Menasbihkan Kesendirian di Kota Tua, Jakarta.

Thursday, February 16, 2017

Jakarta; ibukota negaraku sukses menjadi salah satu kota pertama yang masuk kedalam daftar unplanned journey ku tahun ini.
Semua terjadi karena cuti tahunan yang semula tinggal 5 hari, dan berencana dihabiskan pada bulan April, harus rela terpotong semuanya pada bulan Januari akhir, karena alasan sebuah organisasi diluar kepentingan pekerjaan. Ya, mirip seperti kegiatan Badan Eksekutif Mahasiswa, tapi ini tingkat korporat, semacam serikat buruh untuk memperjuangkan hak yang dianggap bisa melemahkan perusahaan.
Karena merupakan kepentingan diluar kedinasan, maka 'diwajibkan' bagi peserta untuk mengambil cuti selama empat hari (dua hari berjuang, dua hari perjalanan dari Bontang-Jakarta), karena sisa lima hari, maka aku habiskan sekalian, perihal sisa libur mau dibawa kemana bisa dipikirkan seketika (itu salah satu kelebihanku, arrange jadwal liburan tak sampai lima menit)
Apakah Une menyesal telah menghabiskan cutinya dengan unplanned condition seperti ini? Jawabannya tidak, tentu saja tidak! Kegiatan bersama serikat buruh menambah banyak ilmu dan teman baru, saya berpikir positif saja, tak menganggap perampasan hak cuti haha. Yah, walaupun banyak yang menyayangkan cuti terbuang, tapi aku yakin, setiap waktu pasti ada pengalaman yang menarik!
Hal-hal yang menarik itu tampaknya terjadi juga di Jakarta. Selama di ibukota, saya menginap di hotel Ibis di daerah Harmoni, ya, ditengah kota. Dari kamarpun bisa melihat kerlip kesibukan kota yang padat hingga pucuk emas Monas. Suasana yang bertolak belakang dengan Bontang, kanan kiri banyak kedai makanan yang menggiurkan !
Pos Bergaya Neo Renaissance
Jarak menuju kota tua dari kawasan Harmoni tak jauh, hanya sekitar 15 menit dengan kendaraan bermotor (saat itu plat genap yang diijinkan melalui jalan besar, jadi cepat). Karena suasana agak gerimis dan malam mulai merambat, saya order Go-Car hanya 12 ribu rupiah.
Museum Fatahillah
Bukan Penunggu

Sepanjang jalan, saya dan sopir Go Car ngobrol dan ternyata ketahuan bahwa dia seorang pendaki gunung pula, tak hanya pendaki gunung, tapi juga perantau bersama keluarga kecilnya. sejak tahun 2015 ia kembali ke kampung halamannya (Jakarta) dan bergabung bersama Go-Car.
Saya berhenti di halte Fatahillah, lalu berjalan menuju jalan Pintu Besar yang dipenuhi dengan penjaja makanan dan deretan bangunan tua. Disini tripod pun mulai dipersiapkan, mulai untuk solo night cityscape hunting. 
Jakarta sejatinya tak pernah tidur, malam hari Kota Tua pun dipenuhi warga Jakarta yang sekedar berfoto , street hunting ataupun berjalan berdua. Seperti biasa saya seorang diri, mencari spot unik yang menarik untuk diabadikan, dan sayang untuk dilewatkan. Artis-artis jalanan pun berunjuk gigi, mulai dari mendendangkan lagu, melukis tato, atau lukis wajah.
Cafe Tua

Sudut-sudut Kota Tua
Museum Wayang
Dari banyaknya situs kuno bergaya Neo Renaissance yang dirombak menjadi kafe, hanya satu kafe yang menarik perhatianku, yaitu cafe Batavia. Dari dalam terdengar live music yang bendentum merdu, aku sedikit ragu untuk masuk kedalamnya, namun akhirnya aku memantapkan langkah untuk masuk kedalamnya.
Sengaja aku memilih duduk dilantai dua agar bisa melihat hiruk pikuk Kota Tua saat malam. Interior di cafe Batavia sangat klassik, ditambah lukisan-lukisan tua, kursi etnik, peralatan makan yang serasa kembali di jaman penjajahan Eropa (memangnya tahu gimana jaman penjajahan Eropa gimana?) serta menu-menu yang tergolong unik untuk makan malam (harganya pun cukup pricey)
Karena memang  sudah makan malam, aku memilih menu ringan, seperti jus jeruk dan mushroom cream soup. Sembari menunggu makanan disajikan, aku menatap hamparan langit yang bersemu kemerahan di Jakarta, serta celoteh anak-anak riang dibawah sana. Ah, aku begitu menikmati waktu-waktu kesendirianku disana. Seandainya dia...
Cafe yang Bikin Penasaran
Candle Light Dinner....sama Tripod

Tring ! gawaiku berbunyi, oh, baru saja aku membayangkan dia disini, ternyata pesan dari dia yang tersayang menggugah kesendirianku. Hanya sekedar menyapa saja berhasil membuatku tersenyum manis tak karuan. Aku segera berkomunikasi dengan dia, menceritakan suasana yang kualami malam ini walau hanya fitur chat di gawai, dan akhirnya tak memperhatikan lagi langit kemerahan Jakarta. 
Satu lagi, makan di Cafe Batavia cukup memperhatikan table manner, aku cukup kebingungan karena terbiasa makan tidak dengan alat selengkap ini di kampung, hahaha....
Sekembalinya dari Kota Tua sekitar pukul 21.30 WIB, benar saja, kejadian menyenangkan akhirnya terjadi hari ini, di Jakarta, kota kesayanganmu.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe