Mencari yang Berbulu di Prevab, Taman Nasional Kutai

Tuesday, August 27, 2019

Dua tahun lebih aku bermukim di Sangatta, baru kali ini pula aku mengunjungi salah satu obyek wisata minat khusus yang masuk di salah satu Taman Nasional Kutai ini, Prevab. Padahal keinginan itu sudah ada sejak tahun tahun aku masih bermukim di Bontang.
Alasannya adalah ; aku butuh sharing cost. Ya, berdasarkan informasi yang dihimpun, sewa ketinting pulang pergi 350 ribu, dan guide 150 ribu. 
Guide? wajib pakai guide ya? Kalau di Sangkima kan enggak?
"Iya wajib banget. Ini wisata minat khusus, sering dipakai penelitian dan tidak ada trek yang jelas seperti di Sangkima." Jelas Om Ariyadi, rekan Goweser Sangatta yang banyak memberiku informasi seputar akomodasi ke Prevab ini.
"Nanti bisa nyasar atau disakiti hewan liar,"
Dermaga Prevab
Keberangkatan kami bertiga (awalnya berempat, tetapi seorang berhalangan hadir) menuju Prevab sekitar pukul 08.30 WITA. Menuju ke Prevab harus menyebrangi Sungai Sangatta selama kurang lebih 15 menit dengan ketinting yang dikelola oleh masyarakat setempat. Untuk menyebrang dengan ketinting, kita dapat menuju pelabuhan ketinting Kabo Jaya, dekat Kantor Desa Swarga Bara di Sangatta, ya, dari Kantor PLN Sangatta hanya membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan kendaraan bermotor. (lebih jelasnya dapat dilihat di maps)
Penyebrangan Ketinting
Posisi Pelabuhan Ketinting (Pin Merah)
 Satu lagi fakta terpenting tentang Sungai Sangatta adalah SARANG BUAYA. Kalau beruntung kita bisa melihat para buaya berjemur di tepi sungai, tapi sayang sekali sungai sedang surut, jadi tak kita dapati buaya satupun disana.
Pak Hariadi, guide kami sekaligus fotografer dan Polisi Hutan TNK mewanti-wanti agar tidak mencelupkan anggota badan kedalam air saat berada diatas ketinting.
"Bisa jadi camilan buaya Sangatta," ujarnya.
Camp Kakap
Awalnya kami berminat untuk menginap semalam di Prevab, karena disana ada camp yang disiapkan bagi para pengunjung maupun peneliti. Tapi sayang sekali camp-camp disana penuh  oleh wisatawan asing, padahal kami juga ingin mengikuti wisata malam untuk melihat tarantula yang merayap keluar dari lubang-lubang di hutan.
Peneliti Berkebangsaan Kanada
Tiket masuk untuk wisatawan lokal sekitar tujuh ribu rupiah, sesampai disana kami bertemu dengan seorang wanita berkebangsaan Kanada yang sudah satu dasawarsa meneliti perilaku primata raksasa tersebut. Tak ayal dia sangat lancar berbahasa Indonesia ketika berbincang sekilas dengan kami.
Aku menghirup dalam-dalam aroma dedaunan membusuk ketika mulai menapaki hutan Prevab. Terlebih lagi kemarin sempat hujan sehingga petrikor-petrikor menimbulkan aroma yang sangat menenangkan pikiran.
Pohon Sengkuang
Vegetasi yang menghuni Prevab tak jauh berbeda dari Sangkima, hanya saja disana kami menemukan sebuah pohon Sengkuang yang berukuran sangat besar, lalu pohon Ara Gendang yang mana buahnya menjadi konsumsi makhluk-makhluk hutan tak terkecuali Orang Utan.
Aku merasakan, ternyata memang WAJIB hukumnya menggunakan jasa guide agar tidak tersesat dan ia dapat membantu pengunjung untuk menemukan dan melihat orang utan (kalau beruntung). 
Dan, ternyata aku memang sedang beruntung. Ditengah perjalanan kami bertemu orang utan yang sedang bermalas-malasan di alam liar.
Langit, Difoto Oleh pak Hariadi
"Lagi istirahat, habis makan. Itu namanya si Langit," Jelas Pak Hariadi sembari mengeluarkan lensa tele-nya.
Aduh! Lensa teleku ternyata ketinggalan di tas perbekalan. Aku menjitak kepalaku atas kebodohanku hari ini. Jadi hanya bisa mengambil gambar seadanya dengan lensa wide, dan hasil tentu apa adanya saat mengabadikan makhluk legendaris di uang lima ratus tersebut. Selebihnya aku minta gambar dari pak Hariadi, dan hasilnya memang keren parah!
Hanya sekitar dua jam kami berkeliling di hutan, dan kami beristirahat di Camp Kakap untuk makan siang dan sholat. Aku menggelar hammock untuk bermalas-malasan.
"Ada Labu menggendong anak!" Seru Pak Hariadi dan bergegas mengambil kameranya.
"Labu?" gumamku.
"Iya, Orang utan namanya Labu, lagi gendong anaknya namanya si Bulan." 
Namanya Si Labu
Secepat kilat aku lompat dari hammock, memakai sepatu dan menyambar kamera lalu mengikuti  Pak Hariadi dengan langkah tergesa. Benar saja. aku melihat ada Induk Orang utan sedang menggendong anaknya dan bergelayutan diatas pohon. Unch unch, asli menggemaskan anaknya !
Tiba-tiba ada sekelompok turis asing sibuk mendongak keatas sambil membidikkan kameranya. Mereka begitu antusias melihat pergerakan si Labu.
"Mereka turis dari Perancis, sudah keliling Kalimantan hingga Mahakam Ulu. Ya, lebih banyak turis mancanegara yang tertarik dengan orang utan. Di Prevab ini sisa sekitar dua puluh ekor orang utan, dan mereka semua memiliki nama dan perilaku yang berbeda-beda." Jelas Pak Hariadi.
Sekilas aku berpikir, betapa bodohnya manusia yang membunuh makhluk-makhluk lucu ini demi uang semata.
Para Pencari Makhluk di Uang Lima Ratusan
Primata yang sedang menggendong anak tersebut merangkak dan naik ke pohon Ara Gendang sampai titik teratas untuk makan. Lalu tiba-tiba hujan turun dengan derasnya, aku memutuskan untuk kembali ke Camp, menunggu reda dan mengakhiri petualangan hari ini.


Tips untuk mengunjungi Prevab :
1. Pakailah sepatu agar lebih aman dan nyaman
2. Pakai pakaian lengan panjang agar terhindar dari ulat-ulat nakal atau gigitan agas, pakailah lotion anti nyamuk bila dirasa perlu  
3. Jagalah kelestarian hutan, jangan melakukan vandalisme, menyakiti hewan atau buang sampah sembarangan
4. Wajib menggunakan guide/ranger demi keselamatan
5. Untuk menuju Prevab, wisatawan harus menuju Sangatta terlebih dahulu, lalu dapat menyewa mobil/ojek menuju ke Pelabuhan Ketinting Kabo Jaya
Ketinting, menjadi daya tarik tersendiri
Untuk informasi guide dan akomodasi, bisa dihubungi :
Pak Hariadi : +6282158088945

You Might Also Like

0 comments

Subscribe