Kampung ala Tana Toraja Juga Ada Di Bontang

Tuesday, October 07, 2014

Seperti biasa, Minggu menjadi hari libur pekerja kantoran. Dan seperti yang pernah aku katakan, setiap Minggu setidaknya harus membuat satu itinerary kecil-kecilan untuk membunuh rasa bosan yang melanda tiap akhir pekan. Untuk edisi minggu ini, hal yang aku lakukan untuk membunuhnya adalah : Berkunjung ke 'Tana Toraja'
Mungkin sebagian dari kalian berpikir : Buset, Une nih jutawan banget, baru empat bulan kerja udah bisa keliling Indonesia. Liburan aja keluar pulau !
Tapi ini hanya 'mini' Tana Toraja. Letaknya nggak jauh dari tempat kontrakanku di Bontang, hanya sekitar sepuluh menit aja naik motor. Tepatnya di Kanaan Dalam, Kelurahan Gunung Telihan, Bontang. Dimana di Kanaan Dalam mayoritas penghuninya adalah orang Tana Toraja yang bermukim di Bontang, jadinya di Kanaan dengan mudah ditemukan konstruksi rumah Tongkonan dan aura-aura Toraja disana.
Tongkonan di Kanaan Dalam
Memasuki Kampung Tator, mataku tertuju pada tiga Tongkonan yang berdiri di lapangan, tak tahu fungsinya buat apa, aku nekatkan masuk kesana, tentu saja dengan izin warga sekitar. Bersama kawan baru yang baru kukenal dan sama-sama memiliki hobi fotografi (namanya Winda, dia kerja di Pupuk Kaltim, Bontang), kami melangkah mantap memasuki lapangan dengan tiga Tongkonan yang mengelilinginya. Ada satu Tongkonan yang paling besar disana, aku dan Winda pun naik keatasnya untuk mencari spot terbaik di tempat tersebut.
Kepala Kerbau Buatan

Berada diatas Tongkonan, serasa benar-benar di Tana Toraja. Tongkonan itu dipenuhi ukir-ukiran khas Toraja, yang tak kuketahui maknanya seperti apa, dan tentu saja kepala kerbau dengan tanduknya yang mengarah kebelakang menempel di tengah-tengah rumah tersebut. Dalam hati aku berdecak kagum, begitu eksotis dan kaya sekali budaya Indonesiaku. Semoga...kita dapat mempertahankannya dan tidak direbut kepemilikannya oleh bangsa lain.
Serasa di Toraja Asli
Motif Tribal yang Unik ! Saya tak paham maksudnya..

Dengan pengambilan gambar dari sudut-sudut tertentu, maka tak banyak orang tahu kalau sebenarnya berada di Bontang, bukan Tana Toraja. Cukup post di media sosial dengan embel-embel Toraja, semua kawan backpacker pun ngiler, rame komen : "Eh, elu lagi di Toraja Ne? Ngapain? Kapan? Acara apa?"
Kutimpali hanya dengan senyum dan satu kata singkat : "Iya"
"Toraja low budget, maklumlah, backpacker dengan jam kerja yang padat harus kreatif dikit," *untuk kalimat yang ini dilanjutkan dalam hati. Moga-moga ini bukan termasuk unsur penipuan.
Acara foto-foto pun berlangsung seru, motif-motif tribal nan etnik, bisa dijadikan spot yang unik dan super menarik, dan semakin seru dengan iringan anjing menyalak tak henti-henti melihat dua orang asing disana. Ada juga sekawanan anjing yang menghampiri kami dengan muka seram. Wow, acara hunting makin seru dan bikin berdebar-debar !
Setelah puas berfoto ria, kami menuju kuburan Toraja yang unik. Untuk kali ini kuburan buakn seperti di Tator yang asli, dimana mayat bisa berjalan sendiri. Hanya sebuah makam dengan atap berbentuk Tongkonan, dan besar-besar, ada yang sebesar kontrakanku juga, mewah banget !
Makam Toraja, mewah banget !
Hampir setiap makam terdapat tongkonan

Sepanjang jalan di Kanaan Dalam, dengan mudahnya kita menemukan kios yang menjajakan daging babi segar dan kepala babi. Tak hanya itu, ada juga separuh tubuh babi yang telah dikuliti digantung di kiosnya. Aku dan Winda bergidik sepanjang jalan, karena itu merupakan pemandangan yang asing bagi kami.
See you next trip :)
<

You Might Also Like

0 comments

Subscribe