#2 Om Une Racing : Aksi Gedebak-Gedebuk Pun Dimulai...

Friday, July 19, 2019


 "Aku mengikuti gelaran acara ini dengan berbagai tujuan, tentu saja yang utama adalah keselamatan, podium hanyalah bonus bagi peserta yang berhak."


Tujuan lain yang ingin aku peroleh :
1. Pengalaman dan serba-serbi race yang berharga;
2. Teman-teman baru dari berbagai kota dan latar belakang;
3. Mengukur kemampuan diri, sejauh apa aku bisa melalui kompetisi enduro ini yang infonya sangat menguras fisik;
4. Mampu berpikir cepat ketika di trek aku menemukan masalah pada sepeda maupun rider, apa yang harus aku lakukan selanjutnya;
5. Membiasakan diri agar tidak mengeluh

"Pagi mbak, sudah siap latihannya?" Pagi-pagi pukul 06.30 WIB Kang Akong, marshall sekaligus mekanik yang aku kenal mengirim pesan kepadaku. Iya, hari Jumat ini akan menjadi hari latihan pertamaku di trek KTH.
"Siaap Kang, hehe." Balasku sambil menyiapkan sepeda dan segala apparel-nya. Kami menuju titik start KTH dengan cara 'ngompreng' alias numpang kendaraan bak terbuka yang melintas di sepanjang jalan raya Puncak. Pertama kita ngompreng dapat truk sayur, yang kedua truk pasir, per orang bayar lima belas ribu rupiah sekali ngompreng. Selebihnya kita naik ke titik start KTH LB (Warung Kudil) dengan cara pedaling alias mancal nanjak sejauh kurang lebih 1,4 km melalui jalanan perkebunan teh yang berbatu ditambah dorong sepeda dengan medan super terjal yang sangat menguras tenaga.
Latihan pertama aku lalui dengan lancar karena hari masih pagi dan tenaga masih bagus. Trek masih terhitung enak karena masih belum banyak dilalui sepeda. Aku melaluinya tanpa jatuh karena masih pelan dan menghafal trek, jadi sering berhenti. Untuk finish KTH LB di venue Citamiang, tipikal treknya sangat teknikal dan menakutkan, harus ekstra hati-hati. Banyak root section dan rock garden yang cukup bikin pegel tangan. Ada juga jembatan puspa yang legendaris, aku sempat sekali hard crash di jembatan puspa saat latihan yang kedua kali, rasanya tubuh kayak diparut, dan sempat tidak bisa bangun karena rasa sakit yang teramat sangat. Aku pikir tidak akan bisa melanjutkan race dihari selanjutnya, tetapi Allah masih memberiku kesempatan selamat. Alhamdulillah.
Merenung di Jembatan Puspa, almost killing me

Untuk speed di KTH LB, hanya beberapa lokasi saja yang dapat speed nya, selebihnya memasuki trek yang teknikal aku benar-benar pelan, ya sebenarnya bisa cepat, asal kuda-kudanya harus kuat, sedangkan pundakku udah mulai lemas dihajar obstacle yang beraneka rupanya... *efek pegang handelbar Sabtu Minggu aja dan nggak pernah latihan upper body
Jembatan Puspa awal coba lolos, ya aku pikir lebih menyeramkan di Pacet dan Gunung RCTI Samarinda steep slope nya, dan ternyata run kedua aku lepas kendali, hingga akhirnya steep slope jembatan Puspa ini benar-benar tidak berhasil aku lalui lagi saat seeding run/prologue maupun final run. Pikirku lebih baik dituntun saja sepeda, daripada jatuh dan menghabiskan lebih banyak waktu, mental sudah hilang.
Jadi untuk trek KTH LB ada dua pe er yang belum terselesaikan, rock garden dengan batu yang super besar dimana aku selalu hilang keseimbangan lalu terguling dan steep slope Puspa yang sempat hard crash bagai terparut disana.
KTH OG, Pintu Masuk SS2
Setelah itu lanjut ke KTH OG dan OLAG untuk menghafal trek. Ya sama naiknya harus pedaling terlebih dahulu menghadapi tanjakan berbatu. OG dan OLAG tidak terlalu teknikal, cukup banyak pedaling dan jalannya sempit. Mudah untuk dilalui, tapi untuk SS3 (KTH OG) banyak switchback yang sulit dilalui bagiku.

Finish SS2, Sungai Tengah
Itu baru hari pertama, hari kedua Sabtu, 13 Juli adalah waktunya prologue saat siang hari. Pagi hari hampir semua peserta berlatih di KTH LB (SS1) yang digunakan untuk prologue. Sedangkan aku lebih memilih ngeluyur ke New Ra Bike Park dengan dalih menenangkan diri.
"Aih, senang-senang dulu kang, biar gak tegang pas prologue ntar." Kataku sambil senyum-senyum.
Menuju New Ra (sebelumnya aku memilih untuk mengunjungi puncak pemancar telkom) pun harus melalui LS (Liaison Stage) alias nanjak ampun-ampunan di jalan aspal, ya maklum karena kami tidak ada kendaraan loading. Trek New Ra pun tergolong menyenangkan dan tidak mengerikan seperti KTH LB, hahaha.
Sesi Melarikan Diri
Siang harinya pun prologue. Aku pun ngompreng lagi bersama om-om yang baru aku kenal bahkan satu omprengan sama atlit nasional (karena Kang Akong yang non peserta tidak boleh masuk trek) jadinya dapat beberapa kenalan baru hasil dari sok akrabku.
Saat prologue, aku melalui rock garden yang sempat menjadi momok menakutkan bagiku dengan percaya diri sambil mengingat teknik yang diberikan Kang Akong. Ya nyali boleh dapat, tapi keraguan itu masih ada, alhasil akupun jatuh dengan sedikit teriak, lalu mencoba berdiri dengan susah payah dan menahan sakit, eh ternyata handlebar sepedaku terputar hampir 180 derajat :(
Panik, aku mencari tempat yang sedikit luas untuk mencari cara membenarkan handlebar walaupun sebelumnya belum pernah. Huuuftt...tarik nafas dalam, lalu mencari mana yang harus dikendorin buat meluruskan handlebar.
Untung saja aku bawa kunci L set, dengan gemetar aku mengendorkan baut stem, lalu mencoba meluruskan handlebar. Alhamdulillah bisa, dan aku kencangkan dengan senyum-senyum bahagia, akhirnya bisa juga kulakukan sendiri.
Hanya sekitar 20 meter berjalan, aku terpelating dan jatuh lagi sebab handlebar kurang kecang, jatuh kekiri, hampir masuk jurang tapi syukurlah masih tertahan batang-batang salak kering yang berduri. Paha kanan tertancap duri, susah payah aku berdiri dan ada beberapa peserta dibelakang membantu.
"Mbak...mbak gak apa-apa?" 
"Engg...aman," Jawabku sambil melirik handlebar. Aduh, miring lagi :(
"Handlebarku miring..barusan kubenerin dan miring lagi," Seruku lirih. Dan akhirnya mereka membantuku mengencangkan dan meluruskan handlebar.
"Aman mbak...gak apa-apa. Tenaga cewek beda emang sama cowok, wajar kalo sudah dikira kencang nih."
Warung Para Komunitas Goweser Kalau Ke Puncak. Wajib Mampir
Aku melanjutkan prologue kembali dengan tangan yang terlanjur makin gemetar. Beberapa obstacle yang harusnya bisa dilalui terasa sangat menakutkan, dan akhirnya aku tuntun saja dengan sangat perlahan sambil menahan rasa sakit di paha akibat tusukan duri batang tanaman salak.

bersambung...........

You Might Also Like

0 comments

Subscribe