Offroad Penuh Cinta di Sekambing, Bontang

Wednesday, March 25, 2015

Alam pagi itu tak mengisyaratkan cuaca akan memburuk. Cerah, angin bertiup lembut. Hari yang indah untuk gowes bersama Cleo 3.0 dan rekan-rekan klub gowes di Bontang. Tapi jangan kira acara gowesku hanya keliling-keliling kota, tapi MASUK HUTAN DAN SEMAK-SEMAK !
Sesuai dengan pesan yang dikirim temanku di grup BlackBerry Messenger bahwa ada acara gowes, maka segera siapkan diri untuk hari Sabtu, 21 Maret 2015. Sunblock jadi senjata andalan memerangi teriknya matahari hari itu.
Kita berkumpul di PT Badak, dan kita dapat beberapa kawan baru dari luar PLN. Aku celingukuan mencari peserta cewek, tetapi nihil, seperti biasa. Asyiiik, tambah komunitas ! Seperti biasa, senior sekaligus trainer kami : Pak Dedi hadir dan seperti biasa menjelaskan rute yang akan kami libas pagi itu.
"Jadi rute kita hari ini adalah tacin dan perkebunan sayur."
"Haaa? Tacin?" bikers dari PLN melongo heran. "Itu dimana Pak?"
"Jadi kalian pada belum tahu?"
Para bikers PLN menggeleng dengan wajah polos.
 "Tacin itu tanjakan cinta di daerah Sekambing, jadi kita kesana lewat Kanaan. Medan full offroad, kerikil plus tanah dan semak-semak. Ada turunan yang cukup curam. Une, kalau nggak berani jangan dipaksa, lebih baik dituntun saja." Katanya sambil menoleh kearahku. Teman-teman menyimak dengan penuh antusias, aku yang mendengarnya cukup bergidik ngeri. Lalu Pak Dedi menoleh kearah sepedaku.
"Wow, kesambet apa kamu langsung beli sepeda baru? Wuiiih, Cleo lagi."
"Hehe, dipanasin temen-temen akhirnya beli juga pak. sepeda impian dari jaman kuliah nih."
"Bagus-bagus, lalu kenapa kamu masih pakai sandal gunung? Kan sudah kubilang harus pakai sepatu! Perhatikan safetymu, kita ini bukan onroad. Padahal kamu sudah sip pakai helm." Katanya sambil melotot kearah kaki dan mengundang lirikan peserta lain.
"Pulang dulu sudah Mbak, ganti sepatu." goda peserta lain.
"Hehe...panas Pak kalau pake sepatu, keringatan didalam." Dalihku bandel, padahal sering diingetin temen biar pakai sepatu tetap saja kuabaikan.
"Awas kalau minggu depan tetep pakai sandal, nggak boleh ikut lho!" Ancamnya galak. Lalu kami berdoa dan segera menuju medan yang mendebarkan.

Sekitar 15 menit naik turun tanjakan ringan di Kanaan, akhirnya sampai juga di tempat yang katanya tanjakan cinta itu. Edan serem, Menanjak, tanah merah cadas merekah dan kerikil, salah pilih jalur bisa gelundungan. Pak Dedi naik pertama untuk menjajal medannya. 
Tak lama kemudian ia berteriak dari atas, "Aman ! ayo naik! Une, hati-hati kalau susah dituntun saja !"
Berkubang di Sial dan Beruntung
Sebelum dituntun aku mencoba treknya terlebih dahulu dengan perlahan menggunakan gigi yang paling ringan, aku terpeleset berkali-kali tapi masih bisa mengendalikan sepedaku sehingga tak terjatuh. Lalu aku memilih untuk menuntun saja ke tempat yang lebih landai, karena kalau jatuh itu lebih parah.
Beristirahat sebentar diantara semak daun : Cleo pun menggelepar minta pijit
Pasca trek tanas cadas, dilanjutkan menerobos ilalang dan semak daun yang sukses membuat hidung dan mukaku gatal-gatal. Benar benar rimbun menghalangi jalan. Setapak sempit sehingga konsentrasi dan keseimbangan benar-benar teruji disini. Sayangnya aku tak berhasil menaiki sepedaku karena kesusahan dan ketakutan.
Tak lama kemudian kita sudah mencapai titik tertinggi di bukit tersebut. Subhanallah pemandangannya sangat indah ! Perkebunan sawit, perbukitan hijau, hutan Borneo, dan perumahan warga. Sempat menyesal aku nggak bawa mirrorlessku, tapi bakalan lebih menyesal lagi kalau bawa mirrorless,, itu akan menyusahkan pergerakan saat bersepeda walaupun bodynya kecil.
Kita foto-foto sepuas hati dengan kamera ponsel seadanya.
Bikers PLN
Cantik :))
Setelah berfoto, Pak Dedi menjelaskan kembali kalau trek selanjutnya adalah turunan, jadi diwajibkan untuk  ekstra hati-hati kalau tak mau dilahap jurang yang menganga di kanan kirinya.
"Une, turunkan sadelmu biar lebih mudah kontrol. Gigi pakai yang paling berat." Perintahnya, dan aku segera menurutinya.
"Une, kalau turunan pantatnya dikebelakangin ya biar seimbang. Seperti ini, " ia memeragakannya.
"Kamu di belakang saya saja ya, go !" Kami segera meluncur kebawah. Aku ketakutan sekali saat downhill walaupun sudah kuturuti titah Pak Dedi. Aku berhenti dan memandang kebawah, rekan-rekan yang dibelakangku juga ikutan berhenti.
"Une, pasti bisa! Dicoba dulu, seimbangkan rem kanan dan kiri !" kata Pak Dedi dari bawah. Rekan yang lain ikut menyemangati.
"Awas, Une !"
Busyet dah, lagi-lagi Une. Batinku. Maklumlah aku kan cewek sendiri disini.
Aksi Downhill dan Senyum penuh ketakutan.
Aku memaksa diriku. Cukup gemetar akhirnya sukses juga downhillnya, pemirsa! Tak seberapa menakutkan, hahaha. #sombong

Perjalanan selanjutnya kita masuk ke perkebunan sayur warga, jalan berlumpur, hutan hujan tropis seperti Sangkima, jalan cadas menanjak yang bikin ngos-ngosan (dan tentunya aku nggak kuat), hingga bertemu dengan puluhan pesepeda lain yang beristirahat di kebun rambutan warga. Kesempatan ada rambutan, aku sikat terutama yang rambutan Binjai, haha. Seger !
Aksi Pak Big Cat : Kami semua memanggi Big Cat gara-gara tulisan di Frame sepedanya
Sekitar pukul sepuluh, kita istirahat di warung andalan kami di jalan poros menuju Samarinda di km 10. Minum teh hangat, makan gorengan dan berkenalan dengan peserta lain menambah keakraban hari itu. Memang, memiliki banyak kegiatan saat muda memang menyenangkan ! Dapat tempat penyaluran energi muda ke hal-hal yang positif. :))

You Might Also Like

0 comments

Subscribe