'PERSAMI' di Ranu Regulo

Wednesday, December 02, 2020

Laksana menstruasi yang datangnya setiap bulan, hasrat kemping bulanan pun mencuat tak terbendung. Bulan November ini aku belum melaksanakan kemping sama sekali, dan suasana cuti di Lumajang ini agaknya pas untuk dilepaskannya renjana tersebut. Terlebih lagi aku membawa tenda, sleeping bag, kompor, dan cooking set untuk menunjang kegiatan tersebut selama berada di kampung.
Hafidh. Tiba-tiba aku teringat nama seorang teman yang pernah kuajak untuk naik Penanggungan sekitar enam tahun silam. Sudah lama pula aku tidak berkabar dengannya, terakhir ia bekerja di Gresik, entah kalau sekarang. Mudah-mudahan ia masih punya waktu luang dan berkenan untuk membersamai acara kemping cantik ini.
Kabar membahagiakan pun tiba, tanpa banyak alasan ia mengiyakan ajakanku. Katanya bulan November ini ia sering pulang kampung ke Lumajang, dan ia akan mengajak salah seorang sobat karibnya yang bernama Hamid.
"Tenang, aku punya teman yang siap diajak kapanpun." Bebernya yakin.
Rencana  awal kami memlilih Ranukumbolo untuk destinasi kami. Akupun membuka laman Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) untuk mengetahui persyaratan apa saja yang diperlukan selama era 'New Normal' ini. Darisanalah aku mendapatkan info kuota pendakian ke Ranukumbolo pada tanggal yang kami maksud sisa dua orang alias sudah penuh. Karena dari TNBTS mensyaratkan pendaki minimal tiga orang, sehingga sisa slot dua orang itu sudah tidak bisa diisi maupun diganggu gugat.
"Oh penuh ya? kita ke Ranu Regulo saja kalo gitu," Opsi kedua pun dilontarkan Hafidh. Karena memang aku sudah kebelet, ya aku mengiyakan saja. Apalagi aku belum pernah kesana dan menurut info jarak tempuh hanya sekitar lima belas menit jalan kaki dan tiket masuk gratis.

DRAMA DI POS TNBTS
Dua minggu pasca perbincangan melalui pesan singkat itu, aku, Hafidh, dan Hamit  sudah bersiap dengan perlengkapan masing-masing untuk menuju Ranupane yang berjarak sekitar 90 menit dari pusat kota Lumajang. Kendaraan kami saat itu adalah motor matic dan motor bebek milik Hafidh dengan barang bawaan yang sangat banyak.
"Kalian bawa apa saja sih? Kayak cewek aja bawaannya, banyak dan ribet! Gitu mau nambah bawa panggangan jagung, bisa buka lapak kita diatas," Omelku khas ibu-ibu pada cowok-cowok yang ternyata kuketahui membawa jagung beserta bumbunya dan arang untuk dibakar.
"Maklumlah Ne, kita kan kurang piknik. Terakhir kami kemping tahun lalu di B29, itupun kemping bunuh diri. Nggak bawa tenda disuhu sedingin itu." Ujar Hafidh.
"Kalo sekarang kita kan kemping cantik. Well prepared." Tambahnya.
Sekira pukul sembilan pagi kami menuju Ranupani. Pemandangan menuju ke Ranupani masih tetap indah dan merindukan. Hingga akhirnya Hafidh melambatkan laju motornya di Pos TNBTS. Firasatku tidak enak, sepertinya akan ditanyai hal yang aneh.
"Mau kemana?" Tanya penjaga TNBTS yang tampak masih bocah kepada kami.
"Kemping," Jawab Hafidh pelan.
"Kemana?"
"Ranu Regulo."
"Bawa surat sehat nggak?"
Tanyanya dengan wajah datar.
Aku dan Hafidh melirik sekilas. Kita kan nggak bawa surat sehat!
"Wajib ya?" tanyaku.
"Kan sudah disosialisasikan sejak tiga bulan lalu, mbaknya kurang apdet kayaknya." Sindirnya dengan wajah yang tetap datar. "Kalau cuma main saja nggak apa-apa tanpa surat, tapi kalau sampai nginap, wajib surat sehat ya. Kalian turun saja ke Senduro cari Puskesmas atau praktik dokter umum."
Sejauh itu? Pikirku kesal. 
"Dekat saja, cuma lima menit turun ke Senduro." Jawabnya asal. "Daripada kalian nggak jadi ngecamp kalian."
Hafidh tahu wajahku sudah bersiap-siap untuk pasang kuda-kuda nonjok. Ia menenangkanku. "Sudahlah, kita kesini mau camping, senang-senang. Kita turun saja, nggak usah cari musuh."
Plegmatis sekali jawabannya. Tapi aku tetap tak terima, aku kembali menanyakan ke penjaga tersebut.
"Itu yang mobil nggak kamu berhentikan?"
"Itu nggak kemping mbak. Lewat saja."
"Tahu darimana?" cecarku tegas gemas melihat ke-sok tahuannya. Bisa saja mereka menyimpan peralatannya didalam mobil dan beralasan hanya menuju Tumpang.
"Ya tahu. Yang kami cegah adalah pesepeda motor,"
Siapa yang Tega Melewatkan Suasana Seperti Ini ?
Oh, dari sini aku tahu. Kesadaran penjaga TNBTS masih kurang. Kendaraan yang berlalu lalang belum diperiksa secara mendetail. Coba kalau kami tancap gas pasti mereka juga nggak ambil pusing, atau juga pura-pura bego naik keatas dengan menggunakan mobil dengan alasan main. 
"Namanya juga protokol kesehatan mbak. Ini saya juga disuruh bos saya."
"Protokol kesehatan gimana maksudnya Mas? Kamu sendiri nggak pake masker. Lucu nggak?" Balasku setelah melihat tulisan wajib masker dan cuci tangan di pos TNBTS.
"Iya-iya mbak, maskerku masih dicuci. Nanti kupakai." Ujarnya ngeles dan males-malesan.
Dan akhirnya kami bertiga turun kembali ke Senduro mencari praktik dokter umum untuk pengurusan surat sehat. Untunglah kami berhasil mendapatkannya, walau awalnya kami mendapati tempat praktik tersebut tutup, dan akhirnya aku menelponnya. 
Sekitar satu jam waktu terbuang untuk pengurusan surat tersebut. Syukurlah kami berangkat pagi, jadi sisa waktu untuk ke Ranu Regulo masih banyak, sehingga kedongkolan kami pun bisa mereda.

DAN KEMBALI CERIA !
Panorama seperti ini yang acapkali disetarakan dengan Ranu Kumbolo
Tiba di Ranupani saat tengah hari. Masih ada waktu ibadah dan makan siang. Kejadian tak mengenakkan tadipun sudah terlupakan bersama dengan rawon untuk santap siang.  Trekking menuju Ranu Regulo pun sangat dekat, landai selama sepuluh menit dimulai dari sebelah pos pendakian Ranu Pani. Ranu Regulo merupakan salah satu danau yang terletak di TNBTS dengan ketinggian 2100 mdpl. Acap kali disebut adiknya Ranu Kumbolo karena luasan danau yang lebih kecil dan ada dua bukit mengelilingi danau. Sangat indah dan lebih tenang. Untuk tempat mendirikan tenda kami mencari tempat yang agak jauh dari pintu masuk agar lebih sepi dan privat.
Kami pergi pada bulan November, saat musim penghujan, maka suhu tak terlalu dingin walaupun kami sempat diterjang hujan deras pada sore harinya sekitar satu jam. Setelahnya hanya hujan rintik-rintik disertai guntur dan kilatan petir. Permukaan danau diselubungi kabut lembut nan syahdu pasca diguyur hujan. Pemandangan yang benar-benar aku cari dan rindukan selama ini.
Syahdu
Obrolan demi obrolan pun mengalir diantara aku, Hafidh dan Hamit hingga malam menjelang. Tema apapun kami bahas saat itu mulai obrolan yang ringan, berat, hingga rencana masa depan. Hamitpun tak ketinggalan melontarkan peribahasa dan kiasan andalannya, menurut Hafidh, temannya itu jadi sering melontarkan kiasan karena pacarnya anak jurusan Sastra Indonesia.
Senja, Am Abend
Dingin menusuk pun mulai terasa saat malam kian merambat. Rasa hendak kencing dan kentut antara kami pun sering tak tertahankan. Melodi dat dut dat dut pun saling bersahutan hingga menjelang tidur. Tak ayalpun ribut karena aroma busuk sang kentut.

KEMBALI KE RUMAH
"Jam setengah sembilanlah kita balik ke parkiran motor. Aku harus segera balik ke Gresik, besok kerja." ujar Hafidh.
"Iya, jangan sampai fatigue." Ujarku.
"Kayaknya ini bakalan jadi kemping terakhir karena Desember aku mau nikah,"
"Ya istrimu ajak juga lah ! Masa aku harus kehilangan temen kemping di Lumajang." jawabku
"Dia nggak suka."
"Baiklah. Solo camping akan dimulai!" Ujarku penuh semangat karena lega akhirnya pada bulan ini berhasil menginap di alam bebas kembali. Namun bukan di Kalimantan Timur, tapi di Jawa Timur.
Terima kasih atas Perkemahan Sabtu Minggu ini, dan sampai bersua kembali, Hafidh dan Hamit !

You Might Also Like

0 comments

Subscribe