#5 Senyuman di Rusia : Bertemu Gadis Kalimantan

Friday, April 10, 2020

"Di sana, (Saint Petersburg) dingin nggak?" Tanyaku pada Listia, gadis dari Kaltim yang sedang bersekolah jurusan kereta api disana. Ia kukenal karena ayahnya merupakan teman sepedaku di Sangatta.
"Wah, lebih dingin daripada di Moskow, bawa pakaian yang anget-anget deh mba. Musim gugur gini angin dari arah laut lebih kenceng,"
Beberapa pertanyaan sudah aku komunikasikan lewat pesan instan untuk mempersiapkan 'amunisi hangat' selama disana.
Perjalanan menuju Saint Petersburg dari Moskow dapat ditempuh selama 4 jam dengan kereta ekspress SapSan. Kalau kereta biasa bisa menempuh waktu sekitar 8 jam dengan harga yang ekonomis dan tidak senyaman SapSan tentunya. Stasiun pemberangkatan dari Moskow dari Leningradskiy, dan pemberhentian di Moskovskiy di Saint Petersburg. Seperti biasa, panorama yang dilewati sepanjang perjalanan merupakan panorama khas pedesaan Eropa, mirip seperti rumah di film Masha and The Bear. Aku hanya membayangkan suasana ketika musim dingin, pasti kelabu dan salju dimana-mana.
Stasiun Pemberangkatan ke Saint Petersburg dari Moskow
SapSan
Sampai di Moskovskiy Vokzal, alias Moskovskiy Railway Station, tepat pukul 7 malam. Aku dijemput Listia bersama kawan studinya yang sama-sama berasal dari Indonesia.
"Halo Mba Unee...udah makan belum? Mau dibantu bawakan?" Sapanya ramah.
"Halo juga mba, eh kayaknya aku harus taruh barang dulu deh baru kita bisa makan malam,"  balasku. Dan setelah kami menaruh barang, mulailah kami berburu makan malam di hari yang terasa beku bagiku.
Sampai di Saint Petersburg, difotoin Listia
"Mau makan apa?" tanya Listia.
"Jujur aku bingung mau makan apa, kalo bisa yang khas Rusia aja deh,"
Mereka membawaku makan malam di depan Moskovskiy Vokzal, tepatnya di warteg Stolovaya No 1. Haha, aku nyebutnya warteg aja biar terasa Indonesianya, karena memang konsepnya seperti warteg, pilih, diambilin, lalu bayar.
Makan malam pertama di Saint Petersburg, aku memilih bubur kentang, sedikit smetana dan gorengan yang ada rasa jamur . Minumnya jus apel, dan itu rasanya asem nggak ada manis-manisnya.
"Nggak mau coba borsch mba? Sup Khas Rusia," Tawarnya sambil menunjuk sup berwarna merah pekat. "Eh mba suka smetana? aku sih nggak doyan,"
Smetana, penampakannya mirip mayones dan sedikit berbintik, kupikir rasanya seperti mayones, ternyata bener-bener nggak enak. Hambar. Sekali makan di Stolovaya aku menghabiskan uang sekitar empat puluh ribu rupiah, hmm...sekitar 198 rubel.
Menu makan malamku
"Besok kita bisa jalan-jalan mba, mau kemana? mumpung aku lagi off kuliahnya," tawar Listia.
"Apa yah yang bagus?" Tanyaku standar. Jujur sejauh ini yang kutahu hanya tempat-tempat wisata umum saja.
"Eh aku pengen ke pantai sama stadion Piala Dunia yang kemaren," Ujarku tiba-tiba. "Tapi sore aja yah mba, paginya pengen keliling dulu sih aku,"
"Nanti janjian saja, ketemu di Blue Mosque bisa." Tawarnya.
Musim Gugur yang indah, bukan?
Pagi harinya, aku menyempatkan diri untuk berkeliling SPb (Saint Petersburg) dan mengenal sedikit moda transportasinya. Aku menginap di studio di dekat stasiun metro Chernyshevskaya, jadi untuk menaiki metro yang lebih 'sederhana' daripada di Moskow ini, kita dapat membeli kartu yang bisa di top-up melalui mesin ATM, seperti di Belanda. Kota,  ini pun menjadi salah satu tujuan pariwisata, sehingga cukup banyak copet berkeliaran di metro. Tetap waspada dengan barang bawaan ya, taruh di depan badan apabila harus berdiri di metro.
Destinasi pertama yang kukunjungi adalah kawasan Chruch of the Savior on Spilled Blood. Gereja dengan kubah yang imut seperti es krim, mirip seperti di Moskow. Tapi yang ini terletak di tepi sungai Neva. Karena masih pagi, maka kawasan itu masih sepi dan suhu menunjukkan dua derajat celcius. Didekat gereja itu juga terdapat warung makan prasmanan yang enak banget !

Perlu diketahui, lokasi wisata Saint Petersburg terpusat disana, jadi pejalan kaki bisa puas mengelilingi tanpa harus naik metro. Mau lihat taman pada saat musim gugur yang kayak di film-film kartun? Bisa banget! Tinggal ke taman di seberang Gereja, masuknya gratis. Dan suasananya sangat sejuk plus ultra indah ! Lebih indah lagi kalau berdua... #eh jomblo
Istana Musim Dingin
Aku melanjutkan berjalan kaki ke Istana Musim Dingin tempat tinggal utama para kaisar di Rusia. Di Maps sih sekitar 1,3 km jalan kaki menyusuri gang-gang kecil. Ah, santai saja, pikirku. Toh tidak diburu waktu juga. Waktu saat itu menunjukkan pukul 2 siang, sedangkan janji untuk bertemu dengan Listia pukul 4 sore.
Menurut referensi yang kubaca, interior didalam Istana Musim Dingin tersebut sangat indah seperti istana di adegan Cinderella berlari-lari gara-gara sudah jam dua belas malam. Tetapi karena aku anaknya bertipe lebih suka eksplor tempat, bukan penggila museum, maka tak kusempatkan untuk masuk kedalam dan terlebih lagi nanti bisa terlambat ketemu dengan Listia. Setelah berfoto-foto  dan keliling sebentar, pukul tiga lebih aku segera mencari metro terdekat dan segera menuju ke Blue Mosque, tapi sebelumnya kuhubungi kawan baruku tersebut.
Perjalanan menuju flat Listia
"Halo mbak! lapar kah?"  Tanya Listia ketika kami bertemu untuk yang kedua kalinya. Tak bisa kupungkiri, perutku sudah keruyukan gara-gara berjalan kaki dan eksplor tadi.
"Hm..iya sih." Jawabku tanpa sadar sembari mengelus perutku.
"Yuk makan, di resto Korea favoritku!" Ajaknya penuh semangat. Kalau dia yang ajak hatiku agak tenang, karena pasti halal.
"Bentar lagi mampir ke flat ku yuk!"
"Lah emang boleh orang asing masuk?" kataku bertanya-tanya.
"Hm...kayaknya aman sih mbak. Kayaknya om penjaganya gak hafal wajah-wajah penghuni flat, karena hampir semuanya berhijab."
"Okelah, boleh." kataku setuju gara-gara penasaran juga.
Setelah makan, kami berjalan menuju flat Listia. Tak terlalu jauh dari tempat kami makan. Saat awal masuk, wajahku dilihat secara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya seperti teks proklamasi oleh penjaga flat yang botak tersebut. Lalu ia melontarkan kalimat dalam bahasa Rusia yang tentu saja membuatku tak mengerti.
"Eh dia ngomong apa?" tanyaku bingung kepada gadis dari Kalimantan itu.
"Bentar, biar aku selesaikan."
Tak lama kemudian, ia menjelaskan bahwa tak boleh membawa tamu dari luar ke asrama mahasiswanya. Tapi ia menjelaskan bahwa aku ini tetangganya di Indonesia, lalu penjaga tersebut  dengan muka berat hati memeriksa paspor, visa dan mengembalikannya.
"Jangan lama-lama," Kata Listia. "Tapi biarin aja mbak, palingan juga lupa dia."
Kamarnya terletak di lantai empat. Cukup payah aku menaiki anak tangga. Sekamar berisi tiga orang, dan semua berasal dari Kalimantan Timur, dengan jurusan perkuliahan yang sama.
Kamar itu dilengkapi dengan penghangat ruangan, aku sempat menumpang shalat dan sempat tertidur sejenak. Ketika terbangun, satu buah plum dalam kondisi sudah terpotong dan siap untuk disantap terhidang di meja.
"Mbak, makan plum! Disini kalau musim gugur, buah plum jadi murah sekali. Bagus itu untuk pencernaan."
Baru pertama kali aku menyantap plum. Cukup renyah, krenyes-krenyes begitu.
"Mau kemana kita malam ini?" tawarnya.
"Eh? Kamu nggak capek? Besok kuliah loh."
"Besok aku kuliah siang...ayo mau kemana? Ayahku bilang wajib nemenin tamu yang jauh-jauh dateng loh.."
"Ehm..gimana kalau stadion host Piala Dunia kemarin?" 
"Boleh, yuk! Tapi kalau malam dingin mbak, anginnya kenceng juga. Nggak apa-apa?"
"Aman..."

Setelah itu kami keluar flat dengan berpamitan kepada Om gundul penjaga flat. Aku menghela nafas lega.
"Ya, di Rusia anak kuliah wajib bisa bahasa Rusia. Bahasa pengatar perkuliahan full Rusia, no English. Makanya semua mahasiswa asing wajib mengikuti pelajaran bahasa Rusia di Tver selama satu tahun pertama." tutur Listia. Pantas saja cara berbicaranya sudah seperti orang lokal.
Perjalanan Menuju Stadion yang menjadi Host Piala Dunia 2018
Percayalah, ini dingin sekali !
Akhirnya kesampaian
Untuk menuju ke Stadion tersebut, kami menuju ke stasiun metro Novokrestovskaya yang masih sangat baru, lalu menuju berjalan kaki ditengah dinginnya angin musim gugur sejauh 1,2 km. Uh, sungguh ini angin terdingin yang pernah aku rasakan. Kami berjalan melewati pantai sambil berkali-kali mengusap ingusku yang tanpa sadar keluar, lalu akhirnya melihat stadion yang tentu saja  sepi di pukul tujuh malam ini. Hanya ada beberapa remaja yang bermain otopet. Lampu-lampu yang menyoroti stadion tersebut berubah-ubah warna setiap beberapa menit. Kusempatkan berfoto barang sebentar, lalu segera memutuskan kembali karena sudah menggigil kedinginan walaupun outfiku saat itu sudah mengenakan jaket tebal dan kupluk buat naik gunung. Sebelum kembali ke studio, kupastikan ada beberapa bungkus jamu tolak angin yang sudah kubawa jauh-jauh dari tanah air, karena rasanya mukaku sudah pucat diterpa angin kutub tanpa ampun.
Terima kasih, Listia !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe