Gowes Gila Edisi Kemerdekaan Bersama Electric Bike

Tuesday, August 16, 2016

Go-wes ! Atau dapat diartikan 'Pergi Sudah !'
Ya, pergi sudah; merupakan kalimat khas masayarakat Bontang. Selalu ada kata sudah dibelakang kata kerja, seperti : makan sudah! Cepat sudah!
Lantas, mau pergi kemana kita?
Ke Batu Lesong ! Desa Kandolo :D

Oke, untuk hari ini (13 Agustus 2016) lupakan dulu masalah kinerja korporatmu. Lepaskan seluruh beban kerjamu melalui hobi *dan baru kali ini aku melakukan hal segila ini*. 
Semua ini berawal dari gambar yang dishare dalam grup kantor. Seceruk batu berisi air dengan warna tosca. Atasanku langsung tertantang mengunjunginya apalagi setelah mendapatkan informasi bahwa jalan menuju danau (namanya Batu Lesong) cukup ekstrim. Ya wajar, atasan saya berjiwa muda dan anak balap.
Tentu saja Electric Bike *sebutan klub gowes PLN Area Bontang* tak mau kalah. Informasi untuk gowes extreme menuju Batu Lesong kami share di group, dan tak disangka, bapak Manajer Area PLN Bontang berminat untuk mengikutinya. Jelas, itu membuat kami ketar ketir. Tak ada yang mengetahui medan offroad disana seperti apa; entah itu uphill, downhill atau kondisi lainnya. 
Semoga semuanya aman terkendali.
Loading Sepeda
Jumat malam kami loading sepeda ke hilux. Danau Batu Lesong terletak di Desa Kandolo, Kutai Timur. Kalau dari Bontang kami harus menuju ke jalan Poros Bontang Sangatta sekitar 30 menit dengan kendaraan bermotor. Untuk menuju danau Batu Lesong kami harus trekking selama 2 jam (menurut sumber yang kami dengar). Kalau trekking 2 jam, kalau sepeda mungkin bisa menghemat minimal 30 menit, pikirku. Apalagi naik motor bisa 1 jam sambil menikmati pemandangan.

Sabtu tiba. Kami yang merencanakan berangkat pukul 7 pagi harus molor hingga jam setengah sembilan. Ada yang masih ambil helm, sarapan dulu, nunggu ini dan itu. Padahal kalau pukul sembilan di daerah sumbu ekuator itu sudah terasa panasnya. Jadi sudah dibayangkan, bagaimana suasana nanti.

Kami disambut dengan bebatuan cadas untuk menuju ke Batu Lesong. Aku bersyukur Bapak Manajer memilih naik motor bersama kelompok JapStyle.  Setelah melemaskan tubuh terlebih dahulu, Go-Wes ! ke Batu Lesong pun dimulai sambil beriringan dengan tim motor JapStyle PLN Area Bontang, The Jabrix. Sajian awal perjalanan kami adalah perkebunan sawit dengan jalan batu-batu cadas, sesekali diselingi tanah lumpur.
Berfoto : Penawar Lelah Sepanjang Perjalanan
Didepan mata tanjakan sudah terlihat, harus pandai-pandai mengatur nafas dan gear sepeda agar tak putus tengah jalan. Lumayan, tanjakan cukup menguras tenaga dan emosi.
Selepas hutan sawit, perbukitan menghadang didepan mata. Luar biasa indahnya. Kontur tanah semakin banyak becek dan strategi untuk memilah jalan yang benar mulai diterapkan. Naik, turun, hingga tak jarang sepeda hampir oleng. Hingga akhirnya beristirahat di sebuah pondok sebelum melanjutkan tanjakan seram berikutnya yang menghadang di depan mata.
Perjalanan : Jadi Kepiting Rebus
Bayangkan, kami melewati bebukitan di depan
Tak lama kemudian ada instruksi dari Bapak MA (Manajer Area) dari atas tanjakan. "Mbak, mas! Jalan selanjutnya jelek! Gimana? Masih mau lanjut? Kayaknya motor susah lewat!"
Ya, telingakupun mendengar suara mesin motor-motor berdengung, bergelut, berjuang hingga lolos dengan lengketnya lumpur dari atas sana. Warga lokal yang berladang disekitar sana pun berkata kalau lumpur diatas cukup menyulitkan pergerakan.
Salah satu anggota Electric Bike membawa 8 helai bendera merah-putih. Setiap anggota mendapatkan satu bendera untuk ditalikan di masing-masing sepedanya. Yah, bagiku itu semacam jimat semangat menghadapi aral selanjutnya. Malu sama Sang Saka apabila aku tak bisa memperjuangkan hingga keatas.
Semangat memperjuangkan merah putih ! Lelah dan panas kami hajar, lumpurpun kami terjang. Jangan mau kalah dengan pejuang yang memperjuangkan merah putih. Walau ada beberapa yang menginstruksikan mundur karena tak tahu berapa lama lagi mengayuh dan cuaca berganti mendung. Ah, itu tak mengapa. Siapa tahu 5 langkah didepan sudah sampai dan kamu menyerah begitu saja?
"Masih kuat?"
Kami serempak menjawab, "Sangat Kuat!"
Benar saja, tak lama lagi kami menemukan pondok yang menjajakan makanan dan minuman ringan serta beberapa motor yang terparkir disana. Sejenak kami melepas lelah sembari ngobrol sama ibu penjual. Tak tahunya menuju Batu Lesong harus trekking sejauh 2 km lagi menembus hutan.

"Kalau sepeda ringan saja, bisa masuk kedalam. Kalau motor dititip disini saja." himbau ibu penjual. Tim gowes membawa sepedanya masuk lalu tim JapStyle berjalan kaki. Cukup sulit juga gowes di rimba tropis seperti ini, lumpur dan akar-akar mencuat membuat kami harus meningkatkan kewaspadaan. Tak dapat kupungkiri, rimba Tropis Kalimantan sangat memukau. Liana-liana yang membentuk tajuk, aliran sungai kecil ditengah hutan, bau daun membusuk, cuitan burung-burung hutan yang merdu menemani trekking menuju Batu Lesong. Ternyata, jalan kaki 2 jam sama seperti gowes, 2 jam pula ! Luar Biasa....
Perjuangan Bersama Sang Saka

Bangga Dapat Membawanya Kemari
Tak lama kemudian hujan turun dengan derasnya membuat semua kalang kabut menyelamatkan perangkat elektroniknya. Awalnya kami berencana menyandarkan sepeda kami baru melanjutkan trekking (karena jalanan memang sangat licin), tapi akhirnya mereka memutuskan untuk membawa sepeda mereka. Aku tak ikutan karena aku belum tahu medan.
Setelah menempuh beberapa medan cukup ekstrim, *hal ini mengingatkanku seperti jalur Senaru, Rinjani* akhirnya kami sampai di sebuah danau dengan air yang berwarna hijau tua dengan kondisi hujan deras. Tanpa ba-bi-bu temen-temen berlompatan kedalam danau dengan gaya-mereka masing-masing. Akupuin ikut berloncatan sambil teriak, air di Batu Lesong sangat segar dan alami. Di danau juga disediakan tali melintang untuk berpegangan, mengingat danau tersebut cukup dalam.
Batu Lesong
Belum lagi mitos masyarakat sekitar yang beranggapan kalau Batu Lesong dihuni oleh seekor siluman buaya putih, membuatku makin penasaran ingin ketemu buayanya. #halah
Maksud hati longex malah blur gara-gara ga ada tripod
Electric Bike
Panorama yang ditawarkan sungguh indah, air terjun kecil dan pepohonan menghijau serta danau yang dibingkai bebatuan coklat dan berlubang-lubang. Kami berebut berfoto, main air dan tertawa bersama. Terlupakan sudah hubungan antara atasan dan bawahan, kami semua bermain bersama.

Bergaya masing-masing
Satu jam tiga puluh menit kami bermain, akhirnya kami meninggalkan Batu Lesong. Trekking pun dimulai kembali, kondisi tanah makin ekstrim karena pasca hujan dan menimbulkan petrikor-petrikor yang menggoda. Berjalan terseok-seok sambil menahan massa tubuh *sekilas merasa kalau latihan trekking ke Kerinci, insyaallah Oktober 2016* lalu meraih sepeda yang terparkir dan membawa kembali keatas. Sang saka yang terikat sudah basah dan terciprat lumpur. Ya, waktunya kembali ke Bontang.
Jalanan yang kami lalui saat berangkat tampaknya telah berubah menjadi bubur, aku menuntun sepedaku ketika melewati trek yang sulit dengan sedikit susah payah hingga sempat terjengkang melawan lumpur. Tapi aku bangkit kembali, membawa sepeda dan merah putihku kembali kebawah.

Terima kasih :
Electric Bike : Tataq, Une, Arieta, Adi, Farhan, Imuk, Novy, Anas, Pak Puguh
Tim Jabrix : Mas Brow (Eko), Rendra, Shidiq, Ilham, Teguh, Hilman, Umar, Jamal, Imam, Doni

Tips menuju ke Batu Lesong :
- Karena Cuaca yang tak menentu, ada baiknya bawa dry bag untuk gawai anda
- Gunakan alas kaki yang nyaman untuk trekking (mutlak perlu)
- Tempat ini tergolong masih alami, jagalah kelestariannya.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe