#3 Aku Ingin ke Jerman! : Berlin (hari kedua dan ketiga)

Friday, January 12, 2018

17 Agustus 2017
Pagi-pagi aku terbangun. Tampaknya waktu matahari terbit saat musim panas di Berlin dengan Sangatta tidak jauh beda. Pukul enam pagi sudah terang, dan aku bergegas menunaikan shalat shubuh yang sedikit kesiangan tersebut.
Julie sudah bersiap untuk menuju ke tempat kerjanya. Ia menuturkan bahwa tempat kerjanya dapat dicapai dengan menggunakan bus selama 45 menit.
"Bagaimana tidurmu semalam, Unesia? Nyenyak ngga?" Tanyanya dalam Bahasa Inggris, tentunya. Ia bertanya sembari mengunyah sereal gandum untuk paginya.
"Tentu saja. Aku capek, dan bersiap untuk menjelajah kotamu hari ini." Jawabku dengan wajah masih kusut, berminyak dan rambut acak-acakan.
"Oh ya, kamu bisa mengunduh aplikasi ini, untuk mempermudahmu menjelajah Berlin. Tenang saja, petunjuk mudah dimengerti, terlebih lagi kamu menguasai Deutsch sedikit." Ujarnya menenangkanku. Selanjutnya menunjukanku aplikasi VBB Bus und Bahn di gawainya.
"Unduh saja VBB, ketik tujuan dan tempat asalmu. Otomatis aplikasi ini akan memberitahumu rute dan transportasi apa yang harus kamu gunakan. Bisa digunakan untuk bus, maupun U/Regional Bahn. Ini salah satu aplikasi wajib bagi Berliner."
VBB versi web, untuk versi app kurang lebih saja
"Mirip seperti Next Stop Paris," gumamku sambil mengunduh aplikasi tersebut. 
"Jangan lupa beli tiket harian (tageskarte). Bisa dibeli di kios setiap Bahnhof. Sebelum masuk ke bus/bahn, jangan lupa divalidasi ke mesin-mesin berwarna merah di dekat tempat pemberhentian kereta." Urainya.
"Iya, nanti aku coba. Danke, Julie."
"Aku berangkat kerja dulu. Jangan segan-segan hubungiku kalau ada masalah selama perjalanan. Enjoy Berlin!
Lantas aku segera melompat untuk mandi. Dan bergegas untuk menjelajah Berlin.
S-Bahn yang terdekat dari flat Julie hanya berjarak sekitar 800 meter. Pagi di Berlin saat musim panas terasa sejuk, seperti di Lembang. Dan hal pertama yang kulakukan saat tiba di S-Bahn Sonnennallee adalah membeli tageskarte.
"Entschuldigung Sie...."Aku sedikit berteriak permisi dalam Deutsch dengan setengah kagok di kios depan stasiun S-Bahn. Penjaga warungnya nggak ada. Aku harus memanggilnya dengan Deutsch logat Suroboyoan kembali.
"Entschuldigung Sieeee....." Berteriak untuk kedua kalinya, suaraku menjadi lebih parau. Tak lama kemudian seorang ibu paruh baya datang dari luar sambil membawa sekerat soft drinks.
"Hei...hallo...Guten Morgen," Sapanya ramah, jalannya pelan dan sedikit terbungkuk. Duh, alamat ibu satu ini nggak bisa ngomong Bahasa Inggris. Karena, mayoritas penduduk Eropa yang sudah 'berumur' jarang menguasai bahasa Inggris, kecuali kids-kids jaman now yang mempelajari bahasa Inggris di Sekolahnya.
Dan kekhawatiranku benar terjadi.
"Hallo, Was würden Sie kaufen?"
Kurang lebih saya mendengar seperti itu. Apa yang akan anda beli? Dan aku menjawabnya sedikit terbata.
"Ich..Ich will ein tageskarte kaufen..."
Ein tageskarte
"Ach so," lantas wanita tersebut memberikan secarik kertas kecil bertuliskan tageskarte, dan valid selama 24 jam. Harganya 7. Aku mengeluarkan beberapa uang receh Euro dan sen.
Mungkin karena melihat wajahku yang bukan seperti orang Jerman, Wanita itu melanjutkan penjelasan tentang penggunaan tageskarte tersebut dalam Deutsch. Aku memang tak memahami walau sudah berkata 'bitte, langsamer' alias 'pelankan dong bicaranya'. Dahiku mengerenyit mendengarkan penjelasannya.
Yang kutangkap dari bahasa tubuhnya, adalah sebelum naik U-Bahn harus validasi dulu tageskarte-nya. Olalaa....
Tinggal memantau jadwal kedatangan S/U Bahn. On time
Tujuan pertamaku adalan Branderburger Tor. Dari Sonnennalle/Baumschulenstraße menuju S Südkreuz dengan S42, lantas dilanjut dengan S25 arah Heningdorf. Tidak perlu takut salah arah, petunjuk sudah sangat...sangat jelas di setiap bahnhof. Tinggal ketik saja sesuai petunjuk Julie di VBB, dan petunjuk termudah serta terdekat moda transportasi sudah tersedia berdasarkan jadwal kedatangan. Tidak ada keterlambatan transportasi di Berlin, semua tertib dan teratur sesuai jadwal.
Masih difotoin tripod
Karena masih pukul setengah sembilan, denyut wisatawan masih belum terasa dan udara masih segar. Langit supercerah, tanpa awan segumpalpun. Seperti biasa, karena seorang diri, maka senjata andalan untuk berfoto pun dikeluarkan, tripod pink.
Di sekeliling Reichstag
Gerbang yang terletak di Pariser Platz terpampang nyata dihadapanku dengan patung dewi yang terbuat dari perunggu diatasnya. Selama ini hanya bisa kusaksikan dengan mupeng di buku Deutschkurs ku, dan kalian tahu....setiap aku menatap sampul buku Deutschkurs...tanpa sadar aku selalu melantunkan doa untuk bisa menyentuh bangunan tersebut.
Reichstag



Berjalan sekitar 500 meter, dibalik Brandenburger Tor tersebut kudapati Reichstag, atau dengan kata lain Gedung Parlemen. Sebenarnya aku udah membuat janji untuk masuk ke Dome Reichstag, akan tetapi janji pukul 2 siang, dan sekarang masih pukul sepuluh pagi, jadinya beberapa tourism place bisa aku kunjungi terlebih dahulu.
Dengan menumpang bus no 100, aku berniat untuk mengunjungi Check Point Charlie. Aku berhenti di Unter Den Linden, dan ternyata aku tak dapat menemukan letak Check Point Charlie. Berjalan secara acak, lantas aku masuk ke sebuah toko souvenir. Seperti yang pernah saya baca di blog, bahwa hampir semua toko souvenir menjual pecahan tembok Berlin disertai dengan sertifikat yang diklaim asli. Aku yakin, itu hanya akal-akalan penjual saja, runtuhnya tembok Berlin berpuluh-puluh tahun lalu, dan reruntuhannya baru dijual sekarang dengan kondisi cat yang masih mengkilap? Apakah meyakinkan?


World Clock di Alexanderplatz
Karena lapar, aku memutuskan untuk pergi ke Alexanderplatz, menurut info disana banyak dijual kedai makanan dan pedagang kaki lima yang menjajakan souvenir dengan harga terjangkau. Menu makan pagi yang kesiangan tersebut sama, doner kebab dengan ukuran yang superbesar. 
Sebenarnya aku sangat tertarik membeli sosis yang dijajakan oleh pedagang keliling, akan tetapi aku ingat, di Jerman, würst itu berarti sosis yang terbuat dari daging babi.
Sony Center

Selepas dari Alexanderplatz, aku mengunjungi Sony Center dengan menaiki U-Bahn Alexanderplatz menuju Potsdamer Platz. Sony Center hanya semacam mall terbuka, dan aku ternyata tak terlalu tertarik untuk mengelilinginya. Jalanan di Berlin dipenuhi oleh pipa-pipa yang berwarna biru atau pink yang malang melintang, entahlah apa fungsinya.
Potsdamer Platz Bahnhof



Mendekati pukul dua, segeralah bergegas ke Reichstag untuk memenuhi permission memasuki area Dome Reichstag.
Cara membuat permit untuk memasuki Dome Reichstag sangat mudah, cukup klik situs resmi German Bundestag dan pilih online registration, ikuti saja petunjuk pengisiannya, lalu pilih tanggal dan waktu kunjungan. Setelah itu permit akan terkirim ke email pengunjung, dan permit itulah yang harus dibawa ketika mengunjugi Reichstag (lebih bagus dan sopan di print out), dan itu tidak dipungut biaya!
Dapat Email Invitation Seperti ini

Sebelum memasuki lokasi,  tanda pengenal yang berlaku diperiksa (tentu saja paspor dan visa, bukan KTP atau SIM ya), tas diperiksa, selanjutnya dipersilakan masuk berkelompok dengan pengunjung lainnya bersama dengan seorang pemandu. Setelah itu menaiki lift kaca, dimana kita bisa ngintip sedikit isi gedung Parlemen, hehe.
Sebelum memasuki area Dome, kita dipinjami semacam alat translator dalam 5 bahasa (tidak termasuk Indonesia). Karena nggak paham-paham dengan kelima bahasa tersebut, maka translator nya disimpan dalam tas saja.
Dome's Terrace of Reichstag Building
Dome Reichstag sungguh splendid architecture, menurutku. Seperti rumah keong, dan aku masih tak percaya dapat mengunjungi salah satu gedung terpenting di Jerman tersebut. Rasanya sedikit kecewa nggak mengunjungi saat malam hari...karena berdasarkan referensi yang kubaca, lightning nya sungguh memukau !


Tampak dalam...pakai lensa fish eye biar efeknya bagus 
Puas berputar-putar dan berfoto di sekitaran dome, akhirnya saya melanjutkan perjalanan, saat itu masih pukul 4 sore. Julie pulang kerja dan sampai rumah sekitar pukul 6, dan aku masih memiliki waktu sekitar dua jam untuk menjelajah dan cari cowok Berlin !
Berdasarkan aplikasi VBB, untuk menuju Berliner Dom harus naik bus no 100 dari Reichstag, oke. Tujuan selanjutnya adalah Berliner Dom, salah satu tempat yang membuatku penasaran akan arsitekturnya yang indah. Gereja, dengan kubah hijaunya yang menawan. Di depan bangunan tersebut terdapat lapangan rumput dan air mancur, serta banyak warga Berlin yang leyeh-leyeh disana saat musim panas. Berjalan memutar sedikit dibelakang Berliner Dom, terdapat banyak kafe di pinggir sungai Spree.


Berliner Dom, atau Berlin Cathredal

"Hej Unesia! Wie Gehts?!" Sapa Julie tiba-tiba via aplikasi pesan instan. Tampaknya ia mengkhawatirkanku.
"Danke, gut. Ich bin hier!" Jawabku sambil menyertakan foto Berliner Dom.
"Nice...that's my favourite place :) "
Ia berkata bahwa ia telah tiba di flat-nya. Akupun segera kembali ke flat Julie, tubuh sudah letih dan kepikiran shalat yang belum terlaksanakan saat dhuhur.

"Kemana aja kamu?" Tanya Julie ketika aku mencapai rumahnya.
"Sightseeing," Jawabku singkat, dan aku menjelaskan beberapa pengalaman menarik di kota tempat ia dibesarkan. Mulai dari pengalaman ngomong Deutsch dengan warga lokal, hingga mencoba beberapa moda transportasi.
"Belum sempet ke East Side Gallery?" lanjutnya.
"Tembok Berlin?"
"Yaa....tapi memang sedikit jauh dari tempatku. Kamu wajib mengunjunginya, Unesia. Memang sudah dipenuhi graffiti dan lukisan dari beberapa seniman."
"Besok saja, jadi rencana besok aku mau pulang, paginya aku titipkan dulu koperku di Berlin Hauptbahnhof."
"Very Good, nikmati waktumu di Berlin."
Lantas kami istirahat malam itu. Aku meringkuk di sofa santai milik Julie.

18 Agustus 2017
Pagi hari aku sudah mulai mengepak barang bawaanku kedalam koper dan memastikan tak ada yang tertinggal. Ya, sore ini aku harus kembali ke tanah air untuk mengumpulkan pundi-pundi uang dan melanjutkan perjalanan selanjutnya. Setelah membeli tageskarte, aku segera menuju ke Berlin Hauptbahnhof dengan bus M41 dari halte Sonnenallee. Kenapa aku nggak naik S-Bahn? Alasannya sederhana, Aku malas harus angkat koper pinjaman seberat 23 kilogram naik turun tangga.
Rencana awal sukses, nitip koper di halte senilai 5€, lalu beli croissant andalan di kedai roti Le Crobag yang rasanya favorit, menurutku. Turun kebawah, lalu beli segelas orangenschaft (jus jeruk) dimana penjualnya warga imigran Turki seharga 1€.
Pipa-pipa di Jalanan Berlin yang tak kuketahui fungsinya
Destinasi selanjutnya? Ke East Side Gallery. Cukup naik S-Bahn tujuan Berlin Südkreuz. Jalan sekitar sepuluh menit, sudah kelihatan temboknya.
Memang, sepanjang tembok dipenuhi gambar-gambar yang bernada sindiran, atau menyiratkan pesan maupun duka. Berikut contoh lukisannya.
Lukisan ini yang paling terkenal





Pesan dariku, jangan sekali-kali tergiur untuk mencoba ikut nimbrung di sulap jalanan berupa bola-bola yang ditukar-tukar dalam kotak. Memang sekilas mudah dan kita tertarik untuk ikut taruhan sebesar 50€. Tapi ingat, si pesulap tak semudah itu dikadalin pengunjung. Uang 50 anda pasti akan hilang begitu saja.

Setelah dari East Side Gallery, aku mulai bingung mau kemana lagi. Rasa rindu akan tanah air mulai membuncah. Lantas aku berputar-putar saja di sekitaran Brandenburger Tor dan nongkrong sendiri di Holocaust monumental.
Holocaust Monumental

Sekitar pukul 4 sore aku menuju Bandara Tegel dengan menumpang bus TXL dari Berlin Hauptbahnhof selama 45 menit. Lantas setibanya di bandara Tegel, aku terkejut. Bandaranya kecil, kuno, kalah jauh mah sama Balikpapan. Menurut info, pembangunan Bandara tersebut terpengaruh oleh budaya Jerman Timur yang kuno, hmmm.
Bandara Tegel Otto Lilienthal
Sebelum boarding, aku sempat mengisi perut di kedai fast food, dan aku sedikit berbisik perlahan : "Selamat tinggal Berlin, terima kasih sudah membuat impianku sejak lama menjadi kenyataan. "

Berlin. 17-18 Agustus 2017

You Might Also Like

0 comments

Subscribe