#1 Italia : Venezia, Sebuah Kota Yang Hampir Tenggelam dan Punah

Thursday, March 15, 2018

"Venesia, sebuah kota yang hampir hilang dan akhirnya menjadi tempat yang romantis selain di Paris."
Perjalananku menuju Venesia bermula dari kota Paris, dengan maskapai low cost carrier berbendera Spanyol, Vueling dari Bandar Udara Charles de Gaulle (CDG) menuju Marcopolo Airport (VCE). Sempat diwarnai dengan kasus kehabisan uang tunai Euro (yang tersisa di dompetku tinggal uang recehan) karena di ATM bandara CDG tidak bisa menarik uang dengan kartu ATM yang tanpa chip. Mau pakai kartu kredit, sialnya lupa PIN. Jadilah...aku bepergian dengan rasa was-was. Bagaimana kalau di Venesia kayak gitu juga? 
Penerbangan menuju Venesia ditempuh selama dua jam. Sebelumnya saya sempat berkenalan dengan seorang gadis (yang kukira dari Malaysia karena ia berwajah oriental). Ia tampaknya berlibur bersama ibunya, dan ternyata ia bekebangsaan Kazakshtan.
Namanya Aida, dia menanyakan beberapa hal kepadaku dengan skill English yang sama kayak diriku. Sebisanya.
"Dari Malaysia? Apakah kamu juga liburan ke Venesia?" sapanya ketika kami mengantre boarding.
"Eh...Indonesia kok. Iya, aku liburan kesana."
"Sama siapa?"

"Sama...temen, ada 3 orang."
"Apa kamu tahu jalan menuju tempat-tempat wisata disana? Aku baru pertama kali saba ibu kesana, dan aku nggak tahu harus naik apa," ucapnya gugup.
"Eh...nganu. Ada temen yang udah tahu transportasinya kok." jawabku.
"Jadi kamu datang sebagai turis kan?"
Aku mengangguk.
Aida menggigit bibir tipisnya. Sedikit ragu. "Baiklah, nanti kucoba tanya disana."
Kembali lagi ke kabin pesawat Vueling. Awak kabin mayoritas ber'darah' hispanik, mirip pemain telenovela semua. Dan semua pengumuman disajikan dalam bahasa Spanyol dan Inggris. Karena merupakan budget airlines, maka tidak mendapatkan konsumsi dalam penerbangan ini, sehingga aku lebih memilih untuk tidur.
Penulis nggak bisa gaya
Pesawat mendarat di VCE sekitar pukul 8 sore, sudah mulai masuk senja karena saat itu musim panas. Yang terpikirkan saat landing adalah segera mencari mesin ATM, dan alhamdulillah mesin ATM nya bisa digunakan untuk menarik sejumlah Euro dengan kartu tanpa chip.
Penginapan kami dapat dituju menggunakan kendaraan Bus yang tiketnya dapat dibeli di tempat kalim bagasi, tapi lupa harganya berapa. Lokasi penginapan sengaja dipilih dekat dengan stasiun utama Venesia, Venezia Mestre. Dan untuk menuju penginapan, kami harus menggerek koper masing-masing sejauh 800 meter, lalu mengangkat koper ke kamar kami di lantai tiga.

Keesokan harinya, waktunya menjelajah kanal-kanal di Venesia. Awalnya kami harus membeli one day pass untuk menaiki seluruh moda transportasi di Venesia, dan berlaku 24 jam sejak awal validasi. Tiket dapat dibeli di kios rokok (biasanya ada tulisan TABAC) ataupun biro perjalanan. tiket tersebut dapat digunakan untuk naik bus atau taksi air nantinya.
Piazza San Marco

Bus yang kami tumpangi penuh sesak dengan wisatawan yang menjalani liburan musim panasnya. Selanjutnya kami naik taksi air menuju Piazza San Marco, menurut mbak Tita Piazza San Marco adalah pusat kotanya Kepulauan Venesia.
Karena mungkin sedang liburan musim panas, maka suasananya cukup riuh oleh wisatawan. Aku memiliki waktu satu hari penuh untuk mengelilingi kepulauan Venesia. Lorong-lorong sempit di Venesia sangat unik dan cantik. Klasik dan berhubungan satu sama lain. Setiap ujungnya instagramable, mengundang para pecinta swafoto untuk menghabiskan energi di gawainya. Aplikasi maps online lebih sering aku gunakan karena penggunaan lebih mudah daripada peta yang kertas.

Lorong-Lorong yang dipenuhi toko souvenir dan kerajinan

Beberapa tempat yang menarik perhatianku adalah Ponte de Rialto yang terkenal, hingga patung tangan raksasa yang muncul dari dalam air, seakan-akan menahan bangunan agar tak tenggelam dan hilang, yang belakangan kuketahui karya pemahat Italia, Lorenzo Quinn.
karya Lorenzo Quinn
Aku sempat membeli sepotong mushroom pizza dan gelato dua susun di dekat Ponte de Rialto. Judulnya memang mushroom pizza karena aku menghindari daging-dagingan yang kurang jelas asal-usulnya. Tapi entah mengapa dibawah lapisan jamur tersebut aku menemukan irisan daging tipis merah dan kering, dan sebagian sudah masuk ke perutku. Wajahku panik, dan segera membuang sisa pizza itu, walaupun masih kelaparan.


Ponte de Rialto
Khalis, Gumi, dan aku sepakat untuk naik gondola bareng. Karena sewa gondola 80 €, maka kami urunan untuk mencoba pengalaman yang mungkin terjadi sekali seumur hidup tersebut.
Gondola tersebut menyusuri kanal-kanal kepulauan Venesia. Sungguh menakjubkan. Banyak bangunan yang kudapati bagian bawahnya sudah tenggelam, sehingga mereka tinggal di lantai atas saja. Paklek Gondola-nya bercerita dengan bahasa Inggris logat Italiano yang terdengar kurang jelas bagi kami, jadi hanya dibalas yes no sambil diselingi tawa kecil-kecilan saja. Kami merasa sedikit ketakutan ketika melewati Grand Canal, karena gelombang cukup kuat, tapi paklek Gondolanya sudah piawai mengendalikan kok, jadi dijamin aman.


Nongkrong di Lorong

Khalis dan Gumi...bulan madu :D

Takjubku yang kedua adalah banyak terdapat konser Antonio Vivaldi-Le Quattro Stagioni alias Four Seasons, salah satu komposisinya yang termashyur. Sayang sekali waktu kunjunganku tak bertepatan dengan konser tersebut. Oh ya, selain itu kita terkadang mendengar suara penyanyi opera dari teater yang dilewati loh :D
Topeng-topeng khas Venezia
Di Venesia pula, akhirnya aku dapat merasakan makan NASI setelah sekian lama makan roti dan keju. Loh Nasi? Iya, aku iseng berkunjung di supermarket dekat penginapan, dan aku membeli risotto instan dengan kacang polong dan potongan daging tuna yang tinggal dihangatkan di microwave serta satu kotak susu plain. Seumur hidup, rasanya nasi itu yang terenak. :D
Kami harus melanjutkan perjalanan ke Milan dari Venesia dengan menaiki kereta yang dikelola oleh Trenitalia (PT KAI nya Italia) dari stasiun Venezia Mestre menuju Milano Centrale. Ada sebuah kejadian menyebalkan, ketika aku kesusahan mengangkat koperku menaiki tangga karena mengenakan rok, eh ada seorang gadis bermata hijau berkepang dua yang sedang duduk manis menikmati roti tanpa permisi membantu mengangkatkan koperku yang sisa tiga anak tangga lagi. Kurang ajarnya lagi, ia mengejarku sambil menengadahkan tangannya dan memasang wajah mengancam. Tanpa banyak pikir kuberi gadis kurang ajar itu 1 €, lalu ia ngeloyor pergi.
Semoga di kota selanjutnya aku bisa lebih bertindak tegas dan berani ya :D

....bersambung

You Might Also Like

0 comments

Subscribe