KISAH SEJATI (Nyata): Pada Suatu Jumat Legi...

Friday, July 29, 2011


Berdasarkan mitos yang beredar dimasyarakat, Jumat legi itu selalu dianggap serem, Jumat legi atau kliwon lah, sehingga sering diangkat untuk sebuah cerita atau film mistis.


Ini cerita yang terjadi di kampungku, terjadi sekitar sepuluh tahun yang lalu, ketika aku masih kecil, imut, buandel, misuhan, malas belajar, dan masih belum ngerti arti sebuah cowok cakep, hahaha...http://www.smileycodes.info
Nah, kebetulan, di depan rumahku itu ada sebuah tugu pemisah atau batas antar dua desa yang memisahkan desa X sama desa Y. Tugu itu dibangun tahun 1902 (aku liat di pahatan tugunya), walaupun dibangun 43 tahun sebelum Indonesia merdeka, tapi tugu itu masih berdiri tegar dan belum pernah dilakukan pemugaran atau perbaikan sama sekali, mungkin konstruksinya kuat atau memang teknik sipil saat itu berjaya banget. Aku yang saat itu masih bayi, eh, anak-anak ingusan, sering mempergunakan tugu itu untuk bermain benteng-bentengan atau roket-roketan karena bentuknya sih emang kayak roket yang terbelah dua.
Aku dan temen-temen itu sering memperhatikan, kalau pas Jumat Legi selalu ada orang asing (bukan penduduk kampung kami) bawa sesuatu, kayak sesajen gitu, lengkap dengan dupa dan kembang 7 rupa, lalu sesembahan itu ditaruh pas dibawah tugu pemisah itu. Langsung deh, kami melihat sesembahan itu, tapi nggak kami apa-apain, takut diamukin emak sih! Karena kami masih nggak tahu itu buat apa’an ?http://www.smileycodes.info
Pas itu udah Jumat Legi yang kelima sejak pengamatan kami, kami ngelihat ada orang (lagi-lagi orang yang sama kayak dulu) menaruh sesajen persembahan yang entah-untuk-siapa itu dibawah tugu pemisah waktu menjelang maghrib. Aku dan temenku yang kelelahan dan kelaparan karena telah bermain gila-gilaan berjam-jam, langsung sepakatan ngembat makanan persembahan misterius itu. Isinya meliputi : Kue bikang, pukis. Bubur merah dengan mangkok daun pisang, klepon, rokok yang ditempatkan di batok kelapa, uang seribu, kembang tujuh rupa, empon-empon, telur ayam kampus, eh kampung, apaan lagi ya?? Oh iya ! dupa, kemenyan, ada juga makanan ringan kayak mie ronggeng (jaman itu mie ronggeng adalah mie gurih yang dapat dimakan langsung, harganya 100 rupiah) dan makaroni. Ada beras warna-warni juga. Kami yang kalap, langsung mengembat semuanya! (kecuali rokok dan yang nggak layak konsumsi bagi kami tentunya). Uang seribu rupiah itu kami belikan permen hot-hot pop dan pendekar biru dan dibagi sama rata per anak satu. Keren kan ! daripada makanan itu esoknya membusuk?

Dan tiba-tiba salah seorang temenku bertanya :
“He rek, iki gawe sopo sakjane se?”
Dan aku jawab, “Wes talah, iki lo disediakno gawe awak dewe paleng, kate gawe sopo maneh, ndek tugu kan ndak onok sopo-sopo. Ayo wes, ndang dientekno!”
Dasar jawaban anak polos! Masih nggak ngerti masalah persetanan!

Hingga keesokan harinya salah satu temenku berkata dengan panik kepada kami semua :
“Rek, rek! Aku kondo nang makku perkoro awak dewe mangan panganan ndek ngisore tugu! Emakku nguamuk nang aku le!”
Yang lainnya menimpali, “La kok iso le? Awak dewe kan mek mangan?”
“Aaah....awak dewe iku goblok! Iku panganan seng wes didongani, panganan gawe petunggone tugu kono, memedi opo lelembut ngono, jarno kampung kita aman!”
“Terus iku panganan gawe memedi ngunu? Awak dewe wes mangan panganan gawe setan ra’an?”
“Haduuuh...aku wedi pas kenek kutukan opo kesetanan...” rengek temanku yang lain, dan sebagai anak kecil aku hanya bisa menghibur sekenanya, “Halah, wes to! Ndak iro opo-opo...”

Dan tiba-tiba emakku keluar membawa sapu kerik dan pengki untuk membersihkan sesajen memedi itu sambil sedikit mengeluh, “Oalah yo,yo, pancet ae sesajen iki. Tapi kok dungaren entek yo? Tapi sumpek se, kotor kabueh!”
Kami terdiam.http://www.smileycodes.infoDan sejak saat itu aku ngerti dari cerita emakku, bahwa perbuatan kayak gitu adalah sirik, dilarang oleh Islam karena menyekutukan Allah, itu sih menurut ajaran yang kami anut. Aku sih baru tahu karena keluarga kami kan baru pindah dari luar pulau dua tahun lalu, sedangkan kota tempat asalku sebelumnya nggak ada kayak ginian. Buat apa ngasih sesembahan kayak gitu ke setan, toh lebih baik dibagi-bagikan ke tetangganya, lumayan kan, dapat pahala karena nyenengin tetangganya.http://www.smileycodes.info Selain masalah sesajen atau bahasa jawanya sandingan, kalo mau bulan puasa kayak gini biasanya kue apem (yang biasanya dibuat saat mendekati bulan Ramadhan), apem yang dibuat pertama, ditusuk sengan sebatang lidi dan dilemparkan keatas genting sebanyak 2-3 buah, entahlah, buat apa itu, mungkin penolak bala kali?

Aku masih teringat rasa legit bubur merah sesajen itu....

Sejak kejadian sesajen itu, depan rumahku langsung dipugar, diganti pagar, sehingga sekarang nggak ada sesajen nyasar lagi kayak dulu. Mungkin dulu keadaan rumahku serem karena rumah tua, atau generasi seperti itu yang mulai berkurang.
Oke, itu sekelumit cerita tentang masa kecilku yang sangat bahagia...
Cuma share aja, hehe.

FiN.

Sehr angenehm, http://www.smileycodes.info


You Might Also Like

2 comments

Subscribe