#2 Samarinda, 22 Februari 2015

Sunday, March 22, 2015

Apa yang aku pikirkan saat aaku membuka mata di pagi itu? Huft, selamat pagi Samarinda. Apa yang ada di pikiranku hanyalah travelling untuk menjelajah kotamu. Hari ini aku harus menjelajah semuanya.
Jalanan Minggu itu tampak lengang. Pemandangan yang biasa terjadi di kota besar, seperti Surabaya. Mungkin semua warganya terjaga sampai dini hari hingga pagi ini mereka masih enggan meninggalkan rumahnya : entah buat beristirahat atau menghabiskan waktu bersama keluarganya. Untuk hari ini aku berencana menghabiskan hari di :

1. Kampung Wisata Tenun Samarinda.
Letaknya di Samarinda Seberang, Dari Tepian harus nyebrang jembatan Mahakam lalu belok kiri, lurus saja sekitar sepuluh menitan terdapat gerbang bertuliskan : Kampung Wisata Tenun Samarinda. Di kampung itu merupakan tempat penjualan Sarung Tenun Samarinda yang dibuat dengan alat tenun tradisional. Ingin melihat cara menenun? Masuk saja ke gang Pertenunan. Di dalam gang Pertenunan yang cukup sempit hampir setiap rumah terdapat alat tenun tradisional dan aneka buntalan benang berwarna-warni dijemur. Tapi sayang pagi itu belum ada warga yang beraktivitas dengan alat tenunannya. Jadi kita langsung melanjutkan ke Masjid Tertua di Samarinda, yaitu masjid Shiratal Mustaqim.


Matahari saat itu benar-benar garang membakar Bumi Etam. Kepala ini rasanya menguap saja. Walau sudah kubalur sunblock tetap saja mukaku memerah bak buah cherry. Arsitektur masjid itu sudah benar-benar nampak kalau tua. Konstruksi full kayu ulin, terkecuali lantainya. Suasana masjid sepi dan hanya ada beberapa anak yang asyik bermain bola.

2. Menara Asmaul Husna, Islamic Center Samarinda
Aku suka memotret sesuatu dari sudut yang berbeda dan itu kulakukan saat langit biru. Karena warna biru dapat merefleksikan warna-warna yang indah. Aku penasaran, seindah apa Samarinda apabila dilihat dari lantai 15 Menara Asmaul Husna?


Jadilah aku mencobanya. Masuk menara masjid bayar lima belas ribu dan kita diantarkan seorang bocah yang menggantikan ayahnya naik lift menuju ke atas. Sesampainya diatas? Panas sekali ! AC yang terpasang pun tak mampu meredam panasnya. Tapi aku dapat melihat kilang pertamina, kubah masjid yang Megah, bukit-bukit, rumah-rumah kecil, air Mahakam bak susu coklat, bahkan cafe puncak tempat nongkrong semalam pun dapat aku saksikan dari sini ! Sayangnya jendela menara tertutup kaca, jadi untuk memotret dunia luar masih terpantul bayangan kita. Filter circular polarizer dapat sedikit mengurangi refleksi di kacanya.
Jam buka menara kalau nggak salah mulai pukul 10.30 WITA.

3. Desa Budaya Pampang
Kalau kemarin destinasi utamanya adalah beli sepeda, maka hari ini destinasi utamanya adalah mengunjungi Desa Budaya Pampang di Poros Bontang Samarinda. Aku sama temenku kesana naik motor dari Islamic Center sekitar satu jam. Cukup jauh, apalagi jalan masuk dari Poros Samarinda-Bontang. Panas membara, jalanan berdebu, polusi, tapi malah bikin semangat. Kita kesananya pas Minggu, jadi saat ada pertunjukan tari-tarian disana. Aku sudah dapat bocoran dari temenku sih, kalau di Pampang UUD alias Ujung-Ujungnya Duit. Mau foto sama warga lokal harus bayar, sekitar dua lima sampai lima puluh ribu rupiah untuk beberapa kali jepretan karena semua yang berada disana adalah artis. Harus tahan mental juga karena sesampainya disana tangan kita bakal ditarik-tarik sama anak-anak kecil yang minta foto bareng. Dan tentunya itu tidak gratisan :))
Sampai di sana, rumah-rumah penduduk Dayak Kenyah dengan motif ukiran yang khas berjajar rapi, lalu kita temui Gereja penuh dengan ukiran Dayak, dan banyak anjing berlalu lalang. Bergidik juga aku lihat si anjing yang jalan-jalan sambil menjulurkan lidah dan ngiler. Ternyata di Lamin sudah berkumpul banyak orang, dan kursi-kursi paling depan untuk menonton pertunjukan telah penuh. Apes deh, aku mendapat kursi di baris kedua, jadi agak susah kalau mau ngambil gambar :(  Wah salah perhitungan nih, batinku.
Candid Girl
Untuk tiket masuk bayar lima belas ribu per motor, lalu untuk nonton pertunjukan tari bayar lima puluh ribu bagi yang bawa kamera digital pocket/mirrorless/prosumer/DSLR/SLR. Tapi untuk kamera ponsel gratis (termasuk GoPro juga) Busyet dah mahal betul, agak nggak rela aja pas bayar lima puluh ribu. Mau curi-curi juga nggak enak, kan harus menghargai orang sana :)
Dapet Gelang Sebagai Tanda Tiket Masuk
Tiap pengunjung yang menonton pertunjukan mendapatkan gelang manik-manik bertuliskan Pampang sebagai tiket masuk. Wow emang gadis Dayak cantik-cantik putih alami no tipu-tipu gan, oriental Indocina gitu. Aku yakin mereka belum tersentuh perawatan kulit yang mahal-mahal bak artis Korea. Kulitnya putih, rambut hitam lurus, mata sipit, seksi pula. Kata temenku  mirip artis JAV #ngawuurrr
Nah itu bagi cewek, kalau cowok? Ya ganteng-ganteng gitu. Putih, sipit, uuuhh...sebelas dua belas sama cowok Korea ! Nggak nahan....
Pertunjukan tari berlangsung sekitar satu jam dengan menampilkan beberapa jenis tarian, seperti :

-Tarian selamat datang, penarinya dari anak-anak usia 5-12 tahun


-Tarian perang, penarinya pemuda tanggung seusiaku. Ada yang ganteng banget :D

Ini yang ganteng :D
-Tarian enggang terbang, penarinya remaja putri seusiaku (20 tahunan) tarian ini paling ramai mendapat sorakan dari penonton. Aduhai cantiknya memang :D


-Tarian bercocok tanam, penarinya ibu-ibu

-Tarian yang mengkisahkan tentang perebutan cewek. Ditampilkan oleh dua remaja cowok dan seorang remaja putri. Nah dua remaja cowok ini adu kekuatan untuk memperebutkan hati si cewek itu. Siapa yang kuat dia yang memenangkan hati si cewek. Di tarian ini aku paling serius menyimaknya hingga mendapatkan suatu pesan : Mendapatkan hati seorang wanita itu butuh perjuangan yang tidak main-main bung !
Tari tentang rebutan cewek :))
- Tarian persatuan : tarian ini mengajak penonton ikut menari
Tari Persatuan
- Tari untuk menjepit kaki burung Enggang yang mengganggu tanaman kebun. Tari ini juga mengajak penonton untuk ikut serta.

- Tarian selamat jalan.

Mantap deh tariannya. Oh iya selama pertunjukan kita bebas mengambil gambar tanpa dipungut biaya. Tariannya Luwes rancak seirama hentakan kaki sambil diiringi sampeq (alat musik tradisional suku Dayak) Aku jadi pengen mempelajari sampeq yang suaranya mirip-mirip harpa :))

Setelah pertunjukan tari usai, aku berencana meminjam baju adat untuk foto-foto. Kalau foto-foto sama warga lokalnya nggak sama sekali, udah malas keluarin duit, haha. Untuk sewa baju adat lengkap satu set dua puluh lima ribu tanpa ada batasan waktu. Yang paling gemes itu bulu enggang yang dipasang di tangannya, hehe :D Pakai baju adat tapi muka nggak ada sipit-sipinya sama sekali, hehe :D Ya udah aku berfoto sejadi-jadinya di lamin itu.


Sekitar pukul empat sore kita kembali ke Tepian Samarinda. Capek sih, tapi aku bangga bis amengenal budaya Indonesia lebih dekat.
Pergerakan Langit di Mahakam
Tips foto di Desa Budaya Pampang :
- Pakai flash kurasa hasilnya lebih oke,potensi gambar ngeblur lebih sedikit. Kalau nggak mau pake flash harus pakai shutter speed rendah biar terang -_-
-Jangan sampai mengganggu jalannya pertunjukan ya demi mendapatkan angle yang terbaik :)

*terima kasih Mas Yusuf sudah diantarkan jalan-jalan

You Might Also Like

0 comments

Subscribe