Sangkima, Tropical Rainforest Trekking

Saturday, December 06, 2014

Kakiku tampaknya sudah kumat gatalnya lagi. Sudah lama tak jelajah alam bersama kawan. Hari Sabtu, 22 Nopember 2014 aku merencanakan untuk trekking ke Sangkima, vegetasi hutan hujan tropis di kawasan Taman Nasional Kutai, jalan poros Bontang Sangatta.
Seperti biasa, aku jadi yang terkecil dan terganteng :D
Tapi sial memang, Sabtu itu hujan deras memaksa kami untuk membatalkan rencana petualangan kami daripada memaksakan jalan dalam kondisi licin, dan terpeleset masuk jurang, hahaha.
Syukurlah, Allah berbaik hati pada keesokan harinya. Cuaca Minggu pagi cerah sekali, dan makin memantapkan langkah menuju kesana. 
Dengan mengendarai sepeda motor start pukul 08.00 pagi, kami berenam menuju Sangkima. Perjalanan menuju Sangkima dari Bontang sekitar satu jam, lumayan bikin pantat memanas juga, hehe.
Untuk hari libur, pengunjung domestik diwajibkan untuk membayar tiket masuk sebesar 7500 rupiah. Dalam wisata petualangan Sangkima ini, aku sudah melumuri diri dengan losion anti nyamuk untuk menghindari serangan nyamuk hutan yang tanpa kita sadari bisa membawa parasit. Buat jaga-jaga saja, untuk keamanan.
Liana dan kanopi hutan
Dan trekking pun dimulai. Trek pertama pengunjung melalui boardwalk yang dinaungi dengan pohon-pohon berkayu khas vegetasi hutan hujan tropis. Liana-liana banyak kami temui sepanjang jalan yang merambat keatas membentuk tajuk atau kanopi. Siulan burung, suara jangkrik, bau tanah humus yang basah, gemericik air, wow, menyenangkan sekali bagi gadis pecinta alam seperti aku. Paru-paru terasa segar sekali daripada harus menjadi perokok pasif ketika berkumpul dengan beberapa rekan yang perokok.

Tipikal trekking di Sangkima
Sepanjang jalan kami menemukan beberapa trek yang cukup menguji adrenalin dan keren banget buat foto-foto, seperti jembatan gantung, boardwalk licin, kayu ulin yang roboh yang paling seru buat fotografi, dan tak lama setelah itu kami bertemu dengan ulin raksasa yang berdiameter dua meter lebih, setelah itu kami menjejak trek tanah, bukan boardwalk lagi.
Salah satu jembatan yang dilalui

Jadi foto model Tarzan cantik hehe :D
Ulin raksasa dan tertua,  usianya bahkan mencapai ribuan tahun
 Sepanjang jalan aku sempat mengusili temanku cowok yang paling penakut, aku lemparin hewan aneh yang bisa menggulung diri, dia sibuk merekam perjalanan kami sampai sandalnya putus dan kita ketawain habis-habisan. Pokoknya aku dan dia saling ejek dan meleletkan lidah tanpa henti, persis seperti anak TK.
Pertarungan abadi, di hutan atau kantor
Ternyata trek tak hanya datar-datar saja, ada yang menanjak dan cukup menguras energi. Si Wahyu (yang paling sering kai kerjain) terseok-seok menyeret sandalnya yang putus sambil memasang wajah muram, dan menceracau sepanjang jalan, "Hei, kapok ikut main bareng kalian lagi ! Kalau ngajak jalan kasih tahu dong medannya kayak apa ! biar aku bisa persiapan sandal..." Dan yang lainnya hanya ketawa setengah mengejek, termasuk aku. Ketika medannya menurun atau melipir jurang, Wahyu berpegangan pohon sambil memasang wajah super waspada, haha. Tak hanya itu, kami berlima juga selalu mengerjai dia ketika melewati jembatan gantung, kami goyangin sesuka hati hingga dia bergidik ketakutan. Seneng sekali ngerjain temen sampai ketakutan, rasanya ada kepuasan tersendiri gitu haha.
Ada trek yang mewajibkan kita pegang tali seperti ini, jadi bawa sandal trekking ya

Setelah itu kita menemukan pemandian tujuh puteri, yah mirip kolam berundak dan setelah itu rumah pohon setinggi kurang lebih sepuluh meter. Disana banyak juga anak-anak yang lagi camping. Karena aku emang pemberani, jadi aku panjat rumah pohon itu dengan kaki cukup gemetaran, haha. Tinggi juga ternyata ! Challenge accepted ! aku menjadi peserta pertama dari rombongan itu yang berhasil mencapai rumah pohon disusul dengan dua cowok setelahnya, haha. Bangga betul !
Rumah pohon

Cukup puas gemetaran ria di rumah pohon, kami segera melanjutkan perjalanan karena kondisi kami saat itu cukup lelah gara-gara belum sarapan. Gila nggak sih! Trekking sepanjang empat kilo tanpa asupan kalori sebelumnya (nggak sarapan). Mati aja, jangan ditiru yah !
Vegetasi unik hutan hujan tropis

Hewan yang bisa bertransformasi

Dan...dari beberapa jembatan gantung yang dilalui, jembatan sling yang ini adalah jembatan yang paling aku tunggu-tunggu.  Hanya satu sling aja yang bisa dipijak dengan kaki. Wow, ini baru tantangan, kecil aja sih menurutku, tapi tampaknya cukup mengerikan bagi Wahyu. Seperti biasa kami beraksi menggoyang-goyangkan jembatan sling itu sampai Wahyu teriak ketakutan di tengah jembatan. Aku hanya terkikik dengan suaraku yang khas.
Jembatan sling yang dibawanya itu sungai

Trek sepanjang 4 km berhasil kami lalui selama tiga jam. Itu memang terlalu lama, gara-gara kami terlalu sering berhenti untuk berfoto dan ngusilin teman.
Yeah, setelah melalui jembatan sling yang seru, kita melewati arboretum tanaman obat, setapak ulin kecil, dan akhirnya, sampailah kita pada shelter terakhir yang membahagiakan. Capek sih, tapi seperti biasa, seru nggak ketulungan menjelajah rimba Borneo !

Saranku untuk pengunjung tropical rainforest trekking di Sangkima :
1. Pake losion anti nyamuk, banyak nyamuk hutan cukup ganas dan serangga yang kadang bisa menggigitmu tanpa izin
2. Jangan sakiti fauna dan flora yang ada disana
3. Pake sunblock
4. Bawa air pas trekking, haha. Paling wajib ini.
5. Untuk fotografi, aku bawa lensa wide 40.5 mm, atau kalau pengen tampil beda bisa bawa tele agar hasil lebih unik. Untuk filter, bisa pakai Circular Polarizer. Untuk ND nggak diperlukan sama sekali haha. Karena rimbunnya hutan membuat cukup gelap. Kalo tripod sih...bawa gorillapod aja kalo nggak mau ribet
6. Awas kalo sampai ada buang sampah sembarangan. Xixixi


You Might Also Like

0 comments

Subscribe