Taman Panorama : Kumpulan Tempat Wisatanya Bukittinggi

Sunday, October 30, 2016

Setelah semalam 'numpang' di rumah Ingky di Bukittinggi, kini waktunya bertolak ke kosan Uni Yova di Baso, sekitar 45 menit dari Bukittinggi. Karena Uni Ingky harus bertolak ke perantauannya. 
Baso itu udah nggak masuk Bukittinggi, tapi masuk kabupaten Agam. Tetep saja udaranya dingin karena masih terletak dikaki Gunung Singgalang dan Marapi.
Jujur saya cukup bingung naik apa kalau jalan-jalan ke Bukittinggi? Mau naik motor pun motornya ngga ada. Jadinyaaa...sesuai arahan Uni Yova aku nekat ngangkot dari Baso ke Bukittinggi.
Pertama naik angkot warna Biru, turun di Terminal Aur Kuning, dengan ongkos lima ribu rupiah. Aku sih memberanikan diriku, insyaallah aman-aman saja. Tentu saja google maps di tanganku dalam posisi on terus, takutnya nyasar atau kebablasan.
Setelah turun di Aur Kuning, langsung aku naik angkot no 13 (tulisannya tigo baleh) warna merah. Turun di Pasar Atas (aku masih ingat kata-kata Ingky kalau Jam gadang termasuk kawasan Pasar Atas).
"Pasa Atas Nii?" tanya sopir angkot tigo baleh padaku.
Aku ngangguk aja, masih kagok gitu lah walaupun paham maksudnya.
"Surang nii? Karajo di siko?" Tanyanya lagi.
Duh mati, kali ini artinya apa coba? Hahaha. Dengan konyol aku meniru kata-katanya sambil mengrenyitkan dahi.
"Suraang?" 
Abang sopir kebingungan, lalu ia berhasil menerka kalau aku ternyata bukan orang Minang. Dan obrolan pun mengalir begitu saja.
"Uni belajar baso Minang, gampang aja kok, kayak bahasa Indonesia,"
"Sikit-sikit bisa bang,"
"Tuh bisa!" serunya sumringah.
"Ado nak kawan karajo di siko..." kataku percaya diri, tapi bingung mau ngelanjutin apa lagi. Si abang makin senang mendengarkan aku berbahasa Minang walaupun terpatah-patah dan dicampur bahasa Indonesia.
Perjalanan dengan angkot tigo baleh pun diiringi lagu-lagu Minang sepanjang jalan...

Aku turun di kawasan pertokoan, mau beli makan siang terlebih dahulu. Setelah itu melanjutkan perjalanan ke Lobang Jepang. Menurut Google Maps jalan kaki hanya 7 menit. Ah dekat ! Tapi tetap saja aku kebingungan dan tanya warga sekitar.
Persiapan Uji Nyali
Ternyata Lobang Jepang, Ngarai Sianok dan 'Tembok Cina' itu jadi satu di Taman Panorama. Cukup membayar lima belas ribu rupiah, maka bisa mendapatkan semuanya. Sambil menenteng tripod pink dengan pedenya aku menuju Lobang Jepang.
Saingan Sama Mister Tukul
Karena hari Senin, jadi tempat wisata cukup sepi. Lobang Jepang pun sepi. Aku melihat turunan tangganya cukup curam dan remang-remang, angin dingin pun silir-silir mengalir. Setelah melakukan pemanasan sambil membaca peta, aku pun memberanikan diri turun kebawah, sendirian.
Baru beberapa langkah, aku menoleh keatas, belum ada orang yang turun. Hatiku makin deg-degan. Mau putar balik tubuh, tapi tanggung sudah jauh-jauh kesini. Ya sudah aku nekat turun ke lorong gelap yang kabarnya tempat romusha itu. Didalam dingin, aku makin deg-degan. Mau maju kedepan kok gelap? Yang terdengar hanya gema langkah kakiku saja. Aku menatap ruang amunisi yang gelap, dan hanya ada bayanganku saja. Perbanyak berdoa kalau tak ada apa-apa. Belum lagi teringat cerita penampakan tentara jepang yang membuat uji nyali siang hari ini makin terasa mengerikan.
Cukup seram bukan? Khukhukhu.....
Disaat 'horor'  seperti ini aku masih sempat foto dengan self timer. Berharap semoga tak ada yang ikut berfoto.
Karena aku mendengar langkah cukup ramai didepan sana, maka aku nekat melangkahkan kaki kedepan. Ternyata ada sekelompok anak sekolah bersama satu pemandu. Tapi aku melanjutkan perjalanan hingga lorong penjara. Karena makin takut aku berbalik diri, mau kembali!
Ruang Amunisi
Konon dibawah ruangan ini ada mayat-mayat pekerja yang dibuang
Tak kusangka saat perjalanan kembali ternyata ada rombongan cowok-cowok yang terheran-heran melihat cewek aneh berjalan sendirian di tempat horor kayak gini. Lalu sang pemandu menghampiri kami dan menemani kami menjelajah Lobang sambil menjelaskan sejarahnya yang cukup mengerikan, mulai dari penyiksaan, pembunuhan, hingga ditendang jatuh ke ngarai. 
Perjalanan Bersama Lima Lelaki yang Baru Dikenal
"Uni berani, cowok sendiri aja nggak pasti berani, takuik!" Puji sang pemandu. Aku cuma nyengir.
Puas menjelajah Lobang Jepang, aku dan rombongan cowo-cowo yang keturunan Banjar itu menuju ke Janjang Koto Gadang, 'Tembok Cina' nya Bukittinggi. Jalan kesanapun cukup melelahkan, naik turun, belum lagi naik ke 'Tembok Cina' nya, cukup melelahkan karena tinggi! Lumayan untuk pemanasan Kerinci.Pemandangan ngarai pun menjadi sajian utama dari Janjang Koto Gadang, capek dan kesal pun menghilang entah kemana. Yah, sudah jauh dan mahal ke Sumbar, mengapa nggak habis-habisan saja? Hahaha !
Ngarai Sianok
Jembatan Menuju Janjang Koto Gadang
Jangan Salah Fokus
Janjang Koto Gadang
Setelah bertemu teman baru di Taman Panorama, aku memutuskan kembali ke Baso. Rencana awalnya aku bareng mereka, tapi karena mobilnya bermasalah, maka aku hanya numpang sampai pasar atas dan naik angkot kembali ke Baso. Nggak berani pulang terlalu malam, takut nggak dapet angkot juga sih nantinya.
Pengalaman hari ini sungguh luar biasa. Berpetualang di tempat orang sendiri, bertemu kawan-kawan baru, berinteraksi dengan warga lokal, dan uji nyali di Lobang Jepang. Sayangnya, hari itu telah berlalu. Kenapa ya hari yang menyenangkan terasa begitu cepat berlalu? Haha.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe