Explore the Extraordinary Balabalagan Island (Day 3 And 4 )

Thursday, January 08, 2015

HARI KETIGA
Perjalanan berlanjut di hari ketiga Bung. Acara hari ketiga ini kita jadwalkan untuk kegiatan sosial sambil jalan-jalan atau gaulnya disebut voluntourism di pulau Sabakattang. Sebenarnya acara ini diagendakan kemarin, hanya saja kondisi cuaca untuk menuju Sabakattang tak memungkinkan, jadi kita ganti hari Sabtu. Syukurlah hari Sabtu cuaca lebih baik sehingga perjalanan dilanjutkan ke Sabakattang.

Sabakattang serasa di Maladewa
Pulau Sabakattang merupakan pulau terluar dari kepulauan Balabalagan dan paling dekat dari Balikpapan. Pulaunya lebih besar dari Popoongan, memiliki dermaga yang super panjang dan laut yang jernih nggak ketulungan, anemon ungu yang melambai-lambai pun tampak jelas dari dermaga. Dan yang paling menyenangkan adalah : hanya di pulau ini yang terdapat sinyal, sayang hanya sinyal GSM, jadi hanya bisa digunakan untuk menelepon dan SMS saja. No BBM, LINE atau WhatsApp.
Untuk pembangkit listrik di pulau ini udah menggunakan Solar Cell dan Diesel. Karena kami berkunjung saat siang hari, jadi belum tahu juga mutu tegangan di Sabakattang seperti apa. 


Voluntourism :D
Mancing Mania
 Saat kami berkunjung ke Sabakattang memang sedang liburan sekolah, tapi mereka dikumpulin ke sekolah untuk menerima buku dan alat tulis yang kami bawa. Selain ini juga ada kuis semacam cerdas cermat : siapa yang bisa jawab akan dapat hadiah dambahan berupa buku dongeng cerita rakyat.
Berbagi itu indah dan menyenangkan :D
Karena jarak dari Sabakattang menuju Popoongan cukup jauh (sekitar 3 jam) maka sekitar pukul 14.30 sudah kembali ke Popoongan, khawatir terlalu larut. Sampai di Popoongan aku masih sempet mancing dan foto-foto sunset keren, hehe.

HARI KEEMPAT
Hari ini pulang setelah menjalani perjalanan yang sangat melelahkan selama tiga hari. Sebelum pulang, kami sempat foto-foto dengan penyu di pulau Popoongan. Tapi sayang sekali, entah kenapa angin dan ombak hari itu kencang sekali. air pasang dan keruh, mukaku pucat sekali, ah, bagaimana kalau nggak bisa pulang hari ini dan besok harus kerja lagi? Belum lagi disini tidak ada komunikasi selain telepon satelit. Dan sesuai kesepakatan bersama, hari itu kami tidak pulang dan menunggu ombak reda : kembali ke rumah Pak Anto lagi.
Padahal udah foto mau pulang :(
Penyu Sisik terekam kamera
Untuk menghilangkan rasa khawatir itu, kami akhirnya memilih main kartu remi. Aku sih tipe anaknya mudah khawatir, jadi tetep aja gusar. Mau nggak mau aku telp pake telepon satelit untuk ngabarin temen-temen kantor kalau aku nggak bisa pulang hari ini juga. Tapi aku beruntung tak melanjutkan perjalanan hari itu karena malamnya ada berita duka dari Air Asia. Allah masih melindungi kami, sungguh. 
Tingkah kegilaan kami

Senin dan Selasa, 29-30 Desember 2014.
Cuaca sedikit tenang. Kami melanjutkan perjalanan menuju desa Lori. Sepanjang jalan kami terbanting-banting karena ombak yang cukup ekstrim. Belum lagi air yang yang masuk kedalam kapal tambah bikin aku tegang banget, sepanjang jalan aku berdoa, semoga traveling kali ini tak menjadi kisah susulan dari memoar Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk.
Tiga jam kemudian kapal kami menepi ke sebuah dermaga, yang jelas bukan Lori. Aku lemes banget, tak mungkin bisa pulang hari ini. Cuaca mendung dan gerimis dan angin cukup dingin. Kami bersandar di Pulau Salissingan, pulau berpenghuni yang terdekat dengan Tana Grogot. Dermaganya sangat panjang tapi pantainya biasa saja, kotor sih. Pemukimannya juga kurang tertata seperti di Popoongan. Tapi memiliki fasilitas cukup lengkap sih, seperti Puskesmas, SD, SMP, Masjid dan cukup banyak warung. Tapi tetep aja pulau ini bikin galau sehingga mood fotograferku menguap entah kemana. Tak banyak foto yang kuambil di Salissingan, aku lebih banyak galau dan berdoa.
Anak-anak Salissingan yasng ceria
Sempat juga aku teriak-teriak di dermaga paling ujung, pengen pulang.
Malam semakin merambat, ditengah kekhusyukan doa aku jatuh tertidur. Sebelum subuh aku terbangun, menatap langit dan menemukan bintang yang berkelip-kelip, menandakan cuaca cerah. Yeah, aku harap begitu !
Setelah sarapan dan membersihkan diri, kami mendapat kabar kalau cuaca saat itu cerah. Yeah ! Semangat hidupku kembali lagi. Dua hari alfa dari kantor tanpa alasan yang jelas cukup membuatku ketar-ketir saja membayangkan hukuman apa yang bakalan aku terima dari SDM, Pasrah dan selalu berdoa.
Bye Balabalagan !

Enam jam perjalanan yang cukup melelahkan dari Salissingan menuju Lori akhirnya berakhir pukul dua siang waktu setempat. Aku sujud, bersyukur akhirnya bisa sampai. Ponselku berdering berkali-kali, SMS, BBM, WA masuk tiada henti. PING BBM dari rekan masuk berkali-kali.
"Une? Bales dong, kamu dimana ! Nggak lucu tahu !" Begitulah bunyi SMS dari salah satu temenku.
Dan ternyata ulah nekatku ini buat heboh kantorku. Ya iyalah, setelah insiden Air Asia Hilang, dan aku tak bisa dihubungi dikiranya aku menjadi korban susulan. Sempat juga aku dilaporkan hilang ke BASARNAS sama rekan kantor. Ampuni aku sobat , hahahah.
Punya target sih, apapun yang terjadi malam ini aku harus sampai Bontang pagi ini (31 Desember 2014) karena harus segera masuk kantor dan minta maaf ke semua rekan. Apa yang terjadi keesokan harinya? Aku diketawain rame-rame sambil minta ampun ke boss dengan muka gosong dan merah :D Widiih memalukan !

Tapi petualangan kali ini sungguh seru dan mengasyikkan dengan keluarga baruku :D
Recommended ke tempat ini pas cuaca lagi bersahabat, kalau nggak ya jangan coba-coba.

PENTING DIPERHATIKAN :
1. Cari info kondisi cuaca sebelum menuju kesana dari BMKG
2. Sedia sunblock dan topi. Kacamata Hitam juga
3. Kalo perangkat fotografi ya perlu dibawa semua : tripod, filter CPL, GND atau ND. Tapi aku belum punya semua, hehe :D
4. Bawa obat anti mabok yang banyak buat jaga-jaga
5. Awas jangan bikin kotor disini, hormati kearifan budaya lokal yang ada !

You Might Also Like

2 comments

Subscribe