#3 Memoar Antara Kerinci, Sungai Penuh, Kersik Tuo, Kayu Aro, Gunung Tujuh dan Harimau Sumatera

Monday, November 07, 2016

Aku sangat mencintai alam, ya. Saking cintanya, hingga kawanku yang bertugas di Sungai Penuh terkejut setelah mendengar pernyataanku yang hendak melanjutkan perjalanan menuju ke Danau Gunung Tujuh.
"Ne, menuju Gunung 7 itu mendaki lagi loh, nggak capek kamu kesana?" Ujar Jimmi.
"Kan biasanya sepaket, kalo habis dari Kerinci ya ke Gunung Tujuh," Aku berkilah membela danau yang tertinggi se Asia Tenggara tersebut, walau tak seberapa yakin dengan kondisi kakiku sepulang dari Kerinci. Terasa sakit dan aku dapati ada beberapa titik memar dan luka di kaki karena terjatuh dan terbentur akar. Kuurut kakiku dengan krim otot, dan beristirahat meluruskan kaki. Berharap bisa sedikit membaik.

Sabtu, 8 Oktober 2016.
Bang Reki menemani perjalananku menuju Gunung  7. Kali ini aku hanya berdua saja karena Yudha menemani Hendik yang hendak bermalam di Gunung 7. Aku tak bisa bermalam karena malam nanti aku sudah barus bertolak ke Bandara Internasional Minangkabau untuk menlanjutkan perjalananku ke Bontang.
Dari Kayu Aro menuju ke pos pendakian gunung 7 membutuhan waktu sekitar 30 menit dengan menggunakan kendaraan bermotor. Setelah mengurus simaksi pendakian, kami mulai berjalan....dan berjalan lagi.
Selamat Datang
Tampaknya menuju Gunung 7 benar-benar serasa mendaki miniatur Kerinci. Tanjakan yang terjal, penuh akar yang sering menjerat kakiku. Cara berjalanku cukup lambat karena kakiku masih terasa sakit dan cenut-cenut di bagian yang memar.
Sekedar informasi yang aku dapatkan, mengapa dijuluki danau Gunung Tujuh? Karena ternyata memang dikelilingi oleh tujuh Gunung disekitarnya, yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m).
Awal Pendakian
"Mbak termasuk kuat loh, biasanya pendaki yang habis naik Kerinci udah nggak mau ke Gunung tujuh, yaa....ada beberapa yang mau juga sih." Hibur Reki padaku ketika melihat cara berjalanku yang mulai terseok-seok. "Saya bawakan saja mbak tas-nya, biar nggak terlalu berat,"
Kata-kata Reki menjadi pecut semangat, apalagi dia mengatakan bahwa aku cukup kuat melanjutkan perjalanan ke Gunung 7, Yeah! Reki menjadi pahlawanku hari itu setelah membawakan daypack kuningku.
Masih Hutan Rapat
Memori Kerinci Terulang Kembali
Memang sih, setelah daypack berpindah pundak, cara berjalanku sedikit gesit walaupun dengan nafas yang terengah-engah kepayahan. 
"Ayo mbak, sudah puncak bentar lagi, terus turun ke danau 30 menit!" Teriaknya menyemangatiku. Dari pos pendakian menuju puncak membutukan waktu 2,5 jam, dan di puncak sudah terlihat danau gunung 7 yang membentang luas.
Sewa Perahu Bareng Temen Baru
Pendayung, Warga Lokal
Untuk turun menuju danau membutuhkan waktu 30 menit dengan kondisi jalan curam dan akar-akar licin. Disitulah juga aku bertemu dua teman baru, Rendy dari Jakarta dan Adi dari Bengkulu. Di danau, kami menyewa sampan yang berusia puluhan tahun lalu diantarkan berkeliling mengelilingi danau yang dari ketinggian berwarna hijau tersebut. Sampannya cukup unik, dari kayu berceruk dan sudah ditumbuhi lumut terkesan seperti perahu dari masa lampau !
Makan Siang di Surga Judulnya
Saat itu cuacanya memang kurang cerah, gunung yang mengelilingi danau tertutup kabut, gerimis pun turun tipis-tipis. Terdapat beberapa biksu budha melakukan ritual disana. Sebenarnya ada pulau yang berpasir putih ditengah danau, cuma menurut bapak pendayung sampan harus ditempuh dengan sampan selama 4 jam, wadow ! Lain kali saja yah pak :D
Danau Gunung Tujuh, Yang Sebelumnya Aku Sangka Mangkok Raksasa
Syahdu
Berada di Gunung tujuh tak lebih dari dua jam, setelah berfoto, makan siang dan akhirnya kami memutuskan turun. Sepanjang jalan kami banyak menemukan pendaki yang naik dan hendak bermalam di Gunung 7 karena saat akhir pekan, dan Rendy, bocah Jakarta tersebut full ngocol menceritakan pengalamannya sehari-hari dengan logat Jakarta.
Rendy, Bocah Jakarta yang Tukang Ngocol
Dan akhirnya petualangaku di Taman Nasional Kerinci Seblat berakhir pada Sabtu ini. Memang belum sempat ke Danau Kaco karena sedang ditutup, tapi aku mau mengunjungi Taman Nasional Kerinci Seblat kembali bersama lelaki yang aku sayangi nanti.
Teman Baru, Pendekar Gunung Tujuh
Ah, Kerinci, Sungai Penuh, Kersik Tuo, Kayu Aro, Gunung Tujuh dan Harimau Sumatera memang sukses membuatku super baper !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe