan dua hal : Kapan sampainya, dan kapan jalanannya menurun.
Sekitar pukul 13.30 WITA akhirnya sampailah kita di Batu Lesong. Di lokasi sudah ada dua ibu-ibu, seorang pria yang namanya Jaya, dan dua anak-anak dan satu remaja SMU yang asyik berendam. Dua ibu-ibu (yang mereka sebut Mbok Ndewor) sedang sibuk memasak di perapian. 
Mau nggak mau pasti berendam kalau di Batu Lesong
"Aku nggak percaya berhasil mencapai tempat ini," Ujar Winda dengan wajah berbinar.
Aku dan Winda mendirikan tenda dan mengeluarkan barang bawaan kami. Lagi-lagi aku terbelalak melihatnya. Beberapa jenis Tupperware menyesaki carrier miliknya. Dua Tupperware berukuran sedang berisi nasi kepal, lalu ada lagi yang berisi roti pisang, dan telur gulung. Ditambah enam buah susu kotak, beberapa butir jeruk dan perintilan cemilan lainnya. Uma'ai, rasanya ingin auto buka cabang Indomaret mini.
Panorama Batu Lesong tak berubah, airnya tetap sedikit keruh, namun tali yang melintang ditengahnya sudah putus. Aku meloncat dari batu setinggi 4 meter untuk merasakan sejuknya air di kolam yang dikenal dengan mitos sarang siluman buaya putih tersebut.
Malam tiba, kami makan dengan ikan wader (ikan sungai kecil) yang berhasil ditangkap dengan bubu. Lupi dan Angga Pongo tiba-tiba muncul, ternyata Lupi memundurkan jadwal cutinya, sehingga ia bisa mengikuti acara kemping ini. Aktivitas malam itu kami isi dengan seru-seruan main kartu remi, dua mbok ndewor tersebut cukup heboh dan tertawa kencang ketika wajahnya mulai coreng moreng dengan arang. Malam itu cukup cerah, gemintang berbaris di langit gelap, sesekali tebakan ngawur tentang rasi bintang terlontar dari gurauan kami. Sayangnya aku tak bisa mengikuti hingga selesai karena hidungku mulai terasa berair setelah mandi di kolam Batu Lesong.
Langit cerah :)
Aku, Winda, Lupi, dan Angga Pongo berencana pulang pada hari Minggu, karena Senin harus kembali kerja. Sedangkan Pakde, Jaya, Mbok Ndewor dan para anak-anak berencana menginap satu malam lagi. Setelah asyik berkecipak dan berloncatan ke air, kami berempat membereskan barang-barang bawaan. Tupperware milik Winda pun dilempar oleh para Mbok Ndewor untuk dicuci anak-anak di sungai. Namun nahasnya, satu tutup Tupperware kuning lenyap. Kami kelimpungan mencarinya, anak-anak yang bertugas untuk mencuci di sungai pun merasa tak melihat benda tersebut.
"Oh yaudah deh, nggak apa-apa." Winda berkata mengikhlaskan. Aku menyusuri aliran air tersebut, lantas pandanganku jatuh kearah kolam besar Batu Lesong.
"Ah, itu tutupnya! Hanyut kesana !!" Teriakku menunjuk tutup malang tersebut yang berjarak sekitar 40 meter dari kami. Untuk mencapainya tentu saja harus berenang menyebrangi kolam Batu Lesong yang dalam. Realistis saja, walaupun aku bisa berenang tapi tentu saja aku tak yakin untuk menyebrangi kolam keruh sejauh itu yang dalamnya belum teridentifikasi tersebut.
Tutup yang Bikin Ribut
Mbok Ndewor, dan para bocah menatap arah yang kutunjuk. Jaya yang juga mendengar, tanpa dikomando tiba-tiba melompati batu dan terjun kedalam kolam lalu segera berenang ke seberang untuk mengambilkan tutup Tupperware milik Winda. Setelah ia berhasil mendapatkan tutup tersebut, Jaya segera putar balik menuju tepi kolam.
Setelah beberapa meter ia berenang, tubuhnya mendadak timbul tenggelam. Megap-megap. Seperti ditarik sesuatu dari bawah air. Aku mulai deg-degan. Apakah ini ulah sang siluman buaya putih?
"Toloong! Tolong!" Teriak Jaya dari seberang. Pertanda ini bukan lelucon belaka.
"Mas! Mas! Menepi mas!" Komando Lupi dari tempat kami berdiri.
"Tolong! blup...blup..." Teriaknya kian mengkhawatirkan. Tutup Tupperware malang yang ia selamatkan terlepas dari genggamannya. Tanpa pikir panjang Lupi ikut nyemplung untuk misi penyelamatan yang mulia dalam kemping kali ini. Lupi berenang cukup cepat, dan sedikit susah payah mendorong tubuh Jaya yang cukup besar.
Evakuasi Tanggap Darurat, Water Rescue and Evacuation
"Ada tali? Tali? Tali hammock!" Teriakku kepada dua lelaki yang tersisa di darat, Angga Pongo dan Pakde. Pakde yang baru bangun tidur tampak limbung melepas tali yang mengikat hammock, lantas mereka berdua mengikat tali yang dikumpulkan agar menjadi panjang. Lupi berenang kembali ke tepian untuk mengambil ujung tali yang akan digunakan untuk menyelamatkan Jaya. Ia tampak kedinginan, dan ia sedikit meregangkan tubuhnya agar tidak kram. Tutup Tupperware sudah ia bawa sekalian ke tepi.
Penyelamatan yang dramatis, saudara-saudara! Lupi berenang kembali ke tempat Jaya menepi, dan memasang tali untuk penyelamatan. Perlahan-lahan Jaya akhirnya berhasil menepi dengan bantuan tali. Lupi pun berhasil menepi dengan selamat. Alhamdulillah ! Ingin rasanya kukalungkan bunga pada mereka. Lupi menjadi idola para wanita khusus di hari itu saja, hahaha....
Merundung Jaya dan Sang Tutup Kuning
"Mana? Mana tutup Tupperware yang bikin masalah? Hah?" Teriak Mbok Ndewor gemas. Matanya melotot dan berkacak pinggang. Setelah meraih tutup tersebut, ia menjitaknya dengan gemas.
"Aduuh...sudahlah kalau kemping nggak usah bawa Tupperware lagi! Bikin ribut saja!" Ujarnya. Winda tertawa-tawa malu. Jaya mendadak dapat nama rimba Tupperware dan dipanggil Om Tupperware oleh para bocah. 
"Nggak tahu kenapa, kakiku mendadak kram disana. Untung masih agak dipinggir, kalau ditengah, nggak tahu bagaimana nasibku." Ucapnya penuh syukur. Memang, storage product andalan emak-emak itu benar-benar harus dijaga walau hingga bertaruh nyawa.
"Mbak Winda, dijaga ya tutupnya ! Kalau perlu ditaruh di lemari kayak piala. Kisahnya hampir jadi pertaruhan nyawa itu!" Mbok Ndewor berkata sambil ngakak. Ah ya sudahlah, benar-benar menjadi pelajaran dan pengalaman kami saat kemping.
Foto Bersama Jaya, sang Penyelamat yang Terselamatkan
Perjalanan pulang, akhirnya Winda berhasil membawa carriernya sendiri dengan sedikit terseok dengan berat yang sudah berkurang sekitar 40%. Tampaknya ia sudah berhasil menjadikan perjalanan pertamanya menjadi pelajaran berharga dan penting, dan menurutnya ini seru dan nggak bakal kapok. Malah dia berencana mencari carrier dengan ukuran lebih kecil.
Willkommen bei dem Wald, Winda !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe