#3 Senyuman di Rusia : Dua Derajat Celcius

Monday, December 24, 2018

5 Oktober 2018
Pagi di musim gugur pertama dalam seumur hidupku. Dingin nggak main-main. Orang-orang diluar berjalan cepat dengan menangkupkan jaketnya rapat-rapat. Suhu di ponsel menunjukkan dua derajat celcius. Untuk hari pertama ini adalah belajar membaca peta metro Moskow yang terkenal rumit dan menuju ke Red Square.
Ada pemandangan unik di Moskow ini. Hampir semua pekerja yang tergolong 'kasar' kebanyakan dari suku Kaukasus dan bangsa Asia Tengah (negara yang berakhiran -tan -tan, seperti Uzbekistan, Tajikistan, dll). Sebut saja seperti cleaning service, penjaga toko, pelayan, tukang sapu, tukang bangunan, dll. Kuamati para pekerja kantoran yang berlalu lalang di sekitar Paveletskaya Ploschad tampaknya bangsa Rusia asli. Berdasar info yang kudapat, untuk melamar kerja di Rusia mensyaratkan untuk lancar berbahasa Rusia, dan tentu saja bangsa pecahan Uni Soviet lancar jaya berbahasa dan menulis dalam bahasa Rusia. Satu lagi yang menarik perhatianku, wajah suku Asia Tengah yang berakhiran -tan -tan itu mirip seperti blasteran China dan Rusia, rambutnya hitam, namun berparas Rusia, dan tentu saja banyak yang muslim. Unik sekali!
Kelihatan terik, tapi dinginnya menggigit
Oh ya, untuk menuju ke Red Square bisa naik metro stop di Teatral'naya. Sebenarnya cara naik metro tak berbeda dengan negara lainnya, tinggal mental dan nyali saja, hehe. Apalagi di Moskow, dimana metro adalah moda transportasi andalan dan kesayangan warga Moskow, jadi everytime is rush hour. Rame dan sesak!
Beruntung sekali, di Moskow tampaknya sudah melek turis. Dimana-mana sudah tertulis aksara latin untuk tujuan tempat wisata maupun stasiun yang dituju. Dan infonya itu baru ada ketika Rusia menjadi host Piala Dunia tahun 2018.
Salah satu gereja di Red Square. Warnanya peach :)

Red Square, alias Lapangan Merah

Okhtoniy Ryad, Salah satu Pusat perbelanjaan di Sekitar Red Square

Di Red Square sendiri merupakan spot turis terkenal di Rusia, disana terdapat lapangan dengan lantai batu yang sangat luas, lalu ada beberapa museum, makam Lenin, taman, pusat perbelanjaan, tempat makan, mall GUM, dan tentu saja gereja ortodoks yang kubahnya mirip seperti bawang warna warni yang bernama Katredal St Basil.
Di lapangan yang terbuka tersebut angin kutub berhembus sangat kencang, sehingga suasana sangat dingin. Tanganku rasanya membeku walau sudah kumasukkan kedalam saku jaket. Rasanya sakit sekali, seakan mati rasa sebentar lagi. Sempat menyesal tak membawa sarung tangan. Angin-angin tersebut terus menampar wajahku dan membuatnya kering luar biasa, sakit apabila tersentuh. Hidung mampet tak terhitung lagi berapa kali.

Didalam Mall GUM

Untuk meredakan rasa dingin, sempat aku masuk ke Mall GUM, mall tertua di Rusia, ya mirip seperti di Milan, di Piazza il Duomo. Semua barang branded dijual disana Berhubung aku bukan maniak belanja, maka hanya sekedar menghangatkan diri saja didalam.
Di Moskow banyak terdapat katredal yang cantik dengan hiasan-hiasan mozaik yang menarik, selain katredal di Red Square, ada juga katredal Orthodox Christ of The Savior di jalan Volkhonka. Katredal itu sekilas mirip masjid berkubah emas. Infonya Gereja Orthodox tersebut merupakan yang tertinggi di dunia dengan tinggi 103 meter. Untuk stasiun metro yang terdekat dari Katredal tersebut adalah Kropotskaya.

Panorama Sungai Moskow Dari Jembatan. Dari Kejauhan Nampak Red Square


Didepan gereja tersebut juga terbentang jembatan diatas sungai Moskow. Pada hari itu tampaknya sedang ada kegiatan di gereja, sehingga banyak jemaat yang berbaris, antre untuk masuk dengan membawa kitab sucinya masing-masing.
Musim gugur di Moskow ini memang bertepatan dengan suasana Halloween, jadi di Red Square banyak ornamen yang berhubungan dengan Halloween. Malam harinya aku sempat balik ke Red Square, menikmati malam dan cahaya-cahaya buatan yang menyinari St Basil dan Mall GUM. Itu benar-benar membuatnya tampak beda daripada biasanya.

Suasana Malam di Red Square

Senyum Beku, hehehe


Merry Go Round !

Angin berhembus makin kencang saat malam, menambah kesan dingin lokasi yang penuh histori tersebut. Aku berjalan kesana kemari sambil menangkupkan jaket dan menahan rasa pusing ringan yang mulai terasa. Kulirik sekilas di ponsel. Satu derajat celcius.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe