#1 Memoar Antara Kerinci, Sungai Penuh, Kersik Tuo, Kayu Aro, Gunung Tujuh dan Harimau Sumatera

Monday, November 07, 2016

Bertolak dari Baso pada tanggal 4 Oktober 2016 ke kota Padang dengan mobil colt dengan tarif dua puluh tiga ribu rupiah untuk membuka titik awal perjalananku ke Kayu Aro, Kerinci. Meninggalkan sepasang gunung Marapi-Singgalang dengan segala pesonanya---lantas bersua dengan gunung di provinsi sebelah.
Perjalanan menuju kota Padang membutuhkan waktu 2 jam setidaknya mata ini masih dimanjakan dengan perbukitan dan lembah lembah hijau, telinga masih setia mendengarkan lagu-lagu Minang. Masuk kota Padang, hawa ibukotapun mulai terasa, padat, riuh dan panas.
Sembari menunggu travel yang hendak membawaku ke Kayu Aro, aku sempatkan sarapan nasi Padang dengan sambal Dendeng (di Padang kalau bilang lauk itu sambal). Lidahku tentu saja sudah membiasakan masakan bergaya minang dalam minggu-minggu ini.
Mata Yang Sehat Melihat Pemandangan Seperti ini
Pukul dua belas travel PO Big Family mulai berjalan meninggalkan kota Padang. Berdasarkan hasil obrolan dengan bapak yang duduk didepanku, estimasi waktu yang ditempuh kurang lebih 6-7 jam dengan jalan yang berkelok-kelok. Uh, bolehlah menyombongkan diri, sudah terbiasa menempuh perjalanan dengan kondisi seperti dan selama itu. Bapak yang aku ajak ngobrol hendak menuju Sungai Penuh, dan ketika aku menyebutkan nama teman yang kebetulan bekerja di unit PLN Sungai Penuh, ia mengenalnya. Jadilah kita mengobrol makin akrab hingga lupa jalanan.
Tapi sungguh, pemandangan menuju Kayu Aro sungguh membuatku relax. Melewati Solok dan pesona kebun tehnya, danau kembarnya, perbukitan dan perkebunan  yang udaranya sungguh sejuk. Lalu melewati Solok Selatan dengan pesona Nagari Seribu Gadang-nya, dimana rumah-rumah model gadang tersebar dengan berbagai usia, ada yang masih bagus hingga sudah tua. Lagi-lagi Pesona Sumbar membuatku tak kuasa memejamkan mata, ingin sekali aku keluar dari travel dan mengabadikan semua keunikan budaya dan alam itu, tapi sayangnya itu tak mungkin. Hingga kemudian langit cerah berganti kelabu, dan hujan serta kabut turun dengan derasnya. Aku memejamkan mata, lalu tertidur dan tubuh terbanting kanan-kiri karena kontur jalan yang berkelok-kelok dan sedikit rusak.
Setengah enam sore aku membuka mataku, kaca mobil masih berembun, lalu kuhapus sedikit embunnya. Samar-samar bayangan gunung di depan mataku, apakah itu Kerinci? Kondisi masih gerimis dan kabut, aku khawatir pendakian akan terhalang kondisi seperti ini pula. Ternyata ada pos dengan tulisan Kabupaten Kerinci, semangatpun tersulut kembali, tak percaya akhirnya sampai pula. Aku makin sibuk  menghapus embun di kaca mobil untuk melihat pemandangan di sekitarnya. 
Jalanan basah passca terguyur hujan, perkebunan sayur terhampar dikanan kiri, lalu kutemui PLN Kayu Aro. Tak lama kemudian memasuki kawasan kebun teh, Tugu Macan yang legendaris bagi pendaki Kerinci, dan Homestay Family tempat aku bermalam nanti.
Semua memori masih terekam jelas di ingatanku, hari itu takkan pernah aku lupakan, sungguh.
Malam yang dingin menyelimuti Kayu Aro, aku merapatkan jaketku dan memasukkan telapak tangan kedalam saku jaket. Saat itu aku menghubungi teman angkatan yang bertugas di PLN Sungai Penuh, sekitar satu setengah jam dari Kayu Aro untuk bersua di sini. Lama tak bertemu, dan merupakan kesempatan langka bertemu di tempat seperti ini. Aku stay diluar homestay agar mendapatkan sinyal yang cukup strength, sembari menunggu dua kawan selama pendidikanku datang.
Jimmi dan Tomo namanya, mereka akhirnya datang. Jimmi orang Palembang dan Tomo orang Semarang. Kulihat logat bicara Tomo sudah berubah menjadi ala-ala Urang Awak. 
"Ndak Ne, nek nang Semarang yo pancet ae aku ndas ndes ndas ndes," Kelakarnya saat kami nongkrong di warung kopi sebelah homestay. Aku memesan teh telor panas.
Bagiku dua jam bersua setelah sekian lama berpisah karena tugas itu tak terasa apa-apa. Tapi aku sadar, besok adalah hari kerja, dan besok pula aku harus memulai misiku untuk menjelajah rimba Sumatera dan Kerinci. Malam ini aku harus segera berkemas dan istirahat, tapi enggan menyentuh air yang sedingin es sebelum tidur.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe