Tiba-Tiba Harus Berjalan Kembali !

Saturday, April 03, 2021

 "Una mattina, mi sono alzato..."

Kurang lebih penggalan kalimat dalam bahasa Italia itulah yang menjadi penggambaranku saat itu. Terbangun kembali pada pagi hari setelah subuh kurang lebih pukul 07.30 WITA, dan menyalakan ponsel. Puluhan chat WA memberondong masuk.

Alamak, siapa yang mendadak ngefans aku seperti ini?

Tapi nyatanya bukan chat perorangan. Entah mengapa aku diundang tiba-tiba kedalam grup dengan judul 'TRIP' tanpa seorangpun didalamnya yang kukenal. Dengan mata memerah kupaksa membaca pesan-pesan disana.
"Pagi kak Une, maaf kak ini kami undang ke grup Trip anak-anak Loktuan." jelas salah seorang admin grup yang baru saja kukenal lewat grup tersebut. (Loktuan adalah salah satu kelurahan di Bontang).
"Tahu lokasi air terjun km 10? Kata Andra kak Une yang tahu jalannya,"
Fitnah darimana lagi ini? Ah, pasti atas inisiatif Andra yang mengundangku ke dalam grup ini. Kutepuk kepalaku, sial ! Kemarin kan Andra sempat menghubungiku untuk main ke air terjun di Makarti Minggu ini, tapi karena kemarin cukup sibuk, maka pesannya tak seberapa kuhiraukan dan akhirnya terlupakan. 

Andra memanggil.

"Halo?" Kuangkat telepon dan menjawabnya dengan suara serak.
"Ayo," Ajaknya dari seberang. Mataku otomatis menjadi segar. Sudah siap berangkat kah mereka?
"Bentar, bentar ! Aku siap-siap !" Ucapku beranjak tergesa hingga kakiku membentur pintu kamar. Sial, belum packing pula! Yang aku pikirkan saat itu adalah membawa mukena, air, losion penangkal nyamuk, dan tortila isi tuna ala chef dadakan.
"Semalam karena hujan, kita ke kilo 10 saja ya. Kalau ke Makarti perjalanan kesana motoran sudah pasti dua jam. Ditambah pasti becek parah. Kau tahu kah jalan ke kilo 10?" Tanya Andra.
"Nggak, aku belum pernah kesana,"
"Deket aja sih, motoran cuma 20 menit aja. Jam setengah sepuluh lah kamu tunggu di pom bensin kilo enam arah Samarinda. Sekalian si Jangkar dibawa ya."
Oke, setidaknya aku bisa sedikit menghela nafas lega. Setidaknya satu setengah jam untuk bersiap dan memasak tortila tuna dengan lebih layak. 
Tiduran disini, selalu bikin cinta
Motor pink kesayangan kupaksa untuk berpetualang kembali dalam minggu ini. Setelah menjemput Jangkar, selanjutnya kupenuhi kebutuhan utama sang motor agar tak ngambek ditengah jalan.
Tak kusangka, sekitar dua puluh bujangan terlibat dalam perjalanan kali ini. Ya seperti biasa, kalau mengajak banyak pasukan gini, drama mbulet atau molor pasti terlaksana. Gila dah, bocah satu RT ini! Rata-rata mereka berusia 20-30 tahunan, dan aku termasuk sesepuh disini. Dan kamu tahu bagaimana penampilan yang lain? Seperti mau ngemall, pol. Sepatu putih trendy ala korea, tas-tas mini, rambut habis catok, full make up, wangi, dan rapi. Beberapa pakai jaket jeans gaul gitu. Beda sekali dengan penampilanku, Andra, Jangkar, dan beberapa makhluk hutan lainnya yang hanya pakai celana komprang dan belel, sandal jepit, dan muka polos.
"Mereka bajunya bagus-bagus ya," Jangkar berkata setengah minder.
"Iya bagus, tapi bukan pada tempatnya kalau mau kehutan gini," 
Ditambah lagi mereka membawa bekal satu plastik besar berlogo minimarket andalan warga Indonesia. Alhasil setelah mengetahui bahwa untuk menuju lokasi harus trekking terlebih dahulu, mereka sibuk membagi barang bawaannya ke beberapa cowok disana. Sungguh mulia para cowok itu, layak dinobatkan menjadi pahlawan untuk hari ini. Hm, rasanya seperti dejavu, aku pernah melihat pemandangan  huru-hara  logistik seperti ini.
Setelah Andra bertanya pada warga sekitar, kami pun mulai berjalan. Menurut warga ada tiga air terjun mini diatas. Awal berjalan menyusuri sungai dangkal berbatu. Pipa-pipa putih tersambung dari hulu untuk menyalurkan kebutuhan air harian warga setempat. Air sungai yang awalnya jernih, karena kita berjalan disana dan mengaduk-aduk dasarnya hingga keruh.
Beberapa cewek yang tampaknya baru pertama kali masuk hutan berteriak-teriak gelay ala Nissa Sabyan.
"Iiih liciin....kak bentar tungguin nah."
"Uhh....mau pulang aja ah kalo jalannya gini."
Padahal rute yang dilewati cukup seru loh, kok mereka malah pengen pulang? Ini masih belum ada apa-apanya. Kalau banyak lintah makin termehek-mehek kalian.
Rutenya Seru~
Untuk menuju  air terjun pertama, rutenya full rute basah, alias meniti anak sungai berbatu. Air terjun pertama ini pendek, tak seberapa menarik, tidak muat untuk menampung dua puluh orang. Beberapa cewek sibuk rebutan berfoto tanpa kelihatan gendut. Kalau kelihatan gendut, auto fotografer harus bekerja keras untuk menghasilkan foto terbaik selanjutnya.
"Ada lagi sih yang diatas sana," ujar Andra. Beberapa senior mencari jalan menuju air terjun diatasnya.
Kami berjalan keatas. Jalan yang dilalui sangat curam plus licin dan cukup berbahaya apabila terperosok ke tebing air terjun. Tak ayal teriakan ketakutan gelay kembali terdengar.
"Mau pulaaang...~ Aku nggak mau lagi kalau rutenya kayak ginii...~"
Aku terkekeh dalam hati, disamping itu juga harus berkonsentrasi meniti jalur licin pinggir tebing. Takut kualat kalau ngetawain didepan umum.
Setelah itu melewati jalur sedikit becek sebelum kembali ke jalur air. Sandal gunung yang kukenakan penuh lumpur dan makin licin. Tak terbayangkan cewek-cewek dibelakangku yang memakai sepatu putih model ke mall itu.
"Hmm...mampus kau sepatu putih," seringaiku menyeramkan.
Air terjun kedua tampak dibawah jalur yang kami lalui. Ada beberapa lokasi yang sudah dicor untuk instalasi pipa air, sehingga sudah tidak alami. 
Kami beristirahat sejenak di rimbunan pisang milik warga. Tortila isi tuna yang ternyata kulitnya belum matang dengan sempurna terasa nikmat kusantap siang itu. Cewek-cewek yang cukup ribut sepanjang jalur pun kembali ribut saat mengeluarkan bekal mereka yang segambreng. Aku takjub dengan bekal mereka yang dibawakan para cowok-cowok. Bak minimarket berjalan ! Bahkan ada yang membawa puding coklat dalam minicup sebanyak sekitar 30 cup. Coklatnya tumpah dan lengket di cupnya. Ada pula yang membawa bedak dan liptint, sehingga berdandan sekalian di hutan. Yang lain memanggilnya Lisa Blekping, karena makeup di wajahnya yang selalu di touch up.

Aku kebagian puding satu cup. Lumayan pencuci mulut.

Sekitar 45 menit istirahat, kami melanjutkan ke tujuan utama kami, di air terjun ketiga. Jalur basah berbatu kembali ditapaki. Tak jarang kami memanjat bebatuan sebagai tumpuan. Jaraknya tak seberapa jauh, hanya sekira satu kilometer dan akhirnya muncullah air terjun yang menurutku cukup bagus untuk lokasi yang tak jauh dari kota ini. Namun tempat untuk mendirikan tenda maupun memasang hammock hanya terbatas, sehingga untuk menampung dua puluh orang ini dipastikan tidak muat.
Air Terjun yang...tidak teridentifikasi namanya
Air kolamnya yang jernih menjadi keruh setelah mereka berebut berendam dan berfoto disana. Di alam gini paling enak ya tidur setelah puyeng seminggu digempur kerjaan. Hammock kugelar dan tidurlah aku sekira 30 menit. Suasananya sangat sejuk!
Setelah ngemil mie cup dan shalat, kami bersiap untuk pulang. Saat itu pukul 15.30 WITA. Andra mengarahkan kami ke jalur alternatif lainnya. Jalur yang kami lalui tidak full jalur basah seperti saat berangkat, sebagian basah dan kering. Namun banyak tanjakan dan turunan. Hanya beberapa saat berjalan, sekitar lima belas menit, ternyata parkiran motor kami sudah terlihat. Para cewek berteriak kesal karena merasa tertipu dengan ulah Andra yang 'ngerjain rute' saat berangkat, karena memang membutuhkan konsentrasi penuh agar tidak terpeleset saat meniti bebatuan sungai. Aku pun geleng-geleng kepala melihat cewek-cewek ini yang kuat jalan di suasana terik seperti ini tanpa melepas jaketnya sama sekali. Saluto !
Jalur Pulang
Memang, hutan itu selalu menyenangkan. Selelah dan semenyakitkan apapun itu, buktinya cewek-cewek itu nggak menyerah, malah ribut ngajakin masuk hutan lagi di grup TRIP.

Hm, awas aja ya kalau bawel minta pulang !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe