Nyanyi Lagu Pantai di Gili Trawangan

Sunday, November 15, 2015

Selepas satu malam di penginapan desa Senaru, Kecamatan Bayan, Lombok Utara, destinasi terakhir yang dituju bersama Filosantara adalah Gili Trawangan, *sejalur juga dengan jalan pulang ke Bandara di Praya. Menuju pelabuhan Bangsal lalu menyebrang ke Gili Trawangan selama 45 menit dengan tarif lima belas ribu sekali jalan,  melewati Gili Air dan Gili Meno.
Gili Trawangan merupakan Gili terbesar dari ketiga Gili tersebut, katanya pulau yang cantik dengan air jernih, tak beraspal, bebas anjing dan kendaraan bermotor. Hanya diijinkan cidomo (sejenis delman) dan sepeda angin yang berlalu lalang.
Sebenarnya dari dulu aku mendambakan untuk menuju Gili Trawangan, tapi apa daya ortu kalau diajak jalan jawabannya selalu : "Nanti saja tunggu kamu udah kerja jalan-jalan sendiri sama temen-temenmu."
Okelah, hanya bisa menunggu dalam diam.
Pengunjung dari turis mancanegara nampaknya mendominasi pulau ini. Jarang kutemukan turis lokal, kebanyakan orang lokalnya bekerja sebagai pelayan di kafe atau bungalow dengan kemampuan bahasa asing (terutama Inggris dan beberapa bahasa lain) yang wow sekali.
Dive resort, resto yang menghidangkan masakan Italia, dan kafe yang dikenal dengan nightlife nya berjajar di sepanjang pantai. Bule-bule berpakaian minim berlalu lalang sambil menggenggam sebotol bir. Botol-botol minuman keras, mulai dari produk lokal, Smirnoff hingga Iceland Vodka tersusun rapi di etalase minimarket. Suasana yang mirip dengan Labuan Bajo, mengingatkanku dengan suasana disana.



Kami menginap di sebuah homestay dekat masjid terbesar di Gili Trawangan, suasananya cukup tenang, jauh dari hiruk pikuk pengunjung. Beruntung juga di sebelah homestay itu ada warung masakan rumahan yang terjangkau harganya.
Siang itu semua teman-teman mengikuti kegiatan snorkeling di Gili Air. Aku memutuskan tak ikut. mukaku sudah kering dan terkelupas disana sini, lebih baik aku menyewa sepeda dan berkeliling di Gili Trawangan sambil coba Italian Cuisine.

Gili Trawangan, karena kebanyakan Turis Asing jadi tempat terjaga Bersih

Sewa sepeda Polygon Sierra seharga 25 ribu, maka siap mengelilingi Gili Trawangan. Seperti biasa, pantai pasti khas dengan lagu-lagi Reggae khas Jamaika. Berhati-hatilah saat mengendarai sepeda di jalan utama di Gili Trawangan, karena suasana sangat ramai, rawan nabrak orang kalau meleng dikit.
Saat itu aku mencari ayunan yang dipasang menjorok ke laut, dan itu hits di Instagram, haha. Katanya itu di hotel Ombak Sunset, dan untuk menuju kesana  dari pelabuhan sekitar 30 menit bersepeda. Lumayan capek karena ada beberapa ruas jalan yang berpasir dan aku sendirian !
Siang hari ayunan ombak sunset sepi, hanya satu dua orang saja yang ngantri berfoto disana. Dikala sunset tiba, antrinya bukan main. Yah lagi-lagi karena aku sendiri, maka nggak ada yang fotoin aku di ayunan pas siang hari *tear* *makanyacarisuamisana*
Kira-kira beginilah gambar yang dilihat dari bawah pohon pandan

Aku istirahat sejenak di sebuah pantai, berteduh di bawah pohon sejenis pandan dan menikmati keadaan sekitar, Ini masih pukul 14.00 WITA, belum terlalu lapar untuk menikmati masakan Italia.
Entah kenapa setelah melihat gardu distribusi dan JTM yang terpasang di dekat aku beristirahat munculah ide untuk mengunjungi kantor PLN Unit Gili Trawangan. Tinggal menyusuri JTM hingga ke pangkal, lalu ketemu deh kantor PLN Kantor Pelayanan Gili Trawangan dengan suara PLTD yang menderu-deru. Awalnya mau cari alesan numpang pipis didalam, tapi nggak jadi. *gagaldapatkenalan*
Aku langsung nyobain Bolognaise khas Italia dan banana smoothie di resto yang tak jauh dari kantor PLN, namanya Laguna Resto. Restonya langsung menghadap pantai yang jernih dan ada kursi-kursi malasnya juga. Lumayan bisa males-malesan dan bobo siang sebentar, heheheu.

Benar-benar santai seperti di Pantai

Malam akhirnya tiba. Kehidupan malam yang terkenal di Trawangan segera dimulai. Aku dan Putri keluar berburu sundowner di tempat yang keren. Jujur saja aku penasaran dengan sundowner di ombak sunset, jadi kita langsung kesana. Benar saja, antrian di ayunan Ombak Sunset saat matahari terbenam panjang banget ! Tapi dasar cewek-cewek, rela antri sampai maghrib sampai baju basah semua, hehehe.

Fenomenal banget tempat ini, tapi aku fotonya sendiri aja.
Untuk makan malam sebenarnya kami berencana makan grilled seafood atau BBQ. Setelah lihat referensi harganya melebihi budget, maka kami beli makan di pasar saja. Tapi jangan salah, walaupun di pasar harganya bukan main juga mahaaalll...


Lihat harga BBQ Mahal banget
Sempat terkejut karena listrik padam saat kita makan. Suasana jadi ricuh dan waspada copet, haha. Selama dua hari aku di Gili Trawangan listrik padam 3 kali dengan durasi  rata-rata sekitar 1 jam. Jiah, aku jadi bulan-bulanan sama temen-temen disana gara-gara aku kerja di PLN, haha....

Oh ya, di Gili Trawangan banyak dijual Homemade Gili Gelato, kalau beli satu scoopnya sekitar 20 ribuan, aku beli dua scoop, jadi 30 ribu. Enak juga es krimnya, hehe. Tapi katanya kalau rasa rum kayak ada alkoholnya, jadi aku beli yang mocca dan oreo.
Jujur kalau aku kurang exciting sama pantai, apalagi dengan kondisi pantai yang ramai seperti ini. Rasanya berkunang-kunang kepala. Tapi...yah, sekedar tahu dan untuk referensi cerita saja kepada teman-teman yang hendak menuju kesana. :)

You Might Also Like

0 comments

Subscribe