Ketika Paris Tak Seromantis Harapanmu

Tuesday, June 02, 2020

Paris romantis? Romantis mbahmu! Banyak copet, pesing, kotor. Kalau kalian-kalian yang ikut tur pakai bus pariwisata atau naik Hop On Hop Off Bus, ya mungkin 'hanya' melihat Paris yang indah dan bersih, karena memang jalur yang dilewati adalah jalur wisatawan. Tapi kalau kamu coba naik kendaraan umum (metro), kaget juga sih, melihat beberapa kondisi stasiun metro yang pesing, banyak gelandangan, pengemis, hingga kotoran manusia yang tercecer dan sudah dikerumuni lalat hijau. Hyueek...
Ditambah lagi mengelilingi Paris seorang diri, jadi sisi 'Romantis' seperti yang dibilang banyak orang tidak terbukti, hiks... (usap muka di bantal kucing)
Sampai di Paris jam 6 pagi, naik bus Eurolines dari terminal Duivendrecht di Amsterdam, waktu tempuh sekitar 8 jam, tapi karena malam hari, jadi saya tertidur pulas jadi nggak tahu jalanan mana saja yang dilewati.
Karena waktu sampai masih pagi, maka kami menuju hotel di dekat stasiun metro Gallieni untuk titip koper dan jalan-jalan. Tapi untunglah pihak hotel berbaik hati, pagi itu juga kami sudah diperbolehkan check in, jadi bisa mandi dan sarapan dulu :)
Untuk pembelian tiket metro, cukup mudah, seperti di Amsterdam kemarin. Cukup melakukan pembelian di mesin setiap stasiun metro. Untuk tiket yang dibeli, kalau nggak salah ada yang sekali beli dapat 10 lembar tiket, dan akan divalidasi sebelum naik metro. Jangan khawatir, mesin-mesin pembelian tiket sudah dilengkapi dengan bahasa Inggris kok! 

Dari stasiun Gallieni, kami menuju Trocadero dengan satu kali pindah metro (transit di Republique). Jalur metro cukup rumit untuk Paris, tapi jangan khawatir, ada peta jalur metro di Paris mudah dipahami dan kalau nggak mau susah cukup unduh aplikasi Next Stop Paris di gawai anda, tinggal ketik dari mana mau kemana, langsung ketahuan kita harus naik metro nomor berapa, transit di stasiun mana, dan jadwal kedatangan metro. Terlebih lagi dapat digunakan dalam keadaan luring (luar jaringan/offline), jadi sangat sangat memudahkan ! Dan serunya lagi, jaringan metro di Paris sudah menjangkau semua destinasi wisata. 
Tujuan pertama di Paris adalah Eiffel, hanya muter sebentar lalu ke Arc de Triomph, lanjut ke Louvre dan Notre Dame. Sebentar-sebentar saja, karena hari itu hanya perkenalan transportasi publik saja, keesokan harinya baru kita dipersilakan eksplorasi sesuai minat.

Menyusuri gang-gang kecil di Saint Michel di Dekat Notre Dame juga mengasyikkan. Kebanyakan dipenuhi dengan kafe-kafe kecil, restoran, dan penjaja souvenir. Banyak warung crepes disini, saya sempat mencoba satu yang topping nutella dan keju seharga 3 Euro dan gede banget. Crepes disini beda dengan di Indonesia, sangat tebal, nggak kering dan legit!
Jajan Dulu
Saint Michel juga banyak penjual kebab, tapi insting saya mengatakan kebab itu jangan dibeli, karena bukan kebab halal dan penjualnya pun tampaknya berasal dari Yunani yang kebanyakan menggunakan daging babi. Tahu darimana? Tahu dari beberapa aksara Yunani yang digunakan di daftar menunya. Insting saja sih.
Di Paris, banyak imigran kulit hitam. Kenapa? Karena jelas, negara mereka eks Jajahan Perancis, dan akhirnya mengadu nasib di tempat penjajahnya. Kebanyakan dari mereka bekerja sebagai cleaning service, penjual souvenir keliling, jarang ditemui kerja kantoran. (sepengamatan saya)
Lalu fakta Paris banyak copet? itu benar. Saya sempat mempelajari modus copet kampret di Paris. Kebanyakan dilakukan oleh warga imigran dari Balkan, seperti Albania, dll. Jarang yang warga Paris asli. Jadi modusnya adalah ada sekumpulan cewek kulit putih, cantik, usia belasan tahun, mengaku dari organisasi kemanusiaan dunia menyodorkan kardus sumbangan kearahku sambil berkata, "Do you speak English?" Tentu saja saya menggeleng, ingat pesan mbak Tita akan komplotan pencopet cabe-cabean di Paris. Tentu saja, kalau kita terjebak ngobrol sama mereka, komplotan yang lain akan merogoh-rogoh tas kita dan mengambil barang berharga. Makanya! Paspor dan kartu kredit selalu letakkan menempel dengan badan ya! Mending kita cuek banget daripada ngobrol sama komplotan pencopet kiriman dari negara-negara Balkan tersebut.
Semoga kisah diatas bisa sedikit bermanfaat bagi teman-teman yang mau jalan ke Paris :)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe