#1 Halo-Halo Bandung! (Lagi-Lagi) Solo Motoran Ke Lembang

Thursday, February 16, 2017

Akhirnya, saya berhasil menentukan kemana kakiku akan melangkah selanjutnya pasca baper-baperan dengan mecetnya Jakarta plus kesendirian di Kota Tua, yeah !
Tujuan selanjutnya adalah Bandung. sebelumnya saya sudah memesan tiket kereta Argo Parahyangan Eksekutif dari Gambir, ya, saya memilih naik kereta karena bebas macet dan telat! Dan lagi sudah lamaaaaa tak naik kereta (maklum sekarang naik pesawat terus, hehehe...)
Jarak ke Gambir dari Harmoni tak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit saja. Keberangkatan kereta pukul 8.30 pagi, dan estimasi tiba di Bandung sekitar pukul 11.30 siang. 
Dasar, saya tak bisa tidur saat naik kereta, kagum melihat-lihat pemandangan diluar, mengingat tahun 2012 terakhir naik kereta dari Pasar Turi Surabaya ke Gambir. Wah, seneng sekali rasanya !
Setelah sampai di Bandung lautan asmara  , petualangan pun dimulai dengan memanggul keril segede gaban itu. Ya memang berat dan menyusahkan sih, tapi tetap memaksakan diri terlihat tegar dan kuat saat berjalan (umak'aee..)
Kenapa saya memilih membawa keril kemanapun saya pergi ketika sendiri? Jawabannya simpel, untuk memudahkan perpindahan dan pergerakan. Saya sadar, saat bepergian, kemana-mana tak ada mobil beserta sopir pribadi carteran. Kemana-mana naik kendaraan umum, bahkan sewa motor sendiri, jadi cukup susah juga naik motor bawa koper atau naik angkot bawa koper.
Untuk mengelilingi Bandung, sewa motor sudah kupersiapkan semenjak di Jakarta. Saya sewa motor matic injeksi, sehari 80 ribu, sudah termasuk helm dan jas hujan. Setelah deal dengan menitipkan 3 identitas diri sebagai jaminan ke penyewa, sayapun bebas membawa motor sewaan itu kemana saja aku mau di Bandung, yey !
Sebenarnya foto gaya gini yang ditunggu
Tujuan pertama menuju Lembang. Sejenak saya mempelajari maps, dan berhasil mengestimasi jarak ke Lembang dapat ditempuh maksimal 1 jam plus macetnya. Oke, dengan sedikit kesusahan motor saya kendarai sambil memanggul keril menuju Lembang, Bandung Barat.
Udara di Bandung cukup segar, menurutku. Jalanan tak macet, tapi merambat. Saya berhasil menempuhnya dengan tempo 45 menit . Sepanjang jalan berdoa semoga nggak kenapa-kenapa di kota orang ini, haha.
Menuju Lembang ternyata tak seruwet ekspektasi. Jalan cukup mudah dan sepanjang jalan Setiabudhi lengang karena bukan saat liburan. Penginapan yang sudah aku pesan lewat Airy Rooms berada di jalan raya Lembang-Bandung, dan kebetulan juga hanya berjarak 500 meter dari tempat wisata hits Bandung, Farm House!
Maka, tujuan pertamaku hari itu adalah Farm House, dilanjut Observatorium Bosscha dan Floating Market. Jarak antar tempat wisata tersebut pun dekat.

1. Farm House, Susu Lembang
Seperti apa sih tempat wisata paling hits di Bandung ini? Oh, yang bikin hits itu ternyata....pengunjung dapat menyewa baju tradisional ala-ala Belanda, lalu diposting di instagram atau pet dengan hestek #holland , huahahaha.
Madu Beraneka Rasa dengan Jar yang Unik di Farm House
Ya memang, suasana Farm House yang dibangun dengan arsitektur Eropa pun menjadi andalan selfie pengunjung. Jangan heran ya banyak tongkat-tongkat narsis beterbangan sana-sini :D
Hanya dengan 20 ribu rupiah tiket masuknya, pengunjung dapat masuk ke Farm House dan tiketnya dapat ditukar dengan sosis atau susu yang beraneka rasa . Nggak hanya sewa baju Holland, tapi juga ada rumah hobbit yang ramenya naudzubillah ngantri kalau mau foto walaupun bukan saat liburan....
Seperti Pedesaan di Eropa


Gembok Cinta, dijual sepuluhribuan. 


Karena malas ngantri foto di rumah Hobbit, maka pikiranku mulai tergelitik untuk ikutan sewa baju Holland, dasar cewek, biar kelihatan cantik sedikit saat foto harus modal ya!
Sewa baju Holland dengan biaya 75 ribu selama satu jam saja. Wuah, mahal juga, pikirku. Tapi tetap aku sewa saja bajunya. Di bagian rok, ada kawat penyangga agar mengembang. ah, semakin susah melangkah nih! Tapi namanya cewek, apapun dilakukan demi berfoto !
Masih dengan tripod, kesana kemari saya berfoto pakai tripod dan self timer. Memang menyusahkan, terkadang blur atau terganggu orang lewat, tak hanya itu juga, mungkin pemikiran orang-orang seperti ini : "Kasihan ya, cewek ini jalan-jalan sendirian..."
Saranku sih, pergi ke Farm House jangan saat peak season atau liburan sekolah, dijamin sesak ! Kemarin waktu hari efektif sekolah saja menurutku masih ramai. Oh ya, di sana juga ada hewan-hewan yang dikandangin dan bisa nyobain kasih susu ke anak sapi di area petting zoo nya.

2. Observatorium Bosscha
Siapa yang ingin ke Bosscha gara-gara nonton Petualangan Sherina hayo angkat tangan ! Ya, termasuk saya sendiri sih, hehe.
Memang, keinginan itu sudah terpendam lamaaaaa sejak jaman SD. Apalagi saat Sherina melihat Bintang yang namanya Vega, Capella, haha. Kok jadi baper ya?
Petualangan Unesia
Senyampang lagi di Lembang, saya sempatkan mengunjungi Bosscha dengan penuh pengharapan bisa sekedar lihat atau bahkan mengelus-elus teropong Zeiss tersebut.
Menuju Bosscha, saya sempat kebingungan dan kebablasan sampai di pusat kota Lembang. Dan setelah bertanya berkali-kali, maka saya baru sadar kalau menuju ke Bosscha masuk jalan kecil yang bernama Jalan Peneropongan Bintang. Oh... *facepalm*
Suasana menuju Bosscha seger, karena masih berupa hutan, dan jalan sedikit menanjak sejauh 800 m an. Untuk pengunjung yang membawa bus atau mobil, tidak bisa dibawa masuk ke lokasi, jadi harus berjalan dari jalan utama.
Awal masuk, saya bertemu dengan dua penjaga, satunya ramah, dan satunya sedikit galak. Kenapa kusebut sedikit galak?  Karena, mukanya sedikit serem, lalu menginterogasiku dengan banyak pertanyaan yang terkadang kurang penting juga. Tapi setelah saya jelaskan kalau jauh-jauh dari Kalimantan Timur untuk melihat Bosscha (saya sering mengaku dari Kaltim agar terasa sedikit spesial atau bahkan iba) mereka akhirnya sedikit melunak, mengijinkanku lihat-lihat tapi jangan lama-lama katanya.
Ah, aku melanggarnya. Aku malah termenung lama disana, menghirup udara segar sembari melamun, mengasingkan diri. Observatorium saat itu tak dibuka, pengunjung umum hanya dipersilakan masuk hari Sabtu ataupun Minggu.

3. Floating Mart

Perut mulai terasa lapar, karena masih terlalu awal untuk kembali ke penginapan aku memutuskan untuk mengunjungi satu destinasi lagi, yaitu Floating Market, Lembang. Menurut survei disana dijual banyak makanan. Oke! Lanjut.
Perjalanan kesana pun tak seberapa mulus, aku yang tak mengetahui kalau jalan hanya diperbolehkan satu arah, aku buat dua arah dengan pedeny. Otomatis, pengendara motor dan mobil yang melintas pun mengutuk ulahku hingga meneriaki aku habis-habisan, awalnya aku bingung, tapi aku baru sadar, dimana kesalahanku. (untung tidak ada polisi yang melintas)
Di Floating Market aku hanya membeli seporsi karedok, kebanyakan yang dijual makanan khas Sunda diatas perahu-perahu yang terapung. Dan alat tukarnya adalah koin yang dibagi dalam beberapa pecahan rupiah, dapat dibeli di loket terdekat dan tidak dapat diuangkan kembali.
Koin yang Dijual
Floating market tampaknya memang didesain sebagai tempat liburan keluarga. Banyak pondok-pondok yang disewakan, tempat outbond anak, mini zoo, Kampung Leuit, juga ada rumah diatas air yang bernuansa Jepang. Tak hanya itu, ternyata pondok-pondok itu pun menyewakan baju tradisional Jepang dan Korea. Mau ikutan sewa, tapi hari sudah beranjak malam dan hasil foto pasti kurang bagus juga, maka aku mengurungkan niatku.

Nuansa Jepang

Trip setengah hariku berakhir juga pada pukul 18.30 WIB, semoga hari esok lebih menyenangkan ya! Bersambung.....

You Might Also Like

0 comments

Subscribe