#1 Om Une Racing : Menguatkan Hati Untuk Ikut Indonesia Enduro Championship Seri ke 4

Friday, July 19, 2019

P R O L O G U E

"Kalau boleh tahu, kamu suka sepedaan mulai kapan sih, Ne?" tanya salah seorang peserta InduroCS kepadaku.
"Kalau sepedaan sih sukanya mulai SD, pas awal bisa naik sepeda aku langsung suka banget. Karena menurutku bisa naik sepeda itu kejaiban. Bagaimana bisa benda yang hanya memiliki dua roda bisa berdiri dan berjalan. Iya, itu hanya pikiran masa kanak-kanakku yang belum paham tentang teori-teori fisika, jadi menganggap hal itu adalah luar biasa. Dan pula aku belajar naik sepeda itu cukup lama, sekitar satu tahun dan penuh perjuangan," Jelasku mengenang masa lalu.
"Maka dari itu aku suka sepeda benar-benar dari hati, jadi setengah mati."
"Setengah mati gimana?" tanyanya dengan dahi mengerenyit.
"Walaupun acara sepeda jauh dari tempat domisili dan memerlukan biaya yang besar, aku tetap memberanikan diri untuk datang kendati hanya seorang diri. Ini impian sejak tahun lalu, dan di tahun ini aku baru mendapatkan nyali itu..."
"Woah, salut bagimu, Mbak Une."
Citamiang, venue Induro ke 4
Itulah sedikit kisah yang melatarbelakangi diriku untuk mengikuti acara balapan sepeda gunung tahun ini. Tahun lalu mungkin hanya sebatas angan-angan kosong saja, tapi tahun ini, TIDAK, benar-benar tidak.
Sebenarnya rencanaku untuk mengikuti gelaran Indonesia Enduro ini sejak bulan lalu, seri ke tiga di Bambooland, Yogyakarta (Juni 2019) tapi berhubung saya pekerja dan waktu cuti juga diatur atasan, ya akhirnya saya terima mundur dan mengikhlaskan sejumlah uang melayang. Diambil sisi positifnya saja, mungkin lebih butuh banyak istirahat mengingat sebulan yang lalu sempat rawat inap hampir satu minggu gara-gara demam tifoid.
Saat melakukan pendaftaran, saya melakukan tanpa tedeng aling-aling. Isi form daring dan transfer pendaftaran senilai Rp 450,000,- (yang harusnya Rp 350,000 ,- karena lewat masa early bird). Setelah itu pikiran-pikiran seram mulai menghantui saya, bagaimana kalau seperti ini atau seperti itu, tapi semuanya akhirnya berhasil kuselesaikan sendiri.
Seorang Gadis Ditemukan Membawa Kardus Raksasa Kesana Kemari Tanpa Porter
Hari keberangkatan pun tiba, tools sepeda yang kubawa cuma kunci L, stanchion lube, ban dalam, minyak rantai nggak aku bawa karena pengalaman tumpah, ya maklum cewek bawa tools seadanya. Penerbangan tanggal 11 Juli dari Balikpapan menuju Jakarta dengan membawa kardus sepeda raksasa. Orang-orang di bandara pun terheran-heran dan mengarahkan seluruh pandangannya terhadapku, mungkin pikirnya, "Ini cewek kecil bawaannya segede lemari sendirian pula? apa kuat bawanya?"
Dan tentu saja aku sudah biasa dengan hal itu. Beberapa cowok turut membantuku yang kepayahan menaikkan kardus raksasa tersebut kedalam x-ray maupun untuk ditimbang bagasi.

"Seseorang pun bisa dibilang kuat tak hanya bisa menaklukkan trek dengan sempurna, tetapi juga dapat mempersiapkan segala sesuatunya dan menyelesaikan masalah yang sekiranya terjadi sendirian."

Iya, sebelum keberangkatan pun aku mencari informasi semuanya tentang akses ke Puncak kepada semua teman, termasuk masalah fasilitas kesehatan terdekat yang bekerja sama dengan perusahaan apabila terjadi kecelakaan yang tidak diharapkan terhadapku, walaupun selama dua hari itu seluruh peserta dilindungi oleh asuransi. Mekanik, marshall, informasi tentang trek KTH benar-benar aku cari informasinya dari rekan-rekan. Aku usahakan untuk well prepared, karena memang sendirian.

Sesampainya di bandara Soekarno Hatta, aku langsung mencari bus Damri jurusan Bogor, alhamdulillah kardus raksasaku masuk kedalam bagasi bus. Bus tersebut turun di Botani Square, lalu lanjut ke Puncak dengan minta pertolongan pak RT di daerah Venue Citamiang (sebelumnya saya memang mencari informasi melalui panitia terkait transportasi dan akomodasi selama disana).
Bike Camp, bobo Sama Sepeda
Perjalanan menuju Puncak, cukup diwarnai kemacetan yang melelahkan karena memang masih saat liburan sekolah, sehingga menghabiskan waktu sekitar 2,5 jam. Dan sesampainya di Citamiang saya disambut dengan Pak Dedi, dibantu mengangkat barang bawaan, termasuk kardus raksasaku. Untuk menginap, aku memilih untuk di tenda saja biar kesannya lebih seru. (uraian venue dan penginapan bisa dibaca di link )
"Nanti kalau butuh apa-apa, hubungin kang Riki aja yah teh," Katanya.
Dan, suasana di Puncak sangat dingin bagiku. Air terasa dingin seperti air es, dan aku memutuskan untuk mandi sehari cukup satu kali saja saat sore. Nggak kuat dengan dinginnya.

Malam hari, waktunya assembling dan resetting sepedaku, serta memastikan seluruh sepedaku dalam kondisi yang prima. Tak hanya itu juga, aku sedikit belajar tentang mekanik dan reparasi sepeda ringan, siapa tahu di tengah trek sepedaku mengalami sesuatu, siapa lagi yang bisa menolongku disaat semua peserta sedang fokus balapan?

bersambung......

You Might Also Like

0 comments

Subscribe