#2 Memoar Antara Kerinci, Sungai Penuh, Kersik Tuo, Kayu Aro, Gunung Tujuh dan Harimau Sumatera

Monday, November 07, 2016

Sejak tahun 2015, sang Oktober menjadi bulan petualanganku. Entah Oktober tahun 2017 nantinya seperti apa. Jika Oktober 2015 Rinjani sudah terpenuhi, maka Oktober 2016 kini giliranmu, Kerinci !
Berawal dari Desa Kersik Tuo, Tugu Macan menyapa para pendaki setianya. 5 Oktober 2016, menjadi hari perjuanganku. Membelah hamparan kebun teh Kayu Aro yang terluas di Asia Tenggara menuju pondok terakhir yang dapat dilalui dengan kendaraan bermotor.
Puncak Indrapura menyembul malu dari balik kabut. Suasana pagi itu tak terlalu cerah, langit tak sebiru ekspektasiku. Langit berwarna putih, sesekali embun berupa air lembut berjatuhan. Puncak Indrapura terkadang tertutup kabut. Kebun kacang, sawi dan kol menjadi pemandangan utama kami saat menuju Pintu Rimba dari Pondok, kami berjalan sekitar 10 menit.
Setingginya Nirwana
Pintu Rimba
Pintu Rimba Menyambutnya
Pendakian Kerinci-ku kali ini ditemani dengan Hendik, kawan baru dari Bogor, lalu Yudha, Guide dan dua porter. Jadi pendakinya sendiri hanya berjumlah dua orang. Aku dan Hendik. Ah bagiku itu tak masalah, terlalu ramai mendaki gunung pun terkesan tak terlalu eksklusif .
Doa-doa keselamatan untuk pendakian pun mulai dipanjatkan. Karena hari itu hari Rabu, maka jalur pendakian cukup sepi.

Pintu Rimba-Pos Satu (30 menit)
Pos 1 Disebut Juga Pos Bangku Panjang

Keep Walkin'
Jalur masih landai, didominasi hutan hujan basah, siulan burung hutan, dan ocehan siamang liar yang bergelayutan di hutan yang masih rapat. Sesekali kami melewati dahan pohon yang bertumbangan. Aroma tanah masih basah, karena cuaca di Kerinci memang hampir setiap hari hujan. Sinar matahari masih leluasa menerobos pepohonan dan kami masih bisa berjalan sembari cengar-cengir walaupun kondisi tanah cukup becek. 
"Denger-denger disini masih habitat asli harimau sumatera yah, Bang?" Celetukku memecah sepi pada Bang Reki, porter kami.
"Iya, dari pintu Rimba hingga Pos 3 masih sering dilalui harimau sumatera. Makanya pendaki dilarang mendirikan tenda di Pos 1-Pos 3. Rawan, dan cukup angker juga, karena masih hutan rapat. sering kesurupan." Urai Bang Reki, porter asli Siulak tersebut.
"Pernah ketemu harimau?" 
"Jangan diomong disini mbak, sudah pikir positif saja." Jawabnya. Akupun terdiam.
Pos satu berupa pondokan dan tempat duduk. Tapi tanahnya cukup becek. Kami beristirahat sebentar disana.

Pos Satu-Pos Dua (30 menit)
Pos Dua, Disebut Pos Batu Lumut
Kondisi jalan masih mirip dengan sebelumnya. Masih tergolong landai untuk sebuah gunung berapi tertinggi di Indonesia. Pos dua tak ada pondok, hanya papan dan tanah yang sedikit lapang.

Pos Dua-Pos Tiga (60 menit)
Pos Tiga, Terdapat Sumber Mata Air Disini
Perkiraan guide 60 menit untuk menuju pos 3. Ternyata tak meleset. Tepat 60 menit dengan kondisi berjalanku. Aku berpikiran kaki ini sudah cukup terlatih setelah beberapa kali mendaki gunung. Kerilku juga tak seberapa berat, mungkin hanya sekitar 8-9 kg. Jadi jalanku tak banyak mengeluh seperti di Rinjani.
Mirip di Senaru, Rinjani

"Menuju shelter satu itulah pendakian sebenarnya." Ujar Hendik. "Ini baru pemanasan."
"Yah, namanya saja mendaki gunung, pastilah tak jauh-jauh dengan yang namanya tanjakan !" Jawabku menghibur diri.

Pos Tiga-Shelter Satu (60 menit)
Shelter Satu
Pendakian memang mulai terasa. Start pukul 11.30 WIB, sampai di Shelter satu pukul 12.30 WIB. Melalui jalur pendakian yang mirip dengan jalur Senaru di Rinjani, penuh dengan akar-akar yang mencuat ke tanah dari pohon-pohon tua yang telah berlumut. Di shelter satu yang terbuka kita beristirahat agak lama, sekitar satu jam. Makan siang dan shalat. Makan siang nasi padang yang dibawa dari Kersik Tuo memang sudah tak hangat lagi, tapi terasa nikmat apabila dimakan bersama-sma dalam kondisi sangat lapar. Di shelter satu kami bertemu beberapa kelompok pendaki yang hendak turun atau hendak naik, yang menarik perhatianku adalah sekelompok pendaki anak-anak lokal yang tampaknya masih SMP, meski begitu peralatan outdoor mereka cukup branded.

Shelter Satu-Shelter Dua (3 - 3,5 Jam)
Si Cantik di Shelter 2
Aku menganalogikan 3 jam perjalanan menuju shelter 2 adalah perjalanan menuju Kota Samarinda dari Bontang. Bedanya ini berjalan kaki, mendaki dan bawa keril pula. Emosi selama pendakian pun akhirnya tertumpah di jalur ini. Kaki mulai terasa payah menapak basahnya tanah rimba tropis Kerinci. Aku ngos-ngosan dan berhenti berkali-kali. Hawa dingin gunung mulai terasa disini. Kabut dan embun mulai turun. Menuju shelter dua masih dalam pelukan rimba Sumatera. Full tanjakan dan terkadang hujan tapi hanya sebentar. Tapi pemandangan hutan sungguh luar biasa. Aku bisa melupakan semua masalah di kantor disini. Hawa yang sejuk, awan yang beriring-iringan dan tanpa sinyal. Liana-liana hutan yang rimbun, ah, sudahlah ! Sekedar menuliskannya saja sudah membuatku sangat rindu!
Molor 30 menit menuju shelter dua karena aku sudah mulai lelah dan sering berhenti. Pos bayangan menuju shelter 2 menjadi tempat berhenti yang cukup lama. Aku menyalakan ponselku, rentetan pesan, SMS, BBM, WhatsApp masuk bergantian karena shelter 2 bayangan berupa tanah lapang yang tak tertutup pepohonan, jadi sinyal masih bisa ditangkap oleh gawai. Ah menyebalkan ! Semuanya menanyakan tentang pekerjaan. Tak kubalas, kumatikan kembali karena sempat memperburuk moodku, walaupun sinyal internet disana cukup kencang.
Dari shelter 2 bayangan menuju  shelter 2 membutuhkan waktu 30 menit. Hawa dinginnya angin terasa sangat menusuk. Yudha menyuruh kami agar lebih cepat sebelum badai dan hujan menerpa. Aku memaksa kakiku yang telah lelah agar berjalan cepat.
Pukul 17.00 WIB kami sampai di shelter dua. Yudha menginstruksikan agar mendirikan tenda di shelter 2 karena badai sudah mulai terasa. Puncak Indrapura tampak gelap, aku khawatir bagaimana kalau summit nanti? Target untuk mencapai shelter 3 hari ini pun harus gagal demi keselamatan, padahal kakiku sudah mulai semangat kembali. Hahahaha.
Setelah dua tenda berdiri, aku memasukkan keril dan sepatu kedalam agar tak terkena tampias hujan yang mulai turun. Lalu makan malam bersama. Berdasarkan info dari pendaki yang baru turun, di shelter 3 sempat hujan es. Uh, semoga besok cerah.
Hanya kelompok kami yang mendirikan tenda di Shelter 2, dan ada satu tim pendaki di Shelter 3.

Shelter Dua-Shelter Tiga (60 menit)
Framenya hancur
Badai pasti berlalu. Ternyata lagu itu terbukti di Kerinci. Pukul 7 pagi kita baru mulai summit, untuk menghindari hujan yang turun saat pagi hari kami harus mengorbankan sunrise cantik. Perjalanan menuju shelter 3 mulai ekstrem dibawah naungan bunga cantigi yang mulai bermekaran jingga. Setapak yang cukup licin karena hujan, dan harus bergelantungan atau memanjat tanah-tanah padat. Tak bisa membayangkan betapa susahnya berjalan dengan kondisi ini dengan memanggul keril. Kekuatan lengan pun mulai diuji disini. Beruntunglah saat itu saya tak membawa barang bawaan sama sekali, jadi gerakan panjat tebing pun sedikit lincah. Lorong-lorong akar legendaris Kerinci pun mulai aku rasakan disini.
Satu jam kemudian kami sampai di shelter 3, tepat seperti perkiraan. Cuaca masih belum cerah. Tenda pendaki lainnya yang didirikan di shelter 3 framenya patah dihajar badai, hingga ditali oleh tali rafia, beruntunglah kami tak jadi bermalam di shelter 3 walaupun jarak dari shelter 3 menuju puncak lebih singkat.

Shelter Tiga-Tugu Yudha (2-2,5 jam)
Gunung Tujuh, Mangkuk Raksasa Yang Terisi Air
Batas vegetasi berada di shelter 3. Menuju puncak sudah tak ada lagi tumbuhan yang rapat. Menuju puncak Kerinci penuh dengan bebatuan dan kerikil kasar. Tak terlalu jauh juga tempuhnya seperti Rinjani. Tak perlu merangkak-rangkak seperti di Semeru, masih bisa berjalan tegak. Cukup mudah, tapi juga melelahkan. Berfoto sana-sini menjadi penawar lelahku.
Janagn Emosi Ketika Melaluinya, percayalah pasti akan sampai !
Perjuangan diatas Awan

Tugu Yudha merupakan tugu peringatan pendaki yang hilang. Di tugu Yudha ada dua monumen peringatan. Menurut Yudha Guide, pendaki yang lewat jalur Solok Selatan akan bertemu di tugu Yudha, cuma jalur Solok Selatan lebih panjang, membutuhkan dua hari hingga sampai di Tugu Yudha. Karena jalur SolSel masih baru, maka masih ada pendaki yang tersesat.

Tugu Yudha- Puncak Indrapura (40 menit)
Tugu Yudha, Suasananya Mirip Seperti di Planet Lain, Berbatu
Karena Puncak Indrapura sudah terlihat, maka aku segera menuju Puncak Indrapura. Awal-awal cukup gesit dan semangat, sampai pertengahan mulai terengah-engah karena oksigen yang menipis dan elevasi yang makin tajam. Berpegangan dan bertumpu pada bebatuan besar disepanjang jalur, aku bertahan sambil berjalan pelan-pelan sembari menjaga keseimbangan agar tak oleng. Langit biru mulai terbuka setelah sebelumnya hanya berwarna putih dan kelabu.
Pendaki Hilang Selain Yudha, Namanya diabadikan disana

Danau Gunung Tujuh menyeruak dari kejauhan, bak mangkuk raksasa yang diisi air. Ah, mulai! Gejala hipoksiaku mulai terasa. Kepala mulai terasa sakit. Tapi semangat kembali terlecut mendengar teriakan Hendik yang telah mencapai puncak terlebih dahulu.

Puncak Kerinci, Indrapura 3805 MDPL, 6 Oktober 2016, 11.30 WIB
Aku Datang Kepadanya
Aku berlutut kepayahan, berusaha mengembalikan staminaku. Langit berwarna biru, ah syukurlah cuaca cerah ! Aku tak melakukan selebrasi apapun, seperti bersujud mencium tanah vulkanis di atap Sumatera, berteriak senang, menuliskan salam di kertas atau semacamnya. Aku hanya terduduk dan menikmati pemandangan seindah ini. Kebun teh terhampar, awan bergumpal dibawahku, dan kawah menganga beraroma sulfur. Puncak Kerinci tak terlalu luas dan tertancap tugu triangulasi dan dwiwarna yang sudah terkoyak dan berubah warna.
Hendik sudah bersiap dengan buku gambar yang penuh dengan salam-salam dari kawan terdekatnya. Iapun sibuk berfoto sambil mengenakan toga. Ya, tukang fotonya pun bergantian, antara aku dan Reki.
Kawah Kerinci Yang Masih Aktif
Tak terlalu lama termangu di puncak, aku tak ketinggalan berfoto karena langit cerah hanya berlangsung sekitar 15 menit. Untuk kali ini...lagi-lagi aku tak berhasil berada di ketinggian bersama dia, sejak tahun 2015.
Puncak Indrapura saat itu terasa privat karena hanya kami berempat yang ada diatasnya, lalu memutuskan turun setelah puas bergaya didepan kamera.

Perjalanan turun kami sempat diguyur hujan. Cara berjalanku sudah terseok-seok menahan pusing dan lapar. Tapi perjalanan kembali ke shelter 2 hemat 1 jam. Setelah itu kami makan siang dengan nasi goreng dengan porsi super banyak !
Karena hujan, kami memutuskan untuk bermalam semalam lagi di shelter dua. Rencana yang semula hanya dua hari menjadi rearrange lagi demi keselamatan. Saat itu ada dua kelompok pendaki yang mendirikan tenda disana.
Jumat kami pulang sekitar pukul 10 pagi. Perjalanan turun selalu menghemat 1-1,5 jam. Aku bersemangat turun, sayangnya menuju shelter 1 kondisi jalan menjadi dua kali lebih becek dan licin. Aku pasrah saja jatuh berkali kali hingga menjatuhkan diri karena menyerah melewati jalanan yang becek. Tak satupun yang luput dari jatuh, tapi kami semua tetap ketawa-ketiwi, namanya saja pendakian ceria.
Sungguh, suasana hati sang Kerinci tak bisa ditebak, kadang hujan, badai, mendung atau cerah. Dia bisa bertindak sesuai mood dan mempermainkan perasaan pendaki yang mencoba menjamahnya.
Kami sampai di pondok sekitar pukul 4 sore. Kondisi kaki dan celanaku seperti orang yang baru saja tercebur di sawah ! Karena perut lapar, kami mengisi perut dengan sate Padang yang terasa cukup pedas di lidahku. Lalu membersihkan diri, dan bersiap untuk menghadapi petualangan menuju danau Gunung Tujuh keesokan harinya.

Tips menuju Kerinci :
1. Karena suasana hati yang berubah-ubah, hendaknya membawa ponco plastik yang tak terlalu memberatkan keril.
2. Gunakan sepatu yang nyaman dan anti selip selama pendakian.
3. Utamakan keselamatan, pendakian jangan dilanjutkan apabila kondisi cukup bahaya (badai, hujan deras, dll)
4. Untuk Travel dari Padang ke Kayu Aro, saya menggunakan travel yang menuju sungai Penuh, minta berhenti saja di Kersik Tuo.
PO Big Family Padang : 085376737300
PO Big Family Sungai Penuh : 082376444489 / 085380959898
5. Penginapan di Kayu Aro
Homestay Family : 082183897788

Happy hiking ! semoga bisa membantu kawan !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe