#CAMPING2021 : Kembali ke Pangempang

Thursday, February 11, 2021

 "Panrita Lopi kah besok?" Ajakanku terlontar tiba-tiba melalui pesan singkat dan terkirim kepada Lupi, sobat kempingku. Iseng saja sih, kalau tak terlaksana pun aku bisa ikhlas, karena aku lebih suka kemping di hutan.
"Woi serius?" balas Lupi agak lama kemudian. Sebenarnya rencana ini sudah kami bahas pekan lalu, tapi sayangnya saat itu aku kurang mood untuk melaksanakan kemping.
"Aku gak pernah bercanda loh," 
"Kamu pernah kesana? Nyebrangnya lama nggak sih?" Tanya Lupi super kepo. "Sama siapa saja?" Ia tambah lagi pertanyaannya sebelum sempat aku jawab.
"Pernah kalau ke Pangempang, ke Pantai Mutiara Indah. Ya siapa lagi kalau bukan kita berdua, kamu bawa tenda sendiri" 
"Yakin? Aku ajak temenku disebelah gangmu ya?"
"Lebih baik," tukasku.
"Jauh nggak sih nyebrangnya?"
"Tanya terus, sudah langsung saja kesana ! Aku tahu kok lokasi penyebrangannya !"
"Siap Kanjeng Ratu !"
Sunset Cantik dari Lokasi Kemping Kami
Jadilah, saat itu kami berempat berangkat kemping. Aku, Lupi dan kedua orang temannya yang baru aku kenal, padahal tempat tinggalnya sebelah gangku. Namanya Ivan dan Nur. Lupi sendiri cukup rempong dengan bawaannya, mulai dari nanas, jagung, keju cheddar, agar-agar dan beberapa printilan bahan makanan. Aku cukup takjub dengan semangat dan niatnya. Kerilnya menggembung penuh sesak.
"Gendeng anak ini. Kalah cewek!" 
Lupi meringis. Wajahnya sangat berniat untuk membuka kedai dadakan disana. "Aku pengen bikin dessert agar-agar nanas. Sama jagung susu keju."
"Gendeng." Kata-kata sakti itu terlontar lagi. Lantas aku menawarkan bantuan untuk membawa sebagian perintilannya.
"Nggak kok aku masih bisa bawa." Jawabnya sambil sibuk menata barangnya di motor matic merahnya.
Kami berangkat berempat dengan motor sekitar pukul setengah tiga sore. Aku tetap membawa motor matic pink kesayanganku, perjalanan ini pernah kulakukan ditahun 2016 lalu seorang diri. Perjalanan menuju arah desa Sebuntal Marangkayu dan berakhir di Muara Badak kabupaten Kutai Kartanegara sekitar 1,5 jam. Dan kondisi jalan sudah cukup baik. Beruntunglah saat itu cuaca cerah, walaupun sempat gerimis ringan sekilas di sekitar  Semangkok. Panrita Lopi di Pangempang sendiri sama persis namanya dengan Panrita Lopi di Bulukumba, Sulawesi Selatan. Dan setelah aku cari informasinya kepada penjaga parkir motor disana, Pantai ini dikelola dari hasil investasi warga asli Bulukumba yang bermukim di Muara Badak, sehingga dikelola olehnya dan beberapa karyawan, bukan oleh Dinas Pariwisata. Alhasil masyarakat sekitarpun mendapat berkah tambahan penghasilan dari tempat wisata ini.
Kapal Untuk Menyebrang
Dermaga penyebrangan menuju Panrita Lopi cukup ramai sore itu, karena memang pas hari Sabtu. Pengunjung pun berasal dari kota-kota terdekat dari sana.  Pandemi tak menyurutkan pengunjung yang mulai lelah untuk dirumah saja. Sungguh ramai sekali pantai ini. Tiket penyebrangan pulang pergi dan kemping semalam Rp 40,000, - termasuk air bersih untuk fasilitas MCK. Lama penyebrangan sekitar 15 menit.
Setiba di Panrita Lopi, kami disambut oleh barisan Lorong Cemara, dan tahukah kalian? Pengunjung pantai ramai sesak dan berisik bak pasar tumpah. Ada beberapa klub motor mengadakan family gathering dan kemping. Sempat luruh minat untuk kemping disana hari ini.
"Rame banget, nggak ada tempat lagi, Ne. Gimana?" Tanya Lupi.
"Kita jalan kesana saja, cari tempat yang sepi. Mau cari ketenangan kita ini. Malah jadi stress, belum lagi risiko corona makin besar."
Kami berjalan sekitar 300 meter ke arah utara, ada lokasi yang cukup sepi menurut kami, dan sedikit jauh dari bibir pantai. Ada MCK umum dan warung yang menjajakan snack, minuman, keperluan mandi bahkan penyewaan alat grill disana, jadi tak perlu banyak banyak membawa air minum. 
Lokasi yang kami pilih dibawah pohon cemara, terbuka dan tidak ada yang melakukan kemping selain kami. Ada sisa perapian disana, namun karena tempat pembuangan sampah tak jauh dari tempat kami mendirikan tenda, jadi lalat banyak berseliweran sore itu.
"Dik...mau kemping disini?" Seorang bapak tua menghampiri kami tiba-tiba. Sejenak kami menghentikan aktivitas pendirian tenda. Wah jangan-jangan area terlarang nih.
"Masukknya dari mana?" Tanyanya lagi.
"Emm...Panrita Lopi." Ivan menjawab ragu. 
"Begini Dik, saya pengelola pantai ini. Mohon jaga kebersihannya ya?"
Pengelola Pantai ini? Aku berpikir heran. Memangnya ini bukan Panrita Lopi? 
Beruntunglah kami mendirikan tenda disana. Panorama matahari terbenam sangat indah tertangkap kamera. Sungguh!
Dan sebab penasaran, kami berempat mencoba berjalan menuju ujung pulau Pangempang ini. Sekitar 30 menit kami hampir mencapai ujung pulau, dan memutuskan untuk kembali ke tenda karena hari memasuki gelap. Ada beberapa laguna disana. Dan akhirnya kami tahu, Pulau Pangempang memiliki beberapa pantai yang diolah masing-masing pemiliknya. Seperti model tanah kapling begitulah. Makin keujung, makin kurang pengunjungnya. Sangat sepi dan damai.
Laguna
"Lain kali kalau kita ingin kemping ke pantai sekitar sini saja. Sepi seperti private beach." Lupi memberi ide. Ada beberapa pantai yang kami lewati, seperti pantai Biru, Pantai Mutiara Indah, Pantai Pelangi, Pantai Jingga, Pantai Ceria dan beberapa nama dalam satu garis pantai yang sama, kami saat itu baru menyadari bahwa mendirikan tenda di Pantai Ceria. Yang paling riuh tetap Panrita Lopi, entah kenapa.
Demaga Blue Beach
Saat itu kami hendak mengolah bahan makanan untuk makan malam, dan tiba-tiba hujan turun sederas mungkin sembari dibumbui angin. Kami pontang-panting menyelamatkan alat masak dan bahan makanan ke gazebo terdekat dari tenda kami. Gazebo yang disewakan Rp 100,000 ,- tersebut masih tampias, dan membuat kami basah kuyup sambil memasak ala kadarnya.
"Besok bapaknya bisa-bisa nagih uang ke kita." Godaku iseng. Mereka terbahak pasrah.
Namun hujan tak turun lama. Setelah kami makan malam, hujan berhenti dengan sempurna dan digantikan dengan langit cerah bersama bintang malam. Saat itu aku merasa paling bahagia, kubuka pintu tenda, lantas sedikit kugeser kepalaku keluar sembari telentang menghadap langit. Para cowok sibuk membuat perapian untuk mengusir nyamuk malam. Lampu-lampu dari kapal pembawa batu-bara maupun gas carrier berkelipan dari kejauhan.

Suasana Menjelang Siang

Suasana saat pagi menjelang cukup menyenangkan. Langit bersih, sangat cerah, dan pantai tampak sangat biru. Untuk sarapan, Lupi mendapat giliran untuk memasak hari ini. Agar-agar walet dan beserta jagung kesayangannya ia keluarkan. Sungguh mewah sarapan saat itu walaupun tiada nasi. Oseng-oseng blackpepper, Mie goreng, Agar-agar dan Jagung Susu Keju sebagai pencuci mulut istimewa.

Tak kusangka masakan yang asal-asalan ini lezat juga, haha! Dan beruntunglah saat kami pulang, bapak pengelola Pantai Ceria tak menagihkan gazebonya  kepada kami. Kalau untuk rekreasi keluarga, cocok sekali untuk memilih pulau Pangempang, namun kalau kalian sang pemburu kesunyian, menurutku lokasi ini kurang cocok karena sangat ramai!

Peserta Kerusuhan Hari Itu

You Might Also Like

0 comments

Subscribe