Mendinginkan Kepala di Ruteng Sebelum Menuju Ke Wae Rebo

Tuesday, March 11, 2014

Jika merengek masih tidak mempan, maka aku bergerak sendiri selagi aku mampu.
Karena belum ada kejelasan apakah bapak kost mau mengantarkanku ke Ruteng apa nggak, maka aku nekatkan berangkat sendiri ke Ruteng dengan travel dari Labuan Bajo. Sendiri, tanpa teman-teman, menjadi solo traveller. Tak peduli walaupun ternyata supervisor pembangkit ternyata keesokan harinya juga mau berangkat ke Ruteng dan aku diajak numpang mobilnya. Bukan masalah penghematan duit, tetapi masalah kemandirian juga *aku berkilah sendiri

Oke, untuk mewujudkan On Job Travelling’s Month, bagaimanapun juga aku harus bisa mencapai destinasi utama yang aku catat di sticky notes laptopku : Komodo, Kelimutu dan Wae Rebo. Dan destinasi tersulit adalah Wae Rebo, dimana kemampuan fisik benar-benar diperlukan. Bulan ini aku benar-benar memanfaatkannya dengan jalan-jalan, hampir setiap minggu aku pesiar. Tapi kali ini aku kembali menjadi anak gunung, setelah sebelumnya menjadi anak pantai.

Seperti biasa, aku berangkat dengan gayaku yang asal-asalan dan jauh dari kata modis dan cantik. Celana training komprang lusuh, kaos lengan panjang, jilbab yang tidak senada (Warna coklat muda dan kaos hijau muda), muka buram dengan polesan bedak tipis dan gincu seadanya. Serta amunisi wajib berupa sandal gunung Eiger ukuran 38, Daypack semi carrier Eiger 35 L, dan jaket angkatan PLN 37 kugantungkan sembarangan di tas. Tidak lupa juga ‘jimat’ andalan trekking atau naik gunung : Counterpain Cool.

Perjalanan menuju ke Ruteng kurang lebih 4 jam dari Labuan Bajo. Medannya? Naik turun bukit, berlenggak-lenggok seperti usus, naik turun. Biasanya aku memang tidak mabuk, kali ini memang tidak mabuk, tapi perutku serasa dikocok-kocok hebat. Selama perjalanan aku ngobrol dengan cewek  bule Jerman disampingku. Aku tahu dia dari Jerman gara-gara buku yang dibacanya dalam bahasa Jerman, kira-kira begini percakapan kita :


Une : Von Deutschland? /dari Jerman? (sambil nunjuk cewek itu)

Bule : (terheran-heran sambil lihat aku) Ja…Sprichst du Deutsch? / Iya, kamu bicara Jerman?

Une : (gelagepan jawab, lalu jawab dengan campuran bahasa Inggris) Mmmm…nein, just daily conversation / Tidak, hanya percakapan harian saja

Bule : (tersenyum) Gut, Ich heiße Lucia, Wie heißen Sie? / baik, namaku Lucia, namamu?

Une : (Jawab dengan bahasa campuran lagi)  Ich heiße Une, I’ll spend my holiday here , hehe (Namaku Une, aku habiskan liburanku disini)

Bule : Ich bin auch (aku juga)

Une : (senyum senyum nggak jelas, bingung mau jawab apa, lalu memutuskan untuk berhenti saja)

Empat jam kemudian aku sampai Ruteng. Siang hari hawanya memang sejuk. Aku memang janjian sama temanku OJT Ruteng untuk menuju ke Wae Rebo keesokan harinya. Sedikit cerita tentang Ruteng nih, aku juga sebenarnya baru saja mengerti kota ini sejak OJT, sebelumnya aku nggak tahu. Ruteng merupakan ibukota dari Kabupaten Manggarai, dulu sebelum tahun 2003 masih jadi satu dengan Manggarai Barat, tetapi sekarang Manggarai Barat merupakan pemekaran dari Manggarai. Terletak di Pegunungan Poco Mandosewu Flores dan dekat dengan Gunung Ranaka. Ruteng terkenal dengan kota dingin, (terbukti aku saja pakai jaket sepanjang hari) dan curah hujan tinggi yang tidak menentu, biasanya setelah jam 12 siang biasanya hujan ringan hanya 5-10 menit saja. Suhu sekitar 18 derajat celcius, sumber air sangat berlimpah hingga memiliki pabrik air mineral yang bernama “Ruteng”, hanya dijual di Flores. Airnya dingin sekali, saat aku mandi selalu teriak dan kepalaku langsung merasa pusing. Ketika malam tiba, bintang-bintang yang bergelantungan di langit sangat indah, terlihat jelas sekali dibingkai oleh pegunungan Poco Mandosewu. Sejenak aku sempat berpikir ingin mengambil gambar star trail, tapi alat tidak memadai.


Wae Rebo, Minggu, 2 Maret 2014
Hari ini akan menjadi hari yang luar biasa. Aku akan mengunjungi Wae Rebo bersama keluarga besar PLN Ruteng. Janji berangkat pukul 7 WITA, tapi yang paling kubenci pasti molor. Aku paling malas karena perjalanan kesana sangat jauh.  Molornya nggak tanggung-tanggung, hingga 2 jam gara-gara alasan yang mengesalkan. Sebelum berangkat aku sempat berjalan kaki pemanasan mengelilingi lingkungan sekitar. Minggu pagi itu, warga Ruteng tampak bersiap menuju Gereja dengan berpakaian rapi terbaik mereka sambil memegang kitab sucinya. Cantik-cantik dan cakep-cakep, karena senyum senantiasa tersungging di bibir mereka.

Jam 9 akhirnya kami berangkat, total yang ikut 12 orang. Aku khawatir sekali apabila terlalu sore bisa turun kabut. Selama perjalanan kami sempat berhenti di pinggir pantai penuh batu untuk makan nasi kuning. Perjalanan menuju Denge, desa terakhir tempat pemberhentian kedaraan, sekitar 3 jam dari Ruteng, dengan medan cukup memabukkan juga. Pantatku serasa membara. Untunglah pak sopir, alias Om Ismail sudah hafal benar jalannya, karena beliau sering menagih SEHEN* di daerah-daerah jauh seperti ini, walaupun dia belum pernah ke Wae Rebo.

Wae Rebo, terletak di kecamatan Satarmese Barat, Desa Satarlenda. Untuk mencapainya harus mendaki gunung, lewati lembah, dan sungai….. *malah nyanyi . Tapi benar begitu adanya, harus lewati gunung Pocoroko, sungai, dan lembah sejauh 9 km selama 4 jam. Edan meeen….apalagi kita berencana pulang dan pergi hari ini juga! 18 km seharian -_-
Pak Blasius dan Homestay yang Dikelolanya
Sebelum mendaki, kita singgah dulu di homestay milik pak Blasius untuk sholat dan istirahat sebentar. Pendakian dimulai pukul 13.00 WITA, SDK Denge mulai menjadi saksi titik awal ekspedisi kami yang bakal membuat darah mendidih dan daging menari. Yeah, I’m ready to go !



 Awal perjalanan memang sudah bikin darah mendidih daging menari. Trek menanjak dan penuh bebatuan. Matahari pun terik dan sialnya aku lupa tidak memakai sunblock yang sempat menjadi primadona saat di Pulau Komodo. Aku hanya berharap pada topi rimba bekas Kopassus nomor 019, semoga dapat sedikit melindungiku.
Tipikal jalur trekking
Treknya berbelok, menanjak terus. Aku mulai ngos-ngosan. Temanku OJT Ruteng dari Palembang, namanya Ody berbaik hati menawarkan diri menjadi porterku. Alhasil tasku berpindah pundak ke pundakknya. Akupun bisa berlari kencang di tanjakan, sedangkan teman yang lainnya asyik ber ‘cieee….cieee’ atas kejadian heroik barusan yang menimpaku.
Untuk menghilangkan lelah sejenak
Karena jalan menanjak dan panas, maka persediaan air mineralku 1,5 L mulai menipis. Akupun galau berat, habis air matilah kita. Tapi ditengah perjalanan ada sumber air yang masih jernih dan segar. Kami langsung mengisi botol kami yang mulai kosong.


Air, Sumber kehidupan
Setelah sumber air, kami mulai memasuki hutan hujan tropis, tak heran disebut Zamrud Khatulistiwa wong hutannya aja hijau dan segar seperti ini dengan burung-burungnya yang bersiul eksotis. Jalan tetap menanjak dan melipir jurang. Setiap 100 m ada penanda jarak, kurang berapa meter lagi. Tak jarang juga kita bertemu dengan warga Wae Rebo yang turun mencari keperluan atau membawa kayu-kayu turun. Kami disapa dengan senyuman hangat dan berkenalan. Sungguh, ramah, hangat dan peduli sekali mereka terhadap orang baru!
Bertemu Warga Wae Rebo Turun Gunung


Penanda jarak, yang dilihat bikin kesal banget
 Serasa sudah jalan 1 km, ternyata masih 100 m di penanda jarak. Aku sering bertanya dengan nafas memburu pada warga Wae Rebo yang turun, apakah masih jauh, dan jawabannya ternyata masih jauh. Kuhela nafas panjang dengan harapan kampungnya tiba-tiba berada di depan mata begitu saja.

Beberapa teman masih tertinggal dibelakang. Karena aku memiliki misi untuk mengejar cahaya di Wae Rebo untuk berfoto sebelum gelap, maka aku ngebut dan balapan dengan Panji Tejo (OJT Ruteng), teman-teman yang lain masih dibelakang bersama guide. Aku dan Tejo saling mendahului didepan.
Edelweiss
Beberapa saat kemudian kami sampai di pos Pocoroko. Disini kita dapat melihat laut Sawu, hutan yang luas, bahkan titik awal perjalanan kami yang ternyata sangat jauuuuuh dibawah. Di pos Poncoroko merupakan tempat terakhir untuk mencari sinyal, tetapi ponselku sudah aku matikan sejak awal perjalanan biar tidak mudah habis energinya. Edelweiss pun tumbuh subur di pos ini.
Pos Pocoroko, dari kiri kekanan : Mas Ajie, Tejo, Une
Ketika teman-teman yang lain telah mencapai pos Pocoroko, aku mulai balapan lagi. Melipir jurang, bukit, dan ilalang yang kadang bikin gatal juga. Kadangkala harus melewati jalan sempit licin yang membuat kami ekstra waspada. Papan penunjuk menunjukkan kurang 1 km lagi. Aku semakin semangat menambah kecepatan, tak mau kalah dengan Tejo. Melalui  kebun kopi yang menjadi komoditi utama Wae Rebo, sungai kecil, jembatan bambu,  hingga aku dapat melihat Wae Rebo dari kejauhan…
Haloooo Wae Rebo !
Sudah mau sampai
Pukul 16.30 WITA, akhirnya aku berhasil menjejakkan kakiku pertama dari peserta yang lain di Wae Rebo. Aku takjub dengan 7 buah Mbaru Niang yang ada didepanku. Anak-anak kecil berlarian bermain bola, aku duduk bersimpuh, kepalaku tengadah kelangit, lalu menatap keadaan sekitar Wae Rebo. Beberapa anak mendatangiku dan menatapku aneh, mungkin mereka berpikir “Ih, ngapain ada cewek cantik duduk disini, kagum ya? Biasa aja kali, tapi selamat ya mbak, udah sampai disini”
 
Mimpi jadi nyata
 Kamera andalan kukeluarkan, kujepret sana sini hingga berebut minta fotoin sama Panji Tejo. Aku menghirup udara Wae Rebo dalam-dalam, sambil makan roti yang ditawarkan oleh beberapa teman yang mulai menyusul datang.

Beberapa anak kecil mulai mendatangiku, aku memberinya snack ringan dan wafer krim yang masih utuh. Aku sengaja menyusun rencana ini dari awal. Anak kecil itu langsung berlari kearah teman-temannya dan membagi rata jajanan yang aku berikan. Sungguh, kehidupan yang sangat harmonis !
Bersama anak-anak Wae Rebo
Mereka hobi bermain bola !
 Duabelas peserta telah tiba juga. Kami masuk ke rumah Gendang, yang merupakan rumah adat terbesar disini, difungsikan untuk menerima tamu. Ijuknya masih berwarna coklat muda, kelihatannya masih baru diganti. Kami disambut oleh Kepala Suku eh Ketua Adat disini, namanya bapak Rafael. Guide mulai berbincang-bincang dengan bahasa Manggarai dengan Ketua Adat menyampaikan maksud kedatangan kami apa, bla..bla…bla….

Ternyata, kelahiran Pak Rafael tahun 1927, berari sekarang usianya 87 tahun. Hebat deh, usia senja tapi masih bisa berbicara dengan jelas dan tegas. Bagi-bagi dong Pak, rahasianya apa, biar josss jadi pemimpin PLN sampai usia senja :)
 
Setelah toleh kanan kiri, aku tidak menemukan remaja seusiaku di Wae Rebo. Ternyata warga Wae Rebo mulai umur 7 pindah ke desa Kombo untuk mulai hidup mandiri. Hmm..pantas disini hanya ada Mama dan Pria yang sudah lansia gitu. Padahal sambil menyelam minum air, sekalian cari jodoh juga disini, siapa tahu dapat cucu kesayangan ketua suku, eh ternyata pada urban ke Kombo #kecewaberat

Setelah diterima di rumah Gendang, kami berebut keluar untuk berfoto sebelum malam menyelimuti desa. Riuh memanggil anak kecil-kecil yang asyik bermain bola untuk berfoto bersama, dan akhirnya kami masuk ke rumah Tirto Geni Maro, rumah untuk menjamu tamu.
Di dalam Mbaru Niang, sejuk nian :D
 Di dalam rumah Tirto Geni Maro, kami diberikan kopi asli Wae Rebo, kental, pekat dan alami rasanya, dijamin bisa joss untuk trekking malam nantinya. Mama-mama di Wae Rebo selalu menggunakan sarung dengan motif tenun  Manggarai, mereka membuatnya sendiri dan menyebutnya Songke. 
Ngopi dulu *kelihatannya masih malu-malu tuh
 Di dalam Tirto Geni Maro dijual Songke dan Kopi khas Wae Rebo. Aku yang sudah ngiler dengan tenun ikat Manggarai, langsung tawar menawar dengan bahasa Manggarai ala logat Jawa. Kebetulan harganya 500ribu, dan aku coba tawar, siapa tahu dengan sok-sokan jadi Manggarai tulen bisa turun harga.

Une : Mama, songkenya 400ribu nganceng ko?/Mama, kain songkenya 400ribu boleh nggak?


Mama : Toe nganceng enu…buatnya sulit, 3 bulan baru jadi /Nggak bisa nduk, …buatnya sulit, 3 bulan baru jadi


Une : (bingung mau jawab apa pakai bahasa Manggarai) Oke lah Mama, aku ambil sarung satu, 500 ribu ya… *hitung hitung untuk membantu perekonomian mereka
Songke Manggarai
Mama Maria Sedang menenun
Sok-sokan jadi warga Wae Rebo, hahah
 Untunglah saat itu aku bawa uang lebih, jadinya bisa beli songke yang motifnya unik banget.
Setelah itu aku coba untuk naik ketingkat 2 Mbaru Niang, serem banget tangganya hanya terbuat dari bilah bambu yang diceruk di setiap buku bambunya. Kalau dibuat naik sakit. Oh ya, Mbaru Niang sendiri terdiri dari lima tingkat, dimana tingkat pertama disebut Tenda, digunakan untuk tempat tidur dan dapur, tingkat kedua disebut Lobo, untuk penyimpanan bahan makanan, lalu ketiga namanya Lentar, digunakan untuk menyimpah hasil kebun dan benih makanan, selanjutnya Lempa Rae, untuk cadangan makanan, dan yang paling tertinggi adalah Hekang Code untuk penyimpanan sesajen para leluhur. Hebat banget nih insinyurnya, bisa membuat rumah sekuat ini tanpa semen, paku, maupun pondasi cor, Wow !
Coba Naik ke Lobo *Senyum penuh ketakutan
Setelah minum kopi, kami berebut keluar, foto-foto lagi. Anak-anak Wae Rebo paling suka diajak berfoto. Mereka sangat fotogenik sekali. Saat itu pengunjung hanya dari kelompok kami, jadi sepi karena sudah terlalu sore juga. Biaya kesini juga tergolong mahal, jadi kalau mau kesini lagi pikir-pikir dulu nih , haha
Didepan Tirto Geni Maro
 Sekitar pukul 6 sore, kami kembali dipanggil masuk ke Tirto Geni Maro, ternyata ada perjamuan makan malam.  Menu makan malam saat itu adalah sayur labu siam dan sejenis bayam plus kerupuk. Sederhana sih, tapi kalau dimakan dalam keadaan lapar luar biasa dan dalam kebersamaan yang hangat pasti terasa menyenangkan. Aku makan banyak sekali untuk presiapan trekking malam ini. Sebelumnya aku belum pernah trekking 18 km seharian, gila-gilaan deh, gara-gara besok ngantor jadinya harus pulang malam ini juga. *padahal aku pun bolos
Perjamuan Makan Malam
Absen sebelum pulang
Namaku ada di nomor dua dari bawah :D

Salutnya, di setiap Mbaru Niang sudah terdapat photovoltaic, lampu SEHEN dan beberapa lampu jenis lilin. Sejak menang UNESCO, Mbaru Niang memang naik daun, sehingga fasilitas di Mbaru Niang pun dilengkapi untuk kenyamanan pengunjung. Sayang di dapur gelap sekali, aku heran bagaimana mereka bisa memasak dalam kegelapan…
Panel Surya dan Lampu SEHEN
Memasak dalam gelap
 Setelah makan, kami berpamitan kepada Mama dan ketua adatnya. Trekking malam pun menanti kami, aku menelan ludah.
Foto Bersama Ketua Adat Wae Rebo, Pak Rafael didepan rumah Gendang
Trekking malam, guide kami memberi penerangan dengan lampu SEHEN, sedangkan yang lainnya menggunakan senter dari ponselnya. Keadaan hutan memang gelap gulita, ditambah dengan kaki pegal-pegal begini. Jurang di kanan kiri siap menyantap kami apabila meleng sedikit. Lebar jalan hanya 1 meter, sehingga kami harus ekstra konsentrasi. Kadangkala kami berhalusinasi bahwa jurang sama seperti kasur super empuk, kalau ngelindur sedikit bisa freefall ke jurang suram tersebut yang penuh dengan malaikat pencabut nyawa, hiiiii…..
Untuk membunuh halusinasi tersebut, si Tejo mulai membuat tebakan mesum :

Tejo : Apa bedanya tarzan naik pohon sama monyet naik pohon?


Beberapa mulai jawab ngawur : Kalo monyet itu kamu, Jo !


Tejo : Salah…


Karena malas meladeni, kami pun minta jawabannya,


Tejo : Jawabannya adalah, kalau monyet ekornya dibelakang dan kalau tarzan ekornya didepan, hehehe

Yang lain langsung teriak heboh, yang pikirannya agak mesum, pasti langsung paham. Jujur, aku saja langsung paham. Lalu ada yang nyeletuk mesum juga, “Ada lagi nih perbedaannya, kalau ekor kera dielus nggak berdiri, kalau ekor tarzan bakal berdiri tuh !”
Suasana makin riuh malam itu, aku menggumam, “Kau gila ko…”

Entah mengapa lamat-lamat akupun melantunkan lagu Surti Tejo tanpa sadar, beberapa teman mengikuti laguku, jadi semakin lengkaplah pembicaraan mesum malam itu, dasar….
Tiga jam perjalanan turun, akhirnya sampai juga di Denge. Kakiku gemetar, perut lapar, dan kami semua langsung pulang ke Ruteng dengan kondisi badan remuk….dan tertidur, zzzzz…..
Sampai Ruteng jam satu pagi dalam keadaan lelah luar biasa !
###

Terima kasih kepada : Teman-teman PLN Ruteng, yang telah menanggung akomodasiku selama disana, benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Terima kasih Eris, atas fotonya, Annisa, April, Tejo atas tebakan mesumnya, Ody , telah menjadi portirku, Om Is, telah mengantarkan kami, Ka’e Vian, Mas Ajie, Mbak Edel, Ka’e XXX (guide yang namanya terlupakan), Pak Blasius, dan lainnya yang tidak disebutkan satu-satu. Terima kasih banyak ya, dengan ini tiga tujuan terbesar di Flores telah tercapai. Terima kasih juga pada instansi yang menempatkan OJTku di tanjung bunga yang indah ini, Flores. Terima Kasih ALLAH, Terima Kasih PLN !

*SEHEN : Super Ekstra Hemat Energi. Lampu LED bertenaga surya yang terpasang pada rumah penduduk yang belum terpasang jaringan listrik. Tingkat kecerahanannya bisa diatur dengan menarik tali pada lampu. 60 lumen dengan konsumsi daya 15 Watt.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe