Antara Karir dan Kondisi Air Bersih

Thursday, August 28, 2014

Sekarang sumber air su dekat,
Beta sonde terlambat lagi,
Lebih mudah bantu mama ambil air untuk mandi adik,
Karena mudah ambil air, katong bisa hidup deng sehat.
Bapak ikut urus air deng bapak desa….

Cuplikan iklan air mineral beberapa tahun lalu yang menceritakan tentang susahnya mendapatkan air di daerah Nusa Tenggara Timur awalnya tidak aku gubris sama sekali. Kupikir aku nggak mungkin menjejakkan kaki di Nusa Tenggara Timur, tidak ada relasi disana. Saat iklan itu ditayangkan, sekitar tahun 2009, aku masih duduk di bangku SMA. Aku menghabiskan masa SMA ku di Jawa, dimana fasilitas air bersih melimpah ruah.
Tahun berganti tahun, akupun lulus dari bangku kuliah. Tak kusangka juga diawal tahun 2014 aku mengawali karirku di Nusa Tenggara Timur, aku tak menyangka akhirnya dapat mengunjungi daerah dimana beberapa tahun lalu aku selalu menyaksikan iklan yang menceritakan tentang bantuan pembangunan fasilitas air bersih disana. Beberapa temanku yang dapat satu penempatan denganku pun heboh, heboh akan bayangan sulitnya air bersih disana. Maklum, kami hidup sehar-hari sudah dipasok dengan air bersih dan fasilitas lain yang mapan. Ah! Kadang aku berpikir, betapa egoisnya kami, betapa lalainya kami dengan keadaan saudara-saudara kami yang masih membutuhkan air bersih di daerah lain.
Aku mencari banyak informasi tentang geografis dan kondisi disana, apakah benar susah air? Apakah benar air bersih terbatas? Dan segumpal pertanyaan lain, entah mengapa telingaku tiba-tiba terngiang-ngiang iklan yang pernah ditampilkan beberapa tahun silam tersebut. Segera aku cari videonya dan aku tonton berulang-ulang.

 ###

Kupang, aku datang. Dari beberapa sumber yang aku himpun, tidak semua dataran Nusa Tenggara sulit mendapatkan air. Dan daerah yang diiklankan di televisi tersebut terletak di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Desa Oehela yang letaknya sekitar 100 km dari Kupang.
“Warga disana sudah lama mengeluhkan kondisi susahnya air bersih, Nona.” Kata sopir taksi yang mengantarkanku ke penginapan dekat kantor induk perusahaanku. Aku sempat mencari tahu juga tentang kondisi air bersih kepada pak sopir.
“Dong su senang, aer su masuk sekarang,”(1) Lanjutnya. “Itu desa su jadi terkenal e, tiap hari masuk tivi. Sebelumnya dorang mesti naik bukit do buat ambil air minum. Kalo musim panas su tiba, dong pu penyakit nama aa diare su.”(2)
Aku mengulum senyum menatap wajah timornya yang tanpa ekspresi menjelaskan panjang lebar tentang kondisi disana. Logat Kupangnya yang sudah mengental kadang sulit aku cerna. Membuatku bingung juga mau jawab apa, dan aku pilih untuk diam.

 ###

Kurebahkan tubuhku di kamar hotel, lalu aku menuju kamar mandi untuk mencuci mukaku yang terasa gerah. Tapia pa yang terjadi? Ketika kran air kuputar ternyata airnya tidak keluar sama sekali ! Karena kesal, aku segera berlari ke meja resepsionis dengan menahan amarah.
“Airnya mati !” Semburku pada nona muda seumuran denganku di meja resepsionis dengan muka masam.
 “Katanya sumber air su dekat,” lanjutku dalam hati.
“Aduh, sabar nona ee, ini air su mati dari tadi pagi,” katanya lembut, berusaha memadamkan api yang berkobar di kepalaku.
“Nona, ini penginapan. Aku capek habis dari Surabaya tadi pagi dan aku belum mandi,” jelasku kecewa seakan-akan dengan kekecewaanku memaksa air keluar. Wajah nona muda itu tampak panik, “Iya sabar nona ee…Paul ! Paul ! Lu tau son, kamar mana yang masih pu air? Ada nona mau mandi !(3)” Jawabnya sambil memanggil rekannya yang lewat.
“Mari sudah, nona ikut saya,” Nona resepsionis  membimbingku ke sebuah kamar yang masih memiliki cadangan air di baknya. “Maaf nona sementara disini dulu. Maaf atas ketidaknyamanannya.”
Aku menjawab singkat, “Iya.”
Ternyata aku tak mendapatkan di Kupang. Dari Kantor Wilayah aku mendapatkan tempat di Labuan Bajo, Manggarai. Terpisah dari pulau Timor. Setidaknya ada harapan air lebih lancar disana.

###

Tiga pemuda tanggung menjemputku di Bandar Udara Komodo, Labuan Bajo. Sedikit memperkenalkan diri, entah mengapa aku langsung menanyakan kondisi air disini. Rasanya iklan air mineral yang beberapatahun lalu menayangkan kondisi air bersih di Nusa Tenggara Timur sudah mengental di pikiranku, memberiku persepsi bahwa air bersih benar-benar susah.
“Mas, air bersih susah disini?”
Tiga pemuda tanggung tertawa kecil. “ Ooo…jangan khawatir enu(4), Flores itu dataran tersubur di Nusa Tenggara, bahkan di Flores sudah memiliki produsen air mineral sendiri. “ Pemuda berbaju putih yang mengenalkan diri dengan nama Bobi itu menjelaskan. Penjelasannya sedikit menenangkan diriku.
“Betul itu?” tanyaku balik.
“Benar enu, tapi itu di ibukota kabupaten tetangga, Ruteng.”
“Aduh mas….aku kan bukan disana, tapi di Labuan,” Penjelasannya seakan-akan meruntuhkan harapanku atas air bersih disini.
“Ooo…iya ee…di Labuan sendiri ada beberapa tempat yang susah air. Tapi jangan khawatir, enu cari saja kos di dekat rumah saya. Disana cukup mudah airnya.”
Aku menghela nafas lega.

###

Sudah hampir satu bulan berjalan. Air bersih  di tempatku bermukim cukup mudah. Bersih, lancar dan cukup segar. Tidak payau walaupun dekat dengan pesisir. Kegiatan MCK berlangsung dengan lancar dan mematahkan anggapan bahwa air itu selalu susah di NTT.
“Tapi enu….jangan lupa hemat airnya ya. Bukan berarti mudah air, jadi buang-buang air sembarangan. Rumah mama saya di Timor sana susah dapat air. Air seakan lebih mahal dari minyak. Jadi tolong sedikit dihemat, saya ingat  sama Mama.”
Petuah sakti yang pernah diucapkan dari salah satu pemuda Manggarai itu membuatku tersentuh. Mudah air, bukan berarti bisa dibuang-buang sesuka hati.
Pada satu kesempatan aku berkesempatan mengunjungi Ruteng. Dan aku takjub dengan kondisi air disana. Segar dan dingin. Jernih bukan main daripada kondisi air di kota tempat aku dilahirkan. Kondisi geografis yang terletak di kaki gunung Ranaka tentu saja membuat subur dan sumber air belimpah. Tak heran kota ini memiliki pabrik air mineral yang telah didistribusikan ke seluruh dataran Flores.
Tiga bulan kemudian, selesai sudah tugasku di Labuan Bajo. Tujuan selanjutnya adalah Bontang, Kalimantan Timur. Aku harus bertolak kesana minggu depan. Seperti biasa, harapanku : air bersih mudah didapatkan.

###

Sepinggan airport, Balikpapan.
“Selamat menikmati perjalanan ke Bontang.” Begitulah seorang bapak yang menjemputku di Bandara menyambutku. Pernyataan itu membuatku terheran-heran.
“Emang kenapa Pak?”
“Perjalanannya sekitar enam jam. Mbak nggak mudah mabuk darat kan?”
Aku menggeleng dan sudah menebak bagaimana liku-liku perjalanan kesana. Kuatkan dirimu, Une.
“Oh iya mbak, mbak jangan kaget ya, di Bontang cukup susah mendapatkan air bersih.”
Apa? Iya? Benarkah? Kalimat barusan seakan menonjokku. Cukup susah mendapatkan air bersih. Bagaimana hidupku disana!
“Pak…benarkah?”
“Iya mbak, air Cuma nyala sekitar tiga hari sekali. Sisanya mati.”
“Aduh Pak,” Keluhku lirih.
“Mbak cari saja kost yang ada tandon air dan sudah terpasang instalasi air. Begitu air nyala, langsung ditampung disana untuk beberapa hari. Kalau cari yang nggak ada tandonnya, waduh…susah mbak kalau air pas mati.”
Aku tak menanggapi pernyataan itu. Pikiranku sudah kalut, kacau. Lagi-lagi karir membawaku ke tempat yang susah air. Apa boleh buat, tempatku bekerja tersebar merata di seluruh Indonesia. Siap tidak siap, mau-tidak mau, aku harus menerima kondisi seperti ini.

###

Sekitar dua minggu aku tinggal di Bontang. Alhamdulillah tidak seekstrim yang aku bayangkan. Aku masih bisa mandi, cuci dengan lancar disini walau kualitas airnya keruh. Penggunaan air pun aku atur dengan baik agar aku tidak kekurangan air bersih. Dari sini aku sadar, air itu benar-benar vital untuk kehidupan sehari-hari. Hidup itu memang adil, jika dulu aku merasakan betapa mudahnya aku mendapatkan air bersih dan menjalani kariku di kota dengan air berlimpah, aku pasti tak akan pernah bisa menghemat air dan diri ini makin egois dan lalai terhadap sesama. Kini aku menjalani karirku dengan kondisi air yang cukup terbatas dan aku bersyukur pernah ditempatkan di kondisi air yang berbeda, dimana akhirnya aku dapat lebih menghargai air dan menyadarkan betapa pentingnya menghemat air untuk kehidupan kita. 
Ternyata hidup di kondisi dengan air terbatas itu tidak nyaman. Mari jaga kelestarian air dan jangan sampai kita buat iklan air mineral yang menayangkan tentang susahnya air bersih di Timor Tengah Selatan berkata : “Sekarang sumber air su langka. Beta bingung mau karmana lai…”(5)

Akhir kata saya berterima kasih dengan semua pihak yang telah membantu dalam penyaluran air bersih di berbagai kota di Indonesia.

Catatan kaki :
1. Mereka senang, air sudah masuk sekarang
2. Desa tersebut sudah terkenal, setiap hari masuk televisi. Sebelumnya mereka harus naik bukit dulu untuk mendapatkan air minum. Kalau musim panas tiba, mereka sering terjangkit diare.
3. Kamu tahu tidak, kamar mana yang masih ada airnya?
4. Panggilan kepada gadis (bhs Manggarai)
5. Sekarang sumber air sudah langka, aku bingung mau bagaimana lagi...



You Might Also Like

2 comments

Subscribe