'Naik Pesawat' di Puncak B29

Thursday, August 07, 2014

Pulang kampung = naik gunung
Naik gunung = Naik Pesawat
Konklusinya? Pulang kampung = Naik pesawat
Aneh ya konklusinya? Tapi inilah yang terjadi, pulang kampung ke Lumajang, wajib naik ke dataran tinggi. Naik di ketinggian itu pasti berada diatas awan yang serasa seperti naik pesawat, sama-sama berada diatas awan kan? Hehehe.
KONYOL.
31 Juli 2014, masih dalam suasana lebaran. Selain silaturahmi ke tetangga dan saudara tentu saja jangan lupa silaturahmi dengan alam yang selalu merindukan jejak kakiku. Hehe. Saat itu aku memang sedang flu berat dan sakit batuk. Dan kalian tahu? Seperti biasa, emak melarang putri kesayangannya ini menjejakkan sepasang kakinya yang mungil ini diatas 2900 mdpl. Bukan melarang, hanya khawatir yang mengarah ke sedikit larangan. Bukan protektif, tapi menjaga putri kesayangannya ini agar tidak menderita sakit yang lebih parah.
Akan tetapi apa yang dilakukan olehku? Nekat, merengek dan merajuk.
"Maak...kapan lagi aku bisa ke B29? Cuti tahun depan aku nggak pulkam !" Ancamku pada emak *duh mak maafkan aku ya
Sang emak tampak khawatir dan akhirnya mengijinkanku dengan sangat sangat beraaaat hati, "Ya udah, hati-hati."
SUKSES :D
Oh iya, sedikit flashback, dulu sebelum fenomena B29 naik daun, aku sudah mengetahui dari brosur dinas pariwisata kabupaten Lumajang, bahwa ada kawasan wisata di ketinggian 2900 mdpl, berupa perkebunan bawang dan sayur mayur dan dari tempat itu pengunjung dapat melihat gunung Bromo dan Batok dari sisi tenggara di atas sana. Sayang sekali cara pengambilan gambar yang kurang menarik di brosur itu menyebabkan para pembaca pun kurang berminat mengunjunginya.
Pagi itu (masih di 31 Juli 2014), aku dan beberapa teman merencanakan sebuah perjalanan menuju puncak B29. Untuk menuju ke puncak B29 (Bukit 29) memerlukan waktu sekitar 2 jam dari pusat kota Lumajang. Dari alun-alun kota, menuju ke barat luruuus...ketemu Selokambang luruuuus....sampai kecamatan Senduro. Oh ya, kecamatan Senduro berada di dataran tinggi yang masih menyimpan aneka ragam kekayaan alam dan budaya, satu hari tak cukup bagimu untuk menjelajahinya !
Saat itu kami naik motor. Karena ada enam orang yang ikutan, maka kami menggunakan tiga motor dan saling berboncengan. Dua motor matic (Scoopy dan X-Ride) dan satu motor Honda Supra Lawas keluaran tahun 2004. Aku menelan ludah, X-Ride yang konon tangguh aja bisa ngos-ngosan, apalagi supra lawas yang-nggak-pernah-diservis sama sekali itu? Bakal sesak nafas hebat dia !
X Ride kembali belum mampu menaklukannya
Alhasil apa yang kukhawatirkan terjadi. Masuk tanjakan maut di sepanjang jalan menuju, si Supra tidak kuat lagi, dan mengharuskan penumpang yang dibonceng harus mendaki tanjakan maut itu.
Untuk kali ini setelah satu tahun berlalu, X-Ride ku kembali kuuji mentalnya sampai batas ketahanan fisiknya, huahahaha :D
Udara yang cukup dingin membuat kami gemelutukan sepanjang jalan walaupun tubuh kami sudah dibalut jaket. Tak jarang juga berhenti sepanjang jalan untuk buang air kecil (yang ini khusus cowok loh ya)
Tak lama kemudian kami memasuki desa Argosari, pemukiman tertinggi di Lumajang. Untuk menuju B29 hanya lurus saja dari gerbang desa, tapi untuk menuju desa Pusung Duwur, belok kanan (coba cek di post lamaku : disini , ternyata itu masuk Pusung Duwur). Pemandangan di sepanjang jalan tak perlu diragukan lagi, sangat ampuh untuk menyegarkan kembali mata yang kesehariannya penat menatap layar komputer yan dijejali dengan kerjaan kantor. Udara gunung yang dingin, dipenuhi oksigen murni berebutan memenuhi paru-paruku yang setiap hari dipenuhi udara dari Air Conditioner di gedung perkantoran yang tak jarang membawa alergen dan debu. Segar dan sehatnya tak tertandingi.
Awalnya kami ingin berangkat pagi, jam setengah lima. Mengejar sunrise, atau paling tidak semburatnya. Ini naik gunung bung, nggak lihat sunrise juga bikin nggak sreg. Tapi apa daya? Yang lainnya pada melestarikan kebudayaan bangsa kita : Jam Karet. Yah, akupun akhirnya hanya bisa berharap kabut pekat di bawah sana masih belum hilang.
Sesampainya di desa Argosari, banyak ojek yang mengikuti kami sambil menawarkan jasanya,
"Aduh mbak eman motore nek digawe munggah, dalane lo elek, percoyo wes nang aku." (Aduh mbak, sayang motornya kalau dibawa naik, jalannya jelek. Percaya deh). Padahal sebelum B29 di blow up dulu belum ada ojek seramai ini.
Kami semua akhirnya menghentikan laju motor kami setelah bergidik melihat jalanan yang sudah kami tempuh. Licin, berbatu dan mudah terperosok jika ceroboh. 
"Mending ngojek, aman, selamat"
Maka kami semua sepakat untuk ngojek, dan terjadi tawar menawar cukup sengit, aku membuka percakapan sambil mengatur nafas untuk menyesuaikan kadar oksigen yang masuk ke tubuh.
"Piro se pak ngojek'e" (Berapa ojeknya) Kataku dengan bahasa Lumajangan super kental.
"Petangpuluh ewu per munggah mbak, iku wes normal." (Empat puluh ribu pulang pergi, sudah normal)
"Opo pak? Cek larange, ndisek koncoku seket ewu bolak-balik." (Apaaa? Mahal amat, dulu temenku 50ribu bolak-balik)
"Iku lak ndisek mbak," (Itu kan dulu mbak)
"Walah pak telung puluh ae, seket bolak balik, aku adoh-adoh teko Kalimantan rene padahal. Ndisek aku rene jek sepi, durung terkenal," (Wah pak tiga puluh ribu aja, lima puluh bolak balik. Aku jauh-jauh dari Kalimantan mau kesini. Dulu aku kesini masih sepi, belum terkenal)
Para tukang ojek berembug, dan lahir satu kesepakatan, "Yo wes mbak, telung puluh budal tok, budal balik seket yo'opo?" (Ya udah 30ribu sekali jalan, lima puluh pulang pergi, gimana?)
Tanpa pikir panjang kami langsung melompat ke boncengan.
Sepanjang perjalanan, kami bersyukur tak melanjutkan perjalanan dengan motor kami. Jalan jelek, berlumpur, dan jurang yang penuh dengan sayuran. Salah sedikit bisa nggelundung kesana.
Perjalanan tak mulus sepanjang lima kilometer akhirnya berakhir juga. Aku berdecak berkali-kali atas keindahan ini. Awan lintang kemukus mengelilingi bukit serasa diriku berada didalam pesawat. Seperti biasa, kamera dikeluarkan dan segera mencari angle terbaik. 
Nggaya
Dari kejauhan kita dapat melihat B30, seratus meter lebih tinggi dari B29. Untuk melihat lebih jelas, kami naik lebih keatas lagi. Subhanallah, nature never tell us a lies, Bromo benar-benar kelihatan terbungkus kabut !
Menuju Puncak B29
Kabut yang mulai menghilang
Sudut lain B29
Emejing....
Hari makin siang, kabut mulai sirna. Daya tarik bukit ini memang di awannya. Wisatawan mulai berkurang. Setelah berpuas foto-foto, kami akhirnya pulang, setelah sebelumnya kami sempat menghangatkan tubuh dengan segelas minuman hangat.
Mengais Rejeki di ketinggian
Kelihatan Puncak B30 dari kejauhan
Ekspresi kami saat mencapai puncak
Sepanjang perjalanan pulang, aku sempat bercerita dengan tukang ojeknya,
"Pak, aku dulu kesini belum rame,"
"Iya dik, baru sekitar 6 bulan terkenalnya, dan mulai kotor juga " *miris
"Lah terus ini ikut Lumajang atau Probolinggo Pak?"
"Iya masih jadi perdebatan, sejak B29 terkenal jadi rebutan mbak, tapi tetap menang Lumajang, karena jalur masuk tetap dari Lumajang. *miris Oh iya mbak, dari B29 kita bisa langsung menuju Bromo juga."
"Kalau listrik disini sering padam nggak pak?" Tanyaku selaku insan PLN yang peduli SAIDI dan SAIFI. *Frekuensi dan durasi padamnya listrik
"Nggak pernah kok, kecuali memang ada pemadaman dari pusat."
"Ikut Probolinggo listriknya?"
"Iya," Jawabnya singkat. Aku yang berada di boncengannya terbanting-banting sambil tetap menjaga keseimbangan.
Hmm...akhirnya sedikit demi sedikit aku mulai paham desa ini. Masjid yang dibangun oleh BMH yang bernama Jabal Nur pun kami lewati. Alhamdulillah, Islam pun telah masuk di desa ini :D Jadi masyarakat bisa mendengar adzan dari ketinggian...
Saat itu aku seakan-akan mendapat pesan berbisik dari semak gunung : "Good Bye My lovely one :) "
Jangan lupa cek masa laluku menjejak Argosari DISINI !

You Might Also Like

7 comments

Subscribe