#1 Unda kada tahan buat bajalanan : Jelajah Bumi Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan

Tuesday, August 09, 2016

Jumat, 5 Agustus 2016

Kali Pertama :3
Gemerlap lampu bak intan disebar menemani penerbangan malamku dengan pesawat ATR menuju bandara Syamsudin Noor, Banjarbaru. Penerbangan kali ini adalah penerbangan malamku perdana, dan hasil dari setan menggerayangi pikiran untuk iseng beli tiket pesawat. Tak terencana.
Bak Intan Tersebar
Kebetulan setelah dinas hari Jumat di Balikpapan, aku langsung terbang ke Banjar. Aku kontak rekan angkatan yang bertugas di Banjar (Ario). Dia memastikan bakal aman di Banjar, walaupun Sabtu keesokan harinya ia tak bisa menemaniku melakukan napak tilas *preet* tapi ia menjanjikan rekan dari Kotabaru untuk menemaniku.
Tak tahunya si Darlius (Kotabaru) mesin di unit kerjanya sedang mengalami gangguan, jadinya ia berniat belanja spare part di Banjarmasin hari Sabtunya.  Ugh, takdir berkata kali ini aku harus liburan sendiri lagi. 
Kedatangan yang pertama kali di Banjarbaru terasa begitu surprise. Entah mengapa, haha. Untuk malam itu aku numpang menginap di mess milik PLN Udiklat Banjarbaru. Tepatnya untuk dua malam  kedepan.
"Sori, aku bener-bener nggak bisa nemenin. Aku ada acara gathering. Kalau mau pake motor, pake aja besok," Tawar Ario. "Bisa kan jalan sendiri? Kan ada google maps."
"Santai aja, kalau ada motor aman," Kataku menenangkan. "Sudah biasa kok."
"Nggak kaget kalau kamu. Sip dah, kalau ada apa-apa hubungi aku aja."
"Maklum jomblo, kemana-mana sendirian terus." Lanjutku dalam hati.
Aku segera membersihkan diri. Mess Udiklat sangat nyaman, terlebih aku sendirian disana. Aku teringat Hendra, kawan dari Instagram yang belum pernah kopdar sama sekali. Segera aku hubungi dia. Tapi sayang sekali, dia sedang ada acara lain untuk dua hari kedepan.
"Kamu sih, dadakan," keluh Hendra.
"Mau gimana lagiii...."
Tapi beruntunglah dia walaupun tak bisa menemaniku, ia memberi referensi tempat-tempat keren di sekitar Banjar. Seperti Matang Kaladan di Riam Kanan dan beberapa lokasi menarik di Banjarmasin. Gambar-gambar yang ia kirimkan mampu membiusku dan akhirnya menjadwal ulang yang awalnya hendak ke Tanah Laut (Pelaihari) untuk melihat Bukit Lintang dan Rimpi. Toh panorama yang ditawarkan juga hampir sama dengan Matang Kaladan.

Sabtu, 6 Agustus 2016
Aku mempelajari jalan menuju Mandiangin. Darlius sudah memberikan petunjuk untuk menuju kesana. Katanya hanya 45 menit naik motor. Aku memberanikan diri, toh ini juga bukan pertama kalinya aku touring sendirian. Sudah jauh-jauh kesini, masa aku tak nekat sedikit. Haha.
"Tapi STNK motornya ngga ada nih," Kata Darlius sambil nyengir.
"Hah? Nanti gimana?" Seruku gentar. Tentu saja aku tak ingin mencari perkara konyol di tanah orang.
"Banjar nggak ada polisi. Tenang saja kau." Kelakarnya meyakinkan.
Yah, semoga.
"Bisa kok," Pesan Ario yang dikirimkan via pesan singkat.
Dengan dukungan kedua teman angkatanku, maka aku langsung meluncur kearah Mandiangin tanpa ragu dengan motor matic biru ber-plat DA tersebut. Aku sempat sarapan dan membeli perbekalan di tengah jalan. Aku berangkat dan hari sudah mulai terik, sekitar pukul 10.00 WITA.

Riam Kanan, Tiwingan Lama kecamatan Aranio.
On The Way Riam Kanan, cantik kan ?!
Kupacu motor dengan riang, bernyanyi sambil berteriak kecil. Menuju Mandiangin jalannya mudah, tinggal lurus lurus saja dari Banjarbaru. Suasana sepanjang perjalanan berdebu dan dipenuhi truk-truk kuning berlalu lalang membawa bebatuan. Sejenak sebelum masuk kecamatan Aranio, kondisi kanan kiri jalan sudah dipenuhi perbukitan hijau. Tak salah lagi, ini adalah jalan yang benar menuju Waduk Riam Kanan.
Desa Tiwingan Lama, Aranio
Terik
Karena kedua temanku belum tahu Matang Kaladan, maka aku menggunakan instingku tanpa bertanya ke penduduk sekitar. Hanya mengikuti mobil didepanku, lalu aku mendapati tulisan "Wisata Matang Kaladan". Segera aku memarkir motor pinjaman ke warga lokal yang ada di sekitar situ, tentu saja sambil basa-basi seputar tempat wisata tersebut.
Selamat datang di Matang Kaladan
"Berapa lama keatas pak?"
"Wah, saya sendiri belum pernah keatas mbak, menurut pengunjung sekitar 30 menitan. Kalau siang begini sepi mbak. Biasanya sore atau pagi-pagi orang naik lihat matahari."
Iya, ini memang sudah sangat siang untuk trekking. Jam ditangan menunjukkan 11.00 WITA. Kondisi sudah panas-panasnya, dan pengunjung sudah banyak yang turun dari Matang Kaladan.
"Mbak dari mana?" Tanyanya dengan logat Banjar khas. Kadang-kadang diselingi bahasa banjar yang tak kumengerti maksudnya.
"Bontang."
"Sendiri? Naik motor?"
"Iya pak," *sambil nyengir*
"Wuuih, kok tau jalan kesini mbak??"
"Dikasih tahu teman pak, jalannya juga mudah."
Selepas percakapan ringan aku ijin pinjam toiletnya, kulihat bukit Matang Kaladan ternyata cukup curam dan terasa panas membakar. Tampak iring-iringan orang turun sambil berpegangan tali yang disediakan masyarakat setempat.
Huh, tampaknya salah perhitungan waktu. Ini begitu panas !
Tanpa membuang waktu aku segera trekking. Sebelum trekking aku membayar administrasi tiga ribu rupiah. Trek pertama cukup landai melewati kebun karet, lalu mulai cukup menukik tajam, diperparah aku tak membawa ransel (hanya tas selempang kamera) yang menyulitkan pergerakan, cuaca superterik dan tanpa teman yang diajak bercerita selama trekking. Oh, aku hanya bisa berharap ketemu teman atau cowok keren sepanjang perjalanan naik.
Nyatanya? Nihil. Tentu saja tak ada yang berfikir untuk naik disiang bolong seperti ini. Ada beberapa pengunjung yang kutemui sudah turun dengan wajah yang memerah dan berpeluh.
Jalur trekking yang sudah disediakan tali
Huh, untuk membunuh rasa payah yang mulai menyerang, aku menoleh kebelakang. Panorama yang tersaji sangat menarik. Dari separuh perjalanan aku dapat melihat indahnya Riam Kanan, Pulau-pulau disekitarnya dan riak dari kapal-kapal pengunjung yang membelahnya.
Belum sampai puncak dan sudah seindah ini
Titian demi titian sudah kulalui. Puncak sudah didepan mata dengan bendera Indonesia yang terikat di pohon. Suasana di puncak sangat panas, tanpa pohon satupun yang menaunginya.
Selfie : Tanda Para Petualang Jomblo
Aku sedikit melipir kepinggir mencari naungan diantara semak-semak. Mengatur nafas lalu bersantap  roti sebentar. Tak ada satu orangpun dipuncak, dari jauh hanya terdengar semilir angin dan sayup-sayup adzan dhuhur. Beginilah aku menikmati hari liburku. Sendiri, duduk tertiup angin dan membayangkan wajah orang yang kucintai.
Didominasi Perbukitan
Saat mencari spot, betapa menyedihkan ada beberapa botol air mineral yang telah berganti isi dengan urine manusia dengan bau yang tak mengenakkan. Sungguh aku jengkel dan ingin melempar botol itu beserta isi kepemiliknya kalau aku tahu tersangkanya.
Puncak Matang Kaladan
Setelah kesedihan pertama gara-gara menemukan botol urine, kesedihan kedua adalah tak ada satupun yang memotretku. Tripod rusak, dan andalanku hanyalah monopod yang membuatku tak bisa bergerak bebas dan mengambil gambar full body.
Setelah puas berfoto, aku segera turun sekitar pukul 13.00 WITA. Kalau naik memang butuh 30 menit dengan cara berjalanku, kalau turun hanya butuh sekitar 15 menit saja.
Usai shalat dan mengambil motor, entah mengapa aku berfikir untuk mengunjungi PLTA P.M Noor Riam Kanan. Tanpa pikir panjang aku menuju kesana, urusan perijinan, wallahu'alam.

PLTA P.M Noor
Bangunan PLTA P.M Noor
"Tidak boleh ! Pokoknya tidak boleh! Buat apa mbak masuk kedalam?" Gerutu satpam penjaga PLTA, mungkin ia sebal melihat wajah anak-anak sepertiku masuk kedalam PLTA, dikira cari Pokemon mungkin.
Ngngng...oke. Aku mengeluarkan jurus andalan terakhir. Sejurus kemudian aku merogoh dompet dan menyodorkan Id card PLN kepada satpam penjaga. Ia melihat-lihat Id Cardku lalu tiba-tiba wajah garangnya berubah menjadi  bidadari.
"Eh, mbak PLN Bontang di Kaltim? Jauh banar..." 
"Iya pak, pengen lihat PLTA, maklum di Kaltim tidak ada."
"Naik motor kesini? Sendiri? Luar Biasa..." Timpalnya sambil terkekeh, lalu mempersilakan aku masuk kedalam.
Bendungan Riam Kanan
Bagian yang paling aku suka adalah suasana di sekitar PLTA-nya. Damai, sejuk, hijau, jauh dari kebisingan dan yang terdengar hanya gemericik bendungan. Aku memasuki bagian sentral PLTA (tentu saja menggunakan peralatan safety yang telah tersedia) dan control room nya.
Sentral PLTA
Suasana yang hijau yang menenangkan
Air Sebagai Penggerak Utamanya
Control Room

Bagian belakang kantor terdapat hamparan rerumputan hijau yang cukup menarik buat berfoto dan ada monumen peringatan kematian saat pembangunan bendungan di tahun 1969.
Selfie Sendiri
Spot Favorit
Puas explore setiap sudutnya, aku segera berkemas untuk kembali ke Banjarbaru. Kondisiku saat itu sudah mengantuk dan cukup lelah. Mukaku tampaknya sudah berwarna merah campur abu-abu debu.

Bunyi pesan masuk ke ponselku. Darlius. Ia baru sampai di Banjarbaru juga setelah belanja dari Banjarmasin. Ia mengajakku untuk nongkrong malam hari bersama kawan lain dari Kotabaru sembari menikmati Banjarbaru dikala malam tiba.

bersambung.....

Tips menuju Matang Kaladan :
1. Timing yang pas itu perlu, jangan sampai terlalu terik saat trekking. Aku sedikit berfikir bahwa menikmati sunset atau sunrise bagus juga.
2. Jangan kesini saat hujan tiba, sudah pasti jalur licin dan membahayakan
3. Taruh urine dibotol lalu ditinggal di puncak? Jangan ditiru !
4. Pakai sandal yang nyaman
5. Oh ya, untuk masuk ke kawasan PLTA untuk masyarakat umum tampaknya tak mudah. Karena termasuk obvitnas dan dikhawatirkan terjadi hal yang membahayakan


Gambar diambil dengan : Xperia Z5 Compact *no editing*

You Might Also Like

0 comments

Subscribe