#1 Samarinda, 21 Februari 2015

Saturday, March 21, 2015

Mencari nafkah di Bontang, dihabiskan di Samarinda.
Agaknya statement itu benar benar berlaku padaku : tak hanya menghabiskan uang, tapi juga menghabiskan waktu akhir pekan di kota itu. Setidaknya aku tahu membuat akhir pekanku menjadi bermakna.
Setidaknya aku masih merasa mengantuk dan memaksa diri untuk meloncat pagar kost gara-gara kebodohanku belum menduplikat kunci pagar depan. Pukul enam pagi, masih gelap. Rekan kerjaku hanya geleng-geleng takjub melihatku melompat pagar kost yang bergerigi. Seorang wanita yang biasanya ke kantor pakai rok dan jilbab lebar loncat pagar?? Huh, tak sia-sia aku sedikit bertingkah polah mirip laki-laki, setidaknya dalam keadaan seperti ini kemampuan ini dibutuhkan.
Emang dasar aku mudah dikomporin sampai meleduk. Tak tahan gara-gara dipanasi sama teman-teman untuk beli sepeda MTB, akhirnya aku beli juga. Iya, aku yang beli dan teman-temanku yang ketawa puas. Sialan, batinku. Mudah sekali aku mengambil jalan pintas tanpa pikir panjang seperti ini. Tinggal ambil uang di tabungan, masalah selesai.
Bukan Une namanya kalau dua hari di Ibukota tak kuhabiskan dengan menjelajah, seperti lagunya Shandy : dari tujuh hari telah kuberikan engkau dua hari, Sabtu Minggu kau bersamaku.
Iya, menjelajah bersamamu.
Destinasi Wajib Kalau ke Samarinda : Islamic Centre


21 Februari 2015, ternyata sebelum membeli sepeda deg-degan juga. Begitu aku melihat sepeda impian didepan mata, ingin rasanya aku boyong segera. Memang sih tujuan utama hari Sabtu itu adalah sepeda, tapi bukan berarti setelah tujuan utama tercapai aku nggak coba destinasi lainnya. Siang itu aku coba mengunjungi Big Mall Samarinda, lanjut makan Pizza di Plaza Mulia dan coba menikmati taman lampion di Teluk Lerong Garden, tepian Sungai Mahakam.

Aquarium Lampion 

Dari pinggir Teluk Lerong dapan aku rasakan desiran lembut angin malam Mahakam, menikmati lampu-lampu kota, Islamic Center, kapal-kapal penarik tongkang lalu-lalang dan patroli sungai.

Penjual kicir-kicir di Teluk Lerong
Darah muda memang masih menggebu-gebu, saat malam merangkak sedikit, aku minta nongkrong di Cafe Puncak, cafe yang katanya tertinggi di Samarinda, dimana kita dapat menikmati kerlip lampu Samarinda dari ketinggian (seperti postinganku beberapa  bulan lalu). Menyesap minuman dingin, memotret, mengunyah, tertawa, saling melempar senyum dan membicarakan rencana travelling bersama teman travellingku dari Samarinda.
Aku dan Mpok Norma, Ratu Travelling Kaltim :))

Ah, Samarinda memang selalu banyak kejutan, membuatku merindu dan membuat hari liburku menjadi bermakna.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe