Wara-Wiri di Busang, Kutai Timur

Sunday, February 26, 2017

Mungkin, warga Kaltim pun ada yang belum mengetahui Kecamatan Busang itu dimana? Nah untuk melengkapi petualanganku melistriki nusantara, kali ini saya akan mengajak teman-teman untuk mengelilingi Kabupaten Kutai Timur, salah satunya adalah Kecamatan Busang.
Perjalananku menuju Busang, diawali dari Bontang ke Muara Bengkal. Perjalanan memakan waktu sekitar 6 jam, tapi saat itu kami makan malam sekitar 1 jam di Sangatta, jadi perjalanan sekitar 7 jam lebih, melewati Rantau Pulung, Desa Himba Lestari, Mawai Indah, dan perkebunan sawit disertai dengan beberapa ruas jalan yang menguji nyali dan adrenalin. Terlebih lagi saat dini hari. Suasana gelap gulita.
Setelah istirahat semalam di Muara Bengkal, kami lanjut ke Busang. Lewat Long Mesangat, perkebunan sawit dan jalan ke arah gunung benteng. Yah, disarankan membawa kendaraan double gardan, karena kondisi jalan memang cukup licin kalau hujan, sehingga banyak truk yang terjebak. Kira-kira membutuhkan waktu 4 jam perjalanan, ditambah tubuh yang terbanting kanan kiri sepanjang perjalanan. Lalu dilanjutkan dengan menyeberang sungai dengan kapal kayu yang dipatok tarif lima puluh ribu rupiah sekali jalan selama 10 menit. Ada juga jembatan menuju desa Long Lees, tapi hanya bisa dilewati oleh kendaraan roda dua saja.
Menyeberang Sungai menuju Busang
Terminal
Long Lees
Jembatan Penghubung
Kecamatan Busang terdiri dari 6 desa, hanya saja yang dekat dari kantor kecamatan Busang ada 3 desa, yaitu Long Lees, Long Pejeng, dan Long Nyelong. Sebagian besar penduduknya dari suku Dayak, sisanya perantau dari berbagai suku.
Kantor Camat Busang, Rumputnya Rapi, seperti Alun-Alun Bandung :D
Kantor Kecamatan Busang terletak di Desa Long Lees. Setelah berbincang dengan bapak camat perihal kondisi kelistrikan di Busang yang memang belum teraliri listrik dari PLN sama sekali. Jadi penduduk menggunakan genset pribadi dan mengeluhkan biaya operasinal dan bahan bakar yang mahal, sebulan bisa mencapai ratusan ribu untuk biaya bahan bakar dengan lama nyala yang tak sampai 12 jam.
Jaringan PLN terdekat dari Busang berada di desa Gemar Baru sejauh 30 km, tapi tidak dimungkinkan untuk dibangun jaringan karena jalan yang dilalui sering banjir dan perawatan cukup susah.
Mengumpulkan Data
Kalau dikalkulasi, memang jauh lebih mahal dibandingkan dengan listrik PLN. Sebenarnya sudah ada mesin diesel dan jaringan tegangan rendah 380/220 V dari Dinas Pertambangan dan Energi, namun sudah tak beroperasi lagi sejak tahun 2015 dengan alasan yang sama. Fasilitas di Busang masih minim, belum ada Bank, fasilitas kesehatan (atau mungkin ada, tapi saya nggak lihat fasilitas kesehatan), tetapi BTS untuk berkomunikasi sudah ada. Masjid kecil terdapat di Desa Long Lees.
Mesin Perkins
Dengan kondisi desa yang jauh dari jaringan yang ada, kemungkinan Busang akan beroperasi secara isolated (beroperasi dengan pembangkit sendiri) atau memanfaatkan potensi energi terbarukan yang ada.
Gang di Perkampungan Long Lees
Lamin untuk Lumbung Pangan

Rumah Penduduk, Mayoritas memiliki Seraung yang digantungkan didepan rumahnya, terutama daerah Kutai.
Jadilah dengan cuaca yang sangat terik, saya den rekan berkeliling perkampungan di Long Lees dengan berjalan kaki (karena kondisi gang yang kecil) untuk melihat jumlah potensi pelanggan dan rencana jaringan. Menyesal juga karena lupa tak mengoleskan tabir surya dan membawa topi Seraung (topi lebar khas Dayak) yang pernah kubeli di Desa Long Segar. Dari situ saya mengetahui bagaimana kehidupan suku Dayak sebenarnya, dan berinteraksi dengan mereka. Karena mayoritas beragama Katolik, maka banyak gereja yang dibangun dengan gaya khas Dayak banget. Unik ! Setiap desa memiliki lapangan dan Lamin adat sendiri yang berfungsi untuk tempat berkumpul atau acara adat.
Lamin di Long Nyelong
Lamin di Long Lees
Salah satu Gereja
"Bu, kami berharap listrik segera masuk. Biar bank, atau fasilitas lainnya bisa masuk juga. Agar Busang cepat berkembang." Ujar Bapak Impung (camat Busang) dengan penuh harap.
"Iya pak, kami juga senang kalau masyarakat bisa menikmati listrik. Semoga saja usulan perluasan  ini segera diterima." Jawabku penuh harap juga. Senang sekali kalau rasio elektrifikasi di area pelayanan tempat saya bekerja bisa meningkat.
Oke, listrik memang kebutuhan vital, karena Listrik Untuk Kehidupan Yang Lebih Baik.

*Gambar diambil dengan Sony Xperia Z5 Compact (no editing)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe