Mengkuris dan Sisa Peradaban yang Hampir Hilang

Tuesday, November 03, 2020

Ada yang kurang apabila tak mengunjungi lokasi ini saat berada di Karangan. Ya, seperti postingan sebelumnya yang menjelaskan bahwa Karst Sangkulirang-Mangkalihat di kawasan Kutai Timur membentang maha luas dan menyimpan jejak-jejak prehistoris dibaliknya. 
Sungguh, hampir tiap bulan ada saja Karst di Kutai Timur yang aku jelajahi. Khusus untuk bulan ini ada dua, yaitu Kung Beang dan Mengkuris, sebenarnya karakter dua karst ini hampir sama, yaitu terpisah dari bentangan karst besar lainnya (contoh : Gunung Gergaji, Karst Merabu, Karst Batu Pengadan dll) dan memiliki beberapa gua dengan dinding batuan kapur. Bedanya di Karst Mengkuris ini terdapat jejak cap tangan prehistoris seperti yang ditemukan di Ceruk Tewet.
Lokasi Mengkuris sendiri hanya sekitar satu jam dari perkampungan di Karangan, kearah Batu Lepoq lurus saja, dan masuk ke kiri, jalan tanah milik perusahaan kayu PT Sumalindo. Melalui jalan tanah sekitar lima kilometer. Desa Batu Lepoq sendiri sebagian besar dihuni oleh warga Dayak Basap.
Saat itu aku hanya berdua dengan Mas Mardi, awalnya kami sangsi bisa menuju ke Mengkuris karena saat pagi harinya hujan turun di Karangan, dan khawatir motor kami akan terjebak lumpur saat perjalanan.
"Sudahlah kita coba saja kesana saja, siapa tahu jalannya masih bagus," Ujarnya menghiburku. Tentu saja, Mengkuris menjadi hal yang membuatku penasaran mengingat aku sering ke Karangan namun belum pernah mengunjunginya walaupun jaraknya cukup dekat dari lokasi bekerja di Karangan.
Pukul delapan pagi kami menuju kesana, syukurlah hari sudah kembali cerah walaupun jalanan masih basah. Namun tampaknya keberuntungan berpihak kepada kami, jalanan tanah yang masuk ke Karst Mengkuris kering, hanya beberapa titik yang becek. Mas Mardi mengendarai motornya dengan lincah, hujan tampaknya tak mengguyur lokasi ini, karena kalau hujan, cukup seram juga jalanan yang kami lalui.
Jalanan yang dilalui di PT Sumalindo
Untuk menuju Gua Mengkuris, kendaraan bermotor dapat diparkir dekat dengan mulut gua. Sangat dekat! Pengunjung hanya perlu naik sedikit ke mulut gua. Padahal menurut Satria, pemandu kami saat di Ceruk Tewet mengatakan bahwa gas-gas buang dari kendaraan bermotor dapat mempersingkat  usia gambar cadas pada ceruk. Terlebih lagi akses Gua Mengkuris yang tak sulit seperti Tewet, menyebabkan garca tersebut cepat rusak apabila pengunjung dengan serampangan menyentuhnya.
Mulut Gua Mengkuris
"Dulu banyak gambar-gambar tangan disini mbak," Jelas Mas Mardi di mulut gua. Ia menunjukkan dinding dengan sekitar satu atau dua garca negative stencils yang sudah mulai memudar.

Garca di Ceruk Bawah, Mulai Rusak
"Sekarang sudah jarang peneliti datang kemari karena gambar-gambarnya sudah mulai menghilang."
Hmm, benar apa kata Satria dahulu. Perlakuan manusia sangat mempengaruhi gambar cadas. Sayang sekali, padahal suatu saat kalau sudah punya anak, aku ingin pamerkan hal luar biasa ini.
Lantas Mas Mardi menunjukkan dinding lainnya, ada peringatan dilarang merusak dan mencoret dinding gua disana, jika dilanggar akan dikenakan sanksi adat. Menurut info peringatan tersebut dibuat oleh masyarakat adat Batu Lepoq, dengan tokoh adat yang dikenal dengan nama Pak Minggu.
Gambar cadas tak hanya di bagian bawah, akupun naik ke ceruk bagian atas dengan bantuan rotan dianyam yang tertambat pada stalagtit dan berfungsi sebagai 'webbing ala kearifan lokal'. Aku mendapati garca negatif stencils maupun positif stencils dengan beberapa gambar hewan, yang aku terka asal-asalan mungkin seekor kerbau. Ada juga gambar mirip dengan katak, kura-kura, maupun mirip dengan babi hutan cukup yang sudah memudar disebelahnya.
Ceruk Atas Mengkuris
Untuk sebuah gua yang terhitung mudah dijangkau seperti ini, termasuk bersih dan tidak ada sampah, apalagi vandalisme seperti di Gua Angin Kung Beang. Ada pondok tempat informasi wisata namun tampak kosong dan ilalang tumbuh tinggi disekitarnya.
Menuju Liang Saleh
Pintu Masuk Liang Saleh
Tak hanya Mengkuris, satu gua lagi yang kami kujungi disana, namanya Liang Saleh. hanya sekitar 200 meter dari Mengkuris. Langit-langit gua tinggi dan tidak ada cap telapak tangan disana.

PUNCAK MENGKURIS
"Ke puncak kah kita?" Tawar Mas Mardi di hari yang makin terik ini. Pukul setengah sepuluh pagi.
"Jauh nggak? Berapa lama kita naiknya?" Tanyaku. Karena memang kaki ini sudah pegal-pegal setelah pendakian ke Beriun dan menyesuaikan jadwal transportasi untuk kepulanganku ke Sangatta.
"Sejam saja."
"Ya lumayan," jawabku sembari menghela nafas. Udara panas seperti ini, cukup melelahkan menapaki karst yang pasti sangat curam
"Tapi kalau lihat mbak ini tiga puluh menit tembus." Katanya menyemangatiku. Oh, tentu saja tanpa pikir panjang langsung kuiyakan dengan penuh semangat. Kapan lagi.
Jalur yang dilalui memang tak jauh beda dengan jalur menuju puncak karst yang lain. Sangat menanjak dan tak jarang telapak tangan tergores karst. Ada beberapa jalan yang harus dilalui dengan merayapi karst, namun ini jauh lebih manusiawi dibandingkan Ceruk Tewet. Lebih mudah, dan tentu saja dengkul racing ini sudah terlatih menapaki karst sehingga terhitung cukup lincah, huahahaha.
Perkiraan meleset jauh, yang awalnya durasi sekitar tiga puluh menit, kami hanya memakan waktu dua puluh menit sampai puncak dengan ketinggian sekitar 195 mdpl, jadi sekitar pukul sepuluh kurang sepuluh menit. Ternyata jarak tak terlalu jauh, hanya sekitar 500-600 meter saja, dan benar, suasana di puncak teramat panas! Panorama yang disuguhkan berupa hamparan Karst Mengkuris, hutan, maupun siluet Puncak Beriun dari kejauhan. Kurang lebih sama dengan Ceruk Karim.
Suasana di Puncak Mengkuris
"Aduh bisa item lah saya nanti mas," Ujarku sambil sibuk menutupi wajah dengan kerudung. Lantas kami berteduh di tanaman perdu yang berada di puncak.
"Siapa yang buka jalur dulu mas?" 
"Ya saya mbak, ini kita pas diatas gua Mengkuris."
"Harusnya sana tuh, vertikal dan ekstrim," Ujarku sombong menunjuk gua tinggi di pilar karst sebelah kami. Hampir setiap detik kelelawar dan walet keluar masuk ke gua tersebut.
"Belum ada orang yang masuk sana," ujar Mas Mardi. "Kayaknya harus bawa peralatan panjat."
Hanya sekira satu jam kami berada di Puncak Mengkuris. Sinyal di puncak sangat bagus, sehingga aku sempat melakukan panggilan kepada orang tua dan Mas Mardi sendiri melakukan siaran langsung di laman Instagramnya.
"Saya baru pertama naik siang-siang dan panas begini.Biasanya pagi mbak, bagus kabutnya. Apalagi kalau habis hujan, rasanya seperti berada diatas awan. Kadangkala kamipun menginap diatas sini."
"Anginnya nggak kencang?"
"Nggak. Tapi siang begini bagus juga, cerah. Awannya bagus tuh!" Serunya menunjuk langit, seraya bergantian mengambil gambar denganku. 
Hmm, ada bagusnya juga. Suatu saat, aku ingin kembali lagi dalam suasana pagi.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe