#1 From Sea to the Mount ; Bali. Menjangan Bukanlah Mimpi yang Terbengkalai

Awal-awal bisa freediving dan memiliki lisensi, secara psikologis normal saja jika aku langsung menggebu-gebu ingin mencoba seluruh destinasi selam bebas di seluruh dunia...eh Indonesia dulu deh, karena biayanya tak kalah besar dengan mengunjungi Maladewa atau Panglao sepertinya. 

Menjangan menjadi salah satu destinasi yang terbersit di kepalaku. Tertarik akan underwater cave dan gua-gua menggemaskan di dasar lautnya. Sepertinya seru, menantang, dan estetik ! Walau aku sedikit keder membaca depth record yang dijelaskan oleh beberapa freediver handal, karena kedalaman gua-gua tersebut di bawah 10 meter, sekitar 12 meter. Mampus lah saya, kemarin pas sertifikasi paling dalam 12 meter kan, dan pernah dapat masukan bahwa jangan memaksakan menyelam di batas kedalaman maksimal yang pernah kamu selami, karena kondisi alam dan tubuh tidak selalu sama.

Menapakkan kaki pertama di Ketapang, Kelurahan paling timur di pulau Jawa dan terkenal dengan pelabuhan penyebrangan feri menuju Gilimanuk, sekaligus menjadi tempat transit bagi para pejalan untuk menikmati sunrise, laut yang cantik ataupun titik aawal menjelajah pegunungan Ijen, Gunung Raung, ataupun savana Baluran. Paket lengkap pokoknya di Ketapang ! Aku menumpang kereta Mutiara Timur dari Stasiun Surabaya Pasar Turi menuju Ketapang, dengan jarak tempuh sekitar 6,5 jam. Untuk penginapan aku memilih lokasi di dekat stasiun dengan jarak sekitar 150 meter saja, dan kupastikan ada warung makan serta minimarket terdekat hehe. Untuk akomodasi mudah saja, tinggal sewa motor per hari 100 ribu rupiah. Didekat penginapan ada pecel pagi enak banget, namanya warung Isun.



Mas Aceng, guide sekaligus kapten kapal Barrameru yang aku tumpangi untuk explorasi di Menjangan. Beliaulah yang akan menjagaku (elah) dan mengambil dokumentasiku selama perjalanan selam bebas ini. Oh iya, aku ambil private trip dari Alam Indonesia dimana pesertanya hanya aku seorang diri. Jadinya bebaslah aku menjelajah sana sini dengan my own pace tanpa gangguan sana-sini.

Saat itu mas Aceng ditemani dengan dua awak kapal lainnya (aku lupa namanya). Saat itu ombak selat Bali rada sinting, tubuhku terhentak sana-sini. Mataku pedas terciprat air garam hingga memerah. Sesaat ketika mengering garam kasar mulai teraba di wajahku. Wah, bagaimana aku bisa menyelam dengan tenang kalau ombaknya seperti ini? Bisa bisa baru dua meter sudah gelagepan.

"Santai saja mbak, ombak selat Bali memang gini. Coba saja kalau sudah sampai di perairan Menjangan. Tenang seperti kolam renang." salah satu awak kapal menenangkanku. Dan ternyata benar saja, ketika sudah mendekat ke pulau Menjangan, ombaknya jauh lebih tenang walau tak seperti kolam renang, dan birunya mulai cerah tak sekelam sebelumnya.

"Jadi mau ke spot mana aja ini? Dikasih 3 pilihan aja," Mas Aceng menawarkan opsi.

"Ngngng...gua..gua. Gua Avatar atau yang gua ada celah-celahnya gitu. Di Kalimantan nggak ada." 

"Ohh ini?" ia menggeser layar ponselku. "Avatar, Coral Tower, dan Underwater cave. Best seller spot itu mbak,"

Aku mengangguk sambil berdebar.

"Kita eksplor pulau Menjangan dulu ya, foto-foto sambil keliling. Kalau beruntung bisa ketemu rusa. Oh iya, jangan lupa ganti wetsuitnya."

Pulau Menjangan termasuk dari Taman Nasional Bali Barat. Saat aku berkunjung, wisatawan tak terlalu padat, tapi airnya jernih sekali dan panas terik tiada duanya.

Ahhh...impianku...

Disana aku hanya mengitari setapak sekitar 300 meter, lalu berfoto di bibir pantainya yang sedikit kotor karena sampah organik berwarna kecoklatan. Lalu berganti dengan wetsuit 3 mm yang baru pertama kupakai di lautan.

"Pertama ke coral tower," Mas Aceng berkata padaku sambil menggaruk telinganya yang bertindik. Perahu motor berhenti tak jauh dari dermaga Menjangan, dan akupun bersiap.

"Ombaknya agak kencang ini." ia menambahkan tanpa sedikitpun menakutiku. Pikiranku sendiri yang gentar. "Yuk kita coba saja."

Karena ombaknya yang lumayan, berkali-kali aku terbatuk menelan air laut yang terasa cadas di tenggorokan. Tenggorokanku perih dan kering, dan tetap mencoba masuk kedalam dengan sedikit susah payah. Kuakui, Mas Aceng memang penyelam handal, karena memang dia warga lokal Watu Dodol spesialis spearfisher dan dive master. Jadi dia bilang no fins pun bukan kendala mayor.

Angkat saya menjadi muridmu, Master Aceng!

"Ayo...finningnya yang bagus, yang rapi jangan seperti kayuh sepeda." ucapnya. Baik juga ia mendadak jadi instrukturku, demi keestetikan konten menurutnya.

Dan beliaupun memang separuh manusia ikan. Kuat banget tahan nafasnya. Sabar menungguku yang banyak ulah dan ragu mau turun kebawah, haha!

Setelah sekitar 45 menit dengan kedalaman maksimal 8 meter dengan visibilitas yang sangat baik eksplorasi di Coral Tower, agenda selanjutnya sebenarnya menuju Avatar Cave, tapi Mas Aceng bilang kalau spot gua-gua underwater masih berombak semua seperti ini. Opsinya main di Sandy Slope dulu sembari menunggu ombak sedikit reda, harapannya seperti itu. Padahal...Sandy Slope kurang menarik karena cuma bergaya centil sambil main pasir menurutku haha😆

Seusai main pasir, kami makan siang sambil berharap ombak menjadi sedikit tenang. Nyatanya tidak, tetap sama seperti tadi. Agak kesal juga, tapi jika aku kesal, maka aku menyalahi pemberian sang maha kuasa. 

"Jadi gimana mbak, mau tetap ke gua-gua atau coral garden aja. Kalau gua-gua ya begini kondisnya. Ombak."

"Ya tetap ke gua-gua aja mas. Mau bagaimana lagi. " Ujarku menguatkan diri.

"Jadi ke?"

"Underwater cave."

Uh, diriku nekat sekali kesana. Kan itu dalam. Bagaimana kalau...bagimana bagaimana...

"Agak ketengah, ombaknya agak kencang, tapi aman. Visibilitasnya bagus dibawah, arusnya tidak ada. Harusnya aman. Memang awalnya kelihatan gelap, tapi dalamnya nggak kok."

"Coba kamu pakai snorkelmu, itu sangat membantu di ombak seperti ini,"

Aku mencoba snorkel ungu yang kebanyakan nganggurnya, sebenarnya enak, namun karena tak terbiasa, air laut tandas masuk ke tenggorokanku malah membuatnya panas dan perih. Aku terbatuk kuat melepeh air asin itu. Mas Aceng geleng-geleng kepala.

"Bisa nggak ya?" kataku gamang dan ragu.

"Gampang aja ini mbaakk....aku no fins bisa. Ayo dicoba aja mbak, sudah sampai sini !" ia menyemangatiku, lalu memberi contoh. Ah, aku memang harus coba !

Percobaan pertama, tak kusangka berhasil lolos dengan kedalaman 12,5 meter tapi dengan sedikit terburu-buru dan waktu selam sekitar 35 detik. Percobaan kedua, ragu-ragu, baru tiga meter aku berusaha naik lagi ke daratan.

"Baguss kok mbak ! Coba lagi ya pelan-pelan."

Tapi...memang tidak semenyeramkan pikiranku. Biasa saja, hanya saja dia bawah kedalaman 10 meter sudah mulai terasa mask squeeze, yaitu kondisi dimana mata terasa seperti tersedot keluar, namun bisa diatasi dengan mask equalize. Percobaan kedua lebih santai, finning rapi dan sempat bergaya estetik dengan memanfaatkan netral bouyancy di kedalaman 10 meter.

"Mau lagi?"

"Sudah sudah mas, menyerah aku dengan ombaknya. Mau meninggoy." 

Mas Aceng ketawa. Kami kembali ke kapal dan bersiap menuju meeting point Grand Watu Dodol. Sepanjang perjalanan ombaknya jangan ditanya, makin gila. Tapi aku suka.

Unesia Drajadispa

No comments: