Berburu Lembutnya Kabut di Taman Hutan Raya Sultan Adam, Mandiangin

Monday, May 01, 2017

Siapa yang tak berdecak gembira dapat panggilan dinas satu minggu (Une membacanya liburan dan jelajah tempat baru) di Banjarbaru, kota yang hampir setahun yang lalu pernah aku kunjungi dalam kunjungan singkatku. Lagi-lagi spot yang dikunjungi ketika berada di luar kota adalah TAHURA, alias Taman Hutan Raya. 
Berawal dari kopi darat sederhana bersama rekan kerja yang bernama Hendra (nama sebenarnya) dan saat ini bertugas di Bangkanai, aku merengek untuk minta petunjuk jalan ke arah bukit Telang di Pelaihari. Sayangnya ia menolak untuk mengantarkanku kesana dengan alasan lupa jalan dan hendak kembali ke tempat kerjanya.
"Duh sori Une, aku lupa jalan, besok juga aku mau balik ke Bangkanai, jauh pula !" keluhnya sambil membayangkan betapa ngeri dan jauhnya jalan ke Bangkanai.
"Atau mau ke Mandiangin saja?" Tawarnya memberikan opsi. "Kalau kesana insyaallah aku masih ada waktu buat nganterin."
"Mandiangin Riam Kanan?" Timpalku.
"Iya searah dengan Riam Kanan, tapi nanti ambil belokan yang kanan, ada tulisan Taman Hutan Raya Sultan Adam." Lalu Hendra menggeser-geser layar ponselnya, seperti mencari sesuatu. "Pas itu kami kesana sama travel blogger seperti ini kondisinya."
Mataku berbinar. Pemandangannya sungguh keren, seperti negeri diatas awan, mirip Puncak B29 di Lumajang. 
Jajaran bukit, dibaliknya terdapat Riam Kanan
"Iya! Iya! Kesana saja!" Pintaku penuh harap. Berharap dapat berfoto diatas kabut tipis menggumpal seperti gambar yang ditunjukkan Hendra padaku. Tentu saja, seperti biasa aku tak akan membiarkan hari liburku terbuang sia-sia. Apalagi untuk ke Banjarbaru, hari Sabtu aku sudah stay, padahal acaranya masih hari Senin.
Kondisi Jalan sudah bagus
"Tapi untuk mendapatkan view seperti itu untung-untungan. Saat itu sehari sebelumnya hujan deras, eh besoknya muncul kabut seperti itu, mendung juga." kata Hendra memperingatkan agar aku tak terlalu kecewa apabila tak mendapatkan view seperti itu.
"Lalu, apa Banjar masuk musim hujan saat ini?" tanyaku.
"Terkadang hujan sih. Tapi coba saja kita kesana. Kalau kesana dekat saja, aku masih bisa nganterin. Jadi besok jam berapa? Jam 5 habis subuh kujemput ya,"tawarnya. Tanpa berpikir panjang langsung kuiyakan penawarannya.
Para Pemburu Kabut Sutra Ungu
Tepat jam lima pagi aku dijemput Hendra. Jalanan masih sepi, sayup-sayup masih terdengar doa-doa selepas subuh yang dilantunkan di masjid-masjid yang kami lalui. Motor Hendra melaju membelah jalanan subuh menuju Mandiangin yang ditempuh selama 45 menit. Dari bundaran Banjarbaru, tinggal lurus saja kearah Mandiangin,
Sampai pintu gerbang Tahura, kami ditarik karcis per-orang lima ribu rupiah. Penjaga mengatakan bahwa kami bisa mengendarai motor hingga puncak repeater, puncak tertinggi Tahura.
"Beruntung, dulu kami kesini hanya diperkenankan bawa motor hingga warung-warung dekat kolam pemandian. Lalu berjalan ke Puncak Repeater setengah mati." kata Hendra.
Kolam, yang katanya pernah memakan korban
Aku celingukan sambil merapatkan jaketku melihat jurang-jurang dibawahku. Mana kabutnya? Kok cuma sedikit? Nggak menggumpal? Batinku sudah sedikit kecewa.
"Kita mau foto-foto dimana?" tawar Hendra sambil memberhentikan laju kendaraannya di pinggir pos yang banyak orang mendirikan tenda dan berfoto ria.
"Kamu dulu dimana? Yang banyak kabutnya itu lo," aku mulai merujuk tentang kabut. Tak henti-henti memburu sosoknya.
"Ya disini, Une. Dulu jam segini kabutnya sudah banyak, atau mau lanjut ke Repeater?" hiburnya sambil menunjuk puncak yang makin banyak orang mendirikan tenda. Aku mengangguk.
Panorama dari Puncak Repeater
Menuju puncak repeater membutuhkan treking ringan selama sepuluh menit dari tempat parkir. Di puncak sudah terdapat banyak muda-mudi pemburu sunrise dan kabut sepertiku.
Tampaknya, sang kabut masih jauh di pegunungan sana. Sinar keemasan mulai menembus cakrawala. Matahari akan segera terbit. Namun perlahan, sang kabut mulai merangkak mendekati puncak repeater. Aku terpana, dan segera mengambil kamera ponselku. Sedikit kecewa karena tidak membawa mirrorless kesayangan. Dari puncak tampak perbukitan yang berbaris dan Riam Kanan.
"Kabutnya sudah sampai di pos tempat kita berhenti tadi," Ujar Hendra. "Apa mau turun sekarang?"
"Iya, cepat. Keburu hilang!" Ujarku semangat sembari berlari menuruni puncak repeater, bak anak kecil yang kegirangan bertemu dengan kabut bersulam emas dari sinar matahari pagi.


Menyibak Semak
Aku dan Hendra mencari spot menarik sambil menyibak semak-semak yang menutupi langkah kami. Ya, aku ingin lebih dekat dengan sang kabut emas itu. Hendra berujar, betapa beruntungnya aku bisa menemukan dua keajaiban Tahura sekaligus, yaitu kabut emas dan matahari terbitnya yang menakjubkan !
Ketupat Kandangan vs Ikan Gabus (Haruan)
Tentu saja perut kami keroncongan pasca melakukan trekking ringan. Kami memilih melepaskan rasa lapar dengan menyantap ketupat kandangan di Martapura, warung langganan Hendra.
Kabut bersulam emas, aku kan selalu merindunya !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe