#1 Derawan Derawati yang Menawan Hati

Masih terekam jelas dalam ingatanku, banyak kawan yang mengajakku liburan selama tanggal merah (tanggal 5 Mei hingga 8 Mei), sebut saja mendaki Arjuno Welirang, Exploring Goa di Jogja, hingga menghabiskan waktu di kepulauan paling eksotis di Kaltim, yaitu kepulauan Derawan di Berau.
Karena diriku tak bisa membelah diri, maka kuputuskan untuk mengambil satu keputusan yang bisa menyelamatkan liburanku, yaitu exploring Derawan sama kawan-kawan PLN unit tempatku bekerja.
Daaaan....liburanku akhirnya terselamatkan!
Liburan kali ini disponsori oleh teman-teman PLN Muara Wahau, karena transport dari Bontang ke Berau gratis,tis !
Perjalananku dimulai dari tanggal 4 Mei, Mas Dodi, bos PLN Muara Wahau yang setiap awal bulan ke Bontang untuk laporan bulanan mengajakku barengan ke Berau. Banyak kawan yang kuajak serta dalam trip kali ini, tapi karena ada yang beralasan bokek atau shift hari itu juga, maka kami nggak bisa memaksanya.
Perjalanan dari Bontang dimulai pukul 22.30 WITA, rencana kami stay dulu satu malam di PLTD Muara Wahau, lalu paginya lanjut ke Berau. Perjalanan ke Muara Wahau dari Bontang membutuhkan waktu sekitar 5 jam.

Kamis, 5 Mei 2016
Ternyata paginya masih ada beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan di Muara Wahau, seperti inspeksi jaringan dan pemasangan LBS Motorized. Jadi berangkat menuju Berau sekitar pukul 10 siang. Peserta trip dalam satu mobil adalah aku sendiri, Ikhwan dan Bos Dodi.
Menuju Berau lewat kecamatan Kelay, salah satu kecamatan yang menurutku kecamatan terindah. Bagaimana tidak, sepanjang Kelay kami disuguhi dengan pemandangan hutan hujan tropis yang masih rapat, bukan bukit-bukit yang digunduli untuk penanaman sawit. Kelay merupakan daerah yang ingin aku kunjungi di Kaltim, karena penasaran dengan kampung Merabu dibalik bukit karst. Kalau sempat sih pulangnya insyallah mampir :D
Perjalanan ke Berau dari Muara Wahau membutuhkan waktu sekitar empat jam dengan perjalanan yang berkelok-kelok tapi kondisi jalan sudah mulus. Agar tak bosan sepanjang perjalanan maka kuisi dengan selfie. Harap berhati-hati melewati Kelay karena banyak pohon tumbang yang melintang di jalan. Di Berau kami sempat isi bensin kendaraan dan isi bensin untuk perut, lalu lanjut perjalanan ke Pelabuhan Tanjung Batu yang merupakan pelabuhan untuk menyebrang ke Derawan.
Menuju Tanjung Batu dari kota Berau membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Sampai di Tanjung Batu parkir mobil penuh dan banyak pengunjung yang lesehan di sekitar dermaga. Aku tanya salah satu dari mereka, mereka menjelaskan bahwa tidak kebagian penginapan di Derawan. Jadi mau menginap di Tanjung Batu atau membatalkan rencana ke Derawan.
Hah? Batal? Sudah sejauh ini dan membatalkan sebuah rencana yang sudah disusun sejak dulu? 
Ya, memang saat ini adalah peak season, dimana kapal dan penginapan hampir full booked, jadi usahakan booking dahulu sebelum menuju ke Derawan. Beruntung kami cuma tiga orang dan masih kebagian satu cottage plus extrabed di cottage milik Pak Sanusi, salah satu karyawan PLN di Derawan. Padahal opsinya kami  bakal nginap di PLTD Derawan kalau nggak dapat penginapan.

Untuk menuju Derawan bisa dengan speedboat sekitar 30 menit, sekali sewa tiga ratus ribu rupiah dengan speeedboat kecil kapasitas 4 orang.
Senja

Bersama senja
Kami dapat menikmati sundowner selama perjalanan dengan tubuh terbanting-banting hebat. Muka yang menggaram karena terpercik air laut, bau anyir yang tercium dan pukulan angin laut yang bertubi-tubi menghajar muka. Kami mencapai Derawan pas saat Golden Hour, dimana sundowner memberikan semburat terbaiknya. Aku sibuk mengabadikan keindahannya dengan ponsel hingga lupa kalau carrierku akhirnya dibawakan si Ikhwan.
Siapa yang tak tergoda?
Kejernihan Airnya :)

Siapa yang tak terbius oleh kejernihan lautnya? Oleh keramahan penduduknya? Atau kecipak penyu yang menggemaskan? Atau golden sundownernya? Taburan bintang yang mempesona? Ah, Derawan memang luar biasa mendamaikan bagi setiap pengunjungnya. Malam itu setelah makan malam di cottage Pak Sanusi, kami duduk santai dan terkadang menengadah ke langit raya, berusaha mengabadikan bintng dengan long exposure sambil mati-matian menahan nafas agar kamera tak bergeser. Sekedar tebak-tebakan rasi bintang, menghitung jumlah bintang yang jatuh atau bercerita tentang beberapa rutinitas menggelikan di kantor. Desau angin malam tak kami rasakan, hingga ada tawaran untuk melihat penyu bertelur.
Dermaga tempat kami bercengkerama

Untuk menuju site penyu bertelur kami harus berjalan sejauh 800 m melewati perkampungan penduduk. Kondisi di Derawan sedikit mirip dengan Gili Trawangan. Ada penyewaan sepeda dari jenis city bike hingga fat man, penyewaan alat snorkel, homestay, bedanya tak ada bar dan kafe dengan musiknya yang berdentam-dentam memekakkan telinga disini, tak ada minuman keras (karena mayoritas pengunjung masih domestik), tak ada cidomo dan kendaraan bermotor masih diperbolehkan.
PLN Derawan
Kami melewati makam nisan kuda yang dikeramatkan. Malam-malam seperti ini rasanya makin angker, haha. Tak lama kemudian kami melewati PLN Derawan dan komplek solar cell-nya yang sangat luas !

Cottage milik Pak Sanusi : incl breakfast and dinner
Tampaknya site penyu bertelur di dekat PLN Derawan. Kami tak diperbolehkan membawa sumber cahaya dikhawatirkan penyu yang akan bertelur jadi nggak khusyuk #halah. Ternyata disana sang ibu penyu masih belum bertelur, ia masih menggali pasir untuk meletakkan telur-telurnya. Jadinya kita hanya melihat penyu-penyu bayi yang diletakkan di ember. Alasannya agar tak dimangsa predator di laut lepas. Masih bayi, takut belum bisa beradaptasi dan tak bisa melindungi dirinya sendiri.
Baby Turtle :3

Gerimis tiba-tiba mengguyur, waktu sudah menunjukkan pukul 22.30 WITA. Itu tandanya kami harus segera mengistirahatkan tubuh untuk menyambut petualangan di hari kedua !
bersambung........

Unesia Drajadispa

No comments: