For The Rest of My Life

Monday, May 05, 2014



Sengaja aku mencomot judul lagu Maher Zain. Buka plagiat, tapi isi tulisanku memang seperti itu adanya.

Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Aku hanya ingin bercerita, mencurahkan segala kondisiku saat ini. Ya, agar kamu tahu dan memaklumi keadaanku. Hidup sendiri, berjuang sendiri, jauh dari sanak, saudara, keluarga. Berusaha beradaptasi dengan orang yang baru dikenal, menciptakan suasana kekeluargaan yang baru, menguasai lingkungan dan sekitarnya, serta tidak begitu saja mempercayai orang lain yang baru dikenal. Bagi gadis seusia 20 tahun sepertiku, dengan sifat kekanak-kanakan seperti ini, oh ya, bukan hanya kekanak-kanakan, aku pun pendiam dan sedikit tertutup terhadap orang baru, segalanya terasa cukup sulit. Melalui masa-masa kenekatanku bertanya sana-sini, sok akrab dan sok kenal, membiasakan diri, berpura-pura seolah telah lama saling mengenal. Proses pendewasaan diri? Tidak kurasa, sikapku sama saja seperti yang biasanya.


Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Hari dan minggu-minggu pertama kerja, aku bersyukur. Dengan keberanian dan kepercayadirianku, aku tidak jadi pengangguran, seperti yang banyak orang takutkan dan banyak teman keluhkan di hari-hari pertama : Bingung nih mau kerja apa ! Tapi aku modal nekat, tanya SDM, tanya Asisten Manajer, tanya supervisor, aku mau gimana? Aku kerja apa? Ya, aku ini sudah kerja masa dibiarin menganggur seperti anak internship saja. Syukurlah, pekerjaan mulai datang, beruntungnya lagi supervisorku workaholic, jadi pekerjaan seakan tak ada pangkal-ujungnya.
Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Akhirnya aku pun mulai beradaptasi di kota ini. Aku merasa lebih nyaman dari tempat OJT sebelumnya, karena..yah mungkin kamu tahu bagaimana. Terluntang-lantung numpang di rumah pegawai, kesusahan mencari kos, bertahan dalam rasa sungkan, bertahan dengan uang saku yang dihemat-hematkan, anehnya aku nggak kurus juga. Mungkin kamu tertawa ya, kalau aku bilang nggak kurus juga, hehe.

Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Untukmu, yang akupun tak tahu siapa engkau. Tidak peduli seberapa luas dan dalam samudera memisahkan kita, walaupun kita tidak pernah bertemu dan mengenal sebelumnya, tapi apabila sudah takdir, semuanya pasti terjadi juga. Dan apakah kamu tahu bahwa hati ini sudah tak sabar bertemu denganmu…


Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Aku mulai…mulai malas hidup sendiri. Aku bekerja di bidang teknik, dimana aku banyak berinteraksi dengan lawan jenis dalam hal pekerjaan. Kadangkala saking akrabnya, mereka sampai berani memegang tangan, pipi, hingga ada yang mendekati aku. Aku risih, nggak suka. AKu hanya ingin berteman biasa saja,  aku nggak mau mengulang kisah cinta yang buruk beberapa tahun silam. Oh, aku nggak mau mengingatnya lagi, memori itu sungguh buruk !


Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Kata orang-orang aku ini asyik kalau diajak berteman, tapi pendiam juga. Tapi aku mulai kesal, banyak orang yang bertanya : siapa pacarmu, anak mana, kenapa nggak punya pacar?


Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Rasanya saat ini aku sangat ingin hidup denganmu, dimana dirimu sangat kubutuhkan sebagai iman, guru, dan melindungiku dari orang lain. Jauh dari keluarga, terasa nyaman apabila hidup denganmu. Aku akan punya teman hidup, nggak kesepian, nggak sendirian lagi.


Teruntuk sisa hidupku, dimanapun engkau berada,
Siapakah dirimu? Mungkin kamu, yang sedang membaca tulisanku saat ini.

You Might Also Like

0 comments

Subscribe