Dulu Mountain Hiking, Kini Mountain Biking : (S)Enduro di B29 menuju P74

Friday, April 26, 2019

Ramadhan tahun lalu, masih ingat betul aku menuliskan sebuah postingan tentang kunjungan ke puncak B29 bersama ayah, ibu dan kakak sepupu. Saat itu karena terlalu siang, maka kabut yang menyelimuti lembah dan menangkupi Bromo pun sudah sirna.
Kala itu aku cerewet menanyakan rute sepeda kepada om-om ojeknya, dimana rute yang mayoritas turunan, karena aku berharap suatu hari dapat menjelajahinya dengan sepedaku.

April 2019
Gerbang Masuk ke Atas Awan
Kuberanikan diri untuk mewujudkan keinginan tahun lalu. Aku ingin menjelajahi B29 dengan membawa sepeda yang berwarna pink tersebut. Berdasarkan info yang didapatkan dari Mas Eko dan Mas Jaka, rute total dari B29 menuju P74 sekitar 33 km dan mayoritas turunan, beberapa tanjakan dengan bermacam-macam medan, yah, bisa disebut trek enduro. Wah cocok sekali dengan karakter sepedaku yang paling merasa bahagia melihat berbagai macam turunan yang beraneka rasa.

20 April 2019 - 00.30 WIB
Dini hari mata ini sudah terjaga, padahal alarm diatur pada pukul 01.45 WIB. Terlelap hanya tiga jam dari pukul sepuluh malam. Kami janjian start ke B29 untuk mengejar fajar terbit pukul dua pagi, sedangkan perjalanan ke puncak membutuhkan waktu paling lambat dua jam.
Akhirnya aku memutuskan untuk buang air besar terlebih dahulu di pagi buta itu untuk sedikit menangguhkan perasaan ketidaksabaranku. Tak lama kemudian pesan singkat mampir dari rekan gowes di gawaiku, memastikan apakah aku sudah bangun atau belum.
Pakai Sarung, Tanda Kearifan Lokal Suku Tengger
"Assalamualaikum, wes tangi mbak?" (Assalamualaikum, sudah bangun belum mbak?")
"Aman om," Jawabku cepat tanpa membalas salamnya, eh akhirnya aku balas dalam hati juga.
Lantas segera ku bersiap tanpa mandi. Hanya cuci muka dan memastikan tak ada air liur yang mengering di sudut-sudut bibirku.
Pukul 02.15 WIB, mobil pick up dengan modifan rak sepeda di bak nya menjemputku. Rencana petualangan hari itu ada enam partisipan, tapi ada seorang yang tak hadir dikarenakan tidak sadar akan hari diselenggarakannya acara tersebut *hilang ingatan sementara* sehingga sisa lima partisipan, seperti biasa aku sendiri makhluk yang paling cantik.


Menuju ke B29 ternyata membutuhkan waktu satu jam, kami sampai sekitar pukul empat pagi dan sayup-sayup suara adzan subuh mulai terdengar. Lima ekor sepeda kami naikkan hingga gerbang puncak menggunakan ojek, begitu pula dengan para rider. Dinginnya udara menghantam kami, untunglah aku sempat membawa sarung untuk menghalau hawa dingin khas suku Tengger.
Kutunaikan subuh yang terasa beku di warung dekat tulisan Puncak B29. Selepas itu semburat mega-mega merah mulai menampakkan pesonanya di kejauhan.
"Mbak beruntung sekali, sunrisenya pas apik banget iki. Biasane gak secerah iki," Jelas mas Jaka. Beberapa dari mereka sibuk mengambil siluetnya masing-masing, begitupun diriku.
"Kene wes sering mrene tapi momen e bedo-bedo mbak," (Kita sering kesini, tapi momen nya selalu berbeda mbak)
Hanya perlu menuntun sepeda masing-masing sekitar 70 meter sedikit menanjak, kami mendapati panorama puncak yang indah, saat itu masih pukul 05.30 WIB. Cahaya merah masih terasa sangat indah untuk mengambil gambar, aku terkagum-kagum tentu saja dengan posisi sarung merah  masih melingkar di pundakku.
"Luar biasa, mimpiku menjadi nyata lagi."

20 April 2019 - 07.00 WIB
"Udah puas makan dan foto-fotonya? Kalau sudah kita naik keatas lagi, buat foto-foto sebentar, lalu langsung start." Tanya Mas Eko. Aku mengiyakan agar tak terlalu sore sampai di rumah. Apalagi infonya gowes dengan durasi cukup lama, sekitar enam jam.
Alih-alih mendapat foto yang cerah dan kelihatan dengan jelas pesona Bromo dan Batok, tiba-tiba sang bayu bertiup menghantarkan kabut berlari menyelimuti kawah. Jadinya kami tak mendapatkan view Bromo, tapi sebagai gantinya mendapatkan view yang sangat epik !

Epic View, aku Lupa Mengajakmu Kemari

Perjalanan kami dimulai pas pukul 07.30 WIB dengan sedikit menanjak dan mencapai ketinggian paling tinggi sekitar 2600 mdpl (dan ini menjadi titik tertinggi dan elevasi terbesar dalam sejarah persepedaanku), lantas meluncur kebawah melewati lereng-lereng perkebunan sayur warga yang memanjakan mata.
Pemandangan yang Disuguhkan


Syukurlah kami tidak pergi saat musim kemarau, jadi benar-benar tidak ada debu sama sekali dan udaranya segar. Kontur tanahnya juga lembab namun tidak licin, sehingga mudah untuk handling sepeda masing-masing.
Trek yang kami lalui pun bermacam-macam. Kau minta trek macam apapun mungkin ada di sepanjang perjalanan ini. Tanjakan beton, turunan beton. Tanjakan berbatu, turunan berbatu. Tanjakan rumput, turunan rumput, Tanjakan jalan bekas dilalui motor sehingga berceruk di tengahnya, hingga turunannya pula. Begitu terus dari titik mulai hingga selesai. Paket lengkap dan penuh perjuangan.
Untuk sepeda full suspension, pastikan pengaturan angin dan rebound pada masing-masing shock sudah sesuai dengan pengendara, agar nyaman sepanjang perjalanan. Oh iya, tekanan ban juga harus diperhatikan yah.

20 April 2019 - 10.00 WIB
Partisipan Blusukan Kali Ini

Meringis Lelah
Kami beristirahat sejenak di salah satu Pos Kamling yang sudah masuk Kecamatan Probolinggo karena cuaca sedikit mendung dan mulai turun hujan. Aku menyempatkan ke toilet rumah warga sejenak dan berbincang ringan dengan pemiliknya. Setelah itu petualangan pun berlanjut, melalui turunan berbatu panjang yang meruntuhkan kekuatan lengan dan hutan damar dengan tanjakan nge'rail' yang menguras emosi.

Trek yang Disuguhkan
"Duh kok nggak sampe-sampe ya?" keluhku dalam hati saat melalui turunan panjang dengan jalan ngerail, tentu saja tidak sampai keluar dari hati. Tak etis rasanya aku berbicara seperti itu, seperti balita saja. Turunan kali ini sangat melelahkan, karena harus menarik rem belakang dan menjaga keseimbangan agar tidak jatuh konyol di jalan yang cukup licin ini. Tak jarang paha atau lengan terhantam akar atau ranting yang mencuat, sehingga dianjurkan memakai pakaian lengan panjang dan protector. Lengan harus mati-matian menahan berat tubuh dan sepeda. Benar-benar ENDURO.
Tapi keluhan dalam hati itu tak lama, setelah itu kebun teh Kertowono menghampar didepan mata. Jarak yang ditempuh sudah menunjukkan sekitar 25 km. Untuk menuju P74 (titik tertinggi di Kebun Teh Kertowono) dibutuhkan sedikit perjuangan menanjak.
P74, Puncak Kebun Teh Tertinggi


Hari memang cerah, sayangnya separuh kebun teh yang tampak dari P74 sudah layu, tapi tak tetap memaksaku untuk berfoto karena ini kan pengalaman yang cukup langka.
Rute selanjutnya kami menuju Pabrik Teh Kertowono sekitar 6 km dari P74, di tengah perjalanan kami menemukan pondok untuk berfoto diantara hamparan kebun teh dan kusempatkan sebentar mejeng disana. Pemandangannya sangat memanjakan mata, lupa sudah dengan keluhan-keluhan dalam hati tadi.


20 April 2019 - 15.00 WIB
Finish. Dengkul Sudah Tampak Lemas
Enduro kali ini berakhir di warung makan Mbak Siti di dekat Pabrik Teh yang dijadikan langganan dalam rute ini. Aku makan satu porsi sayur lodeh dan telur dadar seperti orang kelaparan dua hari. Lapar dan letih...sekali. Dan kami pun harus melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing tanpa loading pick up sepanjang +- 17 km.
Jangan mengeluh Une, kamu sadar ini kan memang rute ENDURO.


Perjalanan seru ini dapat diperiksa di :


Movescount : http://www.movescount.com/moves/move281629712


STRAVA:https://www.strava.com/activities/2304285980?share_sig=VJ780LAS1555992837&utm_medium=social&utm_source=android_share

Terima kasih kepada : Mas Jaka, Mas Eko, Pak Danang yang ngegas di tanjakan, Pak (lupa namanya), Mas-Mas Ojek dan Driver Pick Up.

"Dari 2615 mdpl menuju 660 mdpl, aku ingin kesana lagi dengan teman-teman dari Sangatta"

You Might Also Like

0 comments

Subscribe