Wall Climbing Pertamaku

Monday, October 13, 2014



“Paksa..paksa,!!”
Aku melihat seorang cewek bergelantungan di papan yang penuh dengan tojolan batu buatan. Tingginya hanya tiga meter, tetapi sangat lebar, katanya buat boulder yang melatih endurance. Hmm…baru datang juga udah disambut dengan teriakan gitu. Hari ini perdana aku ikut latihan regular wall climbing yang diadakan oleh FPTI di kota Bontang.
Gedebuk, ahhhh !

Teriak cewek yang sempat bergelantungan tadi, akhirnya dia jatuh bebas ke matras dibawahnya. “Baru sebentar udah jatoh!” teriaknya.
“Yaudah mbak, pemanasan dulu, langsung panjat saja setelah itu,” seorang cowok menegurku dari pinggir matras. Aku bengong, naik?
“Naiknya gimana?” tanyaku polos, membuat beberapa dari mereka menahan tawanya. “Terus turunnya?”
“Ya naik aja, semua batu yang ada diatasmu kamu pegang aja. Kalau turun ya turun aja, jangan lompat.”
Oke, setelah pemanasan, aku segera naik ke dinding yang vertical, belum ke dinding yang memiliki kemiringan kurang dari 90 derajat. Sebelumnya aku melumuri jariku dengan magnesium karbonat biar nggak licin dan memakai sepatu panjat yang super sempit. Emakku sebenarnya kurang setuju mengikuti wall climbing ini, karena dianggap berbahaya, dan bisa menghitamkan kulit. Nggak hanya itu, emakku juga bilang kurang kerjaan, udah tua baru ngikut panjat tebing. Tapi karena ayahku mendukungku, membuatku makin menjadi saja, hehe.
Pertama naik masih enteng, eh pijakan kedua udah kerasa berat banget, kayaknya mau jatuh. Bebatuan yang kayaknya enak buat dipegang ternyata nggak ada enak-enaknya sama sekali, sakit dan susah. Rasanya tubuh makin berat saja…ingin jatuh !
“Mbak yang baju item, ayo otot lelahnya harus dilawan !” aku bergidik dengar suara seseorang meneriakiku. Dan akhirnya…gedebuk ! Aku jatuh. Padahal baru dua kali naik.
“Yaaah…” penonton bersorak kecewa. Kutepuk-tepuk celanaku yang terlumuri magnesium.
Itu baru pertama kali latihan, keesokan harinya seluruh badanku aku lumuri counterpain. Pegel semua bung !
Latihan kedua, aku lebih pede. Aku anggap saja naik tangga agar tampak lebih ringan. Tapi sayangnya, insiden gedebak gedebuk masih terjadi.
“Biasa mbak kalo masih baru gitu, berat.” Kata seorang cewek, atlit panjat Bontang. “Sering-sering pull up dan latihan fisik yang menggunakan otot tangan dan pelemasan kaki Nanti juga terbiasa.”
“Eh, iya iya” Jawabku malu-malu. Ehm, grogi aja kalau latihan sama atlit yang udah juara sana-sini, sama anak yang masih berusia dibawah 20 tahun, masih SD, SMP, serasa emak-emak tuwir aja, hahaha. Biasanya kalau mereka latihan mengenakan jaket PON, atau KEJURDA, lah aku pake jaket gambar kelinci. Malunya tuh disanaa….
Berkat dorongan oleh atlit-atlit, aku jadi rajin pull up atau gelandotan di ventilasi kamar. Walaupun belum kuat mengangkat massa tubuh, tapi tetap terus dilatih dengan cara-cara yang diajarin temen baruku.
Latihan yang kesekian kali. Aku makin percaya diri. Aku coba naik dan menipu diri bahwa dinding ini sangat mudah, eh ternyata memang mudah ! Aku bisa melampaui dinding setinggi tiga meter itu, lalu jalan kesamping, dan jatuh. Tapi aku terus mencoba.
Kucoba naik lagi, eh ternyata aku makin lincah dengan bimbingan temen-temen. Dipandu pegang batu yang mana, disuruh jongkok dan macam-macam gaya yang aku ekspresikan sesuka hatiku. Yah, walaupun belum seleantur atlit beneran yang manjat kayak ular merayap, setidaknya aku bangga dengan perkembanganku saat ini.
Aku coba panjat lagi. Kali ini penuh sorak sorai dari temen-temen cewek, mendukungku dan menuntunku untuk memijak batu yang mana. Sedangkan dari temen yang cowok malah teriakin awas jatuh, yaah…pokoknya untuk mengendurkan semangat. Tapi untunglah aku cewek yang tak mudah mengindahkan sorakan-sorakan itu, aku makin mantap melangkah saja. Konsentrasi penuh.
Sebenernya motivasiku mengikuti wall climbing ini bukan untuk menjadi atlit. Tapi untuk menyalurkan bakat dan minatku yang suka panjat-panjat tiang listrik 20 KV. Aku hanya ingin bisa, paham dan mengerti prinsip memanjat tebing itu seperti apa, hmm…ternyata mencapai suatu tujuan itu membutuhkan proses dan perjuangan yang panjang ya :)
 

You Might Also Like

0 comments

Subscribe