#1 Beriun : Renjana yang Terencana

Wednesday, November 04, 2020

Sejatinya, tahun ini aku hendak hengkang dari petualangan atau aktivitas yang cukup mengerikan, yang  mana kematian seolah-olah hanya berjarak sedepa-bahkan lebih dekat terhadapku. Menjadi wanita anggun, seperti itulah kiranya.
Dan semenjak patah hati paling hebat kurasakan dalam hidup, semuanya berubah. Aku kembali menjadi pribadi yang sedia kala, menggemari kegiatan yang dinilai cukup menegangkan. Pupus sudah impian menjadi wanita anggun dalam tahun 2020 ini. Ya, aku butuh ketenangan terlebih dahulu. Jauh-jauh dulu menjalin keakraban dengan lawan jenis. Cukuplah jatuh cinta dengan alam yang tiada pernah menyakiti.
Allah saat itu sedang cemburu, karena aku terlalu sering memikirkannya.
Renjana ke Beriun sudah ada semenjak tahun 2017. Kesal juga karena sering ke Karangan Dalam dalam urusan pekerjaan, akan tetapi masih belum ada kesempatan kesana. Terlebih lagi setelah melihat foto-foto sangat cantik mengenai Beriun oleh fotografer Natonal Geographic tahun 2016 menjadikan semangat ini makin membara.
BERIUN
Hingga akhirnya Oktober 2020 menyapa, seolah ia memberi harapan pada akhir bulannya. Informasi mengenai transportasi maupun jalur pendakian mulai kugali. Kanal-kanal Youtube yang memuat liputan mengenai Beriun aku putar berulang kali. Demikian pula dengan akun-akun media sosial pendaki yang pernah kesana aku tanya satu-persatu.
Tak ketinggalan juga Pak Indra, rekan kerjaku di Karangan Dalam pun turut memberi informasi serta kontak yang bisa dihubungi untuk melancarkan misi ini. Bahkan dua minggu sebelum keberangkatan, aku menyempatkan untuk bertandang ke Kantor Desa Karangan Dalam untuk menyampaikan maksud pendakian sekalian ijin kepada Ketua Adat di Desa Karangan Dalam, Pak Ijam. Saat itu beliau hanya bisa dihubungi via sambungan telepon. Ditanyakanya siapa ketua regu, berapa hari diatas, dan siapa pemandunya. Tentu saja saat itu belum bisa aku jawab karena kami perginya sekitar 5-6 orang, dan tentunya memerlukan waktu untuk diskusi terlebih dahulu.

SPESIALIS PENERIMA HARAPAN PALSU
Setelah melalui diskusi di grup, disepakatilah transportasi yang aku ajukan, berupa sewa mobil beserta sopir pulang pergi dari Sangatta ke Karangan Dalam serta sewa mobil 4WD untuk membawa kami ke pintu rimba (awal pendakian Beriun) yang dikenal jalannya cukup menyengsarakan tatkala memasuki musim penghujan seperti ini. Perijinan ke Pak Ijam pun sudah aku selesaikan dengan menyebut lima orang yang akan menuju ke Beriun. Jadwal di Karangan Dalam pun sudah aku susun di grup kecil kami. Rencana kami akan melakukan pendakian selama dua malam, dan selebihnya kami bisa mengunjungi destinasi terdekat disana seperti Mengkuris atau Air Panas Batu Lepoq. Jadwal disusun mulai tanggal 28-31 Oktober 2020.
Dua hari sebelum keberangkatan, sudah ada salah seorang yang mengundurkan diri. Oke, setidaknya aku harus mempertahankan tiga orang lainnya agar sharing cost tidak terlalu berat. Pengumuman berisi tentang 'Siapa yang mau ikut ke Beriun' telah disebar di grup tukang jalan Bontang dan Sangatta.
Dan entah mengapa, sehari sebelum keberangkatan, salah seorang teman pun membatalkan rencana untuk bergabung dengan alasan pekerjaan. Ia hanya mengirimkan pesan agar kami berhati-hati dan selamat hingga pulang. Tamat sudah riwayat perjalanan ke Beriun.
Sungai Marak, Bikin Penasaran
Pikiranku mendadak gelap. Tantangan serupa menyapa kembali. Aku kelimpungan memutar otak dan mencari info kesana kemari agar biaya bisa ditekan seminimal mungkin. Aku tak membiarkan kesempatan ini akan hilang dan liburanku terbuang sia-sia. Itu namanya bukan seorang Une.
Dan akhirnya, aku menelepon Lupi alias Jangkar untuk berdiskusi bagaimana baiknya.
"Kar, kalau biayanya membengkak apa kamu mau ikut?" Pancingku. Nadanya tampak ragu.
"Kayaknya aku keberatan dengan biaya segitu,"
"Ya sudah, kalau kamu keberatan, mending aku berangkat sendiri aja. Aku bisa kok handling semuanya sendiri," Ujarku dengan suara tercekat, hampir menangis. Bukankah biasanya juga kamu bisa sendiri, Une?
"Kalau sendiri mending batal aja, Ne." Katanya dari seberang memberi saran. Aku menggeleng keras kepala.
"Nggak, aku sudah biasa kok ! Aku pokoknya berangkat sendiri!" Seruku tegas sambil sedikit lemas melihat keril yang sudah separuh terisi logistik buat empat orang. Ah sudahlah! Apapun yang terjadi, tetap lanjutkan perjalananmu, Une! Tetap maju dan perjuangkan mimpi-mimpimu.
Setelah hampir satu jam aku mengakhiri perang urat saraf lewat sambungan telepon itu. Nafas kuhela berkali-kali untuk menenangkan diri. Selanjutnya menghubungi sang pemandu dan mengutarakan bahwa aku seorang diri yang hendak menuju Beriun. Apapun yang terjadi.
Bleib ruhig, alles in Ordnung. (Tetap tenang, semuanya baik-baik saja)

28 OKTOBER 2020
Benar, hari ini telah tiba dan aku berangkat sendiri. Segala kemungkinan yang akan terjadi sudah kupikirkan. Perjalanan menuju Karangan Dalam dari Sangatta membutuhkan waktu sekitar 7 jam. Santai saja, toh Karangan Dalam juga bukan daerah yang asing, bukan? Dan disana juga ada rekan-rekan kerjamu. Begitu aku menenangkan diri dalam tekad yang makin berkibar. Sampai di Karangan sekitar pukul sembilan malam, sempat aku menghubungi penjaga Beriun yang akan menemaniku selama disana, namanya Mas Mardi. Aku menginap di PLTD Karangan Dalam, tempat bekerja saat disana.
PLTD Karangan Dalam, Tempatku Menginap
"Jadi kenapa Mbak sendiri saja?" tanyanya. "Baru pertama aku bawa pendaki sendirian keatas, cewek pula."
"Karena saya korban penerima harapan palsu. Yang awalnya lima orang jadi saya sendiri. Susah kalau saya sudah punya tekad, pasti konsisten dan komitmen."
" Ya...ya. Jadi butuh apa aja mbak untuk naik keatas?"
"Paling nesting dan kompor. Beras. Aku sudah ada hammock, tinggal flysheetnya saja. Memang bagaimana cuaca Karangan akhir-akhir ini, Mas?"
"Hujan."
"Perjalanan menuju pintu rimba?"

"Berdoalah, mudah-mudahan jalannya tak seburuk yang kita kira."
"Dan mudah-mudahan cuaca mendukung."
Ujarku lirih dan menunduk. "Aman saja kan?"
"Kita buat temanmu yang PHP menyesal karena nggak ikutan." Tukasnya sambil menggeser-geser gambar di layar ponselnya. "Nih, mudah-mudahan kita dapat panorama langka seperti ini."
Aku ternganga melihat panorama negeri diatas awan, di puncak Beriun yang hanya 1261 mdpl.
"Ini malamnya habis hujan, lantas paginya kami dapat panorama seperti ini."
"Itu bagus banget !"
"Semoga dapat ya."
Dan akhirnya setelah berunding kami sepakat satu malam saja di Beriun, karena kami hanya berdua, dan tentunya karena aku nggak enak hati juga dengan keluarganya. Huh, kadang aku ini terlalu pemberani dan nekat menjadi seorang wanita.

Yeah, tapi memang sebuah renjana harus benar-benar diperjuangkan sekuat tenaga!

bersambung...

You Might Also Like

0 comments

Subscribe