Membangunkan Nyali Om Une di Ijen Enduro 2019

Tuesday, November 19, 2019

Aku mengunjungi Ijen kembali setelah empat tahun silam semenjak cuti perdanaku di tahun 2015. Kesempatan kali ini aku pergunakan untuk race. Kalau sebelumnya aku memilih hiking, tapi untuk saat ini orientasiku adalah sepeda dan race. Ijen Enduro ini merupakan salah satu Asian Enduro Warm Up Series, dari namanya saja sudah sangat menggoda untuk dicoba. ASIAN ENDURO ini mameennn...

Karena memang aku kenal sama ketua penyelenggaranya (teman saat Induro 3rd Series di KTH Bike Park) jadinya sering aku tanya-tanyain. Treknya 5 SS semuanya full di Kawah Wurung. Sempat juga aku melakukan wawancara singkat dengan mantan peserta di tahun 2018, Mas Jaka, temen gowes di Lumajang.
"Curam mbak, batu-batuan seperti lava membeku." Urainya.
"Debu nggak mas?" 
"Nggak debu kok mbak, cuma puanasss..."
"Kira-kira dengan skill-ku yang apa adanya ini aman aja nggak mas?"
"Sampeyan iki wes wani, skill banget. Aman lah mbaaaakkk...hahaha..." jawab mas Jaka sambil terkekeh.

Rabu, 2 Oktober 2019
Bandara Banyuwangi
Hari keberangkatanku pun tiba. Karena venue di Ijen, Bondowoso, maka aku memilih penerbangan  siang dari Balikpapan ke Banyuwangi dengan pesawat Citilink. Kebetulan sekali kan, Citilink  dan akupun member Citisport. Sempat sedikit mengalami tunda hanya sekitar 10 menit (ya, setelah kami masuk pesawat dan dipersilakan keluar sebentar) tetapi penerbangan berjalan dengan lancar sampai akhirnya mendarat di Bandara Blimbingsari, Banyuwangi. Bandaranya sangat sangat sepi. Hanya penerbangan dari Balikpapan yang landing saat itu.
Dan lanjut perjalanan kearah Sempol selama kurang lebih 2 jam, saat itu aku menginap di Arabica Homestay, karena menurut info disitulah penginapan terdekat menuju venue.  Untuk official seksi transportasi adalah ibu, jadi aku dijemput ibu di Blimbingsari untuk dianterin ke Sempol. Yeaaayyy...!

Jumat, 4 Oktober 2019
Panorama selama race seperti ini, nggak bisa berhenti berfoto
Sudah dua hari aku berlatih di trek Kawah Wurung. Berhubung musim kemarau, jadi angin cukup kencang dan agak berdebu. Udara dingin dan kering dengan ketinggian sekitar 1660 meter diatas permukaan air laut. Dari sini, tampak kawah Ijen yang senantiasa mengepulkan asap belerangnya. Sangat indah.
Terlebih lagi di race kali ini... aku sering berkomunikasi dengan cowok yang...istilahnya aku mulai sayang sama dia. Lewat layanan video call, pesan singkat maupun telepon...semuanya berisi pesan untuk menyemangatiku dan harapan agar semoga semuanya baik-baik saja.
Ya, dia adalah bunga matahariku. Seseorang yang selalu bersemangat untuk menyemangatiku.
Trek SS2

Kelihatan Kawah Ijen
Oh ya, penasaran kan dengan treknya? Ada 5 SS, setiap SS kurang lebih 1-2 km dengan elevasi yang cukup curam dan seram, ada bebatuan yang cukup melelahkan lengan, dan turunan pasir yang sempat membuatku jatuh bebas karena overspeed. Full menuruni bukit semua dan membuat gemetar. Untuk LS nya bagaimana? Ya jelas menaiki puncak Kawah Wurung dong, naik 5 kali dan turun 5 kali. Lumayan mengencangkan betis. Sekitar 2000 kkal sukses terbakar hari itu.

Sabtu, 5 Oktober 2019
Registrasi dan aktivasi transponder

Prologue, seeding run. Total peserta sekitar 100 orang yang mendaftar dari seluruh Indonesia, dan yang ikut prologue 80 orang. Prologue dimulai pukul dua siang dan seperti biasa sebelumnya bisa registrasi dengan mengaktifkan transponder dan mengambil race plate masing-masing.
 Ceweknya berapa? Hanya 5 yang mendaftar. Yang ikut prologue hanya 3 cewek, salah satunya mbak Kusmawati Yazid, atlit XC nasional. Lumayan ya, sedikit banyak dapat ilmu dari beliau, hehe.
Untuk prologue di SS 3, SS yang paling panjaaang sekitar 2 km. Aku menempuhnya dengan waktu 2 menit. Masuk di wave 4 dong, alias peserta yang ikut prologue dengan waktu paling lambat. Ada 2 peserta yang crash dan dilarikan ke puskemas terdekat.

Minggu, 6 Oktober 2019
Race day. Pagi harinya perutku sempat mules. Ternyata diare, mungkin gara-gara terlalu tegang atau kedinginan. Kuabaikan aja setelah setoran pertama. Selama race 5 SS dan 5 LS itu nggak ada masalah sama sekali. LS2 agak terseok-seok dan setengah mati sengsara dorong sepedanya bersama para peserta yang lain. Jatuh nggak, semuanya lancar. Sempat jatuh sekali tapi sudah diluar SS 2 gara-gara overspeed dan didepannya ternyata ada semacam jurang. Cukup sakit dan membuat bengkak sehingga aku tak bisa shalat berdiri seminggu. Alhamdulillah setelah istirahat sebentar masih bisa lanjut race walaupun meringis-ringis menahan sakit di tungkai kaki.
Om Une banyak gaya, padahal juga pas diare
Foto bersama Teh Kusma. Ini atlit sungguhan
Start LS 1 sekitar pukul 09.30 WIB, selesai SS 5 sekitar pukul 13.00 WIB. Tapi entah mengapa dalam race kali ini rasanya aku menjadi sedikit percaya diri karena belajar dari kekurangan race sebelumnya. Alhamdulillah, aku mendapatkan juara ke 2 dan fresh money 3 juta rupiah dari 4 peserta wanita kelas women open. Salah satu peserta berhalangan hadir, jadi hanya ada 4 peserta wanita.
Alhamdulillah
Print Out Race Result

Malamnya aku langsung kembali ke Surabaya, sekitar 6 jam dengan tubuh luar biasa lelah. Aku dijemput bapak sama ibu lagi, my dearest official deh pokoknya di race yang luar biasa ini karena bisa ditemenin sama kedua orang tua. Kamu tahu? Ternyata aku benar-benar diare, bukan gara-gara gugup sebelum lomba. Alhasil selama penerbangan Senin paginya perutku bergejolak terus-terusan minta 'dikeluarkan'.

Sampai jumpa di race musim yang akan datang !

*) Terima kasih banyak MTB Indonesia Squad yang telah banyak membantu akomodasi selama race

You Might Also Like

0 comments

Subscribe